
Beberapa lamaran pekerjaan sudah dikirim. Tapi belum ada satupun yang menunjukkan titik terang. Ternyata dunia kerja tak seindah bayangan dulu saat masih kuliah.
Begitu idealis, kalau tidak sesuai dengan bidang yang dipelajari lebih baik tidak bekerja. Ketika sekarang kebutuhan makin mendesak, rasa-rasanya pekerjaan apapun tidak menjadi masalah dan akan dilakoni dengan senang hati, asal gaji yang diterima cukup.
Hubungan Ori dengan Isun pun belum ada perkembangan. Pernikahan mereka yang memasuki hari ke lima juga masih stagnan.
Meskipun setiap pagi dan malam Isun disuguhi pemandangan tugu Monas, menara Eiffel, bahkan menara Piza. Tapi Ori belum bersedia untuk menyentuhnya. Entah takut, segan, belum tahu caranya, atau lebih buruk lagi memang tidak mau.
Tekanan yang besar ini membuat Isun hampir gila. Hidup mereka pun masih dibantu orang tua. Sebelum pulang ibu sempat menggenggamkan uang dengan jumlah yang lumayan. Mertua juga kadang mengirim bahan untuk dimasak. Sungguh memalukan.
Sore ini setelah berkeliling ke beberapa tempat, tubuh Isun terasa penat. Ori pergi ke rumah orang tuanya, katanya ada komputer yang harus diperbaiki.
Merasa sedikit bebas karena hanya sendiri, Isun memilih untuk mengganti baju di dalam kamar. Baru saja dia akan memasukkan baju bersih ke tubuhnya, pintu kamar terbuka.
Isun berdiri kaku dengan hanya memakai pakaian dalam. Di depannya berdiri Ori yang bergerak pelan menutup pintu dibelakangnya.
"Kenapa tidak dikunci dulu pintunya. Kalau ada orang lain bertamu pintunya kedorong, lihat kamu seperti itu bagaimana?" lirih Ori dengan wajah sewarna udang rebus.
"Aaaa..." teriakan yang sedikit terlambat keluar dari bibir Isun, "sebentar jangan masuk aku mau pakai baju___"
Tiba-tiba terdengar bunyi 'klik' suara pintu terkunci.
"Nggak usah pakai baju, biar saja begitu."
Napas Ori kelihatan pendek dan berat. Langkahnya perlahan tapi pasti mendekati Isun.
Ah...kepalang sudah. Akhirnya Isun diam berdiri di tempatnya. Lagi pula ini kan yang ditunggunya beberapa hari ini.
Dengan tergesa Ori melepas semua kain yang melekat di tubuhnya. Melihat pemandangan itu Isun segera menutup matanya.
Ya Allah, apa-apaan...dia nggak pernah lihat pilm romantis apa ya–Isun.
Ori menerjang Isun seperti singa lapar. Dengan gerakan cepat dan sedikit kasar penutup dada dan penutup bawah milik Isun dibuka. Napas Ori makin pendek dan tidak beraturan.
Dorongan tubuh yang begitu kuat membuat Isun jatuh keatas kasur.
"Mas, sebentar...mas."
Kenapa seperti ini. Ini bukan yang aku inginkan sama sekali, tidak ada kelembutan dan kasih sayang.–Isun.
Ori sudah dikuasai napsu yang tak tahu dari mana datangnya. Dia menyerbu Isun membabi buta. Ciuman kasar sana-sini tanpa arah pasti. Belum juga Isun siap, tiba-tiba sebuah benda tumpul memasuki tubuhnya dengan paksa.
"Aaa..." jarit kesakitan Isun keluar tertahan. Dia masih ingat kalau suara yang datang dari kamarnya bisa di dengar kamar sebelah.
"Mas...sakit."
Air mata Isun mulai mengalir. Sakit di pusat tubuhnya hampir tak tertahan. Mana yang dibilang indah...mana wajah menunjukkan keni_kmatan seperti di drama-drama Korea. Yang dia rasakan sekarang hanya lah sakit yang hebat.
