Suami Benalu Banyak Gaya

Suami Benalu Banyak Gaya
Bab 6. Kemesraan Dalam Rumah Tangga


__ADS_3

Tidak disangka kalau yang disebut rumah oleh orang tua Ori adalah sebuah kamar kos dengan kamar mandi luar.


Di dalam kamar disediakan satu kasur bawah dengan alas karpet plastik yang ukurannya pas seluas kasur itu sendiri.


Juga ada sebuah almari kecil. Yang kalau dipakai untuk menyimpan baju hanya muat beberapa lembar saja.


Lalu diantara almari dan kasur diletakkan meja kecil yang memilik laci di bagian bawahnya.


Isun keluar kamar. Kemudian melirik deretan kamar yang beberapa diantaranya dengan posisi pintu terbuka. Sengaja Isun lakukan itu untuk melirik kedalam kamar-kamar lainnya. Ternyata semua fasilitas sama. Sebuah kasur, sebuah almari yang bentuknya sama persis dengan yang ada dalam kamar milik kami, dan sebuah meja berlaci.


Bagaimana bisa seperti ini, memberikan fasilitas yang sama untuk anak pemilik kontrakan.


"Kita tinggal disini mas?"


"Iya, meskipun katamu masih lebih besar kandang si putih, paling tidak kita tidak perlu bayar buat kontrakan rumah."


"Tapi kan kamu anak pemilik kontrakan, masa diberi kamar dengan fasilitas sama?"


"Kamu jangan rewel," suara Ori terdengar sangat mengintimidasi, "kita pulang, ambil tas langsung balik lagi kesini."


"Iya," menjawab tanpa bisa membantah.


Di depan rumah mertuanya Isun masih terus terheran-heran. Rumah yang sangat megah hanya ditinggali ayah, ibu, dan adik perempuan Ori satu-satunya.


Kamar Ori pun kosong tidak ada yang menempati. Haruskah setergesa ini untuk pindah ke tempat baru?


"Bawa itu tas punyamu, tas aku nanti diletakkan di motor bagian depan."


"Iya," lagi-lagi menjawab tanpa membantah.


Tanpa diiringi oleh Bu Ribut, ibu dari Ori. Pengantin baru itu menuju rumah kos yang akan mereka tinggali.


Setelah membersihkan diri, Isun duduk di sisi kasur yang terletak di lantai. Matanya menatap langit-langit yang dicat warna putih. Baru sekarang dia berada dalam ruangan sekecil ini.


Sementara suaminya masih berada di kamar mandi yang ada di luar ruangan, Isun merenungi dirinya sendiri.


Ah, pasti semua orang yang baru berumah tangga mengalami hal seperti ini. Memulai dari bawah, tidak memiliki apa-apa.


"Ya, pasti seperti itu," batinnya menghibur diri sendiri.


Pikirannya masih berlarian, ketika derit pintu terdengar. Dari baliknya muncul Ori yang berdiri berkalung handuk. Rambutnya masih basah. Terlihat begitu...sek_si.


Tiba-tiba hatinya berdenyut. Berdentum sangat keras. Dan dia ingat kalau semalam mereka belum sempat melakukan apa-apa karena Ori keburu ngambek.


"Kenapa lihat aku seperti itu, lihat itu air liurmu menetes."


Dengan cepat Isun menyentuh ujung-ujung bibirnya dengan punggung tangan. Lalu melihat Ori dengan tatapan malu.


Nggak...nggak ada liur menetes.


"Aku bohong, hehehe..." bisik Ori tepat di telinga Isun.


Keduanya duduk bersisihan. Hawa panas mulai memenuhi ruangan. Mana tidak ada kipas angin dalam kamar.


Keringat mulai menetes satu-satu menuruni dahi dan membasahi lipatan lengan. Mata keduanya saling mengunci mengirim gelenyar aneh yang membuat otot perut bagian bawah menjadi ketat.


"Ehem," suara dehem Ori memecah kesunyian.


"Sebaiknya kita sholat Isya dulu berjamaah, baru setelah itu kita tidur."


"Hah...tidur? iya kita harus tidur."


Kemarin di rumah nggak seperti ini rasanya – Isun.


"Sudah wudhu?" Ori menatap lekat istrinya.


Pertanyaannya biasa saja tapi mampu membuat hati berlompatan kemana-mana. Tempat tidur yang tadinya biasa saja, di mata Isun sekarang jadi bercahaya dipenuhi bintang-bintang.


Tanpa sadar Isun menggelengkan kepalanya, "kamu kenapa?" mata Ori mengkerut bingung melihat tingkah Isun yang aneh.

__ADS_1


"Ah, nggak," secepat kilat Isun mengangkat kakinya dan berlari keluar kamar menuju kran air yang diletakkan di ujung jajaran rumah untuk mengambil wudhu.


Keduanya sholat berjamaah. Tanpa banyak bicara keduanya berbaring bersisihan–meskipun sebenarnya masih terlalu sore kalau ingin tidur.


"Semalam waktu di rumah ibu, nggak begini rasanya," lirih Isun.


Meskipun tidak menjawab tetapi Ori juga merasakan hal yang sama. Kikuk dan bingung harus bagaimana.


"Sebaiknya kamu tidur," ucap Ori sambil membalikkan badan memunggungi Isun.


Dalam diam Isun memandang punggung lebar suaminya. Isun mengulurkan tangan mengikuti dorongan batinnya untuk menyentuh suaminya, tapi tangan itu ditariknya kembali. Begitu terus sampai beberapa kali. Akhirnya dia menyerah, melipat tangannya di bawah kepala.


