
Isun duduk di depan Jelly. Tangisnya bersisa sedu sedan.
"Jangan nangis mbak. Kasihan anakku, kalau mbak nangis, aku bakal pengen nangis juga. Ibu hamil nggak boleh sedih tahu mbak."
Isun menyusut air matanya, berusaha tersenyum meskipun itu palsu. Kandungan Jelly sudah besar, menurut perhitungan dokter sebentar lagi akan melahirkan. Jadi terbersit rasa bersalah di hati Isun.
"Maafkan mbak datang kesini dengan segudang masalah," melihat Nimas yang sedang tidur dengan nelangsa.
"Aku pernah bilang kan mbak. Kebahagiaan mbak yang utama, jangan setia pada laki-laki yang nggak setia."
"Lakukan saja apa yang mbak inginkan dan cita-citakan."
Isun sekali lagi melirik Nimas.
Cita-citanya sekarang adalah menjadikan Nimas sah secara hukum sebagai anaknya.
Jelly menyentuh tangan Isun lalu menggenggamnya erat, "percaya pada diri mbak sendiri. Karena kebahagiaan itu kita yang cari bukan karena pemberian orang lain."
Isun mengangguk, ada segunung harapan yang muncul di hatinya.
"Mbak mau pulang dulu. Jangan bilang mbak mampir kesini kalau mas mu tanya."
"Heeh," angguk Jelly.
Isun kembali mengangkat Nimas dalam gendongannya. Bahunya yang terasa ngilu tak dirasakan.
Dengan susah payah Karen perutnya yang membesar Jelly berdiri, "mbak tunggu sebentar," lalu pergi meninggalkan Isun heran.
Ketika Jelly kembali di tangannya ada sebuah troli bayi yang masih terbungkus plastik.
"Nimas sudah besar, pakai saja troli ini. Pasti pundaknya mbak sekarang berdenyut karena beban berat."
Isun kembali meneteskan air mata, dia menggeleng, "jangan, itu untuk anakmu."
"Ih, jangan menghina suamiku mbak. Bapaknya anak ini," menyentuh perutnya, "uangnya banyak," tangannya di dorong ke arah kakak iparnya, "nih."
"Terimakasih," Isun memeluk erat Jelly yang akhirnya membuat dua wanita itu menangis bersama.
Isun keluar dengan mendorong troli. Nimas terjaga belum lama. Dia begitu senang duduk di troli yang baru dirasakan.
"Jalan-jalan?" mata mungil itu berbinar.
"Iya, jalan-jalan."
__ADS_1
Isun memesan taksi online. Sebelum benar-benar pergi, dia mendengar Jelly yang berbisik.
"Pulang ya mbak. Kalau mbak nggak mau pulang, lebih baik mbak datang kemari. Ada satu kamar kosong yang bisa mbak tempati. Mas Gagah orangnya baik, dia pasti tidak akan keberatan. Lagi pula aku punya asisten rumah tangga. Jadi nggak perlu khawatir aku akan kerepotan," Isun mengangguk.
Di dalam taksi dia bingung mau kemana, tadi ketika driver nya bertanya Isun belum bisa menjawab.
Otaknya berkelana kemana-mana. Dia melihat jam yang melingkar di tangannya masih ada waktu untuk menghibur diri.
"Pak ke pasar malam ya."
"Baik mbak."
Isun memandang ke luar ke arah jalanan. Hari Minggu begini jalanan penuh sesak oleh mobil. Beberapa kali taksi yang ditumpangi Isun harus terjebak kemacetan.
Ketika sampai di lokasi pasar malam yang terkenal di kota, suasananya tak kalah ramai.
"Ibu, main-main," Nimas mengangkat badannya beberapa kali penuh semangat melihat berbagai jenis permainan anak-anak.
"Iya kita naik itu nanti ya," menunjuk salah satu permainan.
Isun mendorong troli perlahan, menikmati tawa anak yang dirawatnya. Keduanya menaiki beberapa wahana. Tawa si kecil yang ceria tak henti terdengar.
Setelah lelah bermain keduanya memasuki area puja Sera yang menjual berbagai macam jenis jajanan. Andaikan suaminya itu seperti laki-laki lain, betapa bahagia hatinya. Berjalan layaknya keluarga kecil bahagia.
