
Bapak menyiapkan semua kebutuhan Isun. Menyewakan rumah dan mengemas barang-barang ibu untuk dibawa ke rumah kontrakan, tempat tinggal sementara sebelum pengurusan pindah tugas selesai.
Tidak ada lagi maaf atau mencoba memperbaiki pernikahan yang sudah hancur. Apalagi Jelly sendiri bilang kalau kakaknya telah melaksanakan pernikahan dibawah tangan dengan wanita lain.
Sebenarnya Ori belum ingin melepaskan Isun. Ibu dan ayahnya tidak setuju jika sampai terjadi perceraian. Beberapa kali Ori mencegat Isun pulang kerja, karena gagal mendapatkan alamat kontrakan yang ditempati Isun. Tapi Isun punya seribu satu cara untuk menghindar.
Semua berkas penting yang ada di rumah Ori, bapak yang mengambil. Ori tak bisa menolak memberikan apa yang diminta mertuanya, tentu saja dengan ancaman akan membawa pihak yang berwajib jika calon mantan menantunya itu mempersulit keadaan.
Terhitung satu tahun setelah mengajukan gugatan, Ori dan Isun resmi bercerai. Ori sudah memulai kehidupan barunya bahkan sebelum palu sah di ketok hakim, sedangkan Isun untuk sementara memutuskan hidup berdua saja bareng Nimas, anak angkatnya.
"Alhamdulillah bu tadi Isun dipanggil Badan Kepegawaian, proses pengajuan kepindahan Isun hampir selesai, paling lambat bulan depan Isun sudah bisa bertugas di tempat baru."
Siang itu Isun sumringah memberitakan kabar yang dia dapat.
"Wah...Alhamdulillah, ibu sudah kangen sama bapak, hampir setahun ini kan ibu sama bapak tinggalnya berjauhan."
Heleh, ibu kambuh lebainya. Sudah jadi pasangan kedaluarsa saja gayanya minta ampun, maunya barengan tiap hari.
"Idih, ingat umur ibu."
Ibu memandang Isun dengan pandangan sendu, nelangsa melihat nasib anak yang pernikahannya hanya seumur jagung, tidak lebih dari tiga tahun.
"Kamu akan baik-baik saja, nak."
Masih berseragam lengkap, Isun menggelendot manja dalam pelukan ibu. Betapa wanita muda itu sangat mencintai sang ibu.
"Nimas tidur kan Bu."
"Ehem."
Isun makin mengeratkan pelukannya, "Isun ingin berlama-lama seperti ini. Satu tahun ini rasanya sangat berat buat Isun, Bu."
"Bukannya Isun tidak mau bercerai, tetapi ternyata sebuah perceraian tak semudah diucapkan. Bagaimanapun Isun pernah saling berbagi rasa dengan Mas Ori."
Rambut Isun dibelai lembut.
"Sekarang Isun tahu bahwa cinta pun harus pakai logika."
"Anak ibu sekarang sudah dewasa, sudah jadi seorang ibu dari gadis kecil yang cantik."
Sebenarnya Isun sadar kalau dirinya tidak bisa sepenuhnya lepas dari keluarga sang mantan suami, mengingat Nimas masih ada hubungan famili dengan keluarga itu. Tapi tetap saja dia yakin bisa menghadapi apapun.
"Nanti sore bapak datang, katanya kangen sama ibu."
"Tck," Isun melepaskan pelukan, "ibu sengaja pamer ya."
"Hei...bapak mau ngajak kita jalan-jalan."
__ADS_1
"Kalaupun bapak nggak ngajak, Isun yang bakal minta."
Ternyata bapak tidak datang sendiri, Danu juga turut serta, mumpung akhir pekan katanya.
"Mbak, kamu kan sekarang sudah jadi janda, ngurus pindah juga kelar. Hari ini traktir kita ya mbak, jalan-jalan lanjut makan ayam goreng kekinian mbak."
"Boleh, tapi jandanya jangan disebutin kenapa," ujar Isun merengut.
Mall rame sekali, mungkin karea malam Minggu jadi banyak orang memilih untuk cuci mata sekedar melihat-lihat.
Beberapa restoran fast food yang berjajar juga dipenuhi pengunjung. Sampai akhirnya keluarga itu menemukan satu restoran cepat saji yang tidak begitu ramai.
Melihat harganya memang sedikit mencekik leher. Semangkuk mi ala Korea saja dibanderol hampir lima puluh ribu. Tapi tak apalah sekali-sekali menyenangkan orang tua dan adik semata wayangnya.
"Sini mbak biar aku yang dorong Nimas. Biar kamu cepat laku. Tapi kalau kamu cari suami, kriterianya harus jelas, jangan seperti kemarin itu."
Kali ini Isun tertawa kecil. Menertawakan kebodohannya akan cinta pertama. Sebuah pengalaman hidup yang harus dibayar mahal.
