Suami Benalu Banyak Gaya

Suami Benalu Banyak Gaya
Episode 12.


__ADS_3

Tempat parkir penuh sesak. Gara-gara berdebat akhirnya dia kesiangan. Isun harus memarkir motornya agak jauh dari lokasi ujian.


Untungnya kalau ada event seperti ini, pasti banyak manusia yang menjadi kreatif. Membuka pagar dan menyewakan halaman rumahnya untuk dijadikan tempat parkir dadakan.


Setengah berlari dia masuk ke dalam lokasi. Keadaan hampir sunyi, tinggal satu dua orang yang juga berlarian seperti dirinya. Semoga masih ada waktu untuk mencari ruang ujiannya.


Pintu ruangan hampir ditutup waktu Isun sampai setelah berkeliling. Harusnya ada tanda petunjuk untuk memudahkan mencari ruangan. Tapi setelah diingat petunjuk itu memang sudah ada, hanya dia sendiri saja yang datangnya telat sampai susah nyari ruang.


Sialan kamu mas, membuat aku tergesa-gesa.


Betapa bersyukurnya dia ternyata tak butuh lama untuk menyelesaikan soal-soal yang muncul pada layar monitor di depannya.


...***...


Isun menatap segelas sedang es jeruk dan semangkuk mi ayam diatas meja. Perutnya yang berteriak karena minta dipuaskan tidak bisa lagi ditahan.


Diq duduk di sebuah warung yang cukup ramai. Tapi hanya dia yang sendiri. Sedikit ironis memang, meskipun bukan pengantin baru, tapi pernikahannya baru berjalan satu tahun, harusnya masih suka berdua kemana-mana.


Napasnya terasa berat mengingat perdebatannya tadi pagi. Entah sampai kapan dia dan suaminya akan berhenti memperdebatkan semua hal.


Matahari makin tinggi. Perjalanan pulang ke kota M membutuhkan waktu sekitar dua jam naik motor. Mi ayam di depannya sudah tandas begitu juga dengan es jeruk yang sudah habis hingga tetes terakhir.


Kalau dia memilih pulang sekarang, maka sampai rumah kurang lebih pukul empat. Lebih baik pulang nanti saja dulu, biar matahari sedikit berkurang sengatannya.


Setelah beristirahat, mendinginkan tubuh dan otaknya yang tadi sempat memanas karena cuaca dan sulitnya soal ujian, pukul setengah tiga Isun memutuskan pulang.


Selama perjalanan, debu dan panas yang masih tersisa membuatnya sesak napas. Belum lagi mobil-mobil besar yang ingin pulang ke kandangnya, saling berlomba dan mendahului.


Beberapa kali dia harus turun keluar dari aspal jalanan karena takut tersenggol truk tronton yang berjalan di sebelahnya.


Jeritan klakson yang menuntut pengendara lain untuk memberi jalan mirip suara jeritan perempuan yang ingin diperhatikan. Padahal semua pengendara bernasib sama, sama-sama ingin keluar dari kemacetan.


Perjalanan sedikit lebih lega setelah memasuki perkampungan. Napasnya longgar dan mentari tidak lagi menyengat.


Apalagi ketika sampai di rumah kos. Ingin rasanya segera melepas semua yang melekat di kulit lalu mandi air dingin setelah itu tiduran, pasti nikmat.


Tapi semua khayalan nan indah barusan langsung pudar ketika Isun membuka pintu kamar disambut dengan raut penuh amarah dari suaminya.


"Selesai jam berapa?!"


Entah bertanya atau membentak dengan nada keras seperti itu.


"Assalamualaikum, mas."


Pasang senyum yang paling manis. Badan lelah akan makin lelah kalau harus berdebat lagi sekarang.


"Kenapa senyum-senyum?!"


"Pertanyaanku belum kamu jawab, kamu selesai jam berapa? kenapa jam segini baru pulang?!"

__ADS_1


"Aku selesai jam satu mas."


Jangan marah sekarang mas, aku lelah...


"Kamu sudah melalaikan tugasmu sebagai seorang istri Sun. Kamu meninggalkan suamimu. Tadi pagi pembicaraan kita belum tuntas, kamu langsung pergi begitu saja."


"Apakah itu sikap seorang istri yang patuh dan taat pada suaminya?"


Isun duduk bersimpuh di lantai. Tulangnya tak lagi mampu menyangga beban tubuhnya. Terlalu lemas rasanya meski hanya sekedar untuk berdiri.


"Jangan sekarang mas, biarkan aku mandi dulu," lirih Isun memohon.


Dia pandang netra suaminya yang sama sekali tak ramah.