Taksi berhenti di depan pagar rumah saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Ternyata cukup lama juga dia dan anaknya tadi jalan-jalan.
Malam ini dia ingin tidur tenang. Tidak ingin berdebat apalagi ribut dengan suaminya. Isun melangkahkan kakinya masuk perlahan hampir tidak bersuara.
Ori tidak terlihat di ruang tamu, atau di ruang tengah. Tempat terakhir yang belum dilihat hanya kamar.
Sebelum masuk dalam kamar Isun memutuskan untuk mencuci kakinya lebih dulu. Kata orang tua kalau baru datang dari bepergian itu ada setan' yang nempel, jadi mudah marah.
Setelah membersihkan diri, dia mengangkat Nimas dari troli bayi pemberian Jelly tadi, menggendongnya baru membuka pintu yang terbuka sedikit.
"Dari mana kamu?" ternyata benar suaminya ada di dalam kamar.
Sabar, jangan emosi, kendalikan diri, "dari jalan-jalan mas."
Bergerak mendekat lalu membaringkan Nimas di ranjang.
"Dari mana?" Ori mengulangi lagi pertanyaannya, sementara Isun menunda acara ganti baju selama suaminya itu masih berada dalam kamar.
"Pasar malam," haruskan dibicarakan sekarang saja...
__ADS_1
"Ada yang ingin aku bicarakan mas."
"Aku ingin menjadikan Nimas sah sebagai anakku di mata hukum."
"Kamu!!" suara Ori meninggi.
"Ssstt...," Isun meletakkan satu jari di depan bibirnya, matanya melirik Isun yang masih lelap, "tolong tahan suaramu mas, aku akan menuruti semua maumu."
"Benarkah? termasuk menikah lagi?"
"Iya termasuk menikah lagi."
Senyum segera muncul di wajah lelaki yang masih suaminya itu. Hati ini rasanya teriris melihat betapa bahagia lelaki itu ketika diijinkan menikah lagi.
"Sayang."
Sayang...? kata-kata itu membuat perutnya tiba-tiba mual.
"Kamu ingat nggak kaan terakhir kita melakukan itu?"
Apa maksudnya? apakah hubungan badan suami istri? entah dia sendiri lupa. Ranjangnya ini terasa dingin sejak lama.
"Maaf mas, tubuhku lelah. Tadi aku harus menggendong dan mendorong Nimas kemana-mana."
Isun tidak lagi berselera, apalagi telanjang di depan suaminya.
"Aku akan menandatangani berkas apapun yang kamu butuhkan untuk melegalkan status anak itu asal kau mau melayaniku sekarang."
Isun tersenyum sinis. Sekali lagi hatinya hancur, apakah ini jalan yang harus dipilih? Pasti nantinya dia akan banyak membutuhkan persetujuan dari suaminya ini. Banyak juga yang harus diurus, belum lagi mondar-mandir ke pengadilan dan sebagainya.
Baiklah, dirinya hanya harus diam bukan. Tiduran dan membuka pahanya lebar-lebar. Hanya itu, kan...
"Bagaimana?"
"Baiklah."
Ori benar-benar memanfaatkan keadaan. Dia menerkam Isun dengan ganas. Sementara Isun tetap berusaha melayani agar suaminya itu tidak curiga.
Semua terasa hambar, tapi Isun tetap mengeluarkan suara layaknya dia orang yang sedang berhubungan badan. Or_gasme palsu juga dia lakukan dengan akting yang luar biasa. Dia tahu rumah tangganya ini telah hancur, tapi masih ada satu hal yang ingin dia lakukan. Paling tidak kelak dalam data-data legal Nimas akan ada nama ayah dan ibu.
Malam itu berlalu dengan menjijikkan. Sementara Ori memuaskan nafsunya, Isun menangis panjang di kamar mandi karena merasa jijik dengan dirinya sendiri. Keinginannya untuk menyelamatkan pernikahan ini pupus sudah.
Hanya satu harapannya kelak. Dia akan bisa menggapai bahagia itu meskipun jika harus hidup berdua saja dengan Nimas anak angkatnya.
__ADS_1
...***...