Suami Benalu Banyak Gaya

Suami Benalu Banyak Gaya
Episode 14. Rezeki Istri Solehah


__ADS_3

Sejak hari itu Isun memakai kulot kalau sedang senam. Celana training tenang di dalam almari. Sepertinya Ori juga kurang memperhatikan bawahan yang dipakai istrinya ketika jadwal senam.


Beberapa Jumat berlalu. Penantian Isun akan pengumuman hasil tes pegawai yang diikuti hampir tiba. Sejak hari tes berlangsung sampai sekarang, Isun tak pernah berhenti berdoa. Semoga namanya menjadi salah satu yang dinyatakan lulus.


Benda pipih miliknya digenggam erat, tautan pengumuman sudah di tangan. Tinggal memasukkan nama dan nomor tes.


Dengan gemetar Isun mengetik nomor ujian waktu itu. Matanya ditutup rapat, dalam hati dia terus mengucapkan doa. Semoga lulus...semoga lulus.


Rasanya deg-degan, perlahan-lahan matanya dibuka. Awalnya hanya dibuka segaris, lalu mengintip, samar dia melihat tulisan LOLOS dengan huruf kapital. Dengan cepat matanya dibuka sempurna. Ternyata benar...benar!!!


"Aaa...hahaha...Alhamdulillah...Ya Allah...Alhamdulillah."


Isun berteriak sampai lupa diri kalau sekarang masih di sekolah. Tentu saja tingkahnya menarik perhatian guru lain.


"Ada apa Ustadzah?"


"Alhamdulillah saya lolos teman-teman."


Serentak semua teman sejawat mengucap syukur, "Alhamdulillah, selamat ya."


"Terimakasih...terimakasih."


Para ustadzah memeluknya bergantian. Dari jauh Ustadz Wili ikut tersenyum bahagia.


Sekarang Isun merasa kalau sudah terlalu lama dia kehilangan kebahagiaan. Hari ini rasa bahagia itu membuncah hampir tak tertahankan.


Isun berlari ke halaman belakang sekolah, dia butuh tempat untuk menghubungi ibu.


Diambilnya benda pipih miliknya dari dalam saku. Disentuhnya nama kontak ibu untuk dihubungi. Ibu baru menjawab setelah beberapa kali nada dering berbunyi.


"Assalamualaikum, ibu...aku lolos...Alhamdulillah...hahaha..."


waalaikumsalam, lah anakku ketawa-ketawa sendiri. Pak...


Teriakan ibu memekakkan telinga.


"Ibu, aku lolos."


Pak, anakmu ketawa sendiri ini loh...mantu kita ini bagaimana pak. Anak kita jadi gila begini...


"Bu..."


Ih ibu kenapa anaknya dikatain gila.


Siapa yang gila Bu?


Kali ini terdengar jelas suara bapak melalui saluran telepon.


Anakmu pak...


Apa-apaan bapak sama ibu...


Isun...Isun anakku, kamu sakit??


Apaan sih bapak ih...


"Pak...pak...pak, Isun nggak apa-apa."


Lah kata ibumu...


"Bapak, ibu...Isun sehat."


"Isun cuman mau kasih kabar, Isun lolos ujian pegawai Negeri, Alhamdulillah."


Wajah Isun begitu cerah. Tiba-tiba dari ujung seberang sambungan terdengar suara 'gubrak'.


Sun bapakmu pingsan...


Lalu sambungan telepon pun terputus.

__ADS_1


Isun berjalan menuju ruang guru. Siang ini udara terasa sejuk. Panasnya mentari hampir tak menyentuh kulitnya. Dia berjalan sambil berputar-putar. Meluapkan rasa bahagia karena dia tahu bapak dan ibu juga bahagia.


...***...


Isun memarkir motornya di depan kamar. Senyum masih terukir di wajah cantiknya. Kalaupun suaminya kali ini tantrum lagi, dia yakin bisa menghadapi apapun saat ini.


Memasuki kamar, dia melihat Ori sedang rebahan. Rupanya Ori menyadari kalau ada sesuatu yang berbeda ketika Isun masuk sambil berputar-putar menari ke kanan dan ke kiri.


"Sun!" teriak Ori.


Isun berhenti ketika suaminya memanggil dengan nada tinggi. Waktu Ori hampir membuka mulutnya lagi ponsel Isun berbunyi.


Tangan Isun mengulur ke depan, berlagak seperti seseorang yang menghentikan sesuatu lalu meletakkan jarinya di depan bibir.


"Sssttt."


"Assalamualaikum ibu..."


Rupanya ibu yang telepon.


Sun...bener kamu lolos tes, nak...


"Alhamdulillah Bu, bener."


Alhamdulillah kalau begitu kamu pulang ya, minggu ini ibu mau syukuran, biar si bendot dipotong sama bapak.


Terdengar bapak menyahut...


