
"Istri macam apa itu Don? Seenaknya pergi tanpa izin sama suami. Kasih kabar kek, atau bagaimana, nggak kasihan apa kalau suaminya nyari-nyari?"
"Makanya Bu."
Bukannya menyadari kesalahannya malah merasa mendapat angin karena dibela.
"Bu, mulai besok aku pulang kemari ya. Di rumah nggak ada siapa-siapa, nggak ada yang siapin makan, menyambut aku pulang, sepi."
"Ya, pulang aja kemari. Biarkan istrimu dulu, tunggu beberapa hari kedepan, kalau belum ada kabar juga baru kamu hubungi."
Memang begitulah rencananya, biar istrinya itu tahu kalau dia akan merindukan suaminya jika jauh. Kalau dia yang harus merayu terlebih dahulu, jawabannya hanya satu, jangan harap!
Beberapa hari berlalu, kesehatan Isun makin baik. Kondisinya makin kuat pasca operasi. Secara mental dan emosional dia juga bahagia. Tidak ada tekanan dari suami yang suka bersikap semaunya, hobi mengintimidasi, dan selalu menuntut untuk dipatuhi.
Isun juga memutuskan untuk tidak menghubungi Ori sekalipun. Kalau nanti suatu saat dia bertemu dengan suaminya. Dia akan akan memberikan alasan yang paling mudah tetapi masuk akal.
Sekarang kan aku tidak punya hape...
Semua anggota keluarga ikut dan berusaha memahami keputusan Isun. Meskipun wanita muda itu tak pernah benar-benar mengungkapkan peristiwa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu masih tidak punya rencana untuk menghubungi suamimu?"
"Kan bisa pakai hape nya ibu," beberapa kali ibu menawarkan ponselnya agar Isun mau menghubungi Ori.
Tetapi jawaban Isun tetap sama, "Isun masih ingin disini Bu, Isun tenang di rumah, biarkan Isun istirahat disini dulu sampai puas ya."
Orang tua mana yang tega menolak kalau jawaban anaknya seperti itu. Meskipun sebenarnya si anak sudah berkeluarga.
"Tapi Sun, ada yang masih mengganjal di hati ibu."
Ibu duduk di sebelah Isun yang sedang menikmati pagi di kebun belakang, sambil mengamati bapak yang menyiangi rumput diantara pohon pisang yang berjajar.
"Hmm..." Isun menoleh sekilas, kemudian kembali melihat bapak yang asyik ngobrol dengan para rumput bandel yang terus saja tumbuh.
"Kemana hapemu? bukannya kamu dibelikan suamimu hape yang harganya selangit itu?"
"Ibu ingat kamu telepon sambil tertawa waktu pertama kali pamer sama ibu dan bapak."
"Ceritanya panjang, Bu."
Bapak sudah selesai dengan rumputnya. Sekarang dia beralih menuju tanaman jeruk Bali yang buahnya hampir besar dan siap panen.
"Ibu punya banyak waktu," ibu tersenyum melihat tingkah anaknya yang tak bosan mengamati bapaknya, "kamu nggak bosan lihat bapakmu sampai seperti itu?"
"E'em," menggelengkan kepala, "bapak itu lelaki pujaan aku ibu, cinta pertama aku. Andai waktu itu bapak tegas melarang aku menikah, aku pasti memilih mengikuti apa kata bapak."
"Kamu menyesal?"
Isun berpaling dari pemandangan bapak di depannya dan memandang ibu sambil tersenyum.
"Apa Isun boleh menyesal?"
"Kalaupun Isun punya pilihan untuk menyesal, Isun akan menghindari kata sesal ibu."
__ADS_1
"Isun akan menjalani semua ini dengan semua tenaga yang Isun punya, karena Isun punya bapak dan ibu yang selalu ada jika Isun lelah."
Ibu mencubit pipi Isun dan menariknya, "mmm, gemezz ih...sejak kapan kamu berubah menjadi sedewasa ini."
"Ibu...sakit pipi aku."
Sambil tertawa ibu menyerahkan ponselnya, "hubungi suamimu."
Haruskah? Isun hanya melirik ponsel yang dipegang ibu, tanpa berniat mengambilnya.
Haruskah dia yang mulai menghubungi lebih dulu. Tidak, sekarang adalah kesempatan yang paling pas untuk mengukur perasaan masing-masing.
"Tidak baik seperti ini. Kalau kalian sudah terbiasa jauh, rasa saling membutuhkan akan terkikis, kalau itu yang terjadi, perpisahan akan mudah terlintas dalam hati kalian."
Isun diam, egonya lebih banyak bicara. Dia belum ingin memulai apapun dengan suaminya.
"Ya sudah, kalau kamu mau menghubungi Ori bilang ibu, pakai ponselnya ibu ya..." Isun mengangguk.
