Suami Benalu Banyak Gaya

Suami Benalu Banyak Gaya
Episode 36. Adik Ipar, Adikku Sayang...


__ADS_3

Ori membanting bantal, guling dan selimutnya ke atas kursi ruang tamu. Ketika mencoba membaringkan diri ternyata kakinya harus menggantung. Menyebalkan, tidurnya sangat tidak nyaman.


Beberapa kali dia terbangun karena kakinya yang kram. Ketika mencoba mendekati kamar untuk mengintip istrinya, ternyata kamar nya terkunci.


Berdiri di depan kamar, Ori hampir menabrakkan tubuhnya ke arah pintu. Tapi yang dilakukan hanya menghantam udara berkali-kali. Karena dia tidak ingin pintunya rusak kena dobrak atau terkena hantaman tangannya.


"Niat sekali kamu membuat aku tidur diluar."


Kakinya menghentak lantai saat kembali ke kursi panjang tempatnya tidur malam ini.


Apakah Isun tidur nyenyak? Tentu saja tidak. Matanya bahkan tak mau terpejam. Otaknya tak mau berhenti untuk istirahat barang sebentar. Apa-apaan ini, harusnya dia bisa tidur tenang menjelajah seluruh bagian kasur yang biasanya harus dibagi.


Pagi datang lebih cepat. Perasaan dia belum tidur lama tapi Isun sudah membangunkannya. Matanya masih terbuka ketika adzan subuh terdengar.


Seperti biasa istrinya itu menyiapkan semua kebutuhan pagi dengan cekatan. Karena dia sendiri harus segera berangkat kerja.


Bagaimana bisa bekerja kalau matanya susah diajak kerja sama. Belum juga dia menikmati makan paginya. Adiknya yang selalu mengganggu muncul di depan pintu.


"Assalamualaikum mbak," suara Jelly melengking tinggi.


Isun yang sedang mematut diri segera menyambut adik yang sekarang ini menjadi kesayangannya, "sudah makan ponakan bude?" mengelus perut yang sama sekali belum kelihatan menonjol itu.


"Belum," Jelly melirik kakaknya, "mas, kenapa belum berangkat?"


"Tck...dasar usil," benar kan, adiknya ini bisanya hanya mengganggu saja.


Jelly mendekati Ori, "eh mas, dengar ya, mana ada tempat kerja mau mempertahankan pegawai yang males-malesan kerjanya seperti kamu."


Isun mengedipkan mata untuk menghentikan adik iparnya yang suka mangap tanpa dipikir.


"Kenapa mbak?"


Kali ini Isun menggeleng samar. Mengertilah adik iparku sayang, mas mu sedang nggak enak hati sejak kemarin.


Eh, Jelly malah mengedipkan mata sambil tersenyum.


"Kemarin ada teman aku yang nanyain mbak Isun loh mas. Dia dokter, Jelly suka kesana kalau periksa."


Aduh, mana ada dokter kandungan seumuran kamu sih Jel, ada-ada saja anak ini. Kakaknya nggak mungkin sebodoh itu kan...


"Terus kamu bilang apa?" memperlihatkan sikap cuek tapi daun telinganya memerah dan cuping hidungnya kembang kempis tanda menahan emosi.


" Ya aku bilang kalau dia kakakku."


"Kakak ipar, tck."


Tapi tak diduga setelah mengucapkan itu Ori segera berdiri dan langsung ganti baju. Karena tadi setelah sholat subuh nyatanya laki-laki itu sudah mandi.


"Mau kemana mas?" teriak Jelly.


"Ngantar mbakmu terus langsung berangkat kerja," menyambar tas dan berjalan menuju teras dimana motor terparkir.


Sementara Isun membelalak kaget melihat adik iparnya yang sedang mengajaknya high five.


"Mbak berangkat dulu," bisik Isun.


"Hmm, kalau mau ke dokter Gilang bilang aku, nanti kita berangkat bareng."

__ADS_1


"Eh, kamu tahu?"


"Tahu lah, dia dokter yang ngerawat kehamilan aku. Kemarin aku sempat ngelirik resep yang mbak bawa waktu aku mampir ke sekolah."


Isun mengangguk senang.


"Nanti malam, jatahnya aku kontrol, mbak mau ikut? tinggal naik aja. Mas Gagah yang setirin."


"Boleh."


"Ayo...lama bener, aku bisa telat."


Kedua wanita muda itu tertawa kecil.


"Cih...gayanya sok telat, padahal tadi hampir ga berangkat," bisik Isun.


"Selamat bekerja mbak, fighting," menekuk dua lengan dengan gaya mengepal untuk memberi semangat.


***


Jelly benar-benar memenuhi janjinya. Dia dan Gagah, suaminya benar menjemputnya untuk berangkat ke dokter. Ori yang sebelumnya merasa enggan karena harus nebeng ikut mobil adik iparnya terpaksa ikut atas permintaan Isun.


"Aku tadi sudah telepon mbak. Buat antri kita berdua, jadi biar nggak terlalu malam selesainya."


Oh...jadi harus telepon dulu seperti itu. Pantesan kapan hari Isun harus pulang hampir tengah malam.


"Hasil lab nya sudah dibawa mbak?"


"Heeh," angguk Isun.


"Jadi gitu ya kalau mau periksa ke dokter kandungan?"


"Tiga hari lalu mbak datang kesini lepas Maghrib, sampai rumah hampir tengah malam."


Jelly melongong, "sama mas Ori kan mbak kesininya?"


"Ya, iya lah dek, masa iya ada suami yang tega membiarkan istrinya berangkat sendiri periksa kandungan."


