
Isun menikmati hari-hari nya. Hidupnya terasa lengkap dengan adanya ibu, bapak, dan Nimas. Tak ada kerinduan sedikitpun di hatinya untuk pulang.
"Kamu mengajukan mutasi saja Nduk. Cari tempat buat ngajar di sini. Nanti bapak bantu carikan informasi, barangkali ada sekolah negeri yang membutuhkan guru. Atau siapa tahu ada yang mau pindah ke kota jadi kalian bisa tukar tempat."
Pasti menyenangkan kalau bisa seperti itu. Tapi saran bapak itu bakal sulit dilakukan selama dia masih menikah dengan Ori.
"Isun masih punya suami pak."
"Sampai kapan laki-laki itu akan menjadi suamimu?" pertanyaan bapak sarkas sekali, membuat cubitan kecil tapi terasa cukup sakit di hati.
"Sampai berapa lama kamu akan bertahan pada rumah tangga seperti yang kau jalani sekarang?"
"Hanya hidup satu rumah tapi sudah tidak sejalan, tidak sepemikiran bahkan cenderung bertentangan dan saling menyakiti."
Bapak menyeruput kopi nya yang masih panas untuk mendinginkan hati. Isun hanya diam.
"Bagaimanapun Isun butuh waktu untuk meyakinkan diri sendiri apa yang Isun butuhkan pak. Bukan apa yang Isun inginkan."
"Apa kamu membutuhkan laki-laki seperti itu?"
"Ayolah, anak bapak adalah wanita kuat yang cerdas. Pernikahanmu itu racun. Bapak pernah dengar toxit relensionsip itu namanya."
"Hihihi...," bapak ini dari tadi anakmu ini berusaha mendengarkan dengan serius malah ketawa mendengar omongannya yang sok Inggris tapi keliru, "bapak ih...Isun serius loh dengarnya, tapi bapak malah ngelawak."
"Sun hape mu bunyi itu dari tadi," tiba-tiba ibu berteriak dari arah kamar.
"Dilihat dulu hape nya."
Isun mengangguk lalu bergegas meninggalkan bapak untuk melihat siapa yang menghubunginya. Benar saja, bahkan ketika dia di depan pintu kamar hape nya masih terus berbunyi.
"Siapa sih, iseng banget."
Tidak mungkin suaminya. Selama beberapa hari disini suaminya itu belum pernah menghubungi sekalipun. Bahkan mungkin cenderung suka karena merasa bebas melakukan apapun.
"Jelly?"
Ternyata adik iparnya mengirim begitu banyak pesan. Tapi hanya satu yang benar-benar merupakan sebuah pesan. Kalau yang lain hanya huruf 'p' yang diketik berulang.
Mbak, kamu dimana? aku kangen, ponakan kamu kangen.
Setelah itu ada pesan satu lagi yang selisih waktunya beberapa menit.
Mbak, kamu nggak ada di rumah? kenapa nggak bilang sama aku.
Lalu ada pesan lanjutan.
Mas Ori bareng temannya perempuan di rumah berdua...(ditambah dengan emoticon menangis)
Isun tersenyum. Adik iparnya ini sayang sampai sebegininya.
"Aku sudah tahu kalau kakakmu punya cita-cita selingkuh," bergumam sendiri.
Mbak, aku ke rumah sakit, sepertinya aku mau lahiran. Sialan kakakku, aku shock, jadinya gini.
Apa?
Isun membuka nomor kontak. Dia yakin dia menyimpan nomor kontak Gagah, suami adik iparnya.
Bergegas Isun menyentuh tombol menghubungi. Beberapa kali nada dering berbunyi, tidak ada jawaban.
__ADS_1
"Ayolah, angkat telepon mbak."
Halo...mbak Isun
Baru terdengar jawaban setelah beberapa kali menghubungkan ulang.
"Bagaimana Jelly?"
"Apa dia baik-baik saja?"
Kalau sampai terjadi sesuatu pada Jelly karena hal ini. Isun akan merasa sangat berdosa.
Alhamdulillah, tidak apa-apa mbak. Ini sudah di rumah sakit kok. Tinggal tunggu bukaan nya penuh saja.
"Katanya tadi dia..."
Iya, dia bilang ke saya. Sudah mbak nggak usah mikir apa-apa, istirahat saja disana. Nanti saya kabari lagi mbak.
"Bener ya Gah, kabarin mbak lagi. Semoga proses lahirannya lancar."
Iya mbak. Maaf mbak, sudah dulu ya. Ini saya dipanggil sama perawat.
Isun mengangguk-angguk, "iya...iya."
Isun berlari keluar, "bapak," berteriak memanggil bapak yang sedang bercanda dengan Nimas di teras.
"Ada apa teriak-teriak?"
Suara tawa Nimas dan bapak membuat hati Isun sedikit tenang.
"Bapak musti siap-siap. Adiknya mas Ori melahirkan. Aku sayang banget sama Jelly pak. Aku ingin ada disana waktu nanti ponakanku."
Nimas mengangguk, "mau akung."
"Oke, kamu ganti dulu sama ibu. Baru nanti kita jalan-jalan ke kota."
"Ih bapak, nggak bilang iya. Malah langsung bilang ke Nimas kalau mau jalan-jalan."