Ori seperti tak mendengar, tubuhnya bergerak dengan cepat, secepat serangannya sejak awal. Tak lama kemudian, hanya setelah beberapa gerakan. Ori menghujam keras dan menggeram perlahan. Lalu jatuh lemas diatas tubuh Isun yang kesakitan.
Isak pelan tertahan baru disadari Ori beberapa saat setelahnya.
"Sun?"
"Kamu nangis?" tanya Ori kebingungan.
"Kamu nggak ikhlas melayani aku?"
Dasar bodoh, tolol, umpat Isun dalam hati.
"Aku sakit," jawab Isun disela tangisnya.
Ori mencari kebagian bawah tubuh Isun. Ada bercak darah diatas kasur. Barulah dia sadar apa yang dilakukannya sudah menyakiti istrinya.
"Maafkan aku."
"Aku bodoh, bukannya aku tidak tahu bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita dengan baik. Tapi tadi aku benar-benar lupa diri."
__ADS_1
Ori mendekat, memeluk tubuh Isun yang masih bergetar dengan lembut.
"Maafkan aku," ulangnya lirih.
"PC yang tadi aku cek, ada nyimpan film begituan, jadi aku sudah pengen sejak di rumah ibu. Lain kali aku akan lebih lembut dan hati-hati. Maaf aku memberi kenangan buruk, padahal ini adalah saat pertamamu."
Isun mengangguk dalam pelukan suaminya. Baru kali ini keduanya berpelukan tanpa pembatas kain diantara kulit keduanya.
"Kita mustinya harus banyak belajar tentang hubungan suami istri, mas. Bukan hanya hubungan badan tapi juga berkomunikasi tentang segala hal dengan baik."
"Aku merasa beberapa hari ini menjadi istrimu, tidak kamu tempatkan aku sebagaimana mestinya."
Ori melepas pelukannya, "ya, kita akan belajar bersama."
Jemari Ori menjelajah wajah Isun yang basah. Menghapusnya perlahan. Sedikit demi sedikit Isun mulai memejamkan matanya berusaha menikmati sentuhan suaminya. Belum juga jiwanya terbawa. Suara telepon terdengar keras menghancurkan suasana.
"Siapa Sun?"
"Shity, mas."
Dasar sahabat nggak punya akhlak, mengganggu saja–Ori.
"Jangan cemberut mas. Aku jawab dulu teleponnya, siapa tahu penting."
Hallo assalamualaikum
Teriak Shity di seberang.
"Hmm, waalaikumsalam."
Sun, aku punya berita bagus untukmu.
Suara shity terdengar sangat bersemangat.
"Berita apa?"
"Belum, susah bener cari kerja di sini, kenapa emang?"
Aku ada lowongan buat kamu. Sekolah tempat temanku ngajar lagi butuh guru di kota M. Sekolahnya termasuk sekolah favorit, Sun. Kebetulan aku baru saja diterima kerja. Jadi kerjaan ini aku kasih buat kamu saja lah.
Mata Isun berbinar. Mungkin harus sering-sering melayani suami kalau begini caranya. Tadi memang sakit tapi lama-lama pasti enggak. Habisnya setelah melayani suami langsung dapat rejeki nomplok begini.
"Iya...iya boleh. Data-data sekolahnya kamu kirim via pesan ya. Aku tunggu."
Oke...
"Oke, aku tunggu ****_, Assalamualaikum."
Melihat wajah istrinya yang berbinar menularkan aura positif pada Ori yang langsung ikut tersenyum.
"Ada apa?"
"Ada lowongan kerja. Insyaallah langsung diterima dari temannya shity."
"Dimana?" Ori jadi ikut antusias.
"Di kota M."
"Oke besok kita kesana naik motor."
Isun mengangguk cepat.
Dan keduanya seperti lupa kalau belum memakai apapun untuk penutup tubuh. Sekarang setelah sadar, keduanya saling pandang lalu memulai sesuatu yang tadi sempat tertunda dengan cara yang lebih lembut dan penuh perasaan.
Malam yang indah, keduanya tidur berpelukan dengan pakaian lengkap setelah mandi besar. Setelah yang mereka lakukan malam ini. Ada sedikit rasa hangat memeluk hati Isun yang sebelumnya penuh ragu.
