Stephanotis

Stephanotis
32 — Kehangatan & Ancaman


__ADS_3

Matahari mulai terbit dengan perlahan menandakan hari mulai berganti menjadi pagi. Kezia bangun ketika jam menunjukkan pukul 04.45 AM. Matanya masih berat untuk melihat sekelilingnya. Kezia mengumpulkan nyawanya dan bangkit dari kasur. Wanita itu melihat suaminya yang masih tertidur. Ada niatan untuk membangunkan suaminya namun urung karena Kezia memilih untuk menyiapkan keperluan suaminya terlebih dahulu.


Kezia turun ke lantai satu menuju dapur. Dengan cekatan dia mulai memasak makanan untuk sarapan. Tiba - tiba Kezia diingatkan tentang suatu hal. Dulu dia sering membuatkan sarapan untuk Vernon. Namun selalu berakhir utuh tidak tersentuh sama sekali. Kezia tidak yakin Vernon mau memakan sarapan yang ia buat.


Kezia merasa sedih mengingat hal itu. Sebelum pria itu membawanya kembali, Vernon sering mengabaikan Kezia dan selalu makan di luar bersama Sarah.


Bicara tentang wanita itu, Kezia tidak pernah melihatnya lagi semenjak pulang ke rumah ini. Vernon memang pernah mengatakan kalau dia tidak lagi berhubungan dengan Sarah, kekasih gelapnya. Pria itu berjanji pada Kezia untuk menjauhkan Sarah dari lembaran baru pernikahan mereka. Tapi tidak menutupi kemungkinan kalau wanita itu akan kembali dan merebut Vernon darinya kan?


Kezia merasa gelisah jika memikirkan hal semacam itu. Apalagi Sarah sering membuat Vernon menyiksanya dengan segala tuduhan yang tidak benar. Kalau saja wanita itu kembali untuk mengacaukan kehidupan pernikahannya dengan Vernon, Kezia tidak akan tinggal diam dan tidak lagi menjadi lemah seperti dulu.


Kezia memindahkan omelet ke piring kemudian menata beberapa piring yang ada di meja. Dia menyeka sedikit peluh yang ada di pinggir dahinya. Setelah mencuci tangan Kezia memutuskan untuk membangunkan Vernon dan menyiapkan segala perlengkapan yang Vernon butuhkan untuk bekerja di kantor.


"Kenapa kau memasak lagi? Bi Tini bisa memasak untuk kita kan?" Vernon berkata dengan datar dan melihat manik Kezia yang berusaha acuh dengan perkataan Vernon.


Kezia membenarkan posisi dasi Vernon memilih mengabaikan perkataan Vernon, "Turunlah. Sarapanmu sudah siap. Aku mau memandikan Excelo dulu." Kezia berlalu pergi untuk membawa Excelo ke kamar mandi.


Vernon ingin mengatakan sesuatu namun tertahan melihat Kezia yang jatuh dalam mood buruk. Dia tidak tahu apa yang menyebabkan istrinya badmood. Vernon menghela napas pelan dan meraih jas hitam yang tergeletak di ranjang. Langkah kakinya menuntun Vernon untuk turun ke lantai bawah. Menunggu Kezia dan anaknya untuk gabung sarapan bersama.


Vernon harus memastikan apa yang membuat Kezia mengabaikannya pagi ini. Tidak mungkin wanita itu mendadak berubah hanya karena perkataan Vernon yang ingin melarang Kezia untuk memasak karena hal itu bisa merepotkan Kezia. Vernon tidak akan melupakan rekaman kamera yang pernah ia pakai untuk memata - matai istrinya. Kamera pengintai yang memperlihatkan Kezia kelelahan setelah mengerjakan aktivitas rumah tangga.


♥♥♥


"Makan sarapanmu, Kez." kata Vernon ketika melihat Kezia sibuk menyuapi Excelo dan melupakan sarapannya yang mulai mendingin. Vernon menyelesaikan sarapannya dan bangkit dari kursi untuk mengambil alih kegiatan yang Kezia lakukan.


