Suami Benalu Banyak Gaya

Suami Benalu Banyak Gaya
Episode 16. Konser Out Door


__ADS_3

Acara syukuran dimulai setelah sholat Isya. Ramai karena hampir seluruh undangan hadir. Bapak-bapak datang bersamaan karena biasanya langsung ke rumah undangan setelah dari masjid selepas sholat berjamaah.


Berbagai makanan yang berbahan dasar kambing tersaji. Mulai gulai, krengsengan, satai sampai nasi kebuli, ala-ala timur tengah tapi tetap dengan kearifan lokal.


Acara selesai sekitar jam sembilan. Doa-doa yang dilantunkan menjadi pengharapan agar Isun menjadi pribadi yang lebih baik dan dilimpahkan rezeki yang barokah.


Yang menarik selama acara berlangsung adalah sikap Ori yang aneh. Suami Isun itu tak mau lepas dari mertuanya. Sedangkan bapak karena masih malu atas kemarahannya , yang sebenarnya tak seluruhnya salah tadi, ingin menghindari menantunya.


"Bapak mau makan apa? Saya ambilkan ya."


Sambil memasang wajah manis.


"Nggak."


Bapak yang merasa malu, tapi Ori merasa bapak masih marah padanya. Semakin bapak cuek, perhatian Ori makin menjadi.


"Bapak mau diambilkan minum?"


"Nggak," bapak memalingkan wajahnya menghindari bertatap muka dengan sang menantu.


Di kepala bapak sekarang muncul gambaran sebuah menara milik Ori yang bergerak ke kanan dan ke kiri.


"Bapak masih marah sama saya?" Ori mulai merasa benar-benar tidak enak hati.


Bapak malah pergi meninggalkan menantu yang sedang bingung itu.


Mending berjauhan dulu. Perut mulai mulas menahan tawa dari tadi.


Dasar anak gak ada akhlak. Bagaimana dia bisa membohongi bapaknya seperti itu. Di otak kan jadi membayangkan menara punya kepala.


"Sun, bapak masih marah," keluh Ori.


Isun menatap suaminya, "biar saja mas. Nanti kalau sudah lupa, pasti marahnya juga hilang."


Kenapa di depan meja tempat suaminya duduk ada beberapa piring kotor bekas makan ya...


"Mas, kamu makan berapa piring?"


Jangan sampai kejadian konser di tengah ladang malam-malam terulang lagi. Membayangkan dikerubung nyamuk dalam gelap. Mending ada yang lihat, kalau ini meskipun mungkin ada yang lihat tapi sesuatu yang gak kelihatan kali ya.


"Cuman tiga piring Sun."


"Nafsu makanku hilang, gegara bapak wajahnya bikin sumpek begitu."


Santai sekali cara bicaranya, "kamu waras mas? Aku nggak mau ya nganterin malam-malam buat buang air besar."


"Tiga piring kamu bilang cuman?!"


Ori melihat malas pada istrinya, "aku cuman nyobain semua masakan ibu Sun. Menghormati yang sudah masak."


"Ini saja sop kambing nya belum aku cobain, Sun."


"Hah?" mulut Isun terbuka lebar. Gimana sih ini laki. Makannya banyak banget padahal badannya nggak seberapa gede. Di rumah kos juga gitu, hampir tiap kali Isun gak kebagian nasi.


"Tau ah mas, pokoknya aku gak mau anterin malam-malam."


Isun berlalu meninggalkan suaminya duduk sendiri di ruang tamu. Para tamu sudah pada undur diri beberapa saat yang lalu setelah acara doa bersama usai.


Tinggal sekumpulan ibu-ibu yang sedang riuh di rumah belakang. Ada yang mencuci piring, menatanya lagi, ada juga yang bungku-bungkusin sisa masakan buat dibagikan tetangga atau dibawa pulang.


Sementara Isun memilih masuk kamar. Dia masih terus bersyukur karena berhasil membahagiakan bapak dan ibu. Kalaupun setelah ini dia akan lebih fokus untuk keluarga kecilnya, rasa bersalah tak lagi menghimpit dada.


Setelah ini Isun ingin merencanakan memiliki anak. Selama ini memang tidak pernah sengaja ditahan atau diatur untuk belum punya anak dulu. Tapi entahlah mengapa masih juga belum tampak tanda-tanda kehamilan.


Disentuhnya perutnya, "sebentar lagi ibu yakin kamu akan hadir sayang. Tugas ibu sama kakek dan nenek sudah tuntas. Sekarang ibu ingin kehadiranmu. Segera hadir diantara ayah dan ibu ya nak."


Membayangkan akan ada kehidupan yang tumbuh di perutnya membuat perasaan Isun menghangat. Bagaimana rasanya, ada bayi yang berkembang di dalam? tidak sabar rasanya.


"Perutmu sakit lagi?" tegur Ori yang sedang berdiri di pintu kamar, "perasaan kamu belum menstruasi bulan ini kok sakit?" tanya Ori.

__ADS_1


"Nggak...nggak sakit kok."


Hei, mendengar suaminya bicara, Isun baru ingat, bulan ini memang tamu rutin bulanannya belum datang.


"Mas, kamu ingat nggak bulan kemarin kapan aku mens?"


Alis mata Ori mengkerut, "nggak lah."


"Memang harus ya, aku mengingat hal itu?"


