
Beberapa bulan berlalu sejak kejadian sakit perut yang dialami Isun. Ternyata memang itu sakit yang sering diderita ketika menjelang atau sedang menstruasi.
Selama sakit Ori yang merawat Isun dengan segala drama dan ocehannya. Kadang baik dan perhatian, tapi dilain waktu begitu menyebalkan.
"Sepertinya aku bakal terus-terusan ngerawat kamu yang sakit-sakitan begini," ocehnya.
"Kalau kamu menstruasi sebulan sekali dan selalu sakit seperti ini, selama setahun bisa dipastikan aku harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk merawatmu dua belas kali lebih banyak."
Apaan sih...alis mata Isun bertaut.
"Mana ada hitungan macam itu?"
Ori meletakkan handuk hangat yang tadi digunakan untuk mengompres perut Isun ke dalam baskom. Lalu memutar tubuhnya dan duduk menghadap Isun yang sedang rebahan.
"Ya, ada. Aku harus kehilangan waktu santai atau waktu istirahatku untuk merawatmu."
"Tck...jangan sampai kamu punya pikiran menyesal karena sudah menikahi aku," mata Isun melotot memandangi suaminya.
"Nggak...maksudku sekarang masih belum."
"Maksudmu?!"
Menjengkelkan nggak sih kalimat seperti itu diungkapkan di depan istri sendiri.
"Yah...aku realistis saja Sun. Kalau suatu saat ternyata kita sudah tidak saling menguntungkan sepertinya kita musti bicara dari hati ke hati."
"Gila!!"
"Awas saja ngomong sekali lagi seperti itu, aku biarkan menara pizzamu itu miring kanan kiri nggak karuan!"
Berlagak serius Ori mengubah ekspresi wajahnya.
"Yakin, mau begitu? Istri yang menolak kebutuhan suami itu akan dijauhi malaikat lo!"
Isun melengos mendengar ucapan suaminya.
Beberapa saat kemudian wajah Ori berubah lagi. Kali ini menunjukkan mimik yang benar-benar serius.
"Sun..."
"Hmmm," tangan Isun terus mengurut perutnya yang seperti dicabik-cabik.
"Sepertinya aku kurang cocok kerja di sekolah seperti sekarang."
"Maksudmu mas?!" kisah apalagi ini...
"Hmmm, gimana menjelaskannya ya? begini...aku ini sarjana teknik komputer yang bisa melakukan banyak hal yang hebat."
"Terus..." perasaan Isun mulai tidak enak.
"Jadi kalau hanya bekerja sebagai tenaga pemeliharaan IT rasanya ilmuku banyak yang terbuang percuma."
"Terus..." mulai terbaca apa maunya.
"Bagaimana kalau aku keluar saja," dengan ringannya kalimat itu keluar dari bibir indah pria tampan yang sialnya adalah suaminya ini.
__ADS_1
"Oke...aku berusaha untuk ngerti."
"Pertanyaanku mas...terus kamu mau ngapain?"
"Begini Sun. Beberapa temanku akhir-akhir ini menghubungi aku buat ngajakin kerja sama membuka usaha sendiri gitu."
Oh...baiklah, bisa dimengerti.
"Berarti masih harus nunggu kan mas..."
Menjawab dengan gerakan mengangguk yang kelihatan ragu, "ya...begitulah."
"Nah...jadi selama menunggu, mendingan kamu lanjutkan kerja dulu di tempat yang sekarang, iya kan..."
"Aku butuh menyiapkan berkas dan mental Sun. Butuh waktu buat menyiapkan diri agar ketika proyek itu bener-bener di tangan, aku sudah siap."
Isun menghela napas. Mimpi pun harus realistis.
"Denger ya mas...yang namanya naik tangga itu dimana-mana awalnya musti dari bawah. Setiap langkah hanya bisa mencapai satu anak tangga diatasnya. Mana ada orang naik tangga dari bawah langsung menuju undakan yang paling atas, sepanjang apa langkahnya coba?!"
"Lagian kalau seseorang itu sudah sampai atas, satu-satunya jalan untuk tetap bertahan adalah kembali turun kebawah karena sesaknya persaingan."
"Mendingan kita berjuang pelan-pelan dari bawah, bareng, dengan penuh kehati-hatian dan__"
"Keburu orang lain sudah sampai Roma, kita masih aja di rumah kos, Sun."
Aku belum selesai mas...dan semangat pantang menyerah.
"Pokoknya begini Sun. Surat pengunduran diriku, sudah aku serahkan tadi siang ke kepala yayasan. Kalau cuman ke kepala sekolah bakal lama di prosesnya."
Apa?!
"Kamu jangan bercanda mas. Kita hanya berdua hidup disini. Jauh dari orang tua, semua-muanya harus kita penuhi sendiri. Dengan entengnya kamu bilang, kamu sudah mengundurkan diri!!"
"Ya Tuhan Mas, yang benar saja!"
