
"Kembalikan anak bapak!"
Mata bapak nyalang penuh amarah. Di depan matanya sendiri dia melihat menantunya menduakan anak yang sangat dicintai.
"Kami sudah membuat perjanjian pak. Saya mengijinkan Isun mengadopsi anak itu asal saya diijinkan untuk berpoligami."
Bapak mengepalkan tangannya erat, "perjanjian macam apa itu?! Kamu pikir anak bapak lahir dari batu! Kalau Isun gila karena menuruti permintaanmu, jangan kau pikir bapak juga akan setuju melakukan hal yang sama."
Rumah Isun memanas. Bapak memutuskan untuk mampir dulu sebelum kembali pulang setelah menjenguk anak Jelly.
"Bapak, lebih baik kita pulang dulu," pinta Isun.
Kalau dilanjutkan bisa terjadi baku hantam antara bapak dan menantu.
"Diam kamu, bapak tidak pernah mengira kamu diam saja diperlakukan seperti ini!"
Ibu menggendong Nimas dan mengajaknya keluar. Dia juga marah dan sakit hati, menantunya layaknya orang alim tapi tidak dibarengi dengan akhlak yang mulia. Stereotip lelaki jaman sekarang yang menjadikan agama sebagai kedok untuk mengumbar nafsunya.
"Isun masih istri saya pak. Semua hal yang berhubungan dengan istri saya adalah tanggung jawab saya. Kami tidak akan berpisah selama saya masih menginginkan anak bapak."
"Dasar gila!"
"Kita pulang!" bapak berjalan bergegas keluar rumah. Tangan Isun ditarik setengah diseret karena Isun belum memutuskan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
"Kali ini kamu harus nurut sama bapak!"
Isun memandang bapak. Baru kali ini Isun melihat kemarahan yang nyata di mata itu.
"Kalau kamu keluar sejengkal saja dari pintu, aku ceraikan kamu Sun. Kamu bukan lagi istriku!" teriak Ori keras.
Isun limbung, air mata yang ditahannya merembes disudut-sudut mata. suaminya sudah menalak nya baru saja.
Begitu juga dengan bapak. Matanya berkunang-kunang. Rasanya mau pingsan tapi ditahan, tahu begini waktu itu dia akan menolak keinginan Isun untuk menikah.
Bapak memegang tangan anaknya makin erat. Tidak ada yang boleh pingsan disaat seperti ini.
Teriakan Ori masih terus berlanjut memekakkan telinga. Tapi semua itu tidak lagi penting. Bapak dan Isun masuk dalam mobil, sedangkan ibu sudah menanti sedari tadi.
Sekeluarnya mobil dari jalan kampung, bapak memacu mobilnya kencang. Lebih cepat sampai rumah lebih baik. Setelah itu semua harus diluruskan, banyak yang harus diceritakan anaknya. Perjalanan diselimuti sunyi untuk menghindari perdebatan.
"Tidurlah, besok pagi kita bicara."
Hanya itu yang diucapkan bapak sesampainya di rumah. Lalu bapak masuk kamar. Ibu memeluk Isun sebelum mengikuti bapak.
__ADS_1
"Sabar ya nak."
Ibu selalu seperti itu, begitu dewasa dan menenangkan.
***
Di rumah Ori
Ori murka, semua berkas kepegawaian milik istrinya dimasukkan dalam sebuah kaleng sedang bekas cat.
Ditambahkan beberapa helai baju dan hijab yang tersimpan rapi di almari dimasukkan pula di tempat yang sama.
Karena kalengnya tidak terlalu besar, akhirnya Ori mengeluarkan beberapa berkas yang ada dlm kaleng. Kali ini cukup ini saja, lalu dia akan memfoto dan mengirimkan nya pada Isun.
Enak saja minta cerai. Perjanjian itu harus tetap dilaksanakan, bukannya malah menuntut minta cerai seperti ini.
Ori menyiram semua yang ada dalam kaleng dengan sedikit bensin lalu menyulut dengan korek yang sebelumnya sudah disiapkan.
Ketika api membumbung, senyum Ori mengembang.
Sekarang apa yang akan kau lakukan. Kalau ada yang harus hancur masa depannya, itu adalah kau dan bukan aku.
***
Benar saja, ketika dia baru menghidupkan ponsel muncul notifikasi beberapa pesan gambar masuk dari Ori.