Iya Sun, si bendot sudah tua dipotong saja.


"Jangan, bapak sudah korban si putih masa sekarang kambing yang suka dikelonin bapak mau disembelih juga."


He...itu urusan orang tua, yang penting kamu pulang. Sudah dulu, Assalamualaikum...


"Waalaikumsalam," menutup sambungan telepon sambil tersenyum.


Setelah menutup telepon, Isun baru sadar kalau pemilik menara pizza sekarang sedang melotot ke arahnya.


Isun melarikan pandangannya ke bawah. Mati aku...


"Itu baju apa namanya?"


Pasang senyum sakarin dulu, "kulot mas."


"Itu bukan rok ya?!" matanya masih lebar, tapi nada suaranya merendah antara merasa aneh dan heran.


"Ini rok mas, hanya punya batas wilayah gitu, biar nggak saling melanggar."


"Lihat, lebar kan?!" Isun menarik kulotnya ke kanan dan ke kiri.


Kalau dilihat mirip rok sih, tapi potongannya seperti celana...


"Aku ijinkan kamu pakai itu, tapi cukup punya satu biji saja."


"Iya, ini juga pakainya seminggu sekali."


Lalu Ori diam. Tangannya dilipat di depan dada. Tatapan matanya dibuat seintens mungkin, salah satu alis matanya diangkat sedikit ke atas.


Isun juga melakukan hal yang sama, menatap bingung sambil menggerakkan bahunya.


"Telepon tadi..."


"Ooo..."


Isun meletakkan pantatnya di sebelah Ori. Memeluk suaminya penuh perasaan. Karena dia tahu suaminya belum tentu senang mendengar kabar yang akan dia sampaikan.


"Jangan marah ya...aku melakukan semuanya buat kita, buat masa depan kita."


Ori begitu penurut, diam dalam pelukan istrinya. Ah...andai saja suaminya ini selalu manis begini.

__ADS_1


"Apa?" tanya Ori.


"Aku lolos tes pegawai."


"Apa?!" teriakan Ori menggema dalam kamar.


Dengan tenang Isun tak melepaskan pelukannya.


"Biarkan saja aku kali ini mas."


"Aku sedang bahagia, marahlah padaku besok ya..."


"Please..."


"Nanti aku cuci deh menara pizza nya."


Lelaki nya ini menghela napas. Dan itu bisa dirasakan dengan jelas oleh Isun. Meskipun tidak begitu kuat, tapi Isun bisa merasakan anggukan lembut kepala suaminya.


Perlahan Isun melepaskan pelukannya. Suaminya masih melihat dengan pandangan kecewa.


Oke...sekarang waktunya melancarkan strategi berikutnya.


Isun kembali mengambil ponselnya. Lihat saja apakah orang tuanya sepemikiran dengan anaknya, lelaki menyebalkan yang membuatnya jatuh cinta ini?


"Assalamualaikum."


Eeee...Isun ya, tumben telepon Sun. Mana anak ibu, suamimu?


"Ini ada di sebelah saya, Bu. Sedang ngambek orangnya."


Kok bisa ngambek Sun, kamu gak masakkan makanan kesukaannya?


"Bukan Bu, dia ngambek karena Isun lolos tes pegawai negeri."


Apa Sun? Wo alah...pak mantumu sekarang jadi pegawai...


Nah kan...ternyata benar, jalan pikiran mereka berbeda.


"Ibu ngobrol sama mas Ori ya, biar ngambeknya hilang."


Sini berikan!


Isun menyerahkan ponselnya. Dengan bibir manyun dan mata melotot, Ori menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Mana Sun, lama bener!


Suara teriakan ibu mertuanya sampai terdengar keluar telepon saking kerasnya.


Karena takut kena marah, Ori menyambar ponsel yang tadi digenggam Isun. Lalu terdengar suara...


"Ya Bu."


"Ya...ya."


Begitu terus sampai akhirnya telepon ditutup.


"Ibu minta kita segera pindahan. Sudah disediakan rumah buat kita tempati."


"Eh...memang kamu tahu, aku bakal bertugas dimana?"


"Pasti di kota S."


"Mmm...suamiku pinter."


Malam itu berlalu dengan tenang. Ori tidak bisa melakukan apapun untuk meluapkan amarahnya.


Melihat istri dan orang tuanya bahagia, tidak bisa dipungkiri hatinya juga ikut bahagia. Apalagi sekarang orang tuanya membuka hati memberikan satu rumah untuk ditempati olehnya dan Isun.


Kali ini dia memendam kecewanya, karena merasa kalah dari istrinya. Ori melihat beberapa PC yang harus diperbaiki. Dari pada tidak bisa tidur, akhirnya dia menyentuh pekerjaannya setelah seharian dibiarkan terbengkalai. Lagi pula dia memang harus menyelesaikannya karena mereka akan segera pindah.

__ADS_1


...***...


__ADS_2