
Semua gelap, selama hidup baru sekarang Isun merasa begitu tenang. Dia berusaha membuka mata ketika mendengar namanya dipanggil dan pipinya ditepuk beberapa kali. Isun terpaksa merem lagi karena silaunya cahaya lampu menyakiti kornea nya.
Tubuhnya terasa menggigil. Setelah beradaptasi dengan cahaya dan matanya mampu terbuka lebar, Isun melirik kebagian bawah tubuhnya, ah...tertutup selimut, tapi dinginnya ruangan masih menggigit tulang.
Terdengar salah seorang petugas medis berteriak, "pukul 15.17 pasien terbangun."
Pukul berapa, 15.17? tadi di dorong dari ruang perawatan pukul sembilan. Berarti hampir enam jam dia menghabiskan waktu di ruang tindakan.
"Bagaimana rasanya, apa ada yang terasa sakit?" tanya salah satu petugas medis yang ada di dalam ruangan itu.
"Aagh..."
"Kenapa, tenggorokannya sakit?"
Isun mengangguk, tenggorokannya perih, kering bagai terbakar. Jangankan untuk bicara, menelan ludah pun Isun kesulitan.
"Sebentar ya."
"Sus, tolong dimasukkan obat nya ya," teriak dokter kepada salah satu perawat.
"Sebentar lagi akan terasa lebih baik, Bu."
Isun mengangguk, semoga.
Beberapa saat kemudian setelah kesadarannya penuh, beberapa perawat mendekat. Berbicara tentang hal-hal yang tidak dia pahami artinya. Lalu perawat-perawat itu mendorong bed yang ditempati Isun keluar.
Yang pertama dilihatnya adalah bapak, karena bapak langsung lari ketika melihat Isun di dorong keluar. Di belakangnya menyusul ibu yang membawa banyak barang di tangannya. Mana suaminya? Isun memutar pandangan, laki-laki yang dicintainya itu tidak tampak batang hidungnya.
"Ori tadi ijin keluar sebentar, mau cari makan katanya. Kasihan anak itu belum makan dari pagi," bisik ibu seperti tahu apa yang sedang dicari anaknya.
"Kita kembali ke ruang perawatan ya bu," ujar petugas yang mendorong bed pasien.
"Ini keluarga Nyonya Donworry?"
Isun melirik dengan ujung matanya, bapak mengangguk.
"Nyonya Donworry sudah melewati masa kritis pak, Bu...jadi setelah ini nyonya Donworry akan di observasi di ruang perawatan yang tadi. Biar Nyonya Donworry istirahat total. Jangan diajak bicara banyak-banyak dulu."
"Mari."
Suara roda berputar memekakkan telinga Isun. Gerakan melaju yang cepat karena tempat tidur di dorong membuat kepalanya sedikit pusing, rasa mual mulai menyerangnya. Dengan cepat Isun merapatkan matanya. Tubuhnya masih nano-nano, rasanya tidak karuan.
Isun baru membuka matanya ketika ranjang berhenti bergerak dan terdengar bunyi "jlek" tanda roda ranjang dikunci.
"Jangan diberi minum dulu ya, meskipun tenggorokannya sakit dan kering nanti setelah dua jam baru boleh minum setetes dua tetes, perlahan ditambahkan, tidak boleh langsung banyak."
"Kalau nanti sudah bisa kentut, sampaikan ke perawatnya."
Setelah memberikan penjelasan panjang lebar barulah perawat tadi undur diri.
"Apanya yang sakit nak?"
Bapak mulai nggak sabar.
__ADS_1
"Mau dipijitin sama bapak?"
Lah...masa habis operasi dipijitin, kebuka lagi dong jahitannya, Isun menggeleng.
"Mau minum?" sambil mengambil dan mendorong gelas air mineral ukuran kecil tepat di depan wajah Isun.
Gimana sih bapak, kan belum boleh minum? Isun menggeleng lagi.
"Kamu ini bagaimana sih pak," ibu yang sedari tadi diam saja akhirnya geregetan, "anakmu nggak boleh ngomong kamu malah ngoceh terus, anak nggak boleh minum malah ditawari air segelas, anak baru dioperasi malah ditawari buat dipijitin."
"Lihat itu Isun merem lagi, kamu nggak paham apa gimana?"
"Iya...iya maaf."
Isun menutup matanya, belajar untuk sejalan dengan rasa sakit yang mulai mengganggu.
"Bu..."
"Iya apa?" sahut bapak cepat.
"Mas Ori mana?" suara pun belum bisa keluar, yang terdengar cenderung seperti sebuah *******.
Bapak tidak mau menjawab, kalau ingat peristiwa tadi pagi rasanya ingin meremas menantunya dengan kekuatan penuh. Mana ada suami meninggalkan istrinya yang sedang berjuang antara hidup dan mati dengan alasan mencari sarapan. Apa masih terasa lapar kalau orang yang dicintai sedang berjuang untuk tetap hidup?!
"Tadi suamimu mencari makan," ibu menjelaskan.