"Iya, nanti kalau mbak ketemu sama seseorang kamu deh yang saring, pas enggaknya."
"Hus, ayo cari tempat duduk."
Rupanya bapak sudah tidak sabar untuk makan, "pesankan buat bapak yang ada dagingnya, nggak setiap hari kita makan enak begini. Iya, kan Bu," mengering pada ibu yang tampaknya juga bingung memilih menu.
"Sudah, semuanya duduk biarkan yang berpengalaman memesankan makanan terenak buat keluarga tercinta."
Berita online didominasi oleh kabar artis yang diduga melakukan KDRT. Ih nggak perlu artis, dirinya sendiri saja juga mengalami hal yang sama. Saking asiknya berselancar di dunia maya, Isun bahkan tidak menyadari kalau di belakangnya kini berdiri seorang laki-laki
"Nyonya Isun," konsentrasinya langsung buyar saat pundaknya disentuh dari belakang.
"Eh...dokter Gilang?" lelaki tampan itu mengangguk.
"Benar kan nyonya Isun?"
Isun tertawa renyah, hatinya sedikit mengembang. Ada dokter ganteng yang masih mengingat namanya padahal hanya dua kali bertemu itu pun sebagai dokter dan pasien. Wanita mana yang tidak akan tersanjung coba.
"Bagaimana kabarnya nyonya?"
"Baik dokter, jauh lebih baik ketika saya datang ke ruang praktek dokter waktu itu."
"Baguslah...anda memang terlihat jauh lebih cantik."
Tubuh keduanya mulai bergeser, mencari posisi yang nyaman untuk sekedar mengobrol. Tanpa disadari Isun mulai keluar dari antrian.
"Woi!" Isun baru sadar ketika Danu menghampiri sambil berkacak pinggang, "laper."
"Oh, iya...maaf dokter saya harus memesankan menu makanan untuk adik saya yang kurang ajar ini dan orang tua saya yang ada disana," mendorong Danu untuk menjauh, memalukan sekali sikap adiknya ini.
__ADS_1
"Oh...adiknya ya, saya pikir nyonya sudah berganti suami."
Danu hanya memandang tangan dokter Gilang yang terulur mengajak berjabat tangan.
"Jangan ganggu kakak saya dulu. Dia baru saja menjadi janda."
Isun membelalak, "Danu...nggak gitu juga caranya ngomong sama orang lain. Itu nggak sopan, ayo sana!"
"Ah, jadi kakak anda sudah tidak memiliki pasangan?" ini dokter apa-apaan, ngapain juga meladeni mulut Danu yang lemes.
"Maaf dokter, ayo sana!" Isun mendorong Danu menjauh.
"Cepet pesannya, jangan ngobrol terus!"
"Iya..." sambil melotot meminta Danu kembali duduk.
"Maaf dokter, orang tua saya menunggu."
Lebih baik diputus saja pembicaraannya sampai disini. Kasihan bapak sama ibu menunggu.
Dokter Gilang mengangguk sopan. Untuk sekejap khayalan Isun mengembara kemana-mana. Meminta sedikit kebaikan Tuhan, siapa tahu berkenan untuk menjadikan lelaki itu jodohnya. Tapi itu hanya khayalan kosong yang gila.
"Siapa laki-laki itu?" tanya Danu dengan nada curiga saat Isun kembali dengan nampan yang berisi menu pesanan.
"Seseorang."
"Ayo makan, jangan memperpanjang pertanyaanmu. Jangan takut, mbak hanya mikirin Nimas sekarang."
"Baguslah!"
Adiknya ini jadi over protektif sekarang.
***
Dari sudut yang berseberangan dokter Gilang mengamati semua yang dilakukan Isun dan keluarganya. Ada seorang gadis kecil diantara mereka, mungkin wanita itu telah mengadopsi seorang anak.
Ada beberapa informasi yang terekam apik di otaknya. Bahwa wanita itu sekarang adalah ibu tunggal yang kemungkinan memiliki anak dari hasil adopsi. Dia memiliki seorang adik yang sepertinya akan membenci semua laki-laki yang mendekati kakaknya, mungkin karena perceraian yang dialami sang kakak.
Yang paling penting di meja itu juga duduk dua orang tua yang kemungkinan besar adalah orang tua dari wanita yang merenggut perhatiannya sejak pertama masuk ke ruang prakteknya dulu.
Dokter Gilang melihat mangkuknya masih penuh. Dia duduk di sebuah meja dengan beberapa kursi yang kosong. Menyedihkan sekali hidupnya.
Akhirnya dengan satu tekad lelaki itu mengangkat talam yang berisi makanan dan mendekati meja keluarga Isun. Memperkenalkan diri pada dua orang tua dan meminta ijin untuk turut bergabung. Dia seperti menemukan keluarga yang selama ini dicari...
End
...***...
__ADS_1