...***...
__ADS_1
Awal pagi keduanya berangkat ke kota M, berboncengan menggunakan motor matic kesayangan Ori. Sekitar pukul tujuh pagi Ori dan Isun sampai di depan rumah Shyti.
"Alhamdulillah, ayo masuk."
Sambutan sahabatnya yang hangat membuat lelah selama perjalanan menghilang.
"Kamu kok belum berangkat?" Isun merasa bersalah melihat sahabatnya masih di rumah.
Shyti hanya tersenyum, "aku masuk siang," pandangan Shyti beralih pada Ori, "ayo mas, masuk."
"Gimana kabarnya pengantin baru?" goda Shyti.
"Pengen tahu?"
Shyti mengangguk cepat.
"Nikah sana," goda Isun terkikik.
Shyti cemberut digoda sahabatnya.
"Aku sudah bawa CV buat ngelamar."
"Oke, nanti kalian berdua ikuti aku ya. Aku tunjukkan lokasinya, kamu langsung saja ngelamar dan bilang dari aku."
Isun mengangguk cepat.
"Tunggu aku sebentar ya."
Shyti meninggalkan dua sahabatnya untuk mengganti baju karena nanti langsung saja berangkat bekerja. Sekalian ingin mengajak sahabatnya makan pagi dulu di warung kesukaannya.
"Ayo!" teriak Shyti dari halaman dan sudah siap diatas motornya.
Ori mengikuti kemana pun Shyti pergi. Ketiganya menyempatkan diri untuk sarapan orem-orem khas kota M yang mirip lontong sayur.
Setelah perut terisi penuh mereka melanjutkan perjalanan menuju sekolah tempat Isun akan melamar. Lalu ketiganya janjian untuk bertemu lagi sore hari di rumah Shyti.
Setelah urusan melamar pekerjaan selesai, Isun dan Ori melanjutkan berwisata, kepalang sudah sampai disini. Sekalian anggap saja perjalanan bulan madu.
Seperti mendapatkan durian runtuh karena mendapat rezeki berlimpah. Selain Isun, Ori juga ditawari bekerja sebagai tenaga IT di sekolah yang sama.
"Beneran?" teriak Shyti ikut senang mendengar kabar yang disampaikan Isun, "Alhamdulillah."
"Masalah tempat tinggal, kalian juga nggak perlu bingung mikir. Aku sudah carikan rumah yang nyaman dengan harga murah."
Isun mengangguk cepat, meskipun dia melirik suaminya memasang wajah penuh ragu.
"Lebih baik kita kos dulu, Sun!"
Sebuah perintah yang dibalut dengan kelembutan. Dan Isun tahu, tidak seharusnya dia membantah.
"Iya, lebih baik kami kos dulu."
"Baik, aku carikan, kalian nggak perlu khawatir. Sekarang kalian lanjutkan apa yang kalian lakukan. Tadi pemilik sekolah sudah menghubungi aku, kalau kalian masuk kerja dua hari lagi. Bertepatan dengan tanggal satu. Jadi persiapkan kepindahan kalian."
Isun mengangguk tanpa ragu. Saat melirik suaminya, ekspresi wajah Ori juga penuh keyakinan.
"Sepertinya kita pulang dulu, packing, persiapan buat angkut-angkut barang kita besok."
Hari yang melelahkan tapi ditutup dengan kebahagiaan. Banyak yang harus disiapkan untuk kepindahan esok hari. Hidup baru penuh kemandirian akan dihadapi keduanya mulai besok.
Tapi kebahagiaan itu menggantung ketika Isun menghubungi ibu waktu sampai di rumah.
"Alhamdulillah, nak. Semangat terus ya...tapi ibu tetap ingin kamu ikut tes buat jadi pegawai negeri ya, nak. Jangan berhenti disini dulu."
Harapan ibu yang sejak dulu di dengungkan di telinga Isun. Ya, tentu saja dia tidak akan berhenti hanya sampai disini. Dia tidak ingin pengorbanan si putih menjadi sia-sia.
...***...
__ADS_1