
Ori duduk diatas tikar yang digelar dibawah. Sementara bapak duduk diatas tempat tidur sambil bersendekap dan menatap tajam.
"Jadwal hari ini!" ujar bapak dengan suara sedingin es.
"Bebas, kamu boleh melakukan apa saja yang kamu mau. Kamu boleh tidur, baca buku, makan, santai apa saja."
Setelah diam sejenak bapak melanjutkan, "larangannya hanya satu, dan larangan ini berlaku selama kau tinggal disini."
Ori menggut-manggut, pura-pura menerima padahal dalam hatinya ketar-ketir apa gerangan larangan untuknya.
"Kamu tidak boleh mendekati anakku!"
Duarrr...rasanya seperti petir menyambar memekakkan telinga. Kalau tidak boleh dekat buat apa dia disini?!
Hebatnya kali ini Ori berhasil mengendalikan diri, dia tetap tenang dan mendengarkan sambil manggut-manggut.
"Peraturan itu berlaku mulai sekarang. Jangan berani-berani mendekati wilayahku, paham!!"
"Paham pak," pelan...sekali suaranya.
"Paham nggak!! bicara yang keras!"
"Maaf pak, paham pak!" tanpa sadar Ori menegakkan tubuh dan meluruskan pandangan walaupun sambil duduk.
Jadi merasa seperti perpeloncoan siswa baru begini. Padahal dia mantu baru pun bukan, kalau mantu lama iya...
"Satu lagi...," Ori mengangguk cepat tanpa suara. Sesekali matanya melirik lalu kembali melihat lurus kedepan.
"Letakkan tasmu itu, aku tidak akan mencuri secuil barangmu pun dari situ."
Gugup Ori melihat tas yang masih dipeluknya sambil mengangguk dia meletakkan tas itu diatas tikar di sebelah tubuhnya, "iya pak, lupa soalnya sudah kangen pengen meluk-meluk, tapi yang bisa dipeluk cuman tas ini."
__ADS_1
Ibu yang berdiri di belakang pintu setengah mati menahan ketawanya. Sedangkan bagi Isun ini tidak lucu sama sekali, jadi dia tersenyum pun tidak.
"Ibu kenapa senyum-senyum," satu pukulan pelan mengenai lengan ibu.
"Kamu khawatir suamimu dimakan sama bapakmu?"
"Nggak mungkin, bapakmu nggak suka makan orang, sukanya nasi."
"Ih nggak lucu ibu," menjawab sambil melengos.
Malam berlalu cepat, pagi sekali bapak sudah berisik dalam kamar. Beberapa kali terdengar suara duk...duk.
Isun membuka telinganya lebar-lebar mendengar suara gedebukan dari kamar bapak. Sampai ibu pun ikut terganggu.
"Kamu kenapa sih, pagi-pagi sudah gelisah?" tanya ibu kesel.
"Bu, ada suara berisik dari kamar bapak. Suamiku diapain ya Bu?!"
"Emang suamimu diapain, tidur ah, subuh masih tiga puluh menit lagi."
"Mau ke kamar bapak."
Eh...ini anak.
"Percaya sama bapak," ibu menahan tangan Isun.
Isun menghela napas, dia berhenti dan kembali duduk di pinggir tempat tidur.
Setelah matahari bersinar terang, dengan tergesa Isun mengintip kamar bapak, kosong, tidak ada orang.
Karena terkejut melihat kamar kosong, Isun berlari ke dapur, "Bu, bapak sama mas Ori nggak ada di kamar."
__ADS_1
"Bapakmu ngubur badan suami kamu yang sudah dimutilasi kali..."
"Ibu...Hua...Hua...." tiba-tiba suara jeritan Isun terdengar nyaring, dia menangis meraung sambil duduk di lantai.
"Eeee...kamu kenapa, malah nangis kaya gitu, malu Sun...malu."
"Isun nggak malu, Isun sedih...sekarang Isun jadi janda. Yang bunuh suami bapak Isun sendiri. Huaa....huaaa."
Anakku sudah nggak waras–ibu.
"Gila...gila," ibu memukul lengan Isun kuat-kuat. Se stres apa sih anak ini.
"Bapak yang gila kenapa suami Isun dibunuh sama bapak, tega banget bapak sama anaknya sendiri..."
"Isun kan masih cinta, Hua...Hua...," badan Isun membelakangi pintu belakang. Sedangkan disitu berdiri bapak dan Ori bengong lihat tingkah anak dan istrinya.
"Isun kan masih cinta sama mas Ori..."
Dia cinta sama aku–Ori sambil senyum-senyum nggak jelas.
Dasar anak gila– bapak. Gagal sudah rencana memberi pelajaran pada anak menantunya.
"Apa senyum-senyum!" tiba-tiba bapak berteriak sambil melotot pada Ori.
Bapak...Isun berputar hampir berteriak tapi tidak jadi karena melihat lelaki yang dia tangisi berdiri disana dalam kondisi segar, bugar tidak kurang suatu apa.
Tangis wanita muda itu seketika berhenti. Air matanya langsung kering. Dengan kikuk dia merapikan baju dan bergegas pergi dari dapur.
"Sayang...sayang..." sebenarnya Isun mendengar teriakan suaminya tapