Stephanotis

Stephanotis
43 — Menyelesaikan Masalah


__ADS_3

Vernon berjalan tegas menemui Theodore, tangan kanan sekaligus sekretarisnya. Hari ini setelah Vernon menyetujui beberapa laporan, ada masalah yang mulai membuat dirinya marah. Sarah, wanita itu berani-beraninya mengancam Vernon untuk kedua kali. Seharusnya Sarah sadar diri setelah Vernon membuat Mattew tutup mulut dan mengancam agency model milik pria itu.


Theodore berdiri saat melihat atasannya datang. Pria itu tahu maksud kedatangan Vernon. "Selamat siang, Sir," sapa Theodore.


Vernon mengangguk singkat dan berjalan masuk memilih untuk duduk di depan Theodore. "Apa yang kau bawa sebagai bukti? Aku ingin sekali menyumpal mulut wanita licik itu." Vernon menampilkan raut tidak suka yang kentara. Tangannya mengepal menahan emosi.


Theodore membenarkan posisi duduknya lalu berkata, "Saya memiliki banyak bukti dan informasi, Sir. Tapi ada satu informasi penting yang harus saya sampaikan kepada Anda."


Vernon menaikkan satu alisnya. Bertanya melalui pergerakkan tersebut.


"Sarah tidak berjalan sendirian. Wanita itu terlibat dalam kelompok merah, Gilbert. Pria tua yang selama ini menyembunyikan diri karena menjadi buronan." Theodore mengeluarkan beberapa lembar kertas. Kertas yang paling atas menampilkan foto seorang pria berwajah datar dengan bekas goresan di dahinya.


"Tua bangka ini...bukankah dia?"


"Dia ayah dari mantan kekasih Tuan Petra, Nona Caroline. Sepertinya Anda tahu tentang masalah ini. Karena masalah beberapa tahun lalu mungkin saja berkaitan dengan Gilbert." Theodore menjelaskan kembali tentang kekacauan Black Center yang diduga karena pemberontakan Figo, mantan mafia Black Center.


Tapi Petra tidak sepenuhnya menyalahkan Figo. Pria itu mencari kemungkinan lain mengenai kerusakan markas Black Center yang lama.


Vernon tampak berpikir dan menggali kejadian di masa lalu. Vernon tidak ada di tempat kejadian saat itu. Dia sibuk mengurus perusahaan yang baru berkembang. Di tambah masalah perjodohannya dengan Kezia.


Alis Vernon bertaut kemudian bola matanya melebar ketika otaknya yang cermelang memikirkan suatu hal. "Mungkinkah Gilbert bekerja sama dengan Interowen? Tapi mustahil, karena Figo pernah melarikan diri ke sana." Vernon menatap Theodore. "Kau tahu kan apa yang aku pikirkan?"


Theodore memiringkan kepalanya mencoba bertelepati dengan bossnya. "Gilbert adalah mantan pembunuh. Karena statusnya sebagai buronan banyak kelompok, dia memilih untuk bersembunyi. Kalau dia ingin aman, satu-satunya tempat untuknya hanya Interowen." Theodore terkejut dengan kesimpulan yang ia dapat. Dia tidak percaya kalau bossnya bisa berpikiran sampai ke sana.


Vernon memijat dahinya. Ternyata hubungan cinta yang rumit bukan hanya pernikahan Vernon dengan Kezia. Petra juga begitu, bahkan membuat kelompoknya terlibat demi wanita yang kini sudah tiada.


"Kau beritahu Petra mengenai hal ini. Aku akan menangani masalahku dengan Sarah. Aku tidak peduli jika lawanku adalah Gilbert. Karena pria tua itu akan menyerahkan nyawanya dengan sukarela." Vernon memberi Theodore kode. Setelah itu Theodore mengangguk mengerti dan segera melaksanakan perintah atasannya.


♥♥♥

__ADS_1


Kezia mengedarkan pandangannya mencari seseorang. Siang ini dia berencana untuk bertemu dengan teman lama. Figo, pria itu membuat janji dengan Kezia untuk menyapa satu sama lain. Kezia ingin membalas hutangnya selama hidup di kota W. Kalau Figo tidak membantunya saat itu, Kezia akan tersiksa sendirian.


Kezia melangkah lagi dan berdiri di depan sebuah cafe. Saat sibuk membuka handphone, Kezia dikagetkan oleh seseorang yang berdiri menjulang di depannya. Pakaian orang itu serba hitam bahkan menggunakan masker untuk menutup setengah wajah.


"Maaf, Anda siapa?" tanya Kezia sedikit curiga.


Orang di depan Kezia hanya diam beberapa detik lalu menurunkan maskernya. "Ini aku," kata Figo, pria berpakaian serba hitam itu setengah berbisik.


Kezia melotot. "Figo!? Astaga aku kira kamu orang jahat!" cebik Kezia karena penampilan Figo saat ini sudah mirip dengan mata-mata.


Figo terkekeh kecil lalu berdeham. "Ayo kita masuk. Di luar sangat panas." Figo mengajak Kezia untuk masuk ke sebuah cafe. Kezia mengangguk riang. Dia senang akhirnya bisa bertemu dengan Figo. Setelah Leah dan Rafael mengunjungi Kezia, tidak lengkap rasanya kalau Figo tidak ikut.


Kezia dan Figo memilih untuk duduk di bagian belakang. Mereka memesan minuman lalu berbincang ringan.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Figo memulai pembicaraan.


