Suami Benalu Banyak Gaya

Suami Benalu Banyak Gaya
Episode 13. Kulot, Rok Yang Memiliki Batas Wilayah


__ADS_3

Isun sudah rapi dengan pakaian dinas mengajarnya. Karena ini hari Jumat, Isun memakai kostum olah raga. Sepasang celana training dan kaos lengan panjang menempel di tubuhnya.


"Kamu pakai baju apa itu!" kenapa sih, nada bertanya nya selalu seperti membentak.


Isun memandang dirinya sendiri dari bawah sampai atas, perasaan baik-baik saja, "pakai training mas."


"Masa kamu nggak tahu ini namanya training?"


"Aku tahu!" menghardik dengan suara tinggi. Lagi-lagi mata Ori merah karena marah.


"Pastinya kamu tahu. Lalu apa yang membuatmu marah?"


Isun benar-benar bingung dengan sikap suaminya. Ini memang seragam baru, tentu saja dia baru memakainya sekarang.


"Aku tidak pernah melihat ada bajumu dengan potongan celana."


"Ya karena memang ini seragam baru, mas."


Apa lagi yang salah?


"Lepas!"


"Mas, ini nggak lucu ya. Sekarang waktuku berangkat kerja. Aku nggak mau terlambat karena ulahmu yang sering aneh."


"Apa kekonyolanmu kemarin masih belum cukup?"


Ori berlari menuju pintu. Menarik gagang pintu dan menutupnya dengan suara keras. Mengambil kunci setelah terdengar bunyi klik yang jelas.


"Kamu kenapa sih mas, aku harus kerja. Kemarin aku sudah ijin, sekarang aku harus masuk."


"Lepas celananya!"


Teriak Ori menunjuk pada training yang dipakai istrinya.


"Aku masih marah karena kemarin kamu mengabaikan aku!"


"Dan sekarang kamu menguji kesabaranmu lagi Sun!"


Ya Tuhan...sampai kapan akan seperti ini. Baiklah, menghadapi Ori yang seperti ini, harus sabar selayaknya menghadapi balita yang sedang tantrum.


"Apa lagi yang salah mas?"


"Wanita tidak boleh memakai pakaian yang menyerupai laki-laki. Sekarang lepas trainingmu dan ganti dengan rok yang biasa kamu pakai!"


Mau copot rasanya jantung Isun mendengar kalimat suaminya.


"Oke, baik...aku akan ganti, kamu hanya perlu menyampaikannya dengan baik-baik. Tidak harus marah-marah begitu."


Isun beringsut melepas training dan mengambil rok dengan potongan lebar. Kalaupun nanti dia harus mengikuti senam, dia akan bisa melakukannya meski dengan gerakan terbatas.


"Sudah, puas?!"


Ori mengulurkan tangannya untuk dicium. Oh...berarti sudah boleh berangkat.


Isun mencium tangan suaminya, "nggak ada rencana buat keluar mas?"


"Nggak, kamu bawa saja motornya."


Isun melihat sekeliling kamar. Masih belum ada PC, berarti nggak ada yang musti dikerjakan di rumah.


"Bagaimana kabar rencana kerja sama bareng teman kamu mas?"


Isun memakai tas punggungnya. Mengambil kunci motor yang tergantung, lalu melangkah keluar.


"Masih nunggu, belum ada kabar."


"Kamu masak apa?" masih sempat bertanya sebelum Isun menghidupkan motornya.


"Sayur bayam sama goreng tempe tahu."

__ADS_1


"Kamu nggak bisa masak yang lain apa?!"


Tentu saja bisa, tergantung berapa uang belanja yang aku pegang.


"Bisa saja sih. Kalau aku punya uang belanja lebih aku masak ayam deh...atau daging."


Sambil menghidupkan motornya, Isun berteriak, "sekarang ngirit dulu."


Wah...memalukan!!


Ori tengok kanan kiri, melihat kalau saja ada tetangga yang mendengar. Punya istri kok senangnya mempermalukan suami. Harga dirinya kan bisa jatuh kalau terdengar orang menyebutkan kata irit.


"Cari siapa mas?"


Ah...sialan. Benar kan ada tetangga yang masih di rumah.


"Nggak, mari," Ori buru-buru menutup pintu sebelum ditanya lebih banyak oleh wanita tadi.


Diatas meja lipat kecil sudah terhidang masakan istrinya. Memang benar hanya ada goreng tahu, tempe dan sayur bayam.


"Laparku jadi hilang," menggerutu lalu menutup lagi makanan yang tadi sempat diintipnya.


Ori masuk ke kamar mandi mengambil air wudhu, sholat sunah, lalu kembali melanjutkan tidurnya.


...***...


Kepala sekolah di tempat Isun mengajar orangnya masih muda. Hampir seumuran dengan suaminya.


Beliau adalah salah satu orang yang sangat memperhatikan Isun. Mendukung semua kegiatan dan program yang dirancang Isun termasuk juga memerhatikan secara pribadi.


"Assalamualaikum ustazah Kamingsun," sapanya pagi ini ramah.


"Selamat pagi Ustadz, waalaikumsalam."


Isun begitu menghormati laki-laki itu. Selain beliau adalah seorang kepala sekolah. Beliau juga memiliki pribadi yang santun dan selalu berkata lemah lembut.


"Maaf, apa Ustadzah belum menerima seragam senam dari sekolah?"


"Sudah ustadz...maaf agak kekecilan."


Terpaksa berbohong. Harus pakai alasan apa coba. Masa iya mau bilang kalau dilarang suami pakai training untuk senam.


