
Hari demi hari terlewati dengan baik. Hubungan antara Kezia dan Vernon mulai membaik. Vernon juga kembali bekerja setelah menemani Kezia di rumah selama tiga hari lamanya. Vernon mulai mencintai istrinya. Kezia juga memahami perubahan sikap Vernon yang lebih baik dari sebelumnya.
Meski sedikit asing, Kezia merasa bahagia setelah lama menantikan hari ini tiba. Kezia melupakan perceraian yang sempat ia pikirkan dulu ketika di rumah barunya. Wanita itu mulai fokus menerima Vernon sebagai suaminya. Memperbaiki pernikahan mereka yang sempat berantakan. Dan mulai hidup dengan normal layaknya suami istri.
Di lain sisi Vernon memaklumi Kezia yang masih sering menghindari sentuhannya. Wanita itu belum terbiasa dengan sentuhan Vernon yang mengarah pada perasaan. Kezia butuh waktu untuk melupakan masa lalu. Vernon tidak bisa memaksa istrinya. Ini semua karena kesalahan Vernon sendiri. Jadi, dia harus bersabar menunggu Kezia.
Jika dulu Kezia yang selalu menunggu Vernon untuk sadar. Sekarang waktunya Vernon untuk menunggu Kezia menerima sentuhannya sebagai suami.
"Dia tidur lagi?" Vernon datang dan duduk di sebelah Kezia. Istrinya sibuk mengurusi Excelo yang lebih aktif ketika pindah di rumah ini.
Kezia menatap Vernon sekilas dan memberikan senyuman manis. Kezia hanya mengangguk ringan menjawab pertanyaan Vernon.
"Aku akan membawanya ke kamar."
"Tidak," sela Kezia dengan cepat. "Maksudku...aku ingin menemui seseorang setelah ini. Jadi, biar mama yang menjaga Excelo."
"Mama?"
"Ya. Kau sibuk hari ini?"
"Tidak."
"Kau bisa mengantarku ke rumah?"
"Tentu. Tapi, kau ingin kemana?"
"Aku mau ke Cafe Lwost."
"Cafe Lwost? Baik. Tapi aku akan menemanimu sampai pulang."
"Vernon—"
"Aku temani atau tidak sama sekali."
Kezia menatap Vernon memilih mengalah dan menghela napas ringan. "OK,"
Vernon tersenyum tipis, "Tunggu di sini aku akan mengganti pakaian dulu." pria itu segera pergi untuk mengganti pakaian yang lebih santai. Tidak ingin istrinya menunggu lebih lama.
Vernon kembali turun dan membawa perlengkapan bayi.
Kezia memandang Vernon dengan takjub. Astaga, suaminya benar - benar berubah menjadi seorang ayah.
"Ada apa?" Kezia menggeleng. "Kalau begitu aku tunggu di depan. Aku siapkan mobil sebentar."
__ADS_1
Kezia berdiri dari kursi dan melangkah untuk berpamitan dengan Bi Tini. Setelah itu menyusul Vernon dan meninggalkan rumah menuju Kediaman Riwijaya.
♥♥♥
Kediaman Riwijaya
"Tampannya." Mrs. Lidya menggendong Excelo yang tertidur nyenyak. Bayi itu sangat tenang dan tidak merasa terganggu saat perjalanan ke rumah keluarga Riwijaya.
Kezia melirik Vernon kemudian tersenyum, "Mama, aku ingin pergi sebentar bersama Vernon untuk menemui seseorang. Excelo biar di sini sebentar. Dia belum terbiasa dengan lingkungan di sekitar sini. Sangat ramai."
Mrs. Lidya mengangguk, "Ya. Kalian bisa pergi. Aku sudah lama merindukan cucuku." kata Mrs. Lidya.
"Kalau begitu kami pergi dulu." Kezia berpamitan dengan orang tuanya. Begitu pula dengan Vernon.
Mereka undur diri dan segera pergi menuju Cafe Lwost.
Mr. Riwijaya mendekat untuk melihat cucunya. "Sepertinya mereka mulai baikan. Kau lihat tadi kan? Kezia tidak menunjukkan penolakan saat Vernon menyentuhnya." Mr. Riwijaya mengelus rambut Excelo. Pria setengah baya itu memang memperhatikan gerak - gerik putri dan menantunya.
Apalagi saat Vernon melingkarkan tangan ke pinggang Kezia. Mr. Riwijaya berusaha mengedipkan matanya berulang kali untuk melihat kenyataan tersebut. Meski berlebihan tapi wajarkan karena mereka mempunyai masalah buruk sebelum ini.
Mrs. Lidya menyetujui perkataan suaminya. "Hm...biarlah seperti itu. Semoga mereka tidak menghadapi masalah yang lebih sulit setelah ini." kata Mrs. Lidya.
"Ya. Mereka berhak bahagia seperti kita."
