Stephanotis

Stephanotis
44 — Menyelesaikan Masalah (2)


__ADS_3

Vernon memasuki rumahnya yang terlihat sepi. Bi Tini segera mendekati Vernon jika saja pria itu membutuhkan sesuatu.


"Dimana Kezia, Bi?" tanya Vernon. Rautnya berubah serius, biasanya Kezia selalu menunggu Vernon di ruang tamu. Atau mungkin wanita itu kelelahan sehingga memilih untuk tidak menunggu suaminya pulang dari kantor.


"Nyonya baru saja tidur, Tuan. Nyonya berada di kamar. Nyonya Kezia sempat menunggu Anda di ruang tamu. Tapi karena Tuan Muda menangis, Nyonya segera ke atas untuk menenangkannya," jawab Bi Tini.


Vernon menaikkan alisnya dan mengangguk singkat. "Ini sudah malam. Bukan lagi waktunya untuk bekerja. Bibi bisa kembali tidur." Vernon melangkah menaikki tangga tanpa menunggu tanggapan dari Bi Tini.


Sedangkan Bi Tini dikejutkan dengan sikap ramah majikannya. Tidak biasanya Vernon bersikap baik. Malahan terlalu kaku dan dingin. Sejak kehadiran Kezia perilaku Vernon memang sedikit berubah. Lelaki itu menjadi sedikit ramah dan memperhatikan orang di sekitarnya.


♥♥♥


Vernon membuka dan menutup pintu kamar dengan pelan. Dia tidak ingin membangunkan dua manusia yang sudah tidur dengan damai. Namun saat melihat istrinya, Vernon jadi teringat tentang informasi yang anak buahnya dapatkan. Vernon segera membersihkan diri, setelah itu mengenakan celana pendek tanpa atasan.


Vernon keluar dari kamar mandi dengan seringaian yang khas. Kezia benar-benar nyenyak sampai tidak terganggu dengan kehadiran Vernon.


Akhirnya Vernon bergabung dengan Kezia di ranjang. Vernon sedikit kesal karena yang bisa ia lihat hanya punggung istrinya. Diam-diam Vernon menyelipkan tangan dan memiliki pikiran untuk menggoda Kezia. Vernon masih marah karena Kezia menemui Figo, musuhnya, secara sembunyi-sembunyi. Kezia juga tidak menghubungi Vernon sama sekali.


Vernon memberikan remasan kuat pada salah satu buah dada Kezia, membuat istrinya melenguh. Karena tidak ada reaksi yang berarti, Vernon mulai melanjutkan aksinya bahkan bermain-main di sekitar puncak dada Kezia yang terbalut piama satin.


"Engh...." Kezia bergerak gelisah sampai matanya terbuka dan menoleh ke belakang. Tidurnya terganggu karena ulah Vernon. "Vernon...jangan menggangguku! Aku ingin tidur." Kezia mencoba melepaskan tangan Vernon. Tetapi yang ia dapat malah kenakalan jari Vernon.


"Vernon!"


Vernon memajukan bibirnya dan mendengus kesal. Padahal jika Kezia lihat, yang seharusnya merasa kesal adalah dirinya. Kezia melihat Vernon yang menarik tangan tiba-tiba. Pria itu juga membalikkan badan memunggungi Kezia.


"Vernon?" Kezia mengeryitkan dahinya dan memposisikan diri untuk duduk. "Ada apa denganmu? Apa ada masalah?" tanya Kezia yang mulai menundukkan badan untuk menelusup di ceruk leher suaminya.


Vernon pura-pura memejamkan mata. Dia ingin tahu sejauh mana Kezia akan menyembunyikan rahasianya.

__ADS_1


"Vernon, jangan membuatku bingung. Katakan, kenapa kau bersikap seperti ini?" Kezia menjauhkan kepalanya dan menggoyang ringan pundak suaminya.


Vernon mengulum senyum dan terus berpura-pura tidur. Istrinya memang tidak peka. Apakah Vernon harus berbuat lebih jauh supaya Kezia mau menjelaskan semuanya?.


"Yasudah kalau tidak mau cerita. Aku mengantuk. Sebaiknya aku cepat tidur." Kezia kembali membaringkan tubuhnya menghadap atap rumah. Dia akan bertanya besok kalau Vernon tidak mau mengatakan apapun sekarang.


Vernon memasang muka cemberut. Karena hatinya menolak untuk marah, Vernon tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Pria itu berbalik dan menemukan sang istri berbaring dengan mata terbuka. Kini mereka sama-sama mengunci tatapan satu sama lain.


"Tadi siang kau pergi kemana?" tanya Vernon dengan nada rendah.


Kezia mengerjapkan mata berkali-kali dan melotot terkejut. Jadi, Vernon bersikap aneh karena hal itu? Oh, tidak, mungkinkah Vernon tahu semuanya dan cemburu buta karena pertemuannya dengan Figo?


