
part 'Menyelesaikan Masalah' bakalan panjang...happy reading❤
♥♥♥
"Duduklah." Tn. Max mengulurkan tangan menunjuk kursi yang ada di depannya. Vernon berjalan dengan pelan dan duduk di kursi yang ditujukan padanya.
Tn. Max selalu menampilkan senyum, tidak ada yang bisa dicurigai. Vernon membalas senyuman Tn. Max dengan senyum tipis. Vernon tidak terbiasa berhadapan dengan ketua kelompok lain.
"Apa yang kau inginkan sampai penasaran dengan tempatku?" tanya Tn. Max bertepatan dengan Tobias yang masuk dengan membawa dua cangkir berisi kopi.
Vernon masih diam dan melirik Tobias, pria itu tidak berbicara sebelum bawahan Tn. Max keluar dari ruangan. "Saya ada perlu dengan Anda," jawab Vernon.
"Katakan. Aku tidak menerima pertanyaan yang tidak penting."
Vernon menatap Tn. Max dan berkata, "Kemarin ayah saya memberitahukan tentang keberadaan musuh Black Center. Apa Anda tahu dimana dia? Maksud saya...Figo?"
Tn. Max mengangkat alisnya, benar dugaan pria tua itu, Vernom pergi ke Max Nizone untuk mencari anak bimbingannya. Dalam hati Tn. Max merutuki sahabat lamanya, Mr. Clayton. Bisa-bisa sahabatnya memiliki anak yang terlibat dengan dunia gelap.
"Anak muda sepertimu lebih baik mencari tahu semuanya sendiri. Aku sudah tua dan tidak ingin terlibat dengan apapun. Kalau kau ingin menemukannya, dan orang itu menginginkan sesuatu, kalian akan bertemu dalam waktu singkat." Tn. Max menyesap cangkir kopi menenangkan dirinya. Baru kali ini dia membiarkan kelompok lain memasuki wilayahnya, terlebih lagi komplotan mafia besar.
Vernon mengeryit ada yang aneh dengan Tn. Max. Vernon bukan bocah ingusan yang tidak mengerti hal seperti ini. Jadi, benarkah Tn. Max mengetahui keberadaan musuh Black Center?
"Maaf, apakah Anda benar-benar tidak tahu?" tanya Vernon sedikit mendesak walau terlihat sopan dan tidak melewati batas.
Tn. Max melirik Vernon tajam. "Untuk apa kau mencarinya? Apa orang yang kau bicarakan berhubungan denganku?"
"Saya tidak tahu Figo memiliki hubungan dengan Anda atau tidak. Yang pasti, saya tidak pernah meragukan informasi dari ayah saya," kata Vernon sedikit mendesak. Bagaimanapun dia tidak boleh bersikap tidak sopan dengan orang yang lebih tua darinya.
Tn. Max menyeringai tipis. Dia tahu pembicaraan ini mengarah kemana. "Kau bisa mencarinya di sini kalau kau mau. Aku tidak keberatan. Tapi, itu sama saja melanggar aturan wilayah. Tempat ini netral dan tidak memiliki masalah dengan kelompok lain."
Vernon menatap Tn. Max dengan saksama. Ini semakin berbelit-belit. Seolah-olah pria tua di depan Vernon sengaja memutar dan mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Maafkan saya, Mister, karena telah lancang memasuki wilayah Anda. Saya akan pergi dan tidak pernah menginjakkan kaki di sini lagi. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu." Vernon berdiri dan membalikkan badan menuju pintu keluar. Dia tidak perlu repot-repot mendengar tanggapan dari Tn. Max.
"Kalau kau memang ingin menemukan musuhmu. Cari semua bukti yang menujukkan kalau dia memang bersalah."
Vernon berhenti dan menoleh ke belakang beberapa detik. Setelahnya, Vernon melangkah keluar untuk pergi dari Max Nizone.
"Apa Anda baik-baik saja, Sir?" tanya Theodore.
