
"Lain kali nggak perlu ngajak mbakmu periksa lagi. Kamu dengar sendiri apa kata dokter itu kan. Tidak ada masalah, tinggal menunggu rezeki."
"Nggak bisa begitu dong mas. Rezeki itu nggak akan datang kalau kita nggak ada ikhtiar. Semua musti diusahakan."
"Kan ikhtiarnya sudah. Ini sudah ke dokter," nada bicaranya tetap cuek.
"Tapi baru dua kali mas. Terus minta usaha yang cuman dua kali itu bisa berhasil?!"
"Yang bener aja mas!"
Isun meremas tangan adik iparnya. Dari matanya dia ingin bilang, 'sudah biar saja', tapi bagi Jelly kakaknya keterlaluan.
Untungnya Gagah adalah suami yang pengertian, sebisa mungkin dia menahan diri untuk tidak masuk dalam konflik kakak beradik itu.
"Kalau aku punya suami seperti kamu mas. Sudah aku lipat, aku masukkan koper lalu aku kirim ke Afrika biar gak bisa balik sekalian."
Ada-ada saja adik iparnya ini. Perjalanan pulang yang membosankan jadi penuh hiburan karena pertikaian kakak beradik dan ocehan lucu adik iparnya. Sampai membuat Isun senyum-senyum sendiri sedari tadi.
Kalau saja Isun mendengar ada yang sedang memaki dalam hati pasti wanita muda itu tak akan berani melakukannya.
Berani sekali dia tersenyum mendengar semua kicauan Jelly–Ori
Ketika sampai rumah, Ori langsung keluar mobil tanpa menggubris pasangan Jelly dan Gagah. Menghilang ke dalam rumah tanpa mengatakan apapun.
"Terimakasih ya, kalian sudah berbaik hati mengajak aku berangkat bareng. Tapi untuk lain kali, seperti kata Mas Ori kalian tidak perlu lagi mengajakku kalau akan periksa kandungan."
Ah, benar juga apa kata ibu. Perlahan tapi pasti kehidupan pernikahannya akan mengajak pribadinya menjadi lebih dewasa.
Sebenarnya Jelly ingin berdebat tentang kepatuhan Isun pada kakaknya, tapi kali ini biar saja dulu. Biar kakak iparnya ini istirahat dulu dengan baik. Jelly juga ingin Isun bahagia segera memiliki anak seperti dirinya.
"Mbak istirahat dulu, jangan banyak pikiran. Kapan-kapan kita ngobrol lagi."
Pertemuan malam itu ditutup dengan cipika-cipiki antara Isun dan Jelly, juga kesopanan yang luar biasa dari Gagah.
Isun masuk kamar dengan hati lapang. Tapi dia salah perhitungan, sekarang ini suaminya sudah menguasai tempat tidur. Haduh...baru satu malam bebas dari dekapan ular kobra masa iya sekarang harus menyerah lagi.
"Kamu masih harus tidur di luar mas," Isun masuk mengambil piyama satu-satunya yang dia punya, karena sebagian besar pakaiannya berbentuk daster kalau sedang di rumah.
Kenapa kali ini pakai piyama? biar aman, pasti itu ulet kobra sedang pengen nengokin rumahnya.
"Aku mau tidur di kamar. Lagian ini rumahku, kamarku jadi kalau ada yang harus tidur di luar ya itu mustinya kamu."
Dasar gila.
Isun menyambar bantal dan selimutnya. Oke...kalau itu yang dia mau.
__ADS_1
Tanpa Isun tahu sekeluarnya dia dari kamar, Ori kelabakan. Dia sampai bangun berusaha mengejar tapi tetap saja harga diri adalah yang utama.
Akhirnya seperti kesepakatan sore itu. Ori tidur di kamar dan Isun tidur di sofa ruang tamu.
***
Tega benar...Isun bangun menjelang subuh dengan tubuh yang rasanya terpasung pada sebuah papa, begitu kaku.
Ih, harusnya kan malam-malam suaminya itu bangun. Mengangkatnya ke tempat tidur, dia akan berpura-pura pulas dan tidak tahu kalau ada yang sedang melakukan hal yang manis.
Tapi nyatanya itu semua hanya ada dalam drama romantis dengan episode panjang yang sedang diputar di salah satu stasiun TV.
Jangan terlalu banyak berkhayal Sun...sakitnya tuh disana, huh!
Teriak Isun dalam hati pada dirinya sendiri. Lebih baik berpijak pada kenyataan dan menerima kalau suaminya itu manusia paling menyebalkan diatas bumi.
Mimpinya untuk memiliki suami ideal yang mirip bapak dihancurkan oleh kenyataan yang harus dihadapinya saat ini.
