
Max Nizone
Seorang pria tampan yang baru saja keluar dari ruang Tn. Max berjalan dengan santai menuju ke ruangan yang akan ia kunjungi. Figo, pria itu memutuskan untuk menemui Ian setelah Tn. Max memberinya anjuran untuk mendidik bocah itu dengan sedikit sabar. Selama Figo berada di dekat Ian, ia tidak bisa menahan emosi karena Ian terus menolak untuk menerima nasihat dan sering melenceng saat latihan menembak.
Sekarang Figo berada di depan ruangan yang pintunya terbuka lebar menampilkan tiga pemuda yang sedang bermain kartu dan mengabaikan kehadirannya.
"Hei, Ian. Kakakmu sudah datang." seru Naren, pemuda yang lebih tua dari Ian yang suka sekali memanas-manasi Figo ketika mengajak Ian untuk kembali berlatih.
Tn. Max memang menjadikan Ian lebih unggul dari anak seumurannya yang baru saja bergabung dengan Max Nizone. Alasan Tn. Max yaitu karena Ian memiliki dendam dengan keluarga sepupunya yang berhasil merebut warisan dan membunuh kedua orang tua Ian juga adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Tidak bisa dibayangkan jika berada di posisi Ian yang saat itu baru saja pulang dari tempat les dan menemukan keluarganya tewas dengan darah yang membajiri seisi rumah. Ian yang ketakutan berhasil melarikan diri dari rumah setelah pemakaman keluarganya. Dan kebetulan Tobias menemukan Ian lalu membawanya kepada Tn. Max.
"Naren, diamlah!" Cain menegur sifat temannya yang tidak sopan. Cain tahu betul siapa itu Figo. Sebelum ini dia sempat mendengar nama Figo yang sering dikaitkan dengan Black Center, kelompok mafia berbahaya yang selalu bertindak misterius juga menerjang musuh secara diam-diam tanpa meninggalkan jejak.
Cain mewakili permintaan maaf dengan menatap Figo dan menundukkan sedikit kepalanya. Sedangkan Figo hanya tersenyum tipis. Di antara tiga bocah yang berada di ruangan ini hanya Cain yang menghargai Figo sebagai senior.
Figo berdecak, menatap Ian dengan tajam meski orang yang mendapat tatapan maut itu bersikap terlalu santai seolah tidak memiliki masalah dengan siapapun. "Hei bocah sudah waktunya untuk berlatih. Jangan mengabaikan perintah dari Tn. Max." Figo menyandarkan punggungnya di pinggir pintu. Dan mendapati Ian tidak menghiraukan setiap perkataan yang baru saja ia keluarkan.
"Dasar rubah kecil." gumam Figo berusaha mengingat saran Tn. Max dalam menghadapi Ian yang keras kepala di tambah tidak menyukai Figo sebagai pembimbingnya.
__ADS_1
"Baiklah, terserah. Aku juga tidak rugi. Tapi setelah ini salahkan dirimu kalau Tn. Max sendiri yang turun tangan, ck." Figo menipiskan bibirnya kemudian berbalik untuk pergi ke kamarnya.
Cain yang melihat itu langsung menghentikan Figo dan membujuk Ian dengan alasan yang Ian pakai saat menerima tawaran Tn. Max ketika bergabung dengan Max Nizone. Ian mulai terpengaruh dan membalas tatapan Figo yang masih setajam ujung pisau. Dengan enggan pemuda itu berdiri dari tempatnya kemudian menyudahi permainan dengan Cain dan Naren.
Ian pergi mendahului Figo tanpa menyapa pria itu. Karena terlalu malas, Figo tidak menghiraukan hal tersebut. Sebelum pergi Figo sempat memberi kode kepada Cain. Sedangkan Cain hanya mengangguk meski tidak mengetahui apa yang Figo katakan.
Dan mereka berpisah setelah Figo menyusul Ian untuk latihan menembak atau melempar belati seperti sebelumnya. Ian harus lebih unggul dari yang lainnya. Menggunakan pistol dan belati terlalu mudah untuk dipelajari. Tapi jika di lihat lebih detail, Ian sedikit risau melihat kedua benda itu. Karena di antara benda tajam tersebut mengingatkannya kepada kejadian di masa lampau. Dan menggali ingatan Ian yang sudah lama ia kubur dalam-dalam.
♥♥♥
"Apa kau gila!?" seru Ian ketika Figo segaja menggores sedikit lengannya dengan belati pemberian Tn. Max.
"Motherf*****!" umpat Ian.
Figo membelalakan matanya, "Bocah, jangan main-main dengan perkataanku." Figo kembali melempar belati yang ada di tangannya.
