
Vernon mengajak Kezia untuk makan malam di warung dekat rumah. Sebenarnya ini keinginan Kezia dan Vernon tidak bisa menolaknya. Lagi pula mereka belum pernah makan malam di luar seperti ini. Setelah makan malam Kezia berbincang sebentar dengan pemilik warung yang ternyata adalah fans Kezia dan masih kuliah semester empat. Kezia salut dengan semangat fansnya. Di samping kuliah, fans Kezia juga mencari penghasilan sendiri untuk membiayai hidup.
Ya, anak muda jaman sekarang memang terkenal inovatif dan kreatif. Mereka memanfaatkan teknologi yang semakin maju untuk mencari uang saku dan menghasilkan uang tanpa merepotkan orang lain terutama orang tua. Kezia saja tidak habis pikir bahwa saat kuliah dulu dia malah fokus belajar dan masih bergantung pada orang tuanya. Tapi Kezia sempat ingin kerja part time di suatu kedai kecil, namun ayahnya menolak mentah-mentah keinginan Kezia.
"Siapa namanya?" tanya Vernon setelah melihat pemuda yang menjadi fans Kezia izin untuk melayani pelanggan.
Kezia menoleh ke samping kemudian tersenyum kecil, "Surya. Kenapa?"
Vernon mengangkat kedua alisnya, "Tidak. Aku hanya ingin bertanya." jawab Vernon, matanya melirik diam-diam pemuda yang bernama Surya tersebut, sedikit tajam tapi tidak bisa melakukan apapun karena orang itu hanya penggemar Kezia yang ternyata berada di dekat lingkungan rumah.
"Dulu aku sering ke sini setelah kita menikah. Aku tidak tahu kalau dia penggemarku. Jadi kadang aku ke sini untuk membantunya belajar. Dia sudah kuanggap sebagai adik." ujar Kezia untuk menjelaskan semuanya. Ada perasaan tidak enak karena Vernon terus mengintimidasi Surya dan membuat pemuda itu jadi gugup saat mengobrol dengan Kezia.
Vernon hanya beroh ria. Memberi senyum kecil menutupi sikapnya yang sedikit tidak suka dengan laki-laki lain yang lebih dekat dengan istrinya. "Dia anak rantau?" tanya Vernon sembari mengambil dompet yang ada di saku jaket.
"Hmm...karena di sini dia mendapat beasiswa." jawab Kezia.
"Begitu. Baiklah, ini sudah hampir jam sembilan sebaiknya kita pulang." Vernon segera bangkit dan membiarkan Kezia untuk pergi ke mobil terlebih dahulu baru membayar pesanan mereka. Setelah itu mereka pulang ke rumah dan beristirahat karena hari sudah mulai larut.
♥♥♥
Theodore menemui Vernon setelah melakukan interogasi terhadap Mattew, pemilik Matt Agency dan pria yang dirumorkan berkencan dengan Sarah.
"Selamat siang, Sir." sapa Theodore dan di balas anggukan kecil dari Vernon.
"Saya sudah mendapat beberapa informasi yang Anda inginkan. Sepertinya dugaan Anda memang benar. Mattew memang sudah lama mengincar Sarah, dan sepertinya Sarah menyembunyikan hubungan mereka karena..."
"Hn?"
__ADS_1
Theodore melirik Vernon sebentar, "Maaf, Sir, Sarah menyembunyikannya karena wanita itu masih ingin menjadi kekasih Anda." jawab Theodore dengan ragu. Ia sengaja menyamarkan wanita simpanan dengan embel-embel pacar atau kekasih.
Vernon mengetatkan rahangnya, menyangga dagu dengan kedua siku yang menekuk di atas meja. "Benar-benar..." pria itu menyeringai penuh makna, memikirkan suatu hal dan kembali menatap bawahannya. "Aku punya rencana. Tapi untuk saat ini biarkan pria itu bebas dan tutup mulutnya mengenai hal ini. Kalau tidak, dia akan mendapat akibatnya."
Theodore mencermati perintah Vernon dengan saksama lantas mengangguk paham, "Baik, Sir. Ada lagi yang ingin Anda sampaikan?" Vernon diam sejenak lalu menggeleng singkat.
"Kalau begitu saya permisi."
Theodore keluar dari ruangan Vernon dan melaksanakan perintah Vernon dengan cepat. Theodore juga di kejar waktu untuk bekerja. Pria itu harus melakukan dua pekerjaan sekaligus. Yang pertama menjadi sekretaris Vernon dan kedua menjadi tangan kanan Vernon dalam segala hal.
♥♥♥
Kezia pergi ke butik karena ajakan ibunya. Tak lupa juga ia membawa Excelo dan mengajak Bi Tini untuk menjaga anaknya. Satu jam Kezia berkeliling butik mendengar banyak gosip dari Mrs. Lidya dengan pemilik butik yang ternyata sahabat dekat ibunya.
