Stephanotis

Stephanotis
39 — My Love


__ADS_3

Pagi ini Kezia meminta izin Vernon untuk pergi ke rumah orang tuanya. Kezia terlalu bosan jika berada di rumah seharian. Karena itu Kezia memutuskan untuk menemui ibunya dan bertanya lebih jauh tentang kedatangan Bennedict.


"Jadi kapan Kak Ben datang, Ma?" tanya Kezia sambil sesekali menyuapi Excelo yang bermain dengan mobil-mobilan. Excelo membanting dan melempar mainan membuat Kezia harus mengambilnya supaya Excelo tidak merengek.


"Em..dua minggu lagi mungkin, Kez. Mereka masih bingung. Pokoknya bulan ini mereka bakal datang." jawab Mrs. Lidya kemudian menyuruh pelayan rumah untuk menyiapkan makan siang.


Kezia hanya ber-oh ria. Karena Excelo sudah menghabiskan makanannya, Kezia memutuskan untuk membawa Excelo ke kamar dan menidurkannya di kasur. Excelo sangat penurut akhir-akhir ini. Anak itu lebih dekat dengan Vernon meskipun sering merengek untuk Kezia gendong. Vernon juga tidak henti-hentinya memanjakan Excelo padahal Kezia sudah melarang untuk membelikan banyak mainan. Itu akan mengotori tempat jika jumlahnya hampir memenuhi kamar. Tak jarang banyak mainan yang sudah tidak berbentuk karena ulah Excelo.


Kezia turun ke bawah setelah Excelo tidur. Mrs. Lidya sudah menyiapkan makan siang dan menyuruh Kezia untuk makan siang sebelum beristirahat.


Di dapur banyak pelayan berlalu lalang dan beberapa dari mereka membersihkan mainan Excelo.


"Ma, gimana kalau mainan Excelo Kezia sumbangin aja?" tanya Kezia kemudian duduk dan menatap sang ibu yang sedang menyiapkan piring.


Mrs. Lidya mengeryit kemudian ikut duduk setelah memberikan piring untuk Kezia, "Kenapa? Excelo gasuka mainan? Dari tadi mama liat dia aktif banget sama mainannya."


"Bukan gitu, Ma. Mainan Excelo terlalu banyak. Dari pada di hancurin sama Excelo, Kezia bisa sumbangin buat cucu Mbok Uma."


Mrs. Lidya tertawa kecil, "Terserah kamu, Kez. Namanya juga anak cowo kalau ga dihancurin ya di banting."


Kezia mengangguk dan ikut tertawa.


"Oh ya gimana hubungan kamu sama suamimu? Dia masih suka selingkuh?" tanya Mrs. Lidya dengan datar.


Kezia mengerjapkan mata berkali-kali. Mamanya mengalihkan pembicaraan dengan cepat dan tema yang berbeda pula. Membuat Kezia sedikit terkejut.


"Vernon udah ngga ada hubungan sama Sarah, Ma. Kami juga baik-baik aja. Vernon udah berubah kok."


"Yakin kamu?" tanya Mrs. Lidya, Kezia hanya mengangguk. "Yaudah, bagus kalau gitu. Mama ga bisa tolelir perbuatan suamimu kalau buat kamu kabur lagi. Kamu kira mama ga khawatir waktu kamu pergi dari sini sampai ga ada yang bisa nemuin?"


"Ma..."


Mrs. Lidya berdecak melihat anak bungsunya. Kezia tahu betul sikap ibunya yang suka sekali menyinggung masalah di masa lalu. Bukan apa-apa, tapi Mrs. Lidya seperti ini karena mengawatirkan Kezia yang terlalu baik dan mudah memaafkan kesalahan orang lain.


"Ish..mama kan cuma tanya, Kez." Mrs. Lidya memberikan lauk di piring Kezia, "Terus gimana? Kalian gaada niatan ngasih mama cucu lagi?"


Kezia hampir tersedak, langsung saja menatap mamanya dengan memohon, "Kan Kak Ben udah ma. Kezia masih pengen istirahat sebentar."

__ADS_1


"Kamu kayak papa kamu, Kez. Tahu ngga kamu? Kemarin mama nyinggung masalah kamu, terus papa kamu bilang katanya suruh beri jarak dua tahun buat adik Excelo nanti. Biar ngga kayak Ben yang suka kebelet punya anak. Kasian Ann yang kewalahan." Mrs. Lidya tertawa mengingat menantunya yang sering bercerita kalau anaknya memang tidak bis jauh-jauh dari istrinya. Beruntung sekali Bennedict mendapat istri sesabar Anne.


"Udah ah, Ma. Liat aja nanti. Kezia baru aja selesai hiatus. Masa Kezia harus hiatus lagi?"


"Haha...iya, yaudah cepetan makan sebelum dingin."


Mrs. Lidya memilih untuk diam setelah habis-habisan menggoda anak bungsunya. Setidaknya Mrs. Lidya tahu kabar anaknya. Sehingga tidak perlu mencampuri urusan rumah tangga di antara Kezia dan Vernon.


♥♥♥


Kezia berpamitan untuk pulang. Vernon sudah menunggunya di depan rumah. Pria itu juga pulang lebih awal dari biasanya. Kezia berpikir mungkin masalah di kantor sudah bisa diatasi dengan baik. Vernon juga bukan orang biasa. Walaupun Kezia sedikit khawatir karena Vernon tidak bisa tidur dengan nyenyak sebelum ini.


"Selamat malam, Mister." Vernon menyapa Mr. Riwijaya dengan sopan. Karena Mrs. Lidya sedang keluar menemui teman lama alhasil Mr. Riwijaya yang mengantar Kezia sampai di depan pintu rumah.