Setiap pagi begini waktu serasa mengajak berlari. Menyiapkan makan pagi, pakaian kerja untuknya dan suami, serta bekal makan siang adalah rutinitas yang selalu membuatnya merasa tak cukup waktu.
Isun seperti berterbangan mengelilingi dapur, kamar mandi dan kamarnya sendiri. Sementara suaminya sedang tidur. Apa...tidur?!
"Mas," teriak Isun, dia sudah tidak punya waktu lagi untuk membangunkan suaminya dengan cara yang romantis.
"Mas!" teriaknya lagi.
"Heh, yang sopan kalau bangunin suami."
Ya sudahlah nggak ada waktu ini untuk ngeladenin bayi gede yang baru bangun tidur terus pengen dimanja.
"Kamu mau berangkat kerja nggak?"
"Semua sudah aku siapin, makanan sudah ada diatas meja," sambil bicara Isun menyambar tas dan hanya berhenti sekilas untuk melanjutkan bicara, "kalau mau mandi atau ganti baju, itu ada di ujung kasur."
"Aku berangkat dulu ya," menyambar tangan Ori untuk dicium dan berlari mengeluarkan motor. Tak lama terdengar suara motor yang bergerak menjauhi rumah.
"Tinggal berangkat aja ribut," Ori kembali membanting tubuhnya ke atas kasur, untuk menikmati mimpinya yang tadi terputus.
***
Siang hari di sekolah mendekati waktu istirahat, sebuah pesan masuk melalui watsap.
Mbak, aku ke sekolah ya...pengen sotonya lagi.
Isun tersenyum, rupanya keponakannya yang mungkin baru baru jadi kupingnya itu suka sama nasi soto yang dijual di kantin sekolah.
__ADS_1
Datang saja Jel
Isun bergegas ke kantin, dengan tidak sabar menunggu kedatangan adik iparnya. Kebetulan waktu jam makan siang dan istirahat guru, seluruh siswa sudah pulang.
Tadi Isun juga berpesan agar Jelly langsung saja menuju kantin.
"Hai, mbak," sebuah pelukan hangat dari arah belakang mengagetkannya.
"Mana keponakanku."
Jelly mendekatkan perutnya untuk disentuh dan dicium.
"Mana sotonya?" air liur terlihat mengintip di balik bibir indah Jelly.
Isun menunjuk dengan matanya, "baru dibuatkan, biar hangat dan nggak jadi bubur."
Senyum lebar muncul di bibir Jelly, kepalanya mengangguk beberapa kali tanda setuju.
Soto di kantin ini memang sesuatu. Memang hanya sekedar makanan yang dijual di kantin sekolah. Tapi ibu kantinnya masak dengan hati. Nggak perlu untung banyak, katanya. Yang penting anak-anak senang dan kenyang.
"Mas Ori tadi nggak masuk kerja," ujar Jelly di sela-sela makannya.
"Ssttt...makan dulu, itu kita bicarakan nanti setelah makan."
Keponakannya harus menikmati makan siangnya. Jangan sampai kenikmatannya hilang karena membicarakan sesuatu yang merusak hari.
Semangkuk soto bersih tak bersisa disusul kemudian segelas besar jeruk hangat habis hingga tetes terakhir. Semoga saja bukan hanya ibunya yang sebentar lagi pasti bakal bengkak, tapi juga anaknya jadi sehat.
"Mas Gagah tadi telepon Jelly. Katanya Mas Ori nggak ngantor, padahal hari ini agenda kegiatan sekolah banyak yang harus didokumentasikan."
Tak tahu harus menjawab apa, Isun hanya menghela napasnya. Berusaha mengosongkan ruang di paru-paru lalu mengisinya kembali dengan udara yang lebih bersih.
"Dia dirumahkan sejak hari ini mbak."
Netra Jelly menatap Isun dengan perasaan bersalah yang menggunung. Wanita sebaik kakak iparnya ini harus berjodoh dengan lelaki seperti Ori, kakaknya.
"Jangan melihat mbak seperti itu. Mbak baik-baik saja. Ini hanya sebuah fase yang harus mbak lewati untuk lebih dekat sama Tuhan."
Bohong...Isun sadar semua yang dia ucapkan hanya kebohongan. Dia hanya ingin beranggapan semua akan baik-baik saja.
Seperti ada magnit yang menarik keduanya untuk saling mendekat dan memberi pelukan, "mbak orang baik, terlepas apapun kata orang, aku sayang sama mbak. Kalau mbak nggak bisa lagi bertahan jangan pernah menahan diri, bahagiakan diri mbak lebih dulu karena mbak juga berhak untuk itu."
"Mbak baik-baik saja Jel. Sudah mbak bilang kan, ini hanya sebuah fase. Semuanya akan baik-baik saja."
***
__ADS_1
Benarkah semuanya akan baik-baik saja?