
'Jangan lebay' itu pelajaran yang didapat Isun atas peristiwa kemarin. Dimana dia menangis badai dan ketahuan suaminya, sangat memalukan.
Semua dinding keangkuhan yang dibangun hancur sudah. Bahkan sampai hari ini Isun masih ingin bersembunyi di dalam perut bumi.
Harga dirinya sudah tidak ada lagi, mau bersikap keras rasanya percuma karena suaminya tahu kalau dia cinta.
Hari kedua suaminya tinggal, bapak mengajak manantunya itu membersihkan kandang sapi dan kambing. Bisa dibayangkan bagaimana ekspresi Ori selama melakukan itu.
Sebenarnya jijik tapi terpaksa.
"Gosok yang bersih kandangnya."
Hidung sampai mulut dibebal saputangan yang basah oleh minyak wangi.
"Jangan banyak-banyak siram airnya, dihemat kalau pakai air, seenaknya saja siram dengan banyak air begitu!"
Teriak bapak sambil berkacak pinggang menonton di pinggir kandang.
"Bau pak, kalau airnya kurang."
Eh...eh, berani menjawab–bapak.
Mata bapak makin melotot, kalau bukan ciptaan Tuhan seperti pelangi pasti bola matanya sudah melompat keluar.
"Maaf pak, iya akan saya kurangi siraman airnya," tidak berani lagi membantah waktu tadi melirik Ori bisa melihat mata bapak yang menakutkan.
"Kalau mau jadi mantuku, musti pinter tani, pinter angon, jangan cuman jadi juragan yang sukanya ongkang-ongkang kaki tapi mimpi punya uang banyak."
"Siapa yang mau kasih uang kalau males kerja, hobi tidur, apalagi pelit sama istri, ngambil barang yang sudah dikasih ke istrinya."
"Iya, pak."
Wajah ogahnya masih kelihatan. Tapi Ori berusaha keras untuk mematuhi perintah bapak. Dia lebih menyapu kandang dari pada menyiramnya dengan air untuk membersihkan kotoran.
Dalam hatinya Ori berkali-kali mengumpat. Masa iya, seorang akademisi, seorang sarjana teknik sepertinya dirinya disuruh membersihkan kandang hewan.
Untuk sekarang dia akan mengikuti semua permintaan bapak mertuanya. Nanti kalau sudah balik ke rumah lihat saja. Istrinya harus melakukan banyak hal untuknya.
Setelah membersihkan kandang bapak mengajaknya merumput. Dengan membawa sabit dan sebuah motor butut, dua lelaki itu pergi ke area persawahan.
Tidak hanya mencari rumput tetapi juga daun lamtoro dan beberapa jenis daun lain yang cocok sebagai pakan ternak.
Ternyata tak semudah dilihat. Ketika sekarang dia sendiri harus menyabit rumput dan beberapa jenis daun, sulitnya bukan main.
Baru masuk diantara rerumputan saja rasa gatal menyerang kulitnya. Warna merah serentak muncul dipermukaan kulitnya yang putih. Harusnya dia tadi memakai celana jins dan sepatu boot setinggi lutut.
Setelah cukup yang didapat Ori diajak bapak duduk di pematang, dibawah pohon yang rindang sambil menikmati segarnya air semilir.
"Bapak tidak benci padamu."
Ori reflek melihat bapak ketika mendengar kalimat yang diucapkan.
Nggak benci dari mana, aku disiksa begini.
__ADS_1
"Bapak hanya ingin anak bapak memiliki suami yang baik."
Baik versi siapa? pasti versinya dia sendiri. kalau menurutku sih, aku sudah cukup baik sebagai suami.
"Mungkin kamu akan berpikir, kalau bapak ingin laki-laki yang baik sesuai versi bapak. Harus bapak akui memang iya. Karena bapak lebih tahu bagaimana sifat, watak, dan kebiasaan anak bapak."
"Bapak ingin suaminya mengerti, memahami, dan bersabar dengan semua kekurangannya."
"Kalau kamu merasa bapak egois dengan meminta kamu melakukan hal-hal yang tidak kamu suka. Tujuan bapak adalah membuka matamu bahwa kamu juga bukan lelaki yang sempurna. Kamu boleh hebat di bidang IT tapi nyatanya kamu tidak tahu apa-apa tentang ternak dan pertanian."
Ori membisu, otaknya seperti dihantam palu gada milik Bima, tokoh pewayangan dari Pandawa dalam kisah Barata Yudha.
Baru sekarang ada yang bilang kalau dia tak begitu sempurna. Padahal dia adalah sarjana dengan nilai cumlaud. Dan orang tua di sebelahnya ini bilang dia tidak sempurna?
"Bapak hanya seorang petani tapi bisa menyekolahkan anak bapak sampai jadi sarjana. Sayangnya otak anak bapak itu agak tumpul, tidak paham kalau mencari suami itu tidak hanya sekadar karena cinta."