"Siapa suruh kamu ikut tes itu. Kamu kan tahu aku keberatan kamu ikut tes-tes semacam itu. Kita bisa hidup tanpa kamu harus menjadi pegawai."


Tolong, jangan sekarang marahnya.


"Biarkan aku mandi dan istirahat dulu ya mas. Nanti kamu boleh marah dan ceramahi aku sampai puas."


"Memangnya salah siapa kamu sekarang lelah?!" suaranya masih tinggi.


"Makanya nurut sama suami, kalau kamu nurut, kamu kan tidak perlu pergi jauh-jauh. Apa yang kamu dapat sekarang, hanya capek kan?!"


Cukup sudah...Isun berdiri dan beranjak dari lantai menuju kamar mandi. Handuk dan pakaian ganti dia bawa masuk ke kamar mandi.


"Sun...Sun!"


"Mau kemana kamu?!"


"Aku mau mandi, tubuhku lengket semua," tanpa menoleh lagi Isun menghilang di kamar mandi.


Samar-samar dari dalam kamar mandi di sela-sela gemericik air Isun masih bisa mendengar ocehan suaminya.


"Setelah mandi, jangan coba-coba buat tidur."


"Masakkan aku sesuatu. Seharian ini aku makan menu masakanmu tadi pagi. Sore ini aku bosan."


"Jangan mengeluh, karena kamu sendiri yang cari masalah, nggak nurut sama suami."


"Buatkan juga aku teh hangat, hawanya dingin sore ini!"


Ya Allah...Isun menutup telinganya dengan dua tangan.


Sekeluarnya dari kamar mandi tanpa bicara lagi Isun menuju dapur, menjerang air untuk membuat teh. Dia juga menggoreng telur dan membuat sambal untuk makan malam.


Ori melihatnya mondar-mandir tanpa berusaha membantu. Bahkan sekedar untuk menyiapkan pun, Ori tak mau.


Dia tidak boleh emosi, semua harus dijalani dengan senang hati. Meskipun rasa lelah yang belum hilang membuatnya sangat ingin berbaring.

__ADS_1


"Mau kemana kamu?!" ujar Ori ketika melihat Isun akan naik ke atas tempat tidur.


Masih dengan diam, Isun membatalkan niatnya. Dia memilih untuk duduk menahan kantuk.


"Kenapa kamu dari tadi diam saja?!"


"Setelah mengikuti tes kamu jadi bisu? nggak bisa ngomong?"


Mengesalkan, dengan tatapan tajam akhirnya Isun menjawab.


"Apa kalau aku menjawab kamu akan diam?"


"Akan membiarkan aku tidur dan istirahat?"


Seluruh tenaga Isun habis hari ini. Jangankan untuk mendebat, sekedar untuk menjawab saja rasanya malas.


"Enak saja, rasakan itu...jadi istri tidak mau patuh sama suami!"


Cukup!!!


"Sudah mas?"


Ori menatap istrinya tajam sebagai jawaban.


"Dengarkan, aku diam karena aku terlalu lelah untuk mendebatmu!"


"Maafkan aku kalau aku menyinggungmu, tapi maaf, aku juga punya kebahagiaanku sendiri."


"Bukankah tugasmu untuk membuatku bahagia? memenuhi semua kebutuhanku. Aku tahu aku harus patuh sama kamu!"


"Tapi aku juga ingin membahagiakan ibu dan bapak. Apa salahnya itu?"


"Tidakkah kau punya hati nurani?!"


Sebelum Ori menjawab, Isun berdiri, membaringkan tubuhnya dengan kasar ke atas tempat tidur lalu memutar tubuh menghadap dinding.


Sambil berbisik Isun melanjutkan, "selama ini aku tak pernah membantahmu mas. Biarkan saja aku kali ini."


Lalu Isun terlelap dalam tidurnya yang tak nyaman, tenggelam dalam mimpi yang melelahkan.


Ori ikut naik ke ranjang setelah makan. Meja belum dilipat. Alat makan kotor tergeletak diatasnya.


Tak lama Ori juga menyusul menuju alam mimpi. Dalam tidurnya dia melihat Isun duduk berlutut dibawahnya, sementara dia duduk diatas sebuah singgasana melihat ke arah istrinya yang menunduk tak berani mengangkat wajah.


"Kepatuhan istri pada suami adalah wajib hukumnya!!"


Suaranya menggema dalam tidur. Ori membisikkan kata itu berulang-ulang dengan mata terpejam.


Tidurmu pun tidak membuatku tenang mas...

__ADS_1


Ucap Isun dalam hati. Dia sekarang dalam posisi duduk. Tangannya terus meremas udara dia atas wajah suaminya. Sialan! sekedar beristirahat saja susahnya setengah mati.


...***...


__ADS_2