
Baru kali ini Isun merasa memenangkan pertarungan. Mertua juga tak punya pilihan saat dia bilang harus ada surat pernyataan kesanggupan membayar angsuran. Padahal sebenarnya tanpa adanya surat itu angsuran bisa saja keluar. Semuanya hanya akal-akalannya untuk berjaga-jaga.
Meskipun tetap ketika mengajak Isun berbelanja dengan alasan sebagai bahan pertimbangan uang tetap keluar dari kantongnya pribadi tapi tidak apalah, asal tidak terlalu banyak.
Setiap kali selesai belanja pasti minta mampir makan ini itu yang pilihannya bukan makanan kampungan. Tapi golongan fast food ala orang kaya yang menurutku tidak sehat.
"Itu uang yang dari pinjaman nanti untuk sewa gedung dan katering."
Isun hanya mengangguk saja. Niatnya membantu tulus asalkan jangan memanfaatkan kebaikannya.
"Iya Bu."
"Kamu mau nyumbang apa Sun," tanya ibu sambil menikmati ayam goreng ala Amerika dengan sambal geprek. Nah kan...saking kreatifnya sampai ada fried chicken dengan kearifan lokal.
"Yang belum ada apa jel?" lebih baik tanya langsung kepada yang bersangkutan.
"Makanan aja deh mbak. Biar ada menu tambahan selain menu utama."
"Boleh juga, bagaimana kalau aku pesankan baso kira-kira seratus porsi."
Raut wajah Jeli langsung berseri, "boleh mbak, biar pilihan makanannya makin banyak."
"Gimana sih, nikahan adiknya kok cuman nyumbang seratus porsi baso. Kalau mau nyumbang seratusan porsi ya tiga atau empat macam makanan yang berbeda lah."
Mulai, kalau sudah dikasih hati masih mau makan jantung ibu mertuanya ini.
"Maaf Bu, saya akan menyumbang sesuai kemampuan saya."
Aku kembali lagi fokus pada Jeli, "kalau mbak tambahin es krim mau nggak Jel?"
"Mau dong mbak, terima kasih ya. Sudah dibantu cari pinjaman, disumbang makanan plus es krim pula."
"Jangan dengerin apa kata ibu," bisik Jelly agar tidak didengar ibu.
__ADS_1
Ternyata asik juga adik suaminya ini. Selama ini mungkin ketakutan dia sendiri saja yang membuatnya enggan mendekati adik ipar, khawatir sifatnya sama dengan suami dan mertua.
"Kapan-kapan kita jalan lagi, tapi berdua saja. Aku ingin belikan kado pernikahan buat kamu," lama-lama dua wanita muda ini memilih untuk saling berbisik. Daripada ibu mendengar terus turut campur lagi.
Jelly mengangguk dengan cepat, saking senang karena kakak iparnya tidak seperti yang diceritakan ayah dan ibu selama ini.
"Mbak baik. Kenapa ayah sama ibu suka cerita sebaliknya ya?"
Ibu masih sibuk dengan chicken gepreknya jadi tidak mendengar obrolan antara anak dan menantunya.
"Mungkin karena mbak nggak mudah diperalat. Perlakuan mas kamu membuat mbak terus waspada, takut kalau susah sendiri di belakang hari."
Jelly manggut-manggut tanda setuju, "mas Don tuh mbak kadang suka nggak punya pendirian, juga nggak mau susah. Mintanya semua harus siap di depan mata. Aku suka sebel sama dia."
Isun mengangkat tangannya memberi tanda ber high five, "sama, itu juga yang suka membuat mbak sebal."
Siang itu dua wanita muda dengan seorang wanita setengah baya pulang dari pusat perbelanjaan dengan banyak tentengan. Entah apa saja yang mereka beli.
"Terimakasih buat semuanya mbak. Jangan khawatir aku akan bertanggung jawab atas angsuran dari pinjaman koperasi atas nama mbak yang buat aku itu."
"Tapi itu kalau kurang. Kalau uang dari hajatan cukup, semua akan aku berikan ke mbak, biar kita nggak punya beban angsuran."
Pada hari H, Isun benar-benar ikut merasakan kebahagiaan adik iparnya. Acara berjalan lancar sampai selesai.
Tamu yang datang begitu banyak, untungnya hidangan disediakan dalam jumlah yang lebih dari cukup.
Sampai dalam pikiran Isun sempat terlintas kalaupun akhirnya nanti uang yang didapat dari hajatan tidak mencukupi untuk pengembalian pinjaman, dia tidak keberatan untuk ikut membantu mengangsur.
Acara usai hampir tengah malam. Isun segera mengajak suaminya pulang. Jangan sampai ada opini kalau dia ingin tahu berapa banyak uang sumbangan dari tamu.
"Ternyata adikmu dewasa juga ya mas."
Beda sekali dengan kamu yang manja dan inginnya semua harus tersedia, yang ini diucapkan Isun dalam hati saja.
__ADS_1
"Iya lah, itu ajaran dari aku. Dia itu selalu mengikuti apa yang aku lakukan. Dia sering minta pertimbangan dari aku."
Cih, meniru apanya. Kalau meniru kamu, jelly nggak akan bisa mengambil sikap dewasa seperti sekarang.
"Besok siang kita langsung ke rumah ibu, nanti aku yang minta uangnya, keburu nanti disandera itu uang sama ibu."
Tuh kan, sama plek ketiplek antara ibu dan anak.
"Biar saja, aku percaya sama Jelly. Adikmu itu wanita yang bisa diandalkan."
Keesokan harinya Jelly benar-benar datang dengan membawa sebuah amplop coklat yang cukup tebal. Tapi wajahnya menunjukkan kemarahan.
"Maaf mbak, ibu minta sebagian uang hasil sumbangan hajatan."
"Ibu keterlaluan, padahal Jelly yakin ibu nggak kekurangan apapun. Masih saja ambil uang hajatan punyaku."
Wajahnya sedih hampir menangis.
"Ssttt, sudah, nggak apa-apa. Ini nanti akan langsung mbak bayarkan ke koperasi. Biar nanti kurangannya dihitung dan kita bakal tahu berapa angsuran yang musti dibayar tiap bulan."
Kali ini Isun memilih bersabar karena melihat Jelly yang tulus. Baru kali ini dia merasa menjadi bagian keluarga dari pihak suaminya karena kedekatannya dengan Jelly.
Lagi pula, suaminya juga sudah mengganti laptop dan hape yang beberapa saat lalu dipaksa dijual. Meskipun bukan merk yang sama dan harganya pasti jauh lebih murah.
Hatinya terobati, lara dan kecewa yang selama ini terpendam jauh berkurang. Beginilah ternyata kehidupan berumah tangga. Saling mengenal sepertinya memang membutuhkan waktu seumur hidup.
Betul petuah ibu dulu waktu dia baru selesai akad nikah. Bahwa menikah itu bukan hanya hubungan lelaki dan perempuan, tetapi juga menyambung silaturahmi antar dua keluarga besar. Nasehat ibu itu lah yang kini dia rasakan.
Bahkan ketika beberapa hari kemudian ibu mertuanya berkunjung dengan mengenakan berbagai perhiasan baru yang tergolong mewah, Isun hanya tersenyum ditahan. Rupanya buat membeli ini uang yang diminta dari Jelly.
Ya sudah lah asal mertua senang.
***
__ADS_1