"Yaampun, anakmu langsing banget, Lid. Padahal udah punya anak lho." Bibi Mira, pemilik butik terkenal di ibu kota tertawa kecil. Kemudian memandang Kezia dan Mrs. Lidya bergantian.
"Mana mungkin, Lid. Kamu aja gabisa nambah lho habis punya dua anak. Lihat aku nih semakin ke sini semakin ke samping tumbuhnya." Bibi Mira memang terkenal ramah dan humoris. Kezia hanya tersenyum menanggapi obrolan kedua wanita setengah baya di depannya.
"Sehat itu, Mir. Udah-udah aku ke sini mau ambil gaun yang aku pesen dulu. Buat menantuku sama Kezia."
"Oh iya, sebentar. Biar aku suruh orang buat ngambil. Udah lama jadinya, padahal dulu mau aku kirim ke rumahmu. Berhubung kamu pengen lihat jadinya, yaudah aku tahan dulu." Bibi Mira memanggil salah satu pekerja butik untuk mengambil gaun pesanan Mrs. Lidya.
Sebenarnya Kezia memiliki kakak laki-laki yang kini tinggal di Italia bersama istrinya. Namanya Benedict, pengelola perusahaan Riwijaya yang berada di Italia. Ben dan Kezia sangat dekat namun setelah mereka memiliki pasangan hidup keduanya menjadi sedikit sibuk. Lalu saat Kezia dikabarkan kabur dari rumah suaminya, Ben sempat pulang dan memberi Vernon salam hangat. Tapi karena pekerjaan, Ben tidak bisa berlama-lama di negara ia dilahirkan bahkan hanya memberi sedikit bantuan untuk mencari Kezia. Sampai saat ini Ben tidak bisa menghubungi Kezia. Mungkin karena Kezia mengganti nomor teleponnya.
"Ini dia." Bibi Mira menunjukkan dua gaun yang memiliki warna dan desain sama. "Bagus kan? Dulu kamu yang milih ini, Lid. Ga heran aku sama seleramu yang mantap dari dulu."
Mrs. Lidya terkekeh pelan lalu menepuk lengan Bibi Mira pelan. "Bisa aja kamu, Mir. Coba aku lihat gaunnya Kezia." Bibi Mira memberikan gaun yang lebih kecil kepada Mrs. Lidya.
__ADS_1
Kezia memposisikan diri ketika ibunya memasangkan gaun di depan tubuhnya. "Bagus." kata Mrs. Lidya.
"Tapi, ma, kenapa mama beliin aku sama Kak Ann gaun? Ada acara apa?" tanya Kezia pelan.
"Lho kamu belum tau toh?" Mrs. Lidya menaikkan satu alisnya kemudian memejamkan mata sebentar. "Aduh, mama lupa ngasih tahu kamu, Kez."
"Maksud, mama?"
"Bentar lagi Ben sama Ann mau ke sini buat nemuin kita. Ann hamil lagi. Mama juga pengen ngasih dia gaun, udah lama ga ketemu sama mereka."
"Kak Ann hamil lagi?"
"Iya, anak yang ketiga." Mrs. Lidya memberikan gaun pada Bibi Mira. "Udah, Mir. Aku mau ambil sekarang."
"Oke, tunggu ya," Mrs. Lidya mengangguk menanggapi Bibi Mira yang melenggang pergi ke belakang untuk membungkus dua gaun.
"Tapi James masih kecil, masih seumuran sama Excelo kan ma?"
Mrs. Lidya tertawa mendengar pertanyaan Kezia, "Kamu ini kayak gatau suami kalau terlalu deket sama istri. Mana tahan, Kez. Lagian kalau suami kamu minta, kamu gabisa nolak kan." Mrs. Lidya menggandeng Kezia untuk pergi ke depan duduk di bangku pengunjung.
Kezia sedikit tertohok karena perkataan ibunya. Mrs. Lidya tidak tahu bagaimana kehidupan Kezia dan Vernon beberapa bulan ini. Kezia masih sering menghindar kalau Vernon memberi kode minta itu disaat yang tepat.
Bibi Mira kembali menemui Mrs. Lidya dan Kezia lalu memberikan paper bag yang ia bawa. Setelah itu mereka berbincang sebentar dan Mrs. Lidya memutuskan untuk pulang karena mereka belum sempat makan siang.
Bahkan diperjalanan pulang Kezia sering melamun dan perkataan ibunya terngiang-ngiang jelas di pikirannya. Kezia tidak tahu dia bisa menyanggupi keinginan Vernon atau tidak. Kadang Kezia juga menginginkannya, tapi mau bagaimana lagi? Kezia sering memikirkan kejadian yang membuat dirinya kabur. Atau mungkin Kezia bertanya saja pada Vernon? Ah, tidak, Vernon tidak mungkin mau menjawabnya. Tapi Kezia belum pernah mencobanya. Ya, mungkin setelah ini. Hubungan mereka semakin hari juga semakin baik. Jadi tidak apa kan kalau Kezia masih penasaran dengan peristiwa di masa lalu?
♥♥♥
__ADS_1