Ian refleks menghindar dan bernapas lega karena Figo tidak mengarahkan belati pada sasaran. Ian sedikit waspada mengingat Figo lebih serius daripada biasanya. Ian kira, Figo akan jengah dan memilih untuk menyerah membimbingnya. Segala cara Ian gunakan untuk memberontak, tapi yang ia dapat adalah penolakan Tn. Max dan tetap menjadikan Figo pembimbing sampai Figo pergi dari Max Nizone.
__ADS_1
"Hufft...cukup! Aku mau istirahat sebentar!" pinta Ian dan melihat Figo sedikit memohon. Tenaga Ian terkuras habis karena Figo tidak mengijinkannya istirahat atau hanya sekedar minum air.
"Tidak." Figo kembali melempar dua belati dan terus melatih Ian sampai hari menjelang sore. Mereka memutuskan untuk istirahat di gudang penyimpanan senjata. Figo cuek saat Ian tiduran di tanah tanpa alas. Hari ini Figo berhasil membalas kelakuan Ian yang kurang ajar. Sudah cukup Figo menahan diri karena ancaman Tn. Max.
"Aku tidak tahu kalau kau pandai memainkan senjata." Ian mengakui skill Figo dalam memainkan belati. Di banding pistol, pria itu lebih mahir bermain benda tajam yang bisa membunuh orang dalam jarak dekat.
Figo hanya diam tidak menanggapi perkataan Ian. Pria itu memandang lurus ke depan. Menegak minumnya sampai tandas. Sekarang ini Figo sedang memikirkan seseorang yang sudah lama ia tinggalkan. Walaupun Tobias sudah memberinya informasi tentang orang itu. Figo tidak bisa tetap tenang meski harus terkurung di Max Nizone sampai waktunya tiba.
Kezia, wanita itu sudah kembali pada Vernon. Figo tidak tahu kenapa wanita itu memilih untuk kembali. Figo sedikit lega karena Kezia memilih pergi di saat Interowen mengincar Figo. Tapi, dia tidak bisa tenang kalau Kezia bersama Vernon. Meski Figo orang asing untuk hubungan keduanya, di lain sisi Figo mengawatirkan kalauVernon kembali melukai Kezia. Dia tidak akan membawa Kezia pergi jika Vernon masih melakukan hal yang sama. Tidak peduli jika mereka bukan sahabat melainkan musuh dingin setelah penyerangan waktu itu.
"Kalau kau menginginkan tujuanmu tercapai. Jangan pernah sia-siakan kesempatan untuk menggapainya." Figo berkata dengan pelan dan penuh penekanan.
Ian memandang langit yang berwarna jingga keemasan, "Kau tidak tahu beratnya menjalani hidup seperti diriku. Aku masih kecil saat itu untuk membalas dendam. Tapi sampai saat ini mereka masih bersikap biasa bahkan bahagia di atas penderitaan yang kutanggung." Ian mengingat saat ia bersama keluarganya. Melihat senyum ayahnya ketika baru saja pulang setelah bekerja di luar kota. Ibu dan adiknya yang selalu mendukung Ian ketika pergi mengikuti olimpiade di sekolah. Mereka adalah keluarga yang hangat sebelum pamannya datang menghancurkan semuanya.
Figo menghela napas panjang. Cerita Ian sudah ia dengar dari Tn. Max. Tapi dia lebih tahu ketika Tobias yang menceritakan secara detail. Ia sedikit kasihan tapi kisah Ian tidak sebanding dengan masa lalu Figo yang lebih kelam. Meski hampir mirip, mereka berdua hidup dilingkungan yang berbeda. Ian dari keluarga baik-baik tapi Figo berasal dari keluarga yang sangat kacau.
"Ya...aku memang tidak tahu masa lalumu. Kalau kau ingin bangkit dan membalas mereka, berlatihlah lebih giat. Senjata di balas dengan senjata. Maka nyawa harus di balas dengan nyawa." Figo bangkit berdiri, "Tapi ketahui satu hal. Kau tidak bisa membandingkan masa lalumu dengan orang lain." Figo melihat Ian dan sedikit menundukkan kepala, "Mungkin saja aku lebih buruk dari apa yang pernah kau alami."
__ADS_1
Figo pergi meninggalkan Ian. Memutuskan untuk membersihkan diri. Sedangkan Ian menatap kepergian Figo dan memikirkan perkataan pria itu. Sampai detik ini Ian tidak pernah mencari tahu tentang asal usul Figo. Yang ia tahu Figo hanya meminta izin untuk bergabung di Max Nizone melalui dirinya. Walaupun diam-diam Ian mengetahui kalau Tn. Max sudah mengenal Figo sejak lama.
♥♥♥