Suami Benalu Banyak Gaya

Suami Benalu Banyak Gaya
Episode 35. Kompromi Bukan Mengerti


__ADS_3

Isun menenteng tas tanggung yang dibawanya kembali ke rumah. Langkahnya lesu, dalam bimbang dia memutuskan untuk kembali. Ingat kata ibu kalau saling mengenal itu membutuhkan waktu seumur hidup. Sedangkan pernikahannya belum juga berjalan tiga tahun.


Mungkin setiap peristiwa yang terjadi adalah proses untuk saling mengenal satu sama lain seperti yang dimaksud ibu. Dia hanya perlu untuk bertahan dan berkompromi.


Rumah dalam keadaan sunyi. Semua kalimat Jelly terngiang di kepalanya. Apakah benar hanya dia yang bisa membuat lelaki itu hidup dengan benar.


Duduk sendiri membuat Isun merenungi semuanya. Sakit hati, kepedihan yang selama dua tahun ini sering dia rasakan selalu membawanya ke posisi awal, apa tujuannya dulu memulai sebuah hubungan dengan suaminya.


Semua berawal dengan label ibadah. Harus dikembalikan ke awal lagi. Kalau masalahnya yang datang bertubi-tubi merupakan ujian dari perjalanan ibadahnya maka dia akan bertahan.


Tekad bulat sudah didapat. Isun membawa tas yang kemarin dia isi untuk tujuan pergi kembali ke kamarnya. Isinya dibongkar dan diletakkan setiap barang kembali ke tempatnya.


Dia memutuskan untuk bertahan bukan karena memaafkan, atau mengerti dan memahami apa yang dilakukan suaminya. Bukan, tapi ini salah satu bentuk kompromi yang dia lakukan untuk perjalanan spiritualnya.


'hahaha...' cara berpikir yang sok keren, tertawa sumbang dalam hati.


Usai membereskan barangnya, Isun menuju ke meja makan. Tidak ada apapun di atas meja. Dengan sedikit keahliannya dalam memasak, terimakasih pada ibu tercinta yang selalu mengomel memintanya membantu, Isun mengolah bahan yang tersedia di kulkas.


Utak-atik sebentar sudah terhidang beberapa menu makanan. Tinggal menunggu suaminya pulang lalu mengajaknya makan bersama.


Menjelang sore terdengar suara motor memasuki teras rumah. Tak lama kemudian muncullah sosok sang suami, meskipun belum tersenyum, tampangnya tak sedingin tadi pagi.


"Sudah pulang mas?" tidak perlu menanyakan tentang pekerjaan. Jangan sampai pertanyaannya memantik api yang baru padam. Cukup dia tahu dari Jelly.


"Hmmm," Ori berlalu masuk kamar lalu keluar dengan menyampirkan handuk di bahunya.


Masih pelit ngomongnya. Sabar...siapa yang salah, siapa yang mendiamkan siapa. Tapi masalahnya apa suaminya itu merasa bersalah meski hanya sedikit?


Keluar dari kamar mandi pun masih sama. Bedanya hanya wajahnya tampak lebih segar.


"Kalau sudah ganti, makan ya mas."


"Hmm," sambil terus berjalan menuju kamar.


Beberapa waktu kemudian Ori keluar dengan kostum kebesarannya jika berada di rumah. Sarung dan baju koko menempel rapi di tubuhnya.


"Kita harus bicara mas."


Ori tidak menjawab. Isun memukul kepalanya sendiri. Ah...bodoh! biarkan suamimu makan dulu, membuat napsu makan hilang saja.


Isun segera menutup mulutnya. Memilih diam seribu basa. Dia hanya melihat suaminya yang makan dengan lahap. Isun menghela napas. Sepertinya dia siap berkorban untuk rumah tangganya ini.


Nasi diatas piring telah tandas, bersih tak bersisa. Semua dilakukan laki-laki itu dalam diam.


"Aku sudah tidak bekerja lagi di proyek bandara. Kontrak perusahaan milik kami, aku dan teman-teman tidak diperpanjang."

__ADS_1


Ini dia sumber masalahnya. Isun menggapai tangan suaminya. Menggenggamnya erat mengalirkan kekuatan. Hanya ini yang bisa dilakukan untuk suaminya.


"Tidak apa mas, namanya juga baru merintis usaha."


"Maafkan aku semalam marah padamu."


Haruskah dia menjawab tidak apa-apa, lalu berbohong kalau dia mengerti. Tidak akan, hati ini tetap sakit, terutama karena mulut lemesnya.


"Kamu tidak memaafkan aku, Sun?"


Isun melepaskan tangannya. Mulutnya tertutup rapat.


Aku akan berkompromi tetapi belum memaafkan dan tidak akan melupakan. Semua akan tersimpan dengan baik di kotak pandora memori otakku.


"Nanti antarkan aku ke rumah sakit."


"Kamu tidak memaafkanku."


