
Max Nizone adalah tempat beberapa orang yang telah lama kehilangan arah. Tidak punya keluarga, berusaha lari dari hukuman, dan tidak punya jalan untuk pulang. Setiap dari mereka bernaung pada salah satu penguasa dunia gelap yaitu Tn. Max. Pria berumur kira - kira 40 tahunan ke atas yang memiliki latar belakang keluarga buruk.
Ayahnya seorang penjahat dan suka menghamburkan uang. Sedangkan ibunya pemilik bar terlarang yang pernah berjaya pada masanya.
Tn. Max terkenal karena ketenangan yang selalu ia tunjukkan bahkan bila dihadapkan dengan badan keamanan tertinggi sekalipun. Tn. Max selalu lolos dari hukuman sel karena kecerdikan yang ia punya. Pria tua itu selalu bergerak dengan bersih sampai tidak ada yang mengetahui mengapa dia memilih untuk melindungi orang - orang yang tidak memiliki apapun di dunia ini.
Meskipun terjun dalam dunia yang buruk, Tn. Max tidak pernah berperilaku semena - mena pada mereka yang lemah. Akan tetapi, Tn. Max, bisa saja menjadi musuh yang berbahaya jika seseorang berani menantangnya.
Meskipun Max Nizone tempat paling aman untuk berlindung. Tapi tempat itu terdapat banyak rahasia yang tidak pernah diketahui orang luar. Detektif maupun mata - mata tidak akan pernah bisa memecahkan teka - teki yang menyebabkan Max Nizone selalu dibebaskan walaupun menjadi buronan.
"Ada yang ingin menemui mu, Sir." Tobias, tangan kanan Tn. Max membisikkan informasi yang ia dapat dari Ian.
Tn. Max menatap lurus ke depan dan menampilkan senyum misterius, "Biarkan." kata Tn. Max. Jari - jarinya mengetuk meja dengan ketukan lambat.
"Baik, Sir." Tobias membungkukkan badan sedikit kemudian keluar dari ruangan Tn. Max.
Diam - diam Tn. Max memikirkan sesuatu hal. Sesuatu yang mungkin ia ketahui. Hal yang pernah terjadi dan yang akan terjadi ke depan. Siapa yang tahu kalau pemuda itu menemuinya lagi untuk meminta bantuan? Pemuda malang yang tidak memiliki rumah untuk pulang. Pemuda yang selalu dijadikan kambing hitam. Meskipun hal itu memiliki arti tersendiri, rencana yang pernah disusun tidak pernah berubah dari awal.
Dan pemuda itu membuktikannya. Berhasil membuat dua kubu saling waspada satu dengan yang lain. Dan memanfaatkan situasi tersebut untuk menjelaskan siapa dirinya yang sebenarnya.
Figo, pemuda yang berani mengambil semua resiko untuk menemukan sebuah jawaban dari kasus beberapa tahun yang lalu. Peristiwa yang tidak pernah hilang dari ingatan dan membekas sampai sekarang.
♥♥♥
Max Nizone tampak suram dari luar dan memberi kesan rumah tidak terawat karena cat tembok yang melepas seiring berjalannya waktu. Tak jarang banyak orang memilih untuk mengabaikan tempat itu. Lagi pula, Max Nizone berada jauh dari perumahan warga setempat.
Figo berjalan dan melirik orang - orang Max Nizone dari balik tudungnya. Mereka penasaran karena kedatangan Figo yang di dampingi orang penting Max Nizone.
"Tundukkan kepalamu." desis Ian, orang paling muda yang berada di gerombolan Max Nizone.
__ADS_1
Figo hampir mengumpat dan segera menundukkan kepalanya. Max Nizone bukan tempat sembarangan. Dia tidak bisa bergerak bebas.
Setelah melewati beberapa lorong akhirnya Figo bersama kelompok Ian sampai di tempat utama Max Nizone.
Ian menyuruh orangnya mengawasi Figo. Pemuda tampan itu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari seseorang. Hingga Tobias muncul, menyuruh Ian membawa Figo menghadap Tn. Max. Tanpa anak buah dan Tobias.
Ian mengerutkan dahi curiga. Tobias hanya mengedikkan bahu tidak mau memberi Ian penjelasan. Akhirnya Ian hanya menghela napas kasar dan membawa Figo untuk masuk ke dalam ruangan Tn. Max.