"Cari makan kok seharian," ibu menyubit paha bapak, laki-laki tua ini memang keterlaluan.
"Bu...!" bapak melengos.
"Sun..." terdengar suara langkah setengah berlari mendekat dari arah pintu, "aku tadi nyari kamu ke ruang tindakan, untung ada yang memberi tahu kalau kamu sudah dibawa lagi kemari."
"Harusnya bapak dan ibu mengabari saya kalau istri saya selesai operasi," bisa-bisanya protes sama orang tua, cari mati memang suaminya ini.
"Kamu yang harusnya tidak meninggalkan istrimu!" jengkel juga melihat menantunya terus-terusan bersikap kurang bertanggung jawab.
"Pak...," ibu menyentuh tangan bapak. Jangan sampai Isun yang baru sadar melihat perdebatan dua lelaki yang ibu yakin sama-sama dicintai.
"Aku lapar, ayo kita cari makan, tadi mantumu kan sudah makan, kalau kita kan belum, keluar dulu yuk, cari makan," memeluk lengan suaminya erat sambil memberi senyum termanis.
Ori melirik, dia yakin kucing garong itu bakal menurut sama permintaan ibu. Benar saja, meskipun dengan jelas menampakkan ekspresi keberatan dan harus sedikit dipaksa tapi bapak berjalan mengekori ibu keluar ruangan.
"Sun, bagaimana keadaanmu?"
Isun tidak mampu menjawab. Hanya air matanya mengalir menganak sungai di pipi tanpa bisa dicegah.
"Jangan menangis, jahitannya belum kering, nanti sakit kalau cegukan."
Tangan Ori terulur, perlahan menghapus air mata yang masih mengalir turun.
"Bapak sama ibu ku belum bisa berkunjung, maafkan ya..."
Meskipun lemah Isun mengangguk. Yang penting lelaki ini ada disini sekarang.
__ADS_1
Ada iba di hati Ori, ada rasa sakit juga muncul di hatinya melihat wanita yang biasanya lincah sekarang tertidur lemah di ranjang.
"Aku gerah, bisa tolong membasuh badan dan wajahku mas?" pinta Isun dengan suara lemahnya.
Tanpa banyak bicara Ori meninggalkan Isun. Menuju nurse station untuk meminjam baskom sedang. Diisinya baskom itu dengan air hangat dari kamar mandi. Supaya tidak terlalu berbusa Ori memilih sabun mandi batang untuk menyeka tubuh istrinya.
Baru saja akan membuka seragam biru pasien, bapak dan ibu muncul dari balik kelambu.
"Mau kamu apakan anakku?!" teriak bapak tiba-tiba.
Tangan bapak melayang, kepala bagian belakang Ori kena pukul cukup keras.
"Aduh, pak..."
"Mau kamu apakan anakku, dasar suami biadab tidak punya adab," pukulan bertubi-tubi mampir ke punggung Ori.
"Pak...pak," ibu menahan tangan bapak.
Bapak sedang kalap. Bahkan penunggu pasien di ranjang sebelah ikut mendekat.
"Bapak tolong, ibu saya sedang sakit jangan membuat gaduh."
Sementara Isun bingung bagaimana menjelaskan semuanya, karena untuk bicara dia belum kuat.
Disaat makin genting ibu memegang telinga bapak dan menariknya, "heh bapaknya si putih, bisa diam nggak kamu!!"
Bapak langsung diam. Wajahnya bersemu merah tanda menahan amarah.
"Dengarkan dulu mantumu, lihat itu anakmu, kasihan!" bentak ibu.
"Pasien di sebelah juga kasihan!"
"Anakmu mau diperkosa!" ucap bapak menurunkan volume suara tapi nafasnya masih ngos-ngosan.
"Orang gila!"
Ori menunduk, takut kena pukul lagi, "saya mau menyeka istri saya Bu."
"Tuh kan...," ibu menarik tangan bapak, "ayo keluar!"
"Tapi Bu, kalau anakmu disuruh moles menara pizza gimana," kali ini ibu memukul punggung bapak pakai tas, gemes lihatnya.
"Atau kamu mau membasuh tubuh anakmu, hah?!"
Dengan menghentakkan kaki akhirnya bapak bersedia keluar.
Isun tidak berani bicara ketika Ori mulai membersihkan tubuhnya. Tidak kasar sih, tapi sedikit ditekan-tekan. Wajahnya juga memamerkan ekspresi mau menelan bulat-bulat seseorang.
Setelah membasuh perut dengan hati-hati, Ori meminta Isun membuka tangannya.
"Buka," di seka lah ketiak Isun dengan sedikit ditekan.
Setelah menyeka ketiak, Ori bergerak keatas, handuk kecil yang dipakai menyeka ketiak langsung digunakan untuk membasuh wajah.
__ADS_1
Aduh mas, ikhlas nggak sih...kan bau banget, meskipun ini wajah sama ketiakku sendiri tapi kan bau...ikhlas nggak sih...?!
...***...