"Kau pulang cepat. Tidak biasanya, apa ada masalah?" jika sebelumnya Kezia berpikir kalau Vernon pulang kantor lebih cepat adalah hal bagus. Berkebalikan dengan Mr. Riwijaya yang sudah pasti tahu kalau ada sesuatu yang menimpa menantunya.


Vernon merapatkan bibirnya, "Tidak ada, Mister." jawab Vernon dengan senyum tipis.


Mr. Riwijaya hanya mengangkat alisnya dan memberikan senyuman seorang mertua. "Baiklah, kalau ada apa-apa kau bisa cerita." Mr. Riwijaya terkekeh pelan, "Masalah pekerjaan atau yang lain. Dan tolong panggil aku sebagai ayahmu. Aku tidak ingin terlihat seperti atasanmu" kata Mr. Riwijaya dan membuat Vernon sedikit lega. Vernon sering canggung jika berhadapan langsung dengan mertuanya.


"Baik...ayah."


"Hati-hati di jalan. Kau membawa anak kesayanganku."


"Papa..."


"Baik, ayah. Saya pamit dulu. Terima kasih sudah menemani, Kezia."


Mr. Riwijaya mengangguk lagi dan melihat ketiga orang di depannya mulai memasuki mobil. Hingga mobil Vernon tidak terlihat dan gerbang rumah di tutup perlahan oleh satpam. Diam-diam Mr. Riwijaya mengerti permasalahan yang menantunya hadapi. Pria itu harus bisa menyelesaikan semuanya sebelum Mr. Riwijaya kehilangan kepercayaan untuk kedua kalinya.


♥♥♥


"Sepertinya kamu butuh istirahat?" Kezia datang membawa cangkir berisi kopi untuk suaminya yang terlihat melamun.


Vernon seketika sadar dan melepas kaca mata kerjanya, melihat istrinya datang dengan secangkir kopi. Vernon tersenyum karena Kezia terlihat khawatir hingga membuat hatinya menghangat.


"Ya sepertinya. Tapi aku lebih butuh kamu."

__ADS_1


Kezia menjadi salah tingkah mendengar pernyataan Vernon. Dengan cepat ia menaruh cangkir kopi dan hendak berbalik.


"Kez, kamu bisa memijat bahuku sebentar?" Vernon mencegah kepergian Kezia karena merasa kalau wanita itu sumber semangatnya. Kezia tampak berpikir sebentar kemudian mengangguk menuruti kemauan Vernon.


"Istirahatlah sebentar kau juga butuh waktu untuk pulih, Vernon." Kezia mulai memijat bahu Vernon dengan perlahan. Vernon juga mendesah nyaman karena sentuhan Kezia yang membuat pundaknya rileks.


"Ugh, Kez, ya di situ. Astaga, aku baru tahu kalau kamu pandai memijat."


Pipi Kezia bersemu merah hingga tanpa sadar menekan keras pundak Vernon.


"Aw, pelan-pelan Kez."


"Ma-maaf."


Kezia melakukan pijatan lembut sampai Vernon menyuruhnya berhenti. Sepertinya Vernon memang butuh istirahat karena keadaannya belum pulih total kalau tidak emosinya bisa kembali labil.


"Kemarilah." Vernon menyuruh Kezia untuk duduk dipangkuannya. Sedangkan Kezia membuka mulutnya melihat perintah Vernon.


"Kez..." dengan gugup Kezia menuruti kemauan Vernon. Kini posisi mereka sangat dekat. Bahkan Vernon mulai menaruh kepalanya di ceruk leher Kezia. Pria itu mengendus pelan daun telinga Kezia dan menghirup wangi Kezia yang sangat khas. Aroma yang selalu membuat Vernon ketagihan karenanya.


"Sampai kapan kita akan seperti ini? Kau belum bisa menerimaku kembali?"


"Maaf..."


Vernon menghela napas kecewa, "Hm...aku tidak memaksamu. Ini semua juga salahku. Masih ada banyak waktu tapi aku tidak bisa menahannya lebih jauh. Kamu membuatku gila, Kez."


Kezia menggigit bibirnya keras dan memejamkan matanya. Seketika ia teringat ucapan ibunya ketika berada di butik. Kezia tidak bisa lari dari tanggung jawabnya kali ini.


"Kita bisa melakukannya sekarang." kata Kezia dengan lirih dan membuka matanya perlahan. Menolehkan kepala hingga tatapannya bersibobrok dengan mata Vernon yang tampak kacau karena gairah.


"Kez—" Vernon mendekatkan kepalanya hingga hidung mereka saling bersentuhan, Vernon tersenyum tipis, "Tidak, aku tidak ingin memaksamu."


Kezia menghadap ke depan kembali, "Aku tidak merasa terpaksa. Aku juga menginginkannya." Kezia tampak terkejut dengan perkataannya sendiri. Tapi itulah yang selama ini Kezia rasakan. Kezia sama-sama merasakan seperti yang Vernon rasakan. Tapi bayangan menyakitkan selalu membuat Kezia ragu.


"Sweetheart..."


"Kalau kamu ngga mau aku akan kembali ke kamar." Kezia hendak berdiri namun tertahan ketika merasakan tangan Vernon yang mulai melingkar di pinggangnya. Bibir Vernon tidak tinggal diam, pria itu sengaja menempelkannya pada leher Kezia yang sensitif hingga dengan sadar membuat Kezia merasa geli.

__ADS_1


Kezia tidak bisa membuat mereka menahan sakit lebih lama lagikan? Mereka sama-sama menginginkannya. Jadi mungkin ini awal untuk melupakan segalanya. Karena hari ini dunia adalah milik mereka. Sama-sama memadu cinta dan membagi rasa.


♥♥♥


__ADS_2