"Ah, masa. Nanti saya bilang ke bagian inventaris ya...biar diganti ukurannya."


"Haduh, tidak perlu ustadz. Biar saja, tidak perlu diganti."


Jadi merepotkan orang lain gegara sikap suaminya.


"Pakai ini juga saya masih bisa mengikuti senam dengan baik kok."


Harus membuat alasan yang lain lagi. Apakah yakin bisa bergerak dengan bebas? Tidak ada jaminan pasti.


Ustadz Wili memandang dengan pandangan tidak yakin.


"Yakin bisa bergerak bebas?"


"Hahaha..." tertawa saja karena tidak tahu harus alasan apa lagi, sambil bergegas masuk ke dalam ruang guru.


Dan terbukti benar...selama senam berlangsung gerakan yang bisa diikuti Isun sangat terbatas. Seluas apapun model bawahan yang dipakai, setiap bergerak Isun akan tersandung pakaiannya sendiri. Bahkan beberapa kali hampir terjatuh, tapi untunglah hanya hampir.


"Mas, aku tadi hampir jatuh beberapa kali karena senam pakai rok."


Dengan ngobrol begini siapa tahu bisa diijinkan untuk memakai celana training kalau lagi senam.


"Berarti kamu nya saja yang kurang hati-hati. Buktinya tidak jatuh kan...?!"


"Tapi mas...gerakan aku jadi nggak bebas. Kalau ada gerakan kaki yang musti diangkat agak tinggi aku ga bisa angkat kaki aku. Misalnya lari di tempat atau jalan di tempat."


"Ya sudah nggak usah diikuti, gampang kan!"

__ADS_1


Diajak diskusi pun nggak sesuai harapan. Gimana sih...


Memang menjawab kalau diajak ngobrol, tapi matanya itu sama sekali tidak melihat ke arah lawan bicara. Ori fokus memelototi layar dari benda pipih yang digenggamnya.


Dari pada bete lebih baik keluar kamar untuk mencari udara segar.


"Mau kemana?"


Lah dia tahu kalau mau ditinggal keluar, "cari angin sebentar diluar."


"Awas jangan menceritakan masalah rumah tangga sama orang lain."


"Nggak."


Baru saja keluar pintu tetangga kanan kiri pada ngumpul di salah satu sudut.


"Bu guru sini, ngobrol sama kita-kita."


Isun ragu-ragu, bergabung nggak ya...khawatir suaminya marah.


"Ayo sini..." beberapa yang lain ikut melambaikan tangan.


Wah...sekumpulan ibu-ibu yang diwajahnya tergambar rasa ingin tahu yang tinggi. Ternyata kalau sore, begini situasinya. Selama ini Isun memilih untuk tinggal di dalam kamar setelah pulang kerja.


"Sekali-sekali kumpul sama kita-kita," ucap salah satu perempuan yang usianya kira-kira empat puluhan. Di tubuhnya bergantungan beberapa perhiasan dari emas.


"Iya," jawab saja sambil memberikan senyum sebagai tanda kesopanan.


"Mbak, suaminya tidak bekerja ya?"


Salah satu pertanyaan yang enggan untuk dijawab muncul dari wanita yang lebih muda dari ibu yang tadi.


"Saya tadi ngelihat, mbaknya berangkat, eh...mas nya masuk lagi."


Isun hanya memberi senyuman karena memang menghindari jawaban.


"Jangan begitu, jeng. Siapa tahu suaminya bekerja dari rumah. Bukan begitu?" kalau yang ini berusaha untuk menengahi. Mungkin jelas terlihat kalau Isun jengah mendengar pertanyaan seperti itu.


"Iya, suami saya bekerja dari rumah."


Jawab Isun akhirnya. Memang bekerja dari rumah kan...kalau ada orang yang memperbaiki komputer.


"Kalau suami saya pegawai BUMN," ucap si ibu yang memakai banyak perhiasan, sambil menyibakkan rambut, mengangkat lengan daster, intinya membuat gerakan-gerakan yang mempertontonkan perhiasan yang dipakai.


"Oh..."


"Kalau suami saya sales obat. Menawarkan obat ke rumah sakit gitu, jadi banyak kenalan dokter," ucap wanita yang usianya lebih muda.


"Pekerjaan apapun ya Bu guru asal halal, rezeki sudah ada yang atur," ucap wanita yang paling bijak sejak awal.


Sedangkan Isun hanya tersenyum dan mengangguk.


"Sun...!" teriak Ori dari dalam kamar, "masuk!"


Kali ini suaminya menjadi penyelamat terbaik. Dia paling tidak suka membicarakan hal pribadi dengan orang lain.


"Maaf, saya sudah dipanggil."


Tanpa menunggu Jawaban Isun segera berlari. Tapi tangannya sempat ditangkap oleh salah satu dari ketiga wanita tersebut.


"Kalau mau cerita boleh kok, Insyaallah saya bisa menyimpan rahasia."


"Iya, terimakasih mbak."


"Mmm...bagaimana kalau menemani saya beli kulot mbak, saya tidak punya tapi sepertinya saya butuh satu."


"Boleh."


Selama ngobrol tadi pikiran Isun berlarian kemana-mana, salah satunya adalah pakaian pengganti training. Meskipun lebar tapi bukan rok, biar geraknya lebih bebas sedikit. Kalau nanti memakai kulot masih nggak boleh, jawab saja ini model rok yang diberi pembatas, biar tidak berebut wilayah.

__ADS_1


...***...


__ADS_2