Isun berbaring gelisah. Ucapan ibu terus terngiang di telinga. Kalau sudah terbiasa tidak saling membutuhkan maka akan mudah terucap kata perpisahan.
Saking gelisahnya sampai tanpa sadar dia mengubah posisi berkali-kali. Dari rebahan, miring kanan, miring kiri, duduk lalu tidur lagi. Sampai akhirnya malam itu Isun susah tidur.
Keesokan pagi sebelum Isun keluar kamar ibu masuk sambil membawa ponselnya.
"Nih," menyerahkan ponsel sambil tersenyum.
"Apa Bu?"
Isun mengerutkan keningnya, nggak mungkin deh...
"Ambil."
Ponsel ibu dibuka setelah ditangan. Satu pesan masuk dari nama kontak menantu. Sebuah pesan muncul disana.
Assalamualaikum ibu...
Apakah istri saya ada sama ibu?
Isun menghela napas. Suaminya mengirim pesan.
"Apa ibu mengirim pesan lebih dulu sama suami Isun?" dia akan berpikir ulang untuk menjawab jika ternyata ibunya lebih dulu mengirim pesan.
"Tidak, tapi kalaupun iya, apakah ibu salah kalau ibu berkirim pesan pada menantu sendiri."
Isun menyerahkan kembali ponsel itu pada ibu, "saya akan balas nanti."
"Kenapa tidak sekarang?"
"Isun tidak mau mengganggu istirahat orang ibu. Sekarang masih terlalu pagi untuk berkirim pesan."
"Apakah ada yang terlalu pagi atau terlalu malam untuk sepasang suami istri?"
Isun menunduk sambil memainkan tangan. Seperti biasanya ketika dia merasa bersalah atau ketakutan.
__ADS_1
Tapi apakah salah kalau dia sekarang agak jual mahal sedikit.
"Apa yang kamu sembunyikan dari ibu?"
"Apa dia memintamu untuk berbuat dzalim, atau dia memintamu untuk melakukan hal yang melanggar agama?"
Isun menggeleng, dia paham kemana arah pembicaraan ibu.
"Sudah lebih dari seminggu kamu meninggalkan suami, tanpa izin, tidak pamit. Ibu akan memberi kamu kesempatan untuk bercerita. Tapi kalau kamu terus tertutup, ibu akan meminta suamimu menjemput kamu untuk pulang."
Ibu berdiri, hampir meninggalkan Isun, "mas Ori menjual hape dan laptop aku Bu, tanpa seijinku."
Langkah ibu terhenti, dia memutar tubuh dan memandang anaknya.
"Untuk apa suamimu menjual barangmu?'
"Saya tidak tahu, padahal dua barang itu adalah modal saya untuk bekerja."
"Kami bertengkar hari itu dan dia meninggalkan Isun begitu saja."
"Isun akan menghubungi mas Ori nanti Bu, pasti."
"Ibu akan minta suamimu kemari, jangan hubungi dia dulu."
Kali ini Isun akan menurut, dia terlalu sakit hati dengan sikap suaminya. Kalaupun barang itu harus dijual paling tidak pemiliknya merasa ikhlas dulu. Ini tidak, malah main paksa.
...***...
Dering tanda pesan masuk berbunyi nyaring. Sudah beberapa hari ini Ori pulang ke rumahnya sendiri. Ibunya terus menggerutu tentang kepergian Isun.
Banyak hal yang menjadi bahan gerutuan ibu. Karena itu Ori memutuskan untuk pulang agar lebih tenang.
Tapi ada masalah lain yang dia hadapi sekarang. Setiap hari dia harus beli nasi bungkus untuk makan. Malas kalau harus ke rumah orang tuanya hanya sekedar untuk makan. Baru sekarang dia merasakan kehadiran seorang istri memang dibutuhkan.
Dia baca berkali-kali pesan yang masuk. Ibu mertuanya memintanya datang, entah karena apa tidak dijelaskan. Semoga saja mertuanya mengijinkannya untuk membawa Isun pulang.
Meskipun bayangan wajah si kucing garong tampak menyeramkan, besok dia akan nekat untuk menghadiri panggilan ibu. Ori memutuskan untuk menghadapi apapun kemungkinan yang terjadi.
Benar saja dihadapannya sekarang duduk si kucing garong sambil melotot ke arahnya.
"Bapak tahu apa yang terjadi."
Ori menunduk, bahkan untuk mengangkat alis matanya saja dia tidak berani.
"Pesan bapak hanya satu, kamu boleh membawa anak bapak pulang, asalkan tidak ada lagi pemaksaan kehendak dalam bentuk apapun."
Setelah mengucapkan itu bapak memanggil Isun. Istrinya kelihatan lebih sehat, lebih gemuk dan terawat. Oh...apa yang dia lakukan selama ini sebagai suami...?!
"Sun, kita pulang ya..."
Isun memandang tajam, "no way, nggak semudah itu mas!"
...***...
__ADS_1