Stephanotis

Stephanotis
7 — Tertangkap Mata-Mata


__ADS_3

Figo menjemput Kezia dari kantornya yang tidak jauh dari pusat kota. Setelah menangani beberapa masalah dia memutuskan untuk menyerahkan semuanya pada Rafael, suami Leah. Rafael mempunyai alasan sendiri untuk membantu Kezia.


Dulu waktu berada di dunia gelap ayah Kezia datang untuk menyelamatkan dirinya. Bahkan memberikan pinjaman modal untuk membangun perusahaan. Sekarang adalah saat yang tepat untuk Rafael membalas budi meski sedikit melenceng.


Figo sampai di rumah Kezia. Wanita itu menggendong Excelo dan membawa tas jinjing.


"Sudah siap?" tanya Figo ketika Kezia masuk ke mobil dan menaruh tas jinjingnya di belakang.


"Sudah." jawab Kezia dengan senyum.


Kemudian Figo melajukan mobilnya ke suatu tempat. Dalam perjalanan Figo sering tersenyum sendiri melihat Kezia yang mengobrol kecil dengan Excelo. Bahkan keduanya sering tertawa dan bernyanyi bersama.


♥♥♥


"Ternyata kau membawa ku kesini." kata Kezia tanpa mengalihkan perhatiannya pada tempat wisata di depan sana.


"Kau tahu tempat ini?" tanya Figo.


Kezia mengangguk antusias, "Aku sudah melihatnya di handphone. Dan tempat ini lebih bagus dari yang ku kira." Kezia mengambil biskuit dan memberikan pada Excelo.


"Baguslah. Ayo kita masuk. Aku sudah memesan tiket lewat online." Figo mengajak Kezia untuk berjalan kembali dan menuju tempat pembelian tiket.


Setelah itu mereka masuk ke tempat wisata dan mulai menikmati fasilitas yang ada. Banyak sekali spot foto yang menarik. Bahkan ada beberapa yang mengambil foto menggunakan kamera.


"Kau ingin foto di sana?" Figo menunjuk salah satu spot foto yang memiliki pemandangan laut.


Kezia melihat Figo sekilas, "Kita foto bertiga saja. Aku tidak suka foto sendirian." kata Kezia.

__ADS_1


"Baiklah."


Figo memanggil seorang pekerja yang bertugas untuk mengambil foto wisatawan. Kemudian membayar hasil foto dan memberikannya pada Kezia.


"Kau sangat kaku, lihatlah!" seru Kezia menahan tawa.


Figo hanya mendengus pelan. "Lain kali aku tidak akan foto bersamamu."


"Aku bercanda, haha." Kezia tertawa melihat ekspresi Figo yang kesal karena komentarnya. Excelo yang melihat ibunya tertawa ikut terkikik geli dan tangannya terulur ke arah Figo.


"Biar aku gendong." Figo meraih Excelo dan mengambil alih bocah kecil itu untuk dia gendong. Kezia juga tidak protes karena itu keinginan Excelo sendiri.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang membawa kamera dan mengarahkannya ke arah mereka bertiga. Walaupun ragu - ragu karena target yang dia cari hampir mirip dengan wanita di depan sana. Namun tetap saja orang itu mengambil beberapa jepretan dan pergi dari tempat itu setelah puas dengan foto yang ada di kamera miliknya.


♥♥♥


Vernon menatap jalanan dari kantornya melalui dinding kaca. Matanya nampak kosong dan wajahnya sangat datar. Pria itu tidak tahu apa yang akan dia lakukan setelah ini.


Vernon menghela napas dan berbalik ketika handphone nya berdering sebentar tanda ada pesan penting yang masuk.


Dengan tenang Vernon membuka handphone nya. Sekilas dia melirik berkas yang dia ambil langsung dari seseorang kemarin. Tidak mudah untuk mengabaikan berkas itu. Namun Vernon tidak bisa berbuat apa - apa karena belum ada kepastian dimana keberadaan istrinya saat ini.


Bisa saja berkas itu memanipulasi keberadaan Kezia, istrinya.


From : B. Theodore


To : Vernon Leonard

__ADS_1


Saya sudah mendapat informasi terbaru tentang Ny. Kezia, Sir. Foto yang saya ambil sudah saya kirim ke e-mail Anda.


Dengan segera Vernon membuka e-mailnya dan membuka pesan dari bawahan Petra. Vernon memilih salah satu file dan membukanya. Setelah melihat foto yang jelas - jelas menampilkan seorang wanita dengan garis wajah yang sangat Vernon kenal.


Wajah Vernon mengeras dan bibirnya mengatup rapat. Telinga lelaki itu tampak memerah dan memanas. Di samping wanita itu ada seorang pria yang sedang menggendong anak kecil yang berumur sekitar satu tahun. Menurut perkiraan Vernon memang segitu umur anak itu.


Seketika Vernon bangkit dari kursinya dan memejamkan mata untuk menahan amarahnya.


Wanita itu merubah penampilannya untuk mengelabui Vernon. Dan bocah laki - laki yang ada di gendongan seorang pria itu —


Tidak salah lagi batin Vernon.


"Kenapa harus b*******n itu. Sial! Brengsek!" umpat Vernon dan bergerak mondar - mandir.


Akhirnya Vernon memutuskan untuk menelpon seseorang.


"Hallo—"


"Awasi dia aku akan menyetujui kesepakatan kita."


"Oh, tentu, aku—"


Tut Tut Tut


Vernon meletakkan benda pipih itu di meja lalu memijat pelipisnya. Kenapa harus orang itu yang selama ini menyembunyikan Kezia darinya. Pantas saja dia sulit menemukan keberadaan Kezia. Pria itu pasti memutus banyak koneksi dan membayar beberapa orang untuk membungkam mulut mereka.


Sungguh Menjengkelkan.

__ADS_1


♥♥♥


__ADS_2