
Dua Minggu sudah Isun di rumah. Pasca operasi ditambah masa pemulihan. Jahitan di perutnya masih basah, nyeri dan perih juga sering terasa.
Untungnya Ori sedang disibukkan dengan usahanya yang mulai berjalan. Jadi dia tidak perlu mendengar ocehan suaminya yang kadang tidak tahu waktu.
Bapak dan ibu pulang beberapa waktu lalu. Sedangkan orang tua suaminya hanya sekali-sekali saja berkunjung, atau meminta adik perempuan Ori sekedar untuk mengantarkan masakan.
Isun benar-benar memanfaatkan waktunya untuk istirahat memulihkan kondisi kesehatannya.
"Bagaimana sayang, cukup kan istirahatnya?" siang ini ketika tiba-tiba Ori pulang.
Hah, sayang? jadi curiga kalau suaminya ini memanggil dengan kata sayang. Terakhir ada sayang-sayang karena minta pinjaman koperasi. Meskipun tidak lama pinjamannya langsung dikembalikan sih...
"Hmmm, iya baik," nadanya terdengar aneh.
Baiklah mari tunggu, apa yang akan diminta suaminya ini.
"Aku mau bicara."
Ori duduk di pinggir tempat tidur tempat istrinya berbaring. Mengambil tangan wanita itu dan memandang mata Isun sok romantis.
"Hape sama laptop mu masih ada kan?"
"Iya...lalu..."
Semakin mencurigakan pertanyaannya.
"Begini, aku butuh uang sayang. Bagaimana kalau laptop sama hapemu dijual dulu, nanti akan aku ganti kalau sudah kembali modal dan dapat keuntungan."
"Apa?!"
"Mas, kamu tahu kan, dua benda itu modalku buat kerja."
"Sama seperti kamu juga, aku butuh modal untuk kerja. Gimana aku bisa kerja kalau alat kerjaku kamu minta?"
Apa sih yang ada didalam otaknya. Bisa-bisanya dia tega meminta sesuatu yang sudah diberikan.
"Sayang, aku janji ini nggak akan lama, hanya dipinjam sebentar. Karena hape sama laptop mu pasaran harganya tinggi, ya sudah itu saja dulu yang dijual. Ya, sayang..."
"Nggak mas. Terus kalau barang itu kamu minta..."
"Bukan diminta!" suaranya tinggi dengan nada membentak, "hanya dipinjam!"
"Itu hanya istilahmu mas 'dipinjam', tapi kan barang itu kamu jual. Pasti butuh waktu untuk membelikan aku yang baru."
"Itu masalah gampang. Semua data yang ada di laptop dan hape bisa di backup ke komputer rumah, gampang kan..."
Isun kesal mendengarnya, "kamu ngomongnya enak banget mas!"
"Kamu jangan mempersulit aku ya, Sun!" Hilang lagi panggilan sayang untuk Isun.
"Sekarang aku jadi tahu mas. Kalau kamu panggil sayang, berarti kamu ada maunya."
Rasanya ingin marah, semarah-marahnya pada suaminya ini.
__ADS_1
"Apa itu yang penting sekarang Sun?"
"Aku bisa mengucapkan seribu kata sayang, kalau kamu patuh padaku!" kalimatnya mulai bernada mengintimidasi, ujung-ujungnya hanya tentang kepatuhan yang dituntut.
"Aku istrimu mas, bukan budakmu. Aku akan patuh dengan sendirinya tanpa kau minta apalagi kau paksa, kalau kamu memperlakukan aku dengan hati bukan dengan perintah sana-sini. Perlakukan aku dengan cinta maka aku akan berikan dunia untukmu bahkan surgaku juga. Aku akan patuh tanpa syarat padamu! bukan dengan cara mengancam dan mengintimidasi!" teriak Isun lantang.
Lelah hati rasanya setiap kali ada masalah bukan diskusi yang dilakukan, tapi hanya perintah dan tuntutan untuk patuh yang menyebalkan.
"Omong kosong Sun," Ori menyambar leptop dan hape yang tergeletak diatas meja, "memang kamunya saja yang susah untuk menurut sama suami."
Dia membawa kedua barang itu ke ruang tengah. Dengan cepat Ori memindahkan semua data kedalam komputer rumah.
Isun turun dari tempat tidur. Susah payah dia menuju ruang tengah. Tangannya memegang erat bagian perut bekas operasi. Rasa perih yang tajam membuatnya berkali-kali berhenti.
"Jangan sentuh barangku mas!" teriak Isun berusaha menyelamatkan apa yang dirasa sudah menjadi miliknya.
"Jangan bercanda kamu, ini barangku, aku yang membelikannya untukmu!"
Isun putus asa, "ambil...ambil semua! tapi kembalikan milikku yang dulu!" air mata mulai berderai jatuh di pipi, tangisannya menyisakan nyeri yang menyiksa di perutnya.
Dengan ringannya Ori pergi meninggalkan rumah sambil membawa laptop dan hape. Isun ditinggalkan duduk di lantai sambil menangis.
