
Isun mulai mencari informasi. Ternyata melegalkan hubungan keluarga tidak semudah yang dibayangkan. Banyak berkas yang harus disiapkan. Harus mampu membuktikan bahwa kondisi pernikahan dan ekonomi memang layak untuk mengangkat seorang anak.
Bisa dibayangkan berapa kali dia harus mondar-mandir ke pengadilan nanti. Sebuah proses yang panjang dan melelahkan apalagi sifat suaminya yang jelas-jelas tidak bertanggung jawab.
Keluarga Nimas sudah setuju anaknya diadopsi, tinggal mengurus surat-surat ke pengadilan.
Ori karena mempunyai maksud tertentu, sama sekali tidak mempersulit proses yang berjalan, malah cenderung mendukung dan memudahkan.
Hubungan yang semula dingin berubah menjadi hangat versi Ori. Meskipun tidak untuk Isun, paling tidak wanita itu merasa terbantu karena semua usahanya untuk melegalkan status Nimas sebagai anaknya berjalan baik.
Meskipun sebenarnya makin hari sikap Ori makin menyebalkan, tidak ada yang bisa dilakukan Isun kecuali menahan diri.
Dia hanya melihat dalam diam ketika suaminya tertawa kecil sendirian malam-malam ditemani benda pipih bercahaya di tangannya.
Saling berbisik mesra dengan lawan bicaranya di seberang sana. Mau marah tidak mungkin. Isun tidak ingin urusannya makin sulit.
Membutuhkan waktu berbulan-bulan sampai akhirnya Nimas benar-benar menjadi anaknya.
Hari ini di luar gedung pengadilan Isun menangis. Bukan karena sedih tetapi merasa bahagia akhirnya status Nimas sudah sah menjadi anaknya.
Namanya dan nama Ori tercantum sebagai orang tua yang diakui oleh negara.
Setelah semua selesai hanya satu hal yang dia inginkan sekarang, pulang ke rumah bapak ibu. Kebetulan sekarang waktunya libur semester jadi Isun mengambil cuti agar bisa libur lebih lama.
Tidak ada drama dari suaminya. Dengan mudah Isun mendapatkan ijin untuk pulang.
"Wehhh...cucu kakung datang."
Bapak mengambil Nimas dari gendongan Isun segera setelah sampai rumah.
"Sun, ikut ibu. Biar Nimas ikut bapak."
Isun mengekori di belakang.
"Duduk nak."
Sekarang Isun duduk berhadapan dengan ibu. Wajah ibu memancarkan ekspresi sedih. Padahal baru punya cucu meskipun bukan cucu kandung tapi tidak menunjukkan kebahagiaan seperti bapak.
"Terus terang ibu terkejut waktu kamu kirim pesan akan mengadopsi anak. Selama ini ibu menunggu, menahan diri untuk tidak mengganggu, membiarkan kamu tenang menyelesaikan urusanmu tanpa memberi kamu beban tambahan."
"Ketika kamu memberi kabar kalau mau pulang, ibu berjanji tidak akan menahan diri lagi. Sekarang ceritakan semua pada ibu."
__ADS_1
Air mata Isun mengalir perlahan. Ibu mendekatkan tubuhnya dan memeluknya hangat.
"Kemana anak ibu yang keras hati. Yang kemauannya selalu minta dituruti. Yang mau bunuh diri ketika jatuh cinta untuk membela kekasih hatinya. Kenapa sekarang jadi cengeng dan gampang nangis begini?"
Lama keduanya berpelukan berusaha untuk saling memberi dan menerima kekuatan.
"Ibu, maafkan anak ibu ini."
"Selama ini Isun berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk bapak dan ibu, tapi ketika jatuh cinta otak Isun jadi bebal dan bodoh. Baru Isun sadar kalau cinta itu tidak hanya urusan hati."
"Ada matematika di dalamnya. Kita harus pandai berhitung agar cinta yang ada tidak kalah dengan ujian yang nanti dihadapi selama hidup berdua."
Beban berat yang selama ini menggantung membuat sesak di dada sedikit berkurang.
"Isun kalah ibu, perhitungan Isun salah. Bahkan mungkin ketika Isun memutuskan untuk menerima Mas Ori menjadi suami tanpa perhitungan sama sekali."