Kezia menuruti perintah suaminya dan melihat interaksi pria itu dengan Excelo yang lahap ketika ayahnya menyuapi bayi itu di sertai obrolan yang menyenangkan.


Kezia ikut tertawa ketika Excelo dengan usil merebut sendok makan bayi dari tangan Vernon. Tapi Vernon bisa menjauhkan benda itu dari jangkauan Excelo. Sampai akhirnya mereka selesai sarapan dan Vernon bersiap untuk berangkat kerja.


Di ambang pintu Vernon meraih Excelo dari gendongan Kezia dan menciumi wajah anaknya dengan gemas. "Papa kerja dulu, oke? Jangan merepotkan mamamu di rumah." kata Vernon kepada Excelo yang penasaran dengan apa yang ayahnya katakan.


"Bunda." koreksi Kezia.


Vernon menatap Kezia kemudian mengedikan bahu, "Aku lebih suka dia memanggilmu mama." ujar Vernon.


Kezia diam dan pasrah dengan kemauan Vernon. Ini hanya masalah kecil tentang bagaimana Excelo akan memanggilnya sebagai ibu.

__ADS_1


Vernon segera menyerahkan Excelo ke dalam gendongan Kezia kemudian berpamitan untuk bekerja. "Aku berangkat dulu." Kezia mengangguk ringan, "Hati - hati di jalan." Kezia tersenyum kecil.


Vernon melangkah mendekat kemudian mencium dahi Kezia sedikit lama. "Hubungi aku kalau kau membutuhkan sesuatu." Kezia mengangguk lagi.


"Baiklah, aku berangkat dulu." Vernon berbalik menuju mobil setelah berpamitan dengan istri dan anaknya. Mereka adalah semangat Vernon untuk memulai hari yang baru. Pria itu juga melupakan pertanyaan yang ia simpan ketika melihat Kezia kembali dalam mood baik.


Vernon melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Vernon lebih sering tersenyum karena keluarga kecilnya yang mewarnai hidup Vernon. Tadinya hidup Vernon sangat membosankan dan monoton. Tapi karena keberadaan Kezia dan Excelo, Vernon menjadi berwarna. Bahkan Vernon tidak lagi menunjukkan emosi yang mulai labil seiring berjalannya waktu. Bersama orang yang mengasihinya, Vernon kembali menemukan kehidupan yang telah lama terkubur di dalam lubang tanpa dasar.


♥♥♥


Vernon sampai di kantor tepat waktu. Banyak karyawan yang menyambutnya ketika Vernon melangkahkan kaki menuju ruangannya. Tak sedikit karyawan melihat Vernon tampak berbeda akhir - akhir ini. Pria itu lebih bersinar dan tidak kaku.


"Kau lihat itu? Pak Vernon sedikit berubah sejak nyonya Kezia pulang." bisik salah satu karyawan pada temannya.


"Diamlah! Nanti Pak Vernon mendengarmu kau bisa dalam masalah bodoh!"


Vernon mengabaikan segala bisikan hingga dirinya telah sampai di depan pintu ruangan. Vernon menghentikan langkahnya dan melihat Theodore. "Apa jadwalku hari ini?" tanya Vernon.


"Saya sudah memberikan jadwal Anda di meja Anda, Sir." jawab Theodore. Namun Vernon sedikit curiga dengan gerak - gerik Theodore yang mencurigakan.


Theodore terdiam sebentar, "Apakah saya berhak memberitahu Anda?"


Vernon menaikkan satu alisnya kemudian mengangguk. "Tentu. Jangan pernah menyembunyikan sesuatu dariku." kata Vernon dengan tatapan mengintimidasi.


"Maaf, Sir. Saya tidak bisa mencegah Sarah masuk ke ruangan Anda. Sekarang wanita itu menunggu Anda di dalam."


"What the—!?" Vernon mendengus kasar, "Sejak kapan?"


