
Bulan berlalu kehamilan Jelly makin bertambah usia. Ada satu hal yang sering dilakukan dua saudara ipar itu tanpa sepengetahuan Ori. Kalau Jelly ada jadwal kunjungan ke dokter Gilang maka sekali waktu Isun akan ikut.
Kadang Isun hanya mendampingi tapi di lain waktu dia juga akan turut memeriksakan kesehatan rahimnya.
Tidak bisa dipungkiri Isun juga ingin segera hamil. Tendangan kaki si kecil yang berada dalam perut Jelly menggelitik rasa keingintahuannya. Betapa hebatnya kalau dia juga merasakan hal yang sama.
Hingga suatu sore dlm perjalanan pulang mengantar Jelly kontrol terjadilah percakapan itu.
"Bener nggak sih pendapat orang-orang tua itu Jel," dua wanita itu serius ngobrol di salah satu kedai soto terkenal di kota.
Dengan mulut penuh Jelly menjawab pertanyaan kakak iparnya, "itu kata orang-orang tua sih mbak."
"Bener apa nggak, Jelly mana tahu?!"
Apa lebih baik dicoba untuk ikut saran itu ya...
"Mau mencoba ikut kata-kata orang tua?"
Isun mengangguk, "he'em, siapa tahu pancingannya berhasil. Setelah mbak nanti ngambil anak, nggak lama mbak bisa hamil."
"Mbak musti bilang dulu sama mas Ori. Mbak tahu kan, suami mbak itu lelaki yang anehnya nggak tanggung-tanggung."
Isun tersenyum, mendekati perut adik iparnya dan membelainya sayang.
"Mamah kamu kalau sama pakde galak bener sayang. Biar saja, nanti wajahmu biar mirip pakde ya..." Isun tertawa kecil membayangkan itu. Ori versi kecil, pasti lucu.
"Ih, amit-amit mbak," mengetukkan tangannya berkali-kali diatas meja
"Eh, kok gitu. Dia itu kakak kamu gimana pun juga."
"Tck."
"Lebih baik mbak ngobrol dulu sama Mas Ori. Bicarakan yang baik, nggak mudah kalau mau merawat anak. Apalagi ini tujuannya sebagai pancingan. Bukan benar-benar diadopsi."
"Iya..." tangan Isun masih diatas perut buncit adik iparnya. Beberapa kali tendangan terasa membuatnya tertawa kecil. Rasanya dia ingin melakukan apapun untuk merasakan keajaiban yang sama.
***
"Apa?!"
__ADS_1
Wanita ini sudah gila. Merawat anak orang lain? Buat pancingan, istilah apalagi ini. Mancing ikan? Lelaki itu tahunya kalau mancing ya mancing ikan. Ini mancing anak?
"Kamu jangan mengada-ada. Itu cuman mitos. Siapa yang akan merawat anak orang cuman untuk pancingan?"
"Iya kata orang tua gitu mas. Sambil kita latihan juga, kalau tiba-tiba aku hamil, kita sudah siap."
"Kalau mau hamil, ya pasti hamil aja. Orang yang menghamili kamu kan aku, nggak ada hubungan sama ngerawat anak orang."
"Kita coba lah, mas."
Isun berusaha meraih tangan Ori yang mlh ditarik menjauh. Susah sekali menghadapi suaminya ini.
"Nggak! Denger ya, kalau kamu mau ngerawat anak orang, terserah! Tapi aku nggak akan ikut campur. Jangan harap juga aku akan membantu."
Pupus sudah harapannya untuk mendapat sebuah dukungan. Bukan masalah membantu merawat, tapi bagaimanapun dia butuh dukungan moril.
"Aku bisa menitipkan ke penitipan anak ketika aku kerja mas."
"Menghabiskan uang saja!"
Bukan anak sendiri harus mengeluarkan banyak uang, buat apa?!
Kata-kata penutup yang selalu kudengar. Selalu hanya tentang kepatuhan. Hai lelaki...wanita juga hak untuk di dengar pendapatnya. Bukan hanya diajak ke kasur dan selalu diminta siap di dapur!
***
Kali ini Isun membuat pilihan berbeda. Dia wanita pekerja, punya penghasilan sendiri, nggak bergantung sama suami. Apa salahnya kalau sekali saja keputusan itu ada di tangannya.
Hingga suatu saat kesempatan itu muncul. Hari itu ayah dan ibu mertua mengajak Isun mengunjungi kerabat yang masih keluarga jauh.
Kebetulan mereka berkunjung karena salah satu saudara baru melahirkan.
"Katanya KB lah kok hamil lagi?" ucap ibu sambil menggendong bayi dan tersenyum sekali-sekali jika bayinya menguap lucu.
"Iya, nggak tahu ini padahal kakaknya bayi juga belum genap dua tahun. Kasihan sering terabaikan."
Rasanya Isun ingin merebut bayi yang ada dalam pangkuan ibu mertuanya. Matanya tak ingin lepas dari bayi mungil itu. Wajahnya inginnya susah ditutupi dengan mata berbinar dan yang terus melihat bayi lucu itu.
Sedang asik-asiknya melihat bayi dalam gendongan ibu. Tiba-tiba seorang gadis berlari di depannya. Langkahnya masih belum seimbang miring kanan dan kiri bergantian.
__ADS_1
"Itu kakaknya si bayi," ucap kerabat yang sejak tadi berbicara dengan ibu.
Sementara ibu si bayi sedang menyiapkan makan untuk anaknya yang lain.
"Wong anak kok sampai enam."
Isun tertegun mendengar ucapan ibu mertuanya.
"Ya itu keponakanmu."
"Sun," suara ibu yang terdengar memanggilku, membuatku terkejut.
"Iya, Bu?"
"Kamu mau merawat satu dari anak mereka?"
Apa?! Ibu serius atau bercanda? Saking kagetnya Isun sampai tak bisa berkata-kata.
"Tck, diajak ngomong orang tua malah nggak jawab, ngelamun."
Eh, tidak Bu...bukan begitu.
"Saya mau Bu merawat satu, yang mana Bu? yang baru berjalan di depan kita tadi ya Bu..."
Sekarang ibu yang terkejut, "kamu bener mau?"
Isun mengangguk cepat. Tentu saja mau, ini seperti peribahasa pucuk dicinta ulam tiba. Apa yang diharapkan menjadi sebuah kenyataan.
"Ya sudah."
"Yu...pakaiannya cucumu ringkas beberapa, biar kakaknya bayi dibawa mantuku sementara."
"Biar mantuku ini belajar ngurus anak, buat pancingan juga."
Isun merasa mendapat durian runtuh. Harapannya bersambut. Suami urusan nanti, toh yang memintanya untuk membawa anak ini adalah mertuanya bukan keinginannya sendiri.
Lagi pula keluarga si bayi bilang. Kalau mau dikembalikan kapanpun boleh saja. Anggap saja ini liburan buat si kecil, agar tidak berebut perhatian dengan adiknya.
Isun memegang perutnya. Ayo nak, kapan kamu hadir, ini ibu sudah pancing kamu dengan kakak yang cantik.
__ADS_1
...***...