"Tidak menanyakan kesiapannya untuk bertanggung jawab akan hidup istri dan anaknya kelak."
"Mungkin karena belum pengalaman dan takut menjalin hubungan antar dengan laki-laki makanya Isun memutuskan untuk menikah saja waktu itu tanpa pikir panjang ibu."
"Maafkan Isun."
Ibu tersenyum, "cinta tak pernah salah nak. Mungkin kita bertemu dengan orang yang tidak tepat, disitulah kekuatan cinta kita diuji."
Dua wanita beda generasi itu saling tersenyum lalu menyusut sisa air mata yang tersisa.
"Apa rencanamu kedepannya?"
Isun menghela napas, berusaha membuang kesal dan sesal, "Isun tidak tahu ibu. Tapi bagi Isun, mempertahankan rumah tangga yang sudah hancur seperti merekatkan selembar kertas yang terkoyak menjadi serpihan, sangat tidak mungkin."
"Bagaimana dengan anakmu?"
Isun tersenyum, dari ekor matanya dia bisa melihat bapak yang bercanda dengan Nimas.
"Karena Nimas lah, Isun menahan diri. Bukan apa-apa, departemen sosial masih mengawasi kami sebagai orang tua asuh yang masih baru."
Ibu mengangguk, "kamu tidak harus bertahan kalau tidak bahagia."
"Mulai hari ini nikmati liburanmu, jangan pikirkan apapun. Jangan biarkan sesuatu, apapun itu, mengganggu kebahagiaanmu. Disini bapak dan ibu akan selalu ada untukmu, mengerti!"
Ternyata pulang bisa menjadi penyembuh terbaik.
__ADS_1
Isun mengganti bajunya ke pakaian yang lebih santai seperti dulu ketika membantu bapak turun ke sawah. Celana training di padankan dengan kaos gombrong dilengkapi hijab praktis yang langsung bisa dipakai.
"Bapak!" teriaknya lantang. Bapak sedang berada di halaman sambil menggendong Nimas berputar-putar.
"Ajak Isun ke sawah!" teriaknya lagi.
"Sekarang?!"
"Iya lah," kali ini tidak perlu berteriak karena wanita itu sudah berada di sisi bapak.
"Boleh."
Bapak mengulurkan Nimas pada Isun. Segera pergi masuk rumah dan keluar sambil menuntun motor Supra tua nya.
"Ayo."
Ketika Isun sudah diatas boncengan, bapak menepuk bagian depan motornya sambil berteriak, "berangkat..."
Ternyata benar quotes yang sering dia baca. Bahagia itu sederhana. Berada di antara orang-orang yang mencintai dan menyayangi kita rasanya luar biasa.
Tidak perlu pesta atau barang mewah, atau ke tempat wisata. Hanya perlu untuk berbagi cerita. Bercanda dan saling mentertawakan ketololan masing-masing.
Apalagi pulang ke rumah dimana kita selalu diterima. Ada orang tua yang menyambut hangat tanpa ada sandiwara. Tak harus berakting manis atau sok jaim untuk menjaga harga diri. Karena kalau di depan sesepuh, harga diri kita hancur luluh lantak tak bersisa, hahaha...
Harga diri mana yang mau disombongkan. Karena dua orang tua itulah yang paling tahu rahasia terkecil yang kita punya.
Seperti Isun sekarang, berlarian di tengah sawah mengekori bapak yang menggendong Nimas di depannya. Semua gundah dibuang untuk sementara.
"Mau sekalian makan mangga di kebun?" tanya bapak ketika mereka bertiga duduk di gubuk pematang sawah.
"Emang sudah ada yang tua?"
Nimas mulai tenang. Sepertinya kelelahan setelah seharian melakukan perjalanan jauh dan bercanda dengan akung nya.
"Sudah lah."
"Ayo!" bapak menarik tangan Isun menuju motor yang diparkir di pinggir jalan.
Ketiganya kembali naik motor sambil bergaya. Kebun yang akan dituju jaraknya lumayan jauh. Nimas tak lagi mampu menahan kantuknya, dia tidur terjepit diantara ibu dan kakeknya.
"Berangkat..." teriak Isun. Dia akan bahagia, itu janjinya. Seberat apapun gunung terjal yang akan dilalui dia akan bahagia.
__ADS_1
...*** ...