
Vernon melihat Kezia tidur di samping Excelo. Wanita itu terlihat kecapekkan setelah konser karena hiatus cukup lama. Sementara itu, handphone Vernon terus berbunyi. Pria itu segera mengambil benda pipih yang ada di nakas dan melihat nama seseorang pada layar handphone.
"Petra?" Vernon segera menerima telepon dari Petra, "Ada apa?" tanyanya dengan dahi berkerut. Pasalnya, Petra hanya menghubungi Vernon jika ada masalah penting.
"Kau sudah membawa istrimu pulang ke rumahmu?" tanya Petra dengan nada serius.
Vernon sedikit curiga dengan pertanyaan Petra. Tapi tetap menjawabnya, "Sudah. Kenapa kau menanyakan hal itu?" desis Vernon.
Petra terdiam di seberang telepon, jeda sebentar kemudian Vernon mendengar beberapa orang mengatakan sesuatu kepada Petra walaupun tidak terlalu jelas.
"Sialan! Kenapa dia bisa kabur!? Kita harus menangkapnya secepat mungkin!"
"B******n itu benar - benar!"
"Petra, apa yang kau lakukan!? Siapa yang kau hubungi di tengah situasi seperti ini hah!?"
"Apa urusan mu? Dasar tua bangka!" seru Petra. Pria itu kembali fokus pada Vernon dan kembali melanjutkan pembicaraan.
"Maaf, sepertinya semua di luar rencana kita." kata Petra dengan rahang yang mengeras. Andai Vernon tahu ekspresi Petra saat ini. Pria itu akan bertanya - tanya mengapa Petra suka sekali basa - basi dengan hal yang tidak Vernon ketahui.
"Katakan dengan jelas, brengsek!" Vernon tidak suka dengan sifat Petra yang suka mengulur waktu. Itu sangat mengesalkan.
Petra menghela napas, "Cih, kau tidak sabar apa penasaran, huh?" Petra diam - diam menyeringai. Dia tetap sama, dimanapun situasinya. Sama - sama suka memancing emosi Vernon dan membuat pria itu kesal karena dirinya.
"Sekali lagi kau mengeluarkan perkataan sampah—"
"Ya ya ya. Aku akan bicara serius. Kali ini benar - benar serius."
"Katakan atau aku tutup telepon—"
"Figo kabur."
__ADS_1
Vernon melebarkan matanya, "What the f***!?" oh sialan, dia lupa kalau istrinya ada di kamar. Vernon segera membalikkan badan dan bernapas lega karena Kezia masih tidur dengan nyaman. Tidak terganggu sedikitpun. Akhirnya, Vernon memutuskan untuk keluar dari kamar dan melanjutkan percakapan dengan Petra.
"Kalau kau main - main, aku tidak segan - segan membakar markas mu." Vernon menatap tajam ke arah depan. Ini bukan berita baik.
"Kau pikir aku berbohong?" Petra menghembuskan napas dengan kasar. "Dia sangat cerdik. B******n itu menggunakan kesempatan untuk kabur dengan baik."
"Shit! Kita harus menangkapnya secepat mungkin. Kalau tidak, dia akan mengincar istriku!" ujar Vernon dengan marah. Figo bisa saja membawa Kezia kabur dan Vernon tidak akan tinggal diam setelah memikirkan hal itu.
"Ya, tentu saja. Tapi untuk saat ini kita belum bisa mencari keberadaannya. Bisa jadi Interowen menangkap Figo dan membunuhnya." kata Petra dengan santai. Berbeda dengan beberapa orang yang ada di sekitarnya. Mereka menatap Petra dengan tajam. Bagaimanapun, Figo satu - satunya orang yang membuat Black Center berantakan. Maka, pria itu harus mati di tangan Black Center atau tidak sama sekali. Interowen tidak bisa melanggar perjanjian di dunia gelap.
Vernon memejamkan matanya sejenak. Memijat pelipisnya lalu mengangguk samar meski Petra tidak bisa melihatnya. "Kita bicarakan ini nanti malam. Aku baru saja membawa istri dan anakku pulang. Mereka tidak boleh tahu masalah ini."
Petra memutar bola mata dengan malas. Vernon menjadi bucin karena istrinya sendiri. "Ya. Semoga kau bahagia dan tidak membuat anak orang kabur lagi, pfftt.."
Tut.. Tut..