Wanita itu tersenyum menahan sakit dan air mata yang sudah dia janji untuk disimpan dan tidak akan diperlihatkan, "antarkan aku nanti sore untuk periksa ke laboratorium dan menebus vitamin yang diresepkan dokter."


Ori mengangguk lesu. Dia bingung dengan perasaannya sendiri, dia menemukan kepuasan yang belum pernah dirasakan sebelumnya, seperti tadi pagi ketika bercinta dengan sedikit menyakiti. Tapi di hatinya bergelung rasa bersalah yang membuatnya tidak menginginkan hal itu lagi.


"Aku mandi dulu, kita berangkat sebelum malam."


Sore itu Isun kembali mencari rasa yang pernah ada di belakang boncengan suaminya. Berusaha untuk menemukan getar-getar hati yang biasanya kuat terasa.


Perlahan tangannya menggapai pinggang Ori. Betapa berat rasanya, tapi ini fase yang harus dilalui. Ditepiskannya perasaan jijik ketika mengingat kalimat hinaan yang baru diterimanya tadi pagi.


Setelah menemukan kenyamanan, Isun menyandarkan bahu nya ke punggung suaminya yang bidang. Ini adalah punggung yang begitu ingin dijadikan tempat mengusir penat.


Tak terasa ternyata laboratorium yang dituju sudah di depan mata. Meskipun enggan, Isun turun dan berjalan masuk tanpa menunggu Ori yang masih memarkirkan motornya.


"Apa yang akan diperiksa?" tanya Ori akhirnya setelah menyusul Isun dan duduk di sebelahnya di dalam ruangan.


"Aku sendiri tidak tahu, tapi sepertinya untuk sekarang hanya pemeriksaan tes darah."


"Harusnya kamu tanya pada dokternya," wajahnya masih terus saja ditekuk.


"Bukan begitu mas, harusnya kamu ikut aku semalam. Bukan malah memintaku berangkat sendiri, jadi kau tahu dan tidak perlu bertanya padaku begini."


"Jadi kamu masih menyalahkan aku!" nada suaranya meninggi.


Isun mengabaikan pendengarannya. Biarlah kali ini suaminya mau bicara apapun, dia akan mengalah.


"Kita jalan-jalan?" setelah pemeriksaan usai, Isun berinisiatif untuk mengajak suaminya menikmati malam. Keduanya memang membutuhkan itu.

__ADS_1


Ori memandang Isun takjub. Tidak adakah amarah di dalam hati istrinya setelah apa yang dia lakukan?


"Kenapa?" tanya wanita itu ketika menangkap sinar mata suaminya.


Ori menggeleng, "ayo, kita jalan-jalan."


Malam itu dihabiskan keduanya untuk saling menemukan. Membiarkan apa yang terjadi untuk menghilang meskipun tak mungkin terlupakan.


Berhenti di warung kaki lima yang berjualan berjajar di pinggir jalan. Membeli dua mangkuk bakso dan menikmati dua gelas es jeruk setelahnya.


Melihat kendaraan berlalu lalang dan membicarakan hal-hal receh yang tidak penting. Beberapa menit selanjutnya tanpa disadari keduanya mulai tersenyum meski enggan. Seakan lupa apa yang mengganjal akhirnya sepasang anak manusia itu tertawa lepas.


Mengomentari pasangan muda-mudi yang tidak jelas hubungannya sedang berasyik masyuk berdua. Semua begitu menghibur, dari pada membicarakan sesuatu yang membuat luka lebih baik bercanda untuk menetralisir sakitnya jiwa.


Menjelang tengah malam keduanya baru masuk rumah.


"Baru sekarang aku berkencan dengan perempuan sampai tengah malam," wajah Ori terlihat sedikit cerah.


"Aku juga, ini adalah kencan pertamaku dengan seorang pria sampai tengah malam. Tapi kalau menginap malah sering."


"Apa?!"


Nah mulai lagi, salah ngomong, "iya aku sering menginap kalau sedang pergi ke luar kota."


"Dengan siapa, siapa laki-laki itu. Teman sekolah? teman kuliah? atau teman bermain, siapa laki-laki itu?!"


Matanya melotot hampir copot. Isun berdecih dalam hati. Sok-sok cemburu tapi sikapnya sama istri kejam tak berperasaan.


"Siapa sayang?" teriaknya tidak sabar.


"Bapak sama Danu."


Ori lemas, otaknya sudah berkelana kemana-mana, membayangkan semalam istrinya pulang larut saja membuat emosinya sampai ke ubun-ubun. Untuk menutupi kelegaannya Ori berdehem.


"Aku punya permintaan mas."


"Apa pun, sebutkan saja."


"Aku ingin tidur sendiri malam ini."


Duarr...kepala Ori bagai terhantam listrik tegangan tinggi. Untuk apa tadi mereka berkencan kalau tetap saja dia jadi pesakitan...


***


Maaf ya suami. Wanita itu makhluk yang peka dan perasa. Sekalinya dia disakiti rasa sakitnya akan susah untuk hilang.

__ADS_1


__ADS_2