"Kenapa kamu memberitahu aku setelah semuanya sudah kamu putuskan sendiri. Tanpa menanti apa pendapatku atau meminta pertimbangan dariku?!"
Isun berdiri sambil menahan perutnya di bagian bawah. Ingin rasanya dia meledak dan meluapkan kekesalannya.
"Pernikahan kita sudah berjalan beberapa bulan mas...tapi kenapa aku masih begitu sulit memahami kamu?"
"Sejak awal sampai sekarang, kenapa kamu selalu fokus pada dirimu sendiri tanpa mempertimbangkan keberadaanku?"
"Ah... astaghfirullah..." Isak perlahan mulai terdengar, tubuh Isun melorot jatuh ke lantai.
"Aku sudah bahagia hidup seperti ini. Kebutuhan kita perlahan mulai bisa tercukupi, kenapa kamu harus merusaknya dengan ambisimu yang tidak jelas itu sih...mas?!"
Ori mengepalkan tangannya.
"Ambisi yang tidak jelas, Sun?"
"Dengar ya, sejak awal memang bukan sebuah pertimbangan yang aku butuhkan dari kamu. Tadi itu aku memang hanya sekedar memberi tahu. Kamu mau setuju atau enggak, mau suka atau enggak. Semua keputusan di keluarga kita ini ada di tanganku!"
Menunjukkan kepalan tangannya tepat di depan hidung istrinya.
__ADS_1
"Kamu nggak punya jalan lain Sun. Satu-satunya jalan adalah kepatuhan. Kamu harus patuh pada semua keputusanku."
"Dan untuk sementara selama usaha ku masih belum dapat proyek, kamu yang seharusnya memenuhi kebutuhan kita."
"Istri itu wajib hukumnya memberi dukungan pada suami."
Tangan Isun mengepal di sisi kanan kiri pahanya. Dia masih duduk bersimpuh dibawah. Sakit perut sialan ini juga tak mau menghilang. Harusnya dia menghilang karena hantaman bom atom yang memecahkan kepalanya.
Tanpa mengeluarkan suara sedikitpun Isun bangkit dan naik ke atas ranjang. Tempat tidur yang hanya pas untuk ditiduri berdua. Selama ini nyaman meskipun bukan king size. Tapi rasanya nanti malam pasti akan lebih sempit dan lebih sesak dari biasanya.
Tubuhnya diputar menghadap dinding, rasanya lembab dan dingin karena memang ini adalah dinding pembatas kamar mandi.
Baiklah...berarti sekarang semua bergantung padaku.
Esok harinya mampu tak mampu Isun memaksa dirinya untuk bangun. Dia menuju dapur. Mengecek semua kebutuhan dapur harian yang Alhamdulillah masih ada, tinggal beli lauknya saja.
Dengan langkah berat karena sisa nyeri masih ada, Isun keluar menuju sebuah warung. Dia kembali dengan membawa lauk tahu dan tempe.
Ini yang kamu mau mas...ini yang akan aku berikan.
Isun hanya merebus lauk yang dia beli dengan diberi sedikit taburan garam. Kemudian dia membuat sambal sebagai pendamping. Tidak ada lalapan ataupun kerupuk.
Lihat saja nanti...apa komentarmu.
Isun menyajikan masakannya menjelang berangkat kerja. Baginya makan seperti lauk sekarang adalah hal yang biasa tetapi apakah suaminya juga terbiasa?
"Sarapan mas..."
Isun menata sambal, dan lauk yang semua direbus di atas meja lipat kecil.
Dengan gerakan anggun yang sedikit dibuat-buat Isun memenuhi piringnya dengan nasi dan menikmati makanannya.
"Apa ini Sun?"
"Sarapan kita mas."
"Hah...yang benar saja Sun!" suara Ori naik satu oktaf.
"Gajimu cukup untuk membeli lauk yang lebih pantas dari pada hanya tahu sama tempe yang direbus dan...sambal?"
Dengan tenang Isun menikmati makanannya.
"Oh...iya mas, kalau...kalau hanya untuk makan, gaji Isun lebih dari cukup untuk memberi kita makanan yang tergolong enak."
"Tapi kan...mulai bulan ini kamu sudah tidak mendapatkan gaji mas?!"
"Aku harus mulai hidup berhemat. Aku tidak mau menyusahkan kamu yang sedang berjuang untuk memperbaiki taraf hidup kita kedepannya mas."
"Ini salah satu bentuk dukunganku. Kita makan sederhana dan seadanya karena aku juga harus memenuhi kebutuhan pokok kita yang lain."
Apa-apaan, sudah makan dengan lauk yang tidak layak. Makan juga nggak disediakan sendok. Dasar istri durhaka.
Mengambil nasi sambil membanting centong keatas piring beberapa kali.
"Aku akan antar kamu kerja, Sun."
__ADS_1
Tanpa banyak membantah Isun mengiyakan saja keinginan suaminya. Cukup dulu sampai disini, kalau mau dilanjutkan perdebatan tiada akhir ini bisa jadi sangat melelahkan.
...***...