Telepon di tutup sepihak oleh Petra. Petra tidak ingin mendapat amukan dari Vernon setelah mengatakan hal terakhir yang ingin ia sampaikan sebelum menutup telepon. Pria itu terlihat lebih santai daripada yang lainnya. Padahal, Figo musuh yang berbahaya. Pria itu mengadu domba antara Black Center dengan Interowen. Membuat kedua kubu semakin panas setelah sekian lama saling membelakangi dengan rasa dingin.
♥♥♥
Pria bertudung hitam berjalan santai di pinggiran jalan. Melewati jalan kedua, pria itu segera berbelok dengan hati - hati. Tangannya mengeluarkan sebuah belati kemudian menurunkan tudungnya secara perlahan.
"Ternyata kau berhasil ya?" kata seseorang yang keluar dari persembunyiannya.
Pria dengan tudung hitam tadi hanya diam dan menyeringai tajam. Didepannya ada tiga orang memakai pakaian serba hitam dan masing - masing membawa pistol meski tidak terlihat, mereka adalah kelompok buronan di kota ini.
"Aku tidak punya banyak waktu. Cepat antarkan aku ke Max Nizone." kata pria bertudung hitam.
Tampak seorang lelaki yang lebih muda dari dua orang lainnya mengeryitkan dahi. Maju selangkah membuat pria bertudung hitam bersikap waspada. "Kau yakin? Kau bukan bagian dari kami. Apa kau bisa menjamin semuanya?" tanya lelaki itu.
Pria bertudung hitam menatap lawan bicaranya dengan tajam. Tudak akan mudah membujuk anak buah Max. "Kau tidak perlu meragukanku." lelaki yang ada di depan pria bertudung hitam menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Berpikir sejenak kemudian mengangkat lengan dan menggerakan jari telunjuknya. "Bawa dia. Masukkan pistol kalian. Kita membutuhkan orang ini." dua orang di belakang maju dengan cepat dan mengikat kedua tangan pria bertudung hitam.
Setelah itu mereka masuk kedalam mobil yang berada di ujung gang buntu sebelum ada yang melihat mereka merencanakan sesuatu.
♥♥♥
Malam hari hampir tiba. Kezia mempersiapkan Excelo untuk tidur. Dari tadi bayi itu terus menempel dengan ayahnya. Tidak mau bermain dengan ibunya. Maka, Kezia memilih pergi ke dapur atau mengawasi Vernon dan Excelo dari jauh.
Pintu kamar di buka oleh Vernon. Pria itu selalu keluar masuk kamar setelah menidurkan Excelo. Ada kecemasan yang mengganggu pria itu. Kezia ingin bertanya tetapi selalu gagal karena Vernon selalu menghindar.
"Vernon?"
Vernon menghentikan langkahnya dan melihat Kezia, "Sebentar, aku ada urusan. Sebentar saja." Vernon hampir mencapai ganggang pintu sesaat setelah merasakan guling kasur yang melayang mengenai punggung dan lehernya.
Vernon menelan ludah, tangannya masuk kembali kedalam kantong celana. Sepertinya, Vernon belum pernah memahami reaksi Kezia saat kesal atau marah.
Pria itu membalikkan badan. Melihat Kezia sedang menatap dirinya dengan kesal. "Kez?"
"Pergi saja. Jangan pernah masuk lagi, kau menggangguku." kata Kezia dengan kesal kemudian memposisikan tubuhnya tidur di samping Excelo.
Vernon mengatupkan mulutnya, Kezia sangat lucu dan membuatnya hampir terkekeh. Vernon mengambil guling dari lantai lalu mendekati Kezia setelah mengirim beberapa pesan pada Petra yang menunggunya di bawah.
Vernon meletakkan guling di samping Excelo. Kemudian duduk dengan pelan agar kedua manusia yang berbaring dikasur tidak terganggu karena dirinya.
"Kez, jangan marah. Ada beberapa hal yang harus kuurus. Aku akan memberitahumu besok."
"Aku tidak peduli." gumam Kezia yang masih memejamkan kedua matanya.
Vernon tersenyum tipis kemudian bangkit berdiri. "Tidurlah. Ini sudah malam." pria itu segera keluar dari kamar dan menuju lantai bawah.
Memastikan bahwa keamanan di rumah ini cukup ketat. Dan kembali membahas masalah Figo dengan Petra sebelum pria itu kembali menghancurkan segala hal yang berhubungan dengan dunia gelap dan...Kezia.
__ADS_1
♥♥♥