Ya, semoga saja.
♥♥♥
Vernon merangkul pundak Kezia saat memasuki cafe yang paling mewah ki ibu kota. Banyak pengunjung yang berdatangan. Kebanyakan dari orang berkelas. Beberapa dari mereka mengenal Kezia dan menyapa penyanyi yang baru saja mengadakan konser itu.
Beberapa juga ada yang melihat Vernon penuh minat. Banyak perempuan yang secara terang - terangan melihat Vernon karena ketampanan dan kharisma pria itu. Bahkan mereka tidak peduli kalau Vernon sudah memiliki istri yang sekarang berada di sampingnya.
"Dimana?" tanya Vernon yang mulai risih karena beberapa perempuan mulai membicarakan kedatangan mereka.
"Itu mereka!" Kezia mengajak Vernon untuk mendekati meja kedua yang berada di belakang.
Vernon sedikit menyipitkan matanya. Ternyata Kezia menemui teman lama yang selama ini membantunya untuk kabur. Siapa lagi kalau bukan Leah dan Rafael?
Kezia melakukan temu kangen dengan Leah. Sedangkan Vernon menatap tidak suka ke arah Rafael. Bagaimana tidak? Dia tidak bisa bersikap biasa karena pria itu membantu Figo untuk menyembunyikan keberadaan istrinya.
Rafael tersenyum masam melihat Vernon bersikap waspada. Masalah sudah kelar, tapi tidak dengan Vernon. Pria itu benar - benar mengingat orang yang membuatnya kesulitan untuk menemukan istrinya dan terjebak dengan banyak masalah.
"Hei." sapa Rafael.
__ADS_1
"Hn." Vernon duduk di dekat kursi Kezia. Membiarkan istrinya bahagia meski bukan karena dirinya.
"Bagaimana kabarmu, Kez?" tanya Rafael.
"Aku baik. Kalian? Kenapa Reon tidak ikut?"
"Dia sedang berkeliling ibu kota bersama Bi Miah. Oh, astaga! Kau sangat cantik di panggung! Kau tahu, Kez, Reon mendesakku untuk menonton konsermu." kata Leah dengan semangat.
Kezia tertawa melihat Leah karena wanita itu ingin menonton konser Kezia setelah hiatus lama karena suatu masalah yang mengharuskan Kezia untuk rehat dari dunia entertaiment.
"Aku senang mendengarnya."
Leah tersenyum lalu melihat ke arah Vernon yang mendengar percakapan mereka tanpa minat. "Kenapa kau mengajaknya?" bisik Leah.
Kezia bertanya melalui ekspresi wajah. Leah memberikan kode dengan melirik ke arah Vernon.
"Dia suamiku, Le." jawab Kezia. Yang tentu saja di dengar Rafael dan Vernon.
Vernon mulai tidak nyaman duduk di kursinya. Leah, wanita itu tidak menyukai kehadiran Vernon. Terlihat jelas bagaimana Leah menatap dan mendengus setiap kali melihat Vernon.
"Kau memaafkannya, Kez? Setelah apa yang dia lakukan padamu?" tanya Leah secara terang - terangan.
Vernon menoleh mendengar perkataan Leah.
"Leah." Rafael mencoba menghentikan pertanyaan Leah yang bisa membuat Vernon dan Kezia tersinggung.
Kezia menggigit bibirnya dan menoleh ke arah Vernon. Sepertinya, Vernon mulai terpancing. Mata tajam pria itu semakin menggelap tanpa ia sadari.
"Tidak usah di jawab. Kita bicarakan hal yang lain saja. Maaf." ujar Rafael.
Kezia menghela napas pelan. Leah sangat mengawatirkan Kezia sampai sekarang. Hal itu membuat hati Kezia menghangat. Leah memang sahabat yang baik.
"Tidak apa - apa." Kezia tersenyum, tangannya menggenggam tangan Vernon untuk menetralkan perasaan pria itu.
Vernon menatap tangannya yang berada di paha. Ini seperti mimpi karena Kezia mau menyentuhnya lebih dulu meski dalam situasi yang berbeda.
"Ehm...bagaimana dengan konser selanjutnya? Aku bisa memberi kalian tiket gratis kalau kalian mau."
"Tentu saja. Kami akan menerimanya dengan senang hati. Benarkan, Le?" Rafael mencoba membujuk Leah untuk mencairkan suasana.
Leah mengangguk dan memaksakan sebuah senyum. "Ya, Reon akan senang mendengarnya."
Kezia menatap Leah dengan di liputi rasa bersalah. Leah mungkin belum tahu mengenai titik masalah yang sebenarnya. Yang membuat Kezia mau memberikan kesempatan untuk Vernon. Lain kali dia akan menjelaskan semuanya ke Leah agar wanita itu tidak terlalu mencemaskan dirinya.
__ADS_1
♥♥♥