Bahkan punggungnya pun kelihatan tampan–Isun.


Kenapa nggak ada pelajaran tentang malam pertama dalam buku yang aku pelajari ya?–Ori.


Tanpa saling mengetahui keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Selama beberapa saat itu yang terjadi. Keduanya diam dan memberi jarak agar tidak bersentuhan. Sampai suatu saat terdengarlah suara itu...


"Sun, sudah tidur?" bisik Ori.


"Belum, mas."


"Kamu dengar suara itu nggak Sun?"


Isun mengangguk tanpa bersuara, "Sun!" bisik Ori sedikit membentak.


"Iya dengar."


"Itu dari kamar sebelah kan?"


"Sepertinya sih begitu."


Keduanya menajamkan pendengaran. Lamat-lamat terdengar suara rintihan, desa_han tapi sekali-sekali juga terdengar suara mengaduh.


"Sepertinya kekerasan dalam rumah tangga Sun," bisik Ori lagi.


"Tapi kalau sakit kok tidak minta tolong ya Sun?"


"Nah, maka dari itu. Aneh kan mas?"


Karena makin penasaran, Ori menarik tangan Isun sampai bangun dan merubah posisi menjadi duduk. Kepala Isun didorong didekatkan sampai menempel dinding.


"Ini bukan suara sakit Sun," Ori melihat Isun yang begitu dekat dengannya.


"Kenapa perut bawahku rasanya aneh ya mas?"


"Sama, aku juga."


Reflek keduanya melihat ke arah tubuh Ori bagian bawah yang sudah menonjol dibalik sarung.


Mata Isun membulat, "itu apa mas?" tunjuk Isun dengan jarinya.


Ori nyengir, "itu adikku, Sun."


"Adik, mas?"


"Iya," Ori mengangguk pasti.


"Seperti kamu yang punya dua yunda itu diatas," menggerakkan alis menunjuk dada Isun yang tampak penuh dibalik jubah.


Perlahan Isun menaikkan tangannya menutupi dadanya. Sedangkan Ori perlahan menutupi daerah pangkal pahanya.


"Apa yunda, mas?"


"Itu, payundara."


"Ih, istilahmu aneh."

__ADS_1


"Ya biar tidak fulgar Sun."


Tiba-tiba terdengar suara "bhug".


Obrolan keduanya segera berhenti. Ori dan Isun saling pandang.


"KDRT mas, yang laki-laki menggeram."


"Iya, sun...yang wanita juga mele_nguh panjang."


"Ayo, mas."


Keduanya berdiri menyambar kunci pintu yang tergeletak diatas meja dan berlari keluar. Lalu mengetuk pintu kamar sebelah keras-keras.


"Woi mas, keluar kamu. Kamu apakan wanita yang bersama kamu di dalam," teriak Ori.


"Iya, ayo buka! Ini anak pemilik tempat kos, buka cepat!" teriak Isun lebih brutal dengan menggedor pintu berkali-kali. Membuat penghuni yang lain keluar untuk melihat atau mengintip dibalik kelambu jendela.


"Apa-apaan sih kalian!" saat pintu terbuka, dibalik pintu berdiri seorang lelaki dengan rambut kusut memakai sarung tapi bertelanjang dada.


"Kamu apakan istrimu!" Ori berkacak pinggang dan menaikkan suaranya satu oktaf.


"Siapa mas?" terdengar suara dari dalam kamar.


"Bukan siapa-siapa, tidur saja kamu pasti capek," suara lelaki itu lembut menjawab pertanyaan dari wanita yang di dalam. Kelihatannya lelaki itu berusaha menutupi pintu yang sedikit terbuka dengan tubuh besarnya.


"Aku ingin lihat istrimu!" wajah Isun tegang kemerahan.


"Boleh, tapi biar dia pakai baju dulu."


"Dik, pakai baju. Anak pemilik kos mengira aku pukulin kamu," bicara sambil melirik kedalam.


"Iya, mas."


Kepala Isun seperti dihantam batu besar.


Apa...pakai baju dulu?! berarti dia sekarang???


Mata Isun membulat lalu dengan cepat dia menarik suaminya untuk kembali ke kamar.


"Maaf pak, nggak jadi," terus menarik sarung Ori


"Kamu apa-apaan sih, tarik-tarik sarung. Kita kan belum lihat keadaan istrinya," Ori berusaha menahan sarungnya.


"Maaf pak, maaf, kalau kamu nggak ikut aku masuk, aku porotin sarung kamu mas!" berbisik dengan nada mengancam.


"Iya...iya."


Sebelum pergi Ori masih sempat memperingatkan lelaki tetangganya itu, "awas kamu!"


Dengan cepat Isun menutup kamar dan kembali duduk diatas kasur sambil membuat gerakan mengipasi wajahnya.


"Mukamu merah, kenapa Sun?"


Dasar lugu masa gitu nggak tahu...!!–Isun.


"Panas ya, besok aku bawakan kipas dari rumah," mengulurkan tangan menyentuh dahi dan tangan Isun.


Secepat kilat Isun berjingkat sambil berteriak kecil, "ah...jangan sentuh aku!!"


"Kamu kenapa?" tanya Ori bergerak mendekat.


"Jaga jarak," teriak Isun lagi.


"Kamu kenapa sih?!" makin dekat.


Isun hanya bisa berteriak dalam hati.


Kamu polos apa bodoh sih mas...masa aku harus ngajarin kamu dulu. Aku kan pengen KDRT, kemesraan dalam rumah tangga. Lagian aku kan sama nggak pengalamannya, masa iya ngajarin kamu...!!

__ADS_1


...***...


__ADS_2