Aneh saja, harusnya kan yang bersangkutan yang mengingat-ingat. Kenapa harus pihak lelaki yang repot menghitung hari.


"Nggak juga sih, barangkali saja ingat."


Ori merangkak naik ke ranjang.


"Kamu pojok."


Tangannya sedikit mendorong Isun ke pojok tempat tidur dekat dinding.


"Sekali-sekali aku ingin tidur di pinggir juga mas."


"Nggak usah."


Bukannya ikut berbaring, Isun malah berdiri akan keluar kamar.


"Mau kemana kamu?"


Suara Ori mulai mendayu. Heran sebenarnya lihat suaminya itu. Bisa secepat itu tidur ketika kepalanya menyentuh bantal.


"Mau ke dapur, bantu ibu."


"Memang ibu nyuruh kamu bantuin," suaranya makin lemah, tak lama terdengar suara, "oahemm," lelakinya itu mulai menguap.


"Nggak usah kemana-mana, nanti kamu bisa ganggu bahkan ngebangunin aku kalau kamu naik kasur setelah aku tidur."


"Naik!"


"Naik! Ingat...!!"


Belum selesai bicara suara Ori menghilang.


"Seorang istri itu harus patuh pada suami," lanjut Isun dengan gerakan bibir yang dimiring-miringkan, "huh."


Meski jengkel, tapi tetap saja Ori menurut, dia naik dan merangkak pelan kejepit antara Ori dan dinding seperti biasanya.


"Bu, anakmu anteng di kamar," bisik bapak dari ruang tengah yang memang bisa melihat pintu kamar Isun dengan jelas


"Ya biarkan pak, biar istirahat, dua anak itu ada acara mulai kemarin. Capek lah pastinya."


"Pikiranku masih belum fokus Bu."


Wajah heran ibu kelihatan jelas, "nggak fokus kenapa?"


"Rasanya hatiku belum rela anakku harus moles menara pizza nya Ori sampai kinclong."


Tangan ibu melayang ke punggung bapak sampai mengeluarkan bunyi 'bhug' yang cukup keras.


"Aduh, sakit Bu."


"Anakmu sudah nikah hampir setahun lebih. Kamu masih membayangkan menara menantumu."


Sambil mengerling menggoda dan mendekati telinga bapak, ibu berbisik, "bayangkan saja menaramu yang aku poles sampai kinclong."


Ibu berjalan pergi meninggalkan bapak sambil menggoyangkan pantatnya.


"Oke...kamu yang minta," bapak akhirnya mengikuti ibu di belakang.


Malam semakin sunyi. Rumah sudah sepi. Tetangga sudah pada pulang ke rumah masing-masing. Suara jangkrik terdengar seperti alunan musik alam penghantar mimpi.

__ADS_1


Tapi ketenangan itu terusik ketika Ori menggoyang tubuh istrinya pelan.


"Sun, ayo sekarang."


Tangannya kemana-mana, dada, pantat, punggung.


"Aku sudah nggak tahan Sun."


Benar-benar istrinya ini. Tidak pernah ngerti kalau suaminya butuh.


"Sun," digoyang lagi tubuh yang sedang lelap itu.


"Apa sih mas,"


"Aku ngantuk, capek, moles menaranya besok saja," suara Isun lebih mirip orang menggumam.


"Siapa yang mau minta dipoles?"


Tiba-tiba terdengar suara "dhumm" menggema dalam kamar. Lalu tercium aroma senjata kimia yang menusuk hidung


Mata Isun langsung terbuka, "mas," dengan cepat kantuknya hilang, "tabung gas LPG ibu meleduk," pekik Isun. Hampir saja Isun melompat turun.


"Bukan LPG Sun. Perutku yang mau meledak."


"Apa?!" Isun mengelus dadanya. "Alhamdulillah, kirain."


"Dengar ya Sun. Ini meledaknya lebih dahsyat kalau aku tidak kau antar ke belakang."


Posisi tangan Ori sudah diantara pantat. Sementara lutut kakinya saling bertautan.


"Sun," lalu sekali lagi terdengar suara 'dhumm', "Sun," wajah Ori mulai pucat.


"Ah, ayo!"


Ori berjalan cepat mendahului tapi tetap berkali-kali melihat ke belakang, "ayo Sun."


"Aku nggak mau konser lagi ya mas, malam ini!"


"Iya...iya nggak."


Ketakutan Ori menghilang dikalahkan perutnya yang melilit. Dia berlari mendahului istrinya ke tengah ladang.


"Sun," teriak lelaki itu dalam gelap.


"Aku duduk dekat pintu dapur, mas."


"Aku nyanyi ya Sun," teriak Ori lagi.


"Terserah."


Peduli amat kamu mau nyanyi apa nggak. Mata yang luar biasa ngantuknya harus terganggu karena hal seperti ini.


"Nanti kalau aku sebut Abang tukang bakso, kamu sahut 'thing' gitu ya Sun. Jadi aku tahu kamu masih nungguin."


"Iya," jawab Isun. Haduh malu-maluin semoga semua tetangga sudah pada tidur. Jadi nggak dengar ada suara orang teriak.


"Abang tukang bakso..."


Eh, rupanya sudah mulai.


"Sun."


"Abang tukang bakso."


"Thing," sahut Isun.


..........


Malam-malam banyak nyamuk, harus konser Out door begini. Benar-benar hal yang membagongkan. Huh...

__ADS_1


...***...


__ADS_2