"Memang kita mau jalan-jalan," lalu berteriak, "Bu...ayo ganti, kita jalan-jalan sama cucu."
"Bapak mau nganter karena kita jalan-jalan bukannya mau lihat keluarganya menantu bapak."
Bapak, begitu amat. Tapi nggak bisa nyalahin juga. Mungkin kemarahan bapak sudah mentok di ubun-ubun karena suaminya.
Tidak membutuhkan waktu lama kakek, nenek, plus cucu sudah siap dalam mobil.
"Tanya yang bener rumah sakit mana."
"Katanya di rumah sakit Husada pak."
Butuh waktu beberapa jam untuk menuju Rumah Sakit yang disebutkan Gagah. Semoga saja nanti keponakannya lahir dalam keadaan sehat dan tidak kurang suatu apa.
Rumah Sakit ini termasuk salah satu rumah sakit terbaik di kota. Suami Jelly memang berprofesi sebagai guru, sama dengannya. Tapi selain menjadi guru, Gagah adalah seorang juragan yang memiliki beberapa toko. Makanya waktu nikah uang pinjaman untuk acara langsung dikembalikan sama Gagah.
Tadi juga Isun sempat komunikasi dengan suami adik iparnya itu. Sebentar lagi akan sampai, jadi nanti akan dijemput di depan ruangan biar lebih mudah mencari.
"Mbak," ternyata Gagah memang sudah menunggu, bahkan di depan lift.
"Ayo mbak, kita ke kantin dulu."
__ADS_1
Isun mengernyit, kantin...apa nggak salah dengar, buat apa ke kantin.
"Buat apa ke kantin," bapak yang menyahut.
"Kan habis perjalanan jauh pak," dengan sikap yang sangat sopan Gagah berusaha untuk mengajak kami ke kantin. Dan karena hal itu, kami makin yakin kalau ada sesuatu yang berusaha dihindarkan.
"Ibu juga lelah kan, kita ke kantin dulu ya," sekali lagi Gagah mencoba mengalihkan agar kami tidak langsung ke kamar.
"Mbak mau langsung melihat Jelly dan anakmu, lewat mana?" Isun menunjukkan ketegasan sikap. Sebenarnya lebih karena penasaran, sebenarnya apa yang sedang ditutupi oleh keluarga suaminya.
"Tapi mbak..."
"Ayo," tangan Gagah aku tarik, "tunjukkan jalannya."
Betapa terkejutnya Isun dan orang tuanya ketika di depan pintu ruangan melihat Ori tergesa-gesa keluar sambil menarik tangan seorang perempuan.
"Mas..." hati Isun rasanya langsung terbakar. Reflek dia melirik ibu dan bapaknya. Bukan karena dia marah atau sakit hati, tapi dia ingin menjaga perasaan kedua orang tuanya.
Ori hanya berhenti sebentar, tapi berlalu dengan cepat tanpa memberi salam pada kedua mertuanya. Entah takut atau menghindar.
Bapak menyerahkan Nimas yang tadi digendong kepada ibu. Hanya dalam hitungan detik bapak berlari ke arah suaminya.
"Bapak," Isun ikut berlari berusaha mencegah bapaknya membuat keributan, "pak, jangan...ini rumah sakit."
Tapi langkah bapak tak terkejar. Gagah ikut menyusul di belakang.
Bapak menarik tangan menantunya, "mau lari kemana kamu?!" mata bapak nyalang memerah. Kemarahannya terlihat jelas.
"Maaf pak. saya ada urusan."
"Urusan apa yang lebih penting daripada menjelaskan siapa wanita itu kepada istri dan mertuamu?!"
Andai saja bukan di rumah sakit pasti bapak sudah menghajar Ori habis-habisan.
Kenapa orang tuanya tahu dalam situasi seperti ini.
"Pak, kita ke Jelly dulu, jangan begini Isun malu."
Bapak menghempas tangan Ori, "kembalikan anak bapak baik-baik, bapak tunggu. Untuk sekarang jangan harap bapak mengijinkan anak bapak pulang ke rumahmu!"
"Maafkan Ori pak, banyak hal yang menjadi dasar Ori melakukan ini."
"Dasar napsu tanpa otak," tangan bapak menunjuk kepala menantunya sampai memantul.
"Bapak..."
"Ayo Gah," harus dihentikan dulu kasihan Gagah dan Jelly.
"Kamu masuk sendiri," bapak masih marah, "bapak nggak mau masuk."
"Tapi bapak jangan nyari Mas Ori dulu. Kita bicarakan nanti di rumah."
Tanpa bicara lagi bapak pergi. Ibu hanya bengong karena kaget. Dan ternyata di dalam mata Jelly masih menggenang.
"Maafkan Jelly mbak."
Isun bergegas setengah berlari memeluk adik iparnya, "hei ibu baru ga boleh stress. Mbak ga apa-apa. Kamu tahu kan, mbak sudah menyiapkan mental sejak lama."
Sementara itu di tempat parkir, Ori memegang pipinya karena kena tampar lelaki tua yang sekarang sedang berjalan masuk ke dalam mobil. Jangan macem-macem sama bapak yang sedang marah. Kalau berurusan dengan anak perempuannya kekuatannya bisa bertambah berkali lipat tak sebanding dengan usianya.
__ADS_1
...***...