
Kezia membuka pintu ketika matahari mulai menyinari bumi. Hari ini sangat cerah membuat Kezia ceria dan semangat menjalani hidup. Setelah memandikan dan memakaikan baju Excelo, Kezia memilih untuk menggendong bayi nya dan pergi sebentar untuk memberi roti pukis pada Bu Yuni. Tetangga Kezia yang sangat ramah. Bu Yuni memiliki tiga anak. Suaminya sudah meninggal sejak lama jadi Bu Yuni menjadi tulang punggung keluarga dan menyekolah kan anaknya meski tinggal si bungsu yang masih SMA.
Kezia mengetuk pintu beberapa kali kemudian Bu Yuni keluar dan menyapa Kezia dengan senyum hangat seperti seorang ibu. Bu Yuni mempersilahkan Kezia untuk duduk dan mulai berbincang ringan.
Wanita paruh baya yang umurnya kisaran 50-an itu menerima roti pukis pemberian Kezia dan menyimpannya dimeja.
"Anakmu sangat sehat ya..badan nya tambah gemuk." kata Bu Yuni sembari menoel gemas pipi Excelo yang chubby.
Kezia tersenyum manis dan mengangguk kecil. "Tentu saja, Bu. Dia suka makan dan tidak terlalu susah kalau disuapi." Bu Yuni ikut tersenyum.
"Putramu tahu kalau ibunya sedang dalam masa sulit. Karena itu anak ini tidak mau membuat ibunya susah." kata Bu Yuni lalu menggenggam tangan Kezia. "Tetap jadi ibu yang kuat ya, Nak. Jangan pernah berpikir untuk menyerah. Kau harus bisa melakukan ini semua demi anakmu."
Kezia memandang Bu Yuni dengan penuh tanda tanya. Bu Yuni memang tahu kisah Kezia mengapa dia sendirian di kampung ini tanpa suami. Tapi Kezia bingung dengan perkataan Bu Yuni yang baru saja diucapkan wanita itu.
"Iya, Bu. Terima kasih selalu memberi dukungan pada saya. Maaf kalau sering merepotkan ibu." kata Kezia dengan tulus.
Bu Yuni meminta Kezia untuk memberikan Excelo di pangkuan nya. Bayi gemuk yang menggemaskan itu bergerak aktif dan bermain dengan mainan yang ada di tangannya.
"Haish, jangan bicara begitu. Aku justru senang kau sering mengunjungi ku. Anak - anak ku sudah lama tidak pulang. Tinggal Ana yang masih sekolah. Jadi ibu sedikit kesepian." kata Bu Yuni lalu tertawa kecil ketika Excelo meminta untuk di gendong sambil berdiri.
Kezia mengangguk dan melihat Excelo juga Bu Yuni yang membuat bayi gembul itu tertawa menggemaskan.
__ADS_1
Kemudian datang seorang gadis dari dalam rumah memakai baju santai dengan rambut di kucir.
"Excelo! Bu, Ana mau gendong dedek Excelo." gadis itu mengulurkan tangan dan menerima Excelo setelah Bu Yuni memberikan bayi itu dalam gendongan Ana.
"Oh...Mbak Kezia ada disini. Pagi mbak." sapa Ana lalu salim pada Kezia dan kembali bercanda dengan Excelo.
Kezia ikut tersenyum melihat Excelo tertawa karena momongan Ana. Kezia tidak merasa kesepian lagi dan menjadi semangat. Wanita itu kembali berbincang dengan Bu Yuni tentang banyak hal. Seperti mendidik anak yang benar, menjadi ibu yang baik, dan lain - lain.
♥♥♥
Kantor Vernon
Siang ini Vernon kembali bertemu dengan ayahnya. Mr. Clayton menyuruh Vernon untuk tetap di tempat nya. Beberapa bodyguard Mr. Clayton berjaga didepan. Sedang Mr. Clayton sendiri mendekati anaknya dengan wajah serius.
Vernon menatap ayahnya dengan bingung. "Kenapa aku tidak boleh mengawasi istriku sendiri?" tanya Vernon.
Mr. Clayton berdecak dan menahan tawa, "Baru mengakui kalau Nak Kezia itu istrimu? Kemana saja kau selama ini? Matamu sudah buta atau memang tidak punya?" sindir Mr. Clayton dan ditanggapi Vernon helaan napas kasar.
Vernon kehilangan kata - kata dan malas berdebat dengan ayahnya yang selalu memenangkan perdebatan dengan dirinya.
"Ayah kenal baik dengan beberapa koneksi Figo. Ternyata dia bekerja sama dengan Dark Interowen. Kalau kau nekat menyuruh mata - mata Petra. Komplotan mafia besar bisa menjadikan rumah Kezia sebagai tempat untuk bertarung." Mr. Clayton menatap Vernon dengan tajam.
__ADS_1
Vernon pun hanya berani mendengarkan perkataan ayahnya. Dan mengangguk beberapa kali tanpa menanggapi.
Pria itu mengambil handphone dan mengirim pesan pada Petra. Dia menuruti perintah Mr. Clayton. Demi Kezia dia harus membuat semuanya berjalan dnegan lancar.
"Aku sudah mengirim Petra pesan sesuai perintah ayah."
"Bagus."
"Ada lagi yang ingin ayah katakan?"
Mr. Clayton memberi kode pada salah satu bodyguard. Bodyguard yang lebih tinggi dan berotot itu mendekati Mr. Clayton sembari memberikan beberapa lembar kertas.
"Pacarmu membuat ulah. Tutup semua media. Ayah tidak mau tahu, kalau reputasi Clayton hancur karena mulut lancang wanita itu. Ayah tidak segan - segan membawanya ke ruang tahanan. Kuharap kau mengerti." kata Mr. Clayton dan melempar kasar beberapa koran berisi tentang berita hoax yang Sarah katakan pada media.
"Aku sudah putus dengan Sarah."
"Terserah. Kau dulu yang bilang sendiri akan melindungi wanita itu dari campur tangan ku. Tapi aku tidak akan tinggal diam kalau ular busuk itu membuat ulah." Mr. Clayton bangkit dan pergi dari kantor Vernon tanpa memberi salam perpisahan.
Ruang tahanan yang Mr. Clayton maksud tentu berbeda dengan yang lain. Ruangan ini Mr. Clayton buat untuk orang - orang yang berani membuat masalah dengannya. Biasanya orang yang sudah masuk ke ruangan ini tidak akan keluar dengan baik.
Paling tidak sekujur tubuhnya terluka parah dan hampir kehilangan nyawa.
__ADS_1
Vernon menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pria itu sudah membuat kesalahan besar dan membuat semuanya rumit. Sekarang untuk mendapatkan istrinya kembali dia harus menuruti setiap perintah ayahnya. Satu - satu nya hal yang membuat Vernon malas berurusan dengan kekuasaan Mr. Clayton yang sangat besar dan otoriter.
♥♥♥