"Semoga kamu bintitan seumur hidup kamu, mas!" teriak Isun, "bintitan segede bola pingpong di sudut mata kamu kanan dan kiri!"
Setelahnya Isun melanjutkan tangisnya. Sekarang dia harus bagaimana, apa yang harus dilakukan. Kalau masalah data, Isun yakin semua datanya aman. Memang sepintar itulah suaminya. Tapi apa yang harus dia pakai untuk berkomunikasi dengan pihak sekolah. Lalu bagaimana dia bisa bekerja dengan baik kalau perangkat pendukungnya diambil.
"Huhuhu...bapak, ibu...aku mau pulang."
Bahkan sekarang ketika dia begitu ingin mengadu, dia tidak punya ponsel yang bisa digunakan untuk menghubungi bapak dan ibunya.
...***...
Sebentar tadi hatinya seperti dibetot layaknya bas gitar, bergetar dan sedikit goyah. Segera setelah itu wajah anak perempuannya melintas di depan mata.
"Nggak enak kenapa? sana sholat dulu biar tenang."
"Bukan...bukan itu. Ada yang terjadi sama Isun anak kita Bu."
"Jangan aneh-aneh, kaya dukun. Jaman sekarang dukun itu sudah nggak dipercaya sama orang, dibilang pembohong."
"Tck...ini bukan dukun, tapi kepekaan rasa dari orang tua untuk anaknya Bu."
Bapak berdiri, "lo...lo pak, mau kemana kamu?"
"Aku mau ke rumahnya Isun, ada sesuatu yang terjadi dengan anakku."
Bapak terus melanjutkan langkahnya menuju kamar. Ibu tergopoh mengikuti dari belakang.
"Jangan gegabah, anak itu punya suami yang bisa menjaganya."
"Aku nggak percaya sama suaminya."
Bapak mengeluarkan celana jins, kaus berkerah dan sepasang sepatu kets.
__ADS_1
"Kamu mau nge mall atau mau mengunjungi anakmu?" Ibu memukul tangan bapak dengan keras.
"Yah...masa kalau mengunjungi anak nggak boleh dandan ganteng," bapak melanjutkan berganti pakaian.
"Biar Danu saja yang melihat mbaknya."
Ibu masih mencoba mencegah bapak untuk pergi. Dia tahu bagaimana perangai suaminya kalau bertemu dengan menantu laki-lakinya. Yang ada hanya emosi dan amarah.
"Nggak, aku malah mau membawa mobil sekalian, biar kalau ada apa-apa sama anakku bisa langsung aku bawa pulang."
"Jangan begitu, pak. Yakinlah kalau Isun baik-baik saja."
Bapak tak peduli, dia menyambar kunci mobil yang tergeletak diatas meja. Meskipun jarang mengendarai sendiri dan lebih suka naik kendaraan umum kemana-mana dengan alasan anti capek, tapi kadang bapak membawa sendiri mobilnya jika keadaan mendesak.
Kalau sudah begini, ibu tahu mencegah suaminya adalah tindakan yang sia-sia apalagi ini ada hubungannya dengan Isun.
"Hubungi anakmu, Bu," titah bapak yang sekarang sedang keluar menuju halaman depan tempat mobil terparkir. Ibu terus mengikuti di belakang.
"Iya."
Ibu menghubungi Isun, yang tentu saja tidak terjawab karena ponselnya dimatikan.
"Bagaimana?"
"Tidak ada jawaban pak."
Bapak masuk ke kursi belakang kemudi dan membanting pintu mobil keras-keras.
"Hubungi Danu, bilang kita akan menjemput mbaknya."
"Iya."
Selama perjalanan tidak ada percakapan. Ibu dan bapak tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Sampai di rumah Isun menjelang Maghrib. Pintu depan terbuka. Tanpa salam bapak langsung masuk ke dalam.
Betapa terkejutnya dia melihat Isun meringkuk di lantai di ruang tengah. Tubuhnya limbung. Ibu segera menyambar tangan bapak sebelum suaminya itu jatuh pingsan.
"Jangan pingsan pak, anakmu butuh kamu."
Bapak kembali tegak berdiri, lalu berlari mendekati anak perempuannya.
Diangkatnya Isun dan dibawa dalam kamar. Mata dan pipi anak perempuannya masih basah.
Sampai di tempat tidur, ketika mata Isun terbuka, tidak ada yang bisa diucapkan kecuali, "pak, aku mau pulang."
Bapak mengangguk cepat, "he'em nak, kita pulang."
"Bu bawa baju anakmu, kalau perlu ringkas semuanya."
Tapi pikiran ibu masih waras, meskipun ibu menjawab, "iya," tapi ibu hanya membawa beberapa helai pakaian milik Isun.
Dalam diamnya, lelaki setengah baya itu memendam bara yang suatu saat bisa membakar siapa saja yang membuatnya marah, terutama orang yang menyakiti anaknya.
__ADS_1
...***...