Isun tidak menjawab, dia membuang pandangannya keluar jendela. Sedangkan Ori hanya diam seakan ada duri di tenggorokannya.


"Kamu nggak nganterin mbak Isun, mas?" raut jengkel, marah, sebel, semua muncul bercampur di wajah Jelly.


"Terusin aja gitu mas. Jangan nyesel ya kalau suatu saat kehilangan. Kalau iya, aku yang bakalan bantu mbakku ini cari laki-laki yang jauh...jauh lebih baik dari kamu!"


"Dek," suara Gagah membuat Jelly menutup mulutnya.


"Omongan itu doa kalau ngomong jangan sembarangan," Ori mulai jengah mendengar ocehan adiknya.


"Maaf mas, kan mas yang paling tahu kalau istri saya itu mulutnya suka sekata-kata."


"Ajarin istri kamu itu."


"Harusnya mas yang bilang gitu ke diri mas sendiri. Mas Gagah jadi suami aku baru hitungan bulan. Lah mas kan jadi kakak aku puluhan tahun, kemana aja sampai nyuruh orang ngajarin adiknya jaga mulut."


Ya ampun, ini anak cerewet banget. Nggak lihat apa kalau suaminya berusaha menghindari konflik. Tapi bersyukur juga ada yang ngebelain disaat seperti ini.


"Dek...sudah."

__ADS_1


Ori yang duduk di depan di sebelah kursi kemudi melirik Gagah ketus. Membuat suami Jelly itu salah tingkah.


"Iya maaf," dengan satu kata permintaan maaf akhirnya Jelly mau menutup mulutnya.


Ketika sampai di klinik yang dituju membuat memori Isun kembali berputar ketika dia baru pulang dan masuk rumah dari periksa beberapa hari lalu. Kata-kata pelacur yang disematkan padanya oleh sang suami kini seperti kembali terdengar.


Isun meraih tangan Jelly untuk meminta dukungan dan kekuatan. Hampir saja air matanya luruh tak tertahan dan tubuhnya tiba-tiba menjadi lemas.


"Mbak kamu nggak apa-apa?" tanya Jelly khawatir. Apa mungkin ada yang salah dengan kondisi fisik kakak iparnya ini. Jelly memang pernah mendengar kalau Isun pernah menjalani operasi kista beberapa tahun lalu.


"Jangan terlalu banyak pikir mbak."


Jelly memeluk erat, menyandarkan tubuh sang kakak ipar di dadanya. Matanya tajam melihat kearah kakaknya sendiri.


"Awas kalau lain kali nggak mau ngantar!" salak Jelly tepat kearah Ori.


Yang dibentak tidak bereaksi malah memalingkan muka.


Karena peristiwa hampir pingsannya Isun, perawat memutuskan untuk mendahulukan dua pasien ini. Jadi tidak perlu menanti terlalu lama keduanya masuk ke dalam ruang periksa.


"Selamat malam," sapa dokter Gilang ramah. Kabarnya meski usia dokter Gilang ini hampir memasuki setengah abad tapi dia masih available.


"Selamat malam dokter. Hari ini jangan fokus sama saya, tapi fokus sama mbak saya ini," Jelly langsung nyerocos semaunya.


"Percaya deh, saya sehat."


"Hahaha...iya kelihatan sekali," tapi dokter Gilang tetap meminta Jelly untuk naik ke atas bed dan diperiksa lalu menuliskan selembar resep, baru bersedia memeriksa Isun.


"Apa kali ini suaminya tidak ikut lagi nyonya?" tanya dokter Gilang ramah.


"Sepertinya ikut dokter menunggu diluar bersama tuan Gagah. Tapi dari tadi sibuk dengan ponselnya."


Eh ternyata perawat ini perhatian juga dengan jajaran pasien yang menunggu diluar, padahal sepertinya cuek-cuek saja, nggak peduli.


"Wah, kalau begitu diminta untuk masuk saja. Biar tahu kondisi istrinya."


"Baik dokter."


Terdengar suara perawat memanggil nama Ori, tak lama Ori sudah berada dalam ruangan.


"Silahkan duduk tuan Donworry. Wah, namanya unik semua ya," melemparkan senyum ramah tapi bagi Ori itu menyebalkan.


Dokter Gilang membaca hasil periksa dari laboratorium. Melihat lalu memandang Isun, beberapa kali dia melakukan itu.


"Sebenarnya semua bagus kok, pernah ada riwayat Kista kan. Tapi itu bukan masalah, tidak ada virus juga dalam darah. Sepertinya tinggal menunggu rezeki saja ini. Tapi nanti saya resepkan vitamin untuk diminum, ya."


Mata Ori bertaut, "kalau memang dia wanita yang subur, nggak perlu minum obat. Tinggal nunggu rezeki kan. Ya sudah biar saja, kami menanti secara alami."


"Kok gitu mas?" Jelly protes melihat sikap kakaknya yang tidak mendukung sama sekali.


"Terserah kamu pulang atau nggak. Tapi mbak dan mas akan langsung pulang."


Jelly panik melihat kakak iparnya yang diseret keluar dari ruang periksa. Dia sampai tidak sempat mengucapkan terimakasih dengan benar. Hanya menunduk sedikit lalu berkata cepat, "terimakasih dokter," kemudian melesat keluar mengikuti langkah kakaknya.


Sampai di ruang tunggu pun begitu. Tangan Gagah langsung ditarik dan diberi bisikan mau, "kita pulang, mas Ori marah. Dasar laki-laki nggak jelas."


***

__ADS_1


Laki-laki yang sering marah karena sebab yang tidak jelas menunjukkan tingkat kedewasaannya masih mentah. Begitu nggak sih?


__ADS_2