"Pencarian pasangan itu butuh proses panjang. Bisa saja menikah tapi akhirnya berpisah karena ternyata tidak bisa menjadi pasangan yang cocok."
"Bapak khawatir itu yang akan terjadi pada kalian berdua. Dan sekarang proses itu sedikit demi sedikit sedang berjalan."
Bapak berhenti bicara, memandang wajah menantunya dengan tatapan nelangsa.
"Terus terang bapak khawatir kalau anak bapak tidak bahagia. Bahkan sekarang ketika kalian masih baru saja menikah."
Bapak menepuk pundak Ori beberapa kali, "kita pulang, kamu pasti lelah."
"Nanti malam tidurlah bersama istrimu."
Bapak mendahului Ori. Mengambil motor yang boncengannya penuh dengan makanan ternak.
"Hah?!"
Naik bagaimana caranya? Mau duduk disebelah mana?
"Naiklah kamu bisa duduk diatas rumput."
Diatas rumput? Tersentuh sedikit saja gatalnya minta ampun, ini malah diminta untuk duduk diatasnya. Pantatnya jadi apa nanti?
"Kamu mau lari atau jalan sampai rumah? Kalau mau ya tidak apa-apa, dekat kok...cuman 2 km."
Apa?!
Ori bergegas mendekati motor. Dengan susah payah dia naik keatas makanan ternak. Karen takut jatuh dia memegang kepala bapak. Bagaimana lagi mau memegang pinggang jaraknya terlalu jauh. Tangannya tak sepanjang itu.
"Lepaskan tanganmu, aku tak bisa melihat jalan. Kamu menarik helmku Ori. Kepalaku jadi ikut tertarik ke belakang," terik bapak.
"Ori...lepas peganganmu!"
"Kepala bapak ketarik, Ori...!!"
Begitulah akhirnya. Bapak terus berteriak karena kesakitan, kepalanya ditarik sang menantu yang takut jatuh.
Ketika sampai rumah, mulut bapak manyun 10 senti, muka ditekuk, helm dibanting ke atas lincak. Masuk ke kamar dengan langkah kaki menghentak mirip paskibra. Lalu mengeluarkan semua barang menantunya di depan pintu.
__ADS_1
Isun hanya bengong melihat tingkah bapaknya. Tapi ketika suaminya datang, dia bisa membaca situasi kalau bapak marah lagi.
"Pak, Ori minta maaf."
Bapak tidak menyahut, hanya diam di dalam kamar.
Isun mendekati suaminya dan berbisik, "bapak marah lagi?"
Ori mengendikan bahu, "ya."
"Kenapa?"
"Karena aku pegang kepalanya," keduanya bercakap masih sambil berbisik.
"Bawa istrimu pulang besok pagi!" teriak bapak dari dalam kamar.
Isun terkejut, sampai dua bola matanya hampir keluar, "kita diusir mas?"
Melihat Isun bingung, Ori jadi ikut bingung.
"Tadi cuman nyuruh aku tidur sama kamu," jawab Ori bengong.
Istrinya memukul lengannya keras, "bodoh, itu namanya ngusir."
Isun menarik tangan suaminya. Pasangan muda itu menerobos masuk kamar. Isun duduk bersimpuh dilantai, diikuti Ori karena tangan keduanya saling bertaut. Sedangkan bapak duduk diatas kasur.
"Pak maafkan kami. Kami masih belajar pak, kami janji akan lebih sering pulang buat belajar menjadi pasangan yang lebih baik."
"Biar Allah segera nitipin cucu bapak sama ibu kepada kami. Kata ibu kalau Mas Ori sama Isun siap, pasti Allah segera kasih momongan."
Istriku ini ngomong apa sih?!
"Bapak masih marah?" Isun bertanya lugu.
"Bilang sama suamimu jangan kurang ajar, pegang-pegang kepala bapak."
Isun melirik suaminya.
"Iya pak, maaf tadi saya takut jatuh."
Apa ini, yang satu kurang ajar yang satu takut jatuh. Wes entahlah.
"Besok pagi kalian pulanglah, bapak yakin Isun jauh lebih baik kondisinya. Jalani rumah tangga kalian dengan baik."
"Bapak nggak ngusir kita kan?"
"Nggak, bapak sedang belajar ridho menerima kalian berdua apa adanya. Menerima kamu, anak bapak dengan kebodohanmu dan menerima Ori menantu bapak dengan kesombongannya."
Entah harus senang atau sedih mendengar omongan bapak. Tapi buat Isun semua peristiwa besar dalam hidupnya sampai sekarang adalah sebuah pembelajaran. Termasuk menikahi Ori sebagai suami dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Pasangan muda itu keluar dari kamar bapak dengan berbagai macam hal.
Tapi Isun terkejut ketika mendengar suaminya berkata, "kamu harus membayar semua hutangmu padaku selama aku tinggal disini."
__ADS_1
***