"Tentu saja. Apa yang membuatmu bertanya seperti itu?"
"Anda terlihat kesal setelah keluar dari ruangan Tn. Max," jawab Theodore dengan jujur.
Vernon mendengus kesal, pria tua itu walaupun berkata dengan tenang tapi membuat Vernon mencurigai gerak-geriknya.
"Suruh beberapa orang menyelidiki anggota Max Nizone yang kemungkinan terlibat."
Theodore menoleh lalu mengangguk. "Baik, Sir."
Shit, kepalanya mulai pening.
Vernon memilih untuk mengantar Theodore ke kantor dan menyuruh sekretarisnya itu untuk membereskan beberapa laporan. Vernon ingin pulang untuk mendinginkan pikiran.
♥♥♥
Vernon menaikki tangga menuju kamarnya. Kezia tidak terlihat di lantai satu, kemungkinan wanita itu berada di kamar bersama Excelo. Ah, tidak. Ada tempat lain yang belum Kezia kunjungi, mungkin dia pergi ke tempat itu?.
Vernon melirik sebuah pintu menuju ruangan lain. Tentu saja setelah melihat kamarnya kosong karena tidak ada istri dan anaknya.
Cklek!
Vernon membuka pintu dan masuk ke sebuah balkon yang biasa Vernon gunakan untuk menenangkan pikiran. Balkon rumah Vernon sangat luas. Di sini ada banyak sekali buku yang Vernon kumpulkan saat usianya masih belasan. Bahkan balkon ini merupakan tempat favorite Vernon sebelum kamar Kezia yang dulu.
__ADS_1
Vernon melihat Kezia bermain dengan anaknya. Ternyata mereka sudah mengetahui balkon ini. Vernon sering lupa untuk mengajak mereka bersantai di sini. Waktunya terbatas untuk bekerja dan selalu pulang larut.
Vernon menghela nafas dan tersenyum kecil melihat istri dan anaknya. Perlahan-lahan Vernon mulai melupakan masalahnya sebentar dan menghampiri keluarga kecilnya.
"Ternyata kalian di sini, eh?"
Kezia mendongak melohat Vernon yang mendekat, "Ah, kau sudah pulang? Bukankah ini masih siang?" Kezia menoleh ke belakang dan melihat matahari yang begitu silau.
Vernon mengedikkan bahu lalu duduk di samping Excelo. "Aku bosan bekerja."
Kezia mendelik tajam. "Jangan bercanda! Kalau kau berhenti bekerja aku akan mencari ayah lain untuk Excelo."
Vernon mengedipkan mata berkali-kali dan tertawa kecil. "Aku tidak berhenti, aku hanya bosan. Lagipula aku bossnya. Sudahlah aku hanya ingin bertemu dengan kalian." Vernon mengangkat Excelo dan mendudukan bayi itu di pangkuannya.
Kezia mendekat untuk duduk di samping Vernon. "Capek?"
Vernon mengangguk ringan membalas pertanyaan Kezia. "Kalau kau mau menciumku, mungkin capeknya akan hilang," goda Vernon dengan kekehan.
Kezia menyadarkan kepalanya di pundak Vernon. "Jangan berkata yang tidak-tidak. Excelo ada di sini."
"Kenapa kalau anak kita ada di sini?"
"Nanti Excelo bisa meniru perilakumu yang suka sekali membuatku kesal."
"Tidak mungkin."
"Terserah."
Kezia mengelus kepala Excelo yang bermain dengan mobil-mobilan kecil. Vernon memang terlihat capek hari ini. Terlihat dari matanya ketika menghampiri Kezia dan bayinya.
Tak lama setelah itu Excelo tertidur. Kezia menggendong Excelo untuk menidurkannya di kamar. Wanita itu juga meminta Vernon untuk beristirahat. Kantung mata Vernon mulai terlihat akhir-akhir ini, membuat Kezia prihatin dan memberikan pijatan kecil di punggung Vernon sampai suaminya tertidur dengan pulas.
__ADS_1
♥♥♥