Dengan tergesa Isun membuka pesan itu satu persatu. Hatinya berdebar kencang.
Setelah pesan-pesan itu terunduh tampaklah semuanya dengan jelas. Beberapa helai gamis dan hijab, juga ada berkas-berkas kepegawaian miliknya dijajar di lantai. Lalu semua dimasukkan dalam kaleng tanggung bekas cat tembok. Gambar terakhir adalah gambar api membumbung ke udara.
Wanita itu lemas, kalau semalam dia berhasil menahan air matanya, kali ini semua tumpah. Kalau semalam dia masih ingin untuk mempertahankan rumah tangga mereka, kali ini keinginan itu lenyap sudah.
Isun berlari menuju kamar orang tuanya, sambil sesenggukan dia meminta untuk kembali hidup di desa.
"Isun akan mengurus kepindahan pak, Isun tidak mau lagi kembali bersama suami Isun."
"Cukup sudah mas Ori menyiksa Isun secara fisik dan psikis."
"Apa nak!!"
"Apakah dia pernah memukulmu?"
Isun mengangguk. Pemukulan, pemerkosaan, hinaan dan banyak lagi yang ingin dia lupakan.
__ADS_1
"Isun ingin pulang pak."
Dia menunjukkan ponselnya pada bapak. Membiarkan bapak melihat foto-foto yang membuat kepala dan hatinya sakit. Membakar berkas-berkas penting seperti itu sangat menghancurkan hati Isun.
"Baik, besok kita ke kota. Bapak akan carikan kontrakan yang dekat dengan sekolah tempatmu mengajar."
"Minggu depan setelah masa cuti mu habis kamu masih harus tetap bekerja bukan?"
"Biar ibu yang menemani kamu sampai kepindahan kamu bisa dipastikan."
"Bapak tidak ingin kamu pulang lagi ke rumah lelaki biadab itu."
***
Ori makin kesal karena pesan gambarnya hanya dilihat tanpa ada balasan apapun. Dia merasa diabaikan, bayangan perceraian makin nyata di depan mata. Ada sedikit sesal, selama ini dia hidup nyaman dengan gaji istrinya.
Beberapa kali dihubungi, istrinya juga mengabaikan teleponnya. Kenapa semuanya jadi kacau, tadinya dia berpikir untuk memiliki dua istri yang masing-masing memiliki pekerjaannya sendiri, jadi dia tidak perlu bekerja keras untuk menafkahi.
Sekarang semua rencana indahnya sirna. Kenapa kemarin dia tidak berhati-hati sampai membawa wanita lain menjenguk Jelly, padahal dia paham betul kalau adiknya itu sangat menyayangi kakak iparnya.
"Kamu gila ya, Isun itu pegawai, bodoh kamu kalau sampai kehilangan istri pegawai seperti dia," hardik ibu.
Dasar jelly kurang kerjaan. Kenapa juga pakai mengadu pada ibu tentang masalah ini.
"Ibu tidak melarangmu menikah lagi, tapi nalar juga harus dipakai dong. Masa iya harus melepaskan sumber penghasilan tetap yang bisa diterima bulanan."
Otak Ori makin buntu melihat ibu murka dengan semua ocehannya.
"Ibu bisa diam tidak sih!"
"Eee...anak gila kamu," kali ini tidak hanya mulut tetapi tangan ibu juga mampir ke punggung Ori. Pukulan bertubi-tubi membuatnya merasa bodoh. Dan merasa bodoh adalah hal yang paling dibencinya.
"Hentikan ibu!" Ori mencengkeram tangan ibunya lalu menepiskan tangan itu kuat-kuat.
"Jangan memukul Bu, jangan membuatku merasa bodoh dengan ocehanmu yang tidak masuk akal."
"Aku bisa hidup tanpa gaji bulanan milik istriku. Lihat saja, aku akan sukses tanpa wanita itu."
"Cih, sekarang saja kau menganggur tidak punya penghasilan. Sukses yang mana yang akan kau pamerkan pada ibu. Tidak ada gunanya berotak pandai kalau otakmu itu tidak bisa digunakan untuk menghasilkan uang."
"Jangan menghinaku Bu..."
...***...
__ADS_1
Tunggu saja surat panggilan sidang perceraian dari pengadilan mas Ori...