"Aku bertemu dengan teman lama," jawab Kezia hampir berbisik. Ia melirik Vernon dengan ragu-ragu. Takut kalau pria itu bertanya lebih jauh.


"Siapa yang kau sebut teman lama itu?"


"Em...kenapa kau ingin tahu?"


Kezia menggigit bibirnya lalu menjawab pelan, "Aku bertemu dengan Figo. Dia temanku di kota W. Aku takut kalau kamu marah dan tidak menyetujuinya. Jadi—"


Kezia tidak meneruskan perkataannya ketika Vernon menindih dan mengurung dirinya. Dengan sedikit kasar Vernon mencium Kezia agar amarahnya mereda. Mendengar nama pria lain saja membuat Vernon terbakar. Apalagi orang yang baru saja bertemu dengan istrinya adalah musuh Vernon selama ini.


Setelah Vernon merasa Kezia hampir kehabisan oksigen, dia menarik diri dengan enggan. "Jangan temui dia lagi. Figo bukan orang baik," kata Vernon berusaha menjelaskan kekhawatirannya.


"Kenapa?" tanya Kezia yang masih terengah-engah.


"Aku lupa menceritakan semuanya ke kamu. Aku akan menceritakannya besok. Tapi berjanjilah padaku. Jangan temui pria itu lagi sebelum semua masalah beres." Vernon menggulingkan badan ke samping. Kepalanya kembali menoleh ke arah Kezia. "Paham?"


Kezia mengangguk walaupun tidak tahu dia bisa menepati janjinya atau tidak. Kezia bingung mengapa Vernon memiliki banyak masalah yang tidak bisa Kezia ketahui. Vernon bisa dengan mudah mengetahui tindak tanduknya. Tapi Kezia tidak pernah bisa mengetahui masalah Vernon yang rumit. Suaminya juga tidak pernah menyinggung tentang masalah kantor atau bahkan masalah kelompok mafia pimpinan sahabatnya.

__ADS_1


Vernon meraih Kezia dan memeluknya. Membuat rasa nyaman dan aman. Perlahan mata Kezia mulai memberat. Dia tidak mau berpikir lebih jauh. Pikiran berat membuatnya tidak bisa tidur. Maka dari itu Kezia memilih untuk mendekat dan menempelkan kepalanya pada dada bidang milik Vernon. Mereka berdua terlelap setelah membuat perdebatan kecil.


♥♥♥


Siang ini Vernon menyuruh beberapa orang untuk mengawal dirinya. Vernon sudah memutuskan untuk pergi ke Max Nizone sesuai anjuran ayahnya. Vernon tidak memberitahukan hal ini kepada Petra. Karena saat ini Petra harus fokus dengan Gilbert, tersangka terkuat setelah Figo.


Vernon pergi bersama Theodore. Di belakangnya ada tiga mobil yang mengawal Vernon. Meskipun Max Nizone tidak berbahaya, setidaknya sikap waspada selalu ia bawa demi keselamatan.


Sesampainya di wilayah Max Nizone, Vernon di sambut dengan hawa yang tidak enak. Kebanyakan anggota Max Nizone tidak suka karena kehadiran Vernon. Apalagi Vernon membawa anggota Black Center memasuki wilayah orang.


Di lain sisi Tobias berlari untuk memberi informasi pada atasannya, Tn. Max. Di luar ada tamu yang ternyata adalah anak dari Mr. Clayton. Tidak salah lagi, orang itu terlibat dalam masalah Figo.


"Biarkan bocah itu menemuiku. Dan kunci kamar Figo sekarang. Dia itu tidak boleh keluar sebelum menerima perintah dariku," ujar Tn. Max dengan tegas. Tobias mengangguk dan menjalankan perintah atasannya.


Vernon menunggu dengan tidak sabar. Namun penantiannya tidak lama karena Tobias, pria yang ia kenal sebagai tangan kanan Tn. Max, meminta Vernon untuk masuk ke ruang Tn. Max. Tetapi ada satu syarat yang harus Vernon patuhi. Tidak boleh ada senjata dan pengawal. Karena ruang Tn. Max harus bersih dari segala macam benda tajam.


Ada rasa curiga yang timbul ketika Vernon mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru Max Nizone. Mengapa di sini tidak ada penjagaan yang ketat? Bahkan Vernon tidak melihat senjata saat memasuki wilayah Tn. Max.


Vernon masuk ke ruangan Tn. Max, di depan sana ada pria tua yang memandangi Vernon dengan saksama.


"Selamat siang, Mister," sapa Vernon dengan sopan walaupun dengan nada tajam.


Tn. Max menyeringai kecil, "Siang, Vernon?"


Vernon sedikit terkejut ketika Tn. Max mengetahui namanya. Apa mungkin ayahnya memberitahu Tn. Max terlebih dahulu sebelum ia pergi ke Max Nizone? Kalau begitu bisa-bisa rencananya gagal.


♥♥♥


Excelo, kalau ga srek bisa bayangin bayi lucu punya pipi gembul 😂🙈

__ADS_1




__ADS_2