Kezia menjawab dengan tersenyum, "Aku baik, Fik. Kau sendiri?"


Kezia mengerjapkan mata berkali-kali. "Tenang saja, Fik. Suamiku sudah berubah total setelah mengakui kesalahannya kok."


Figo hanya mengedikkan bahu. Dia tidak percaya kalau tidak melihatnya langsung. Dan Figo juga mendengar Kezia menyebut Vernon 'suamiku' berarti mereka berdua benar-benar sudah baikan.


"Oh, ya, kamu ga ada niatan cari pasangan, Fik? Masa kamu mau sendirian sampai tua?" tanya Kezia dengan nada bercanda. Sejujurnya, Kezia sedikit khawatir kalau Figo berniat untuk berstatus single sampai tua nanti.


Figo tersedak minumannya mendengar pertanyaan aneh yang Kezia berikan. Sedangkan Kezia meringis pelanmelihat hal itu. Sebegitu sensitifkah pertanyaannya?


Figo berdeham ringan. "Aku tidak ingin terlibat masalah percintaan. Setidaknya untuk saat ini," jawab Figo datar.


Kezia mengangguk pura-pura mengerti. Dia berdoa dalam hati semoga Figo cepat bertemu dengan jodohnya. Figo hampir memasuki kepala tiga. Apakah semua pria memilih untuk menyendiri sekian lama sebelum memutuskan untuk berkeluarga?

__ADS_1


Akhirnya mereka berbicara banyak hal. Kezia juga tahu dimana Figo tinggal karena pria itu menceritakan tentang Max Nizone walaupun Kezia tidak tahu tempat apa itu. Kezia hanya memiliki gambaran kalau Max Nizone itu sebuah villa atau perumahan. Mereka berpisah ketika Kezia mendapat panggilan dari Bi Tini karena Excelo menangis dan memberontak. Ikatan di antara ibu dan anak memang kuat. Bahkan saat mereka berjauhan sekali pun.


♥♥♥


Vernon menatap nyalang wanita di depannya. Dia kehabisan rasa sabar karena emosinya selalu dipancing oleh wanita itu.


Sarah mendengus lalu tertawa. Wanita di depan Vernon adalah Sarah. Mereka memutuskan untuk membicarakan kehamilan Sarah. Vernon tahu betapa liciknya Sarah menggunakan namanya untuk melindungi nama baik wanita itu. Padahal Vernon tahu kalau bayi yang ada dalam kandungan Sarah bukan bayinya. Melainkan bayi orang lain. Kemungkinan terbesar adalah bayi Mattew. Kekasih Sarah saat wanita itu masih berhubungan dengan Vernon.


"Bagaimana, Vernon? Apa kau kehabisan bukti untuk menyudutkanku? Kau tidak bisa membuangku begitu saja setelah memanfaatkanku, Baby." Sarah mengulurkan tangan menelusuri dada Vernon yang terbungkus jas kerja dengan kemeja putih di dalamnya.


Vernon menyentak tangan Sarah dengan kasar. "Jangan menguji kesabaranku. Kau berurusan dengan orang yang salah, Sar. Aku bisa membuatmu kehilangan pekerjaan dan menghancurkan hidupmu dalam sekejap."


"Oh, tenanglah. Aku hanya ingin mengingatkanmu tentang hubungan kita. Bukankah dulu kau sangat menginginkanku? Membuatku menghangatkan ranjangmu? Bahkan setelah wanita itu masuk dan menghancurkan hubungan kita."


Vernon menatap jijik wanita di depannya. Apa Sarah pikir, Vernon tidak tahu kebusukkan wanita itu? Vernon tahu semua rahasia yang Sarah tutup-tutupi tanpa terkecuali.


"Aku peringatkan sekali lagi—"


"Sshh... jangan membuatku marah, Vernon. Kau bisa mengancamku. Tapi aku tidak menjamin kalau istri dan anakmu tercinta bisa saja menerima hal buruk." Sarah menyeringai melihat Vernon semakin memanas.


Vernon menarik rambut Sarah ke belakang dan menatapnya tajam. "Jangan menyentuh istri dan anakku! Aku tidak akan main-main dengan perkataanku. Camkan itu!"


Vernon melepas tangannya lalu melonggarkan dasi. Pria itu pergi sebelum keinginan untuk membunuh Sarah semakin kuat. Vernon menjadi muak setelah berbicara empat mata dengan Sarah. Dia yakin emosinya akan meledak kalau terus berada di tempat itu bersama Sarah.


Saat berada di mobil, Vernon menerima e-mail dari salah satu anak buahnya. Vernon mengeryitkan dahi saat menerima file dan melihatnya dengan cermat. Tidak lama setelahnya, Vernon dikejutkan dengan seorang pria yang duduk di depan istrinya di sebuah cafe. Pria itu mirip seseorang.


Ah, tidak salah lagi! Itu pasti Figo!


"Sial! Kenapa Kezia menemui b******n keparat itu!" Vernon melempar handphonenya di kursi mobil sebelahnya. Dengan terburu dia menancapkan gas untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


Vernon akan bertanya sendiri dengan Kezia. Benar kata Petra, Figo akan menemui Kezia cepat atau lambat. Dan hal itu bukanlah pertanda yang baik. Bisa saja istrinya terlibat dalam masalah dan Vernon tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika hal itu terjadi.


♥♥♥


__ADS_2