Mereka berdua di sambut baik oleh Tn. Max. Ian menundukkan badannya sedikit untuk menyapa orang yang menyelamatkan hidupnya.
"Kau tumbuh dengan baik." kata Tn. Max dengan senyuman lebar. Matanya menyipit dan terdapat beberapa kerutan di dahi karena faktor usia.
"Tentu, Sir. Berkat Anda saya bisa hidup sampai sekarang ini."
Tn. Max menganggukan kepalanya kecil, mengalihkan perhatiannya ke pemuda di samping Ian.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Tn. Max yang ditujukkan pada Figo. Namun Figo tidak menyadarinya sampai Ian menyikut perut Figo hingga membuat pria itu mengaduh.
Figo menatap Ian dengan tajam. Tidak lama dan beralih menatap Tn. Max, "Baik. Seperti yang Anda lihat." jawab Figo dengan datar.
Tn. Max tertawa ringan. Bocah itu masih sama dinginnya seperti beberapa tahun yang lalu.
"Ya, lebih baik dari sebelumnya."
Tn. Max menatap Ian kembali. "Antarkan dia ke kamarnya. Berikan makanan dan pakaian yang layak. Kau bisa mulai berkenalan dengannya, Ian. Dia yang akan menjadi pelatihmu." kata Tn. Max.
Ian tampak terkejut karena perkataan Tn. Max. Tidak mungkin pria asing yang berada di sampingnya ini adalah pelatih Ian dalam menggunakan senjata. Bukankah itu hal yang lucu untuk di lakukan?
"Tidak. Anda bercanda kan?"
__ADS_1
Tn. Max menaikkan satu alisnya serta tersenyum miring. "Aku sudah tua. Bercanda bukan keahlianku. Jangan remehkan dia, Ian. Kau harus menerima ini atau kemampuanmu tetap di level rendah." ujar Tn. Max yang membuat Ian cemberut dan menghentakan kaki ringan karena kesal.
Figo menahan tawanya dengan menundukkan kepala. Ia tidak menyangka, pemuda yang tadinya berlagak sok dewasa ternyata hanya bocah ingusan yang baru terjun dalam dunia gelap.
"Baik." Ian mengatakannya dengan enggan.
Tn. Max tersenyum kecil, "Kalau begitu kalian boleh keluar. Dan kau (Figo), temui aku besok siang di tempat ini." Figo berdeham dan mengangguk.
Ian membungkukkan badan kembali dan menarik lengan Figo untuk keluar ruangan.
Tn. Max terus memperhatikan mereka sampai keduanya pergi dari ruangan ini.
Di luar, Ian melepas tangannya dengan kasar dari lengan Figo. "Lepaskan taliku." perintah Figo karena tangannya mulai perih akibat ikatan tali yang kencang.
"Lepas saja sendiri."
"Hei!"
Ian menatap tajam Figo kemudian berlalu untuk pergi tanpa memperdulikan protesan dari pria itu.
Tobias mendekati Figo dengan senyuman geli. Baru ini dia melihat Ian kembali seperti anak kecil ketika keluar dari ruangan Tn. Max. Tobias jadi penasaran apa yang terjadi di dalam tadi.
"Tidak usah pedulikan dia. Ian memang kekanak - kanakan. Dia paling muda di sini. Ya walaupun Cain seumuran dengannya. Tapi dia yang paling muda." Tobias membantu Figo melepaskan ikatan tali dan membiarkan anak buah Ian umtuk pamit.
Figo menghela napas dengan lega, memijat pergelangan tangannya searah jarum jam, "Aku tidak tanya, dan...terimakasih, dude." Figo menatap Tobias sekilas. Pria itu terlihat seumuran dengannya. Di lihat dari postur tubuh, Tobias pria yang ramah.
Tobias merapatkan bibirnya menatap Figo dengan intens. Tobias ingin bertanya sesuatu tapi dia urungkan karena tidak terlalu penting. Tobias menyuruh Figo untuk pergi ke kamarnya dan memberi petunjuk arah sampai pria itu paham. Tobias kembali masuk ke ruangan Tn. Max dengan sikap tenang.
♥♥♥
__ADS_1