"Baru saja, Sir."


"Shit. Mau sampai kapan j****g itu menggangguku." Vernon menyisir helai rambutnya ke belakang. "Lanjutkan pekerjaanmu. Dan jangan sampai Kezia tahu tentang hal ini." Theodore mengangguk paham lalu menundukkan kepalanya.


Vernon masuk ruangan dengan hati yang panas. Sarah benar - benar wanita licik yang tidak akan pernah melepaskan Vernon. Wanita itu seperti parasit dalam hidup Vernon. Selalu menguras uang dan mengacaukan kehidupan Vernon setelah berhasil membawa Kezia kembali. Vernon tidak akan membiarkan wanita itu bertindak lebih jauh lagi. Dia harus menegaskan posisi wanita itu setelah ini.


♥♥♥

__ADS_1


"Ini terakhir kita bertemu. Jangan coba - coba kembali atau aku akan membuat hidupmu hancur." kata Vernon dengan dingin. Rahangnya mengeras melihat Sarah yang tidak takut dengan ancaman yang keluar dari mulut Vernon.


Sarah memiringkan kepalanya kemudian menunjukkan senyum menantang. "Benarkah? Wah, aku sangat takut mendengarnya." wanita itu berdiri mendekati meja Vernon kemudian tertawa seperti ada sesuatu yang lucu.


Vernon masih pada posisinya. Dia mencurigai Sarah. Tidak mungkin wanita itu masih berani datang setelah ancaman dari ayahnya, Mr. Clayton.


"Kau tahu, baby, seharusnya kau mengingat siapa diriku dan berhati - hati setelah memanfaatkanku." Sarah berdiri tepat di depan meja Vernon. "Kau tidak seharusnya membawa wanita itu dalam hubungan kita. Dia menghancurkan semuanya."


"Kita sudah tidak ada hubungan apa - apa. Pergi dari sini sebelum aku mengusirmu." ancam Vernon dengan tegas. "Sadarlah dengan posisimu, Sarah. Kaulah yang selama ini memanfaatkanku untuk mendapatkan profesimu." Vernon masih mengontrol diri untuk tidak meluapkan emosinya.


Sarah menggigit bibirnya kecil, menoleh ke samping menghindari tatapan Vernon. "Jangan coba - coba." kata Sarah hampir tidak terdengar.


Vernon terkekeh, "Kau takut, heh? Aku bisa melakukan apa saja. Sekarang pergilah sebelum aku melakukan hal yang bisa saja membuatmu menyesal seumur hidup." kata Vernon.


Namun Sarah tidak mundur sekalipun, wanita itu kembali tertawa. "Kau tidak bisa, Vernon. Akulah yang bisa melakukan apa saja untuk menghancurkan hidupmu dengan wanita itu!" seru Sarah.


Vernon menatap Sarah dengan tajam. Kenapa wanita itu masih suka basa - basi. "Apa yang kau—" ucapan Vernon terpotong ketika benda pipih tergeletak di atas mejanya setelah Sarah melempar benda itu. Mata Vernon membulat sempurna.


"Aku hamil."


Vernon mendongak menatap Sarah dengan murka. "Tidak mungkin. Kita sudah putus sejak satu tahun yang lalu." desis Vernon.


Sarah mengedikan bahunya, "Aku bisa melakukan apapun yang ku mau."


"Kau!"


"Kenapa? Kau takut istrimu tahu?"


"Kalau kau berani melakukannya aku tidak segan - segan mengirimmu ke neraka. Kau memang wanita murahan."


Sarah terkekeh kecil, "Lakukan saja. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin mendapatkan apa saja yang ku mau." Sarah berbalik dan mengambil tasnya lalu pergi dari ruangan Vernon setelah memberi senyum licik.


Vernon tidak bisa berdiam diri. Dia harus melakukan sesuatu. Ya, sebelum wanita itu bertindak lebih jauh lagi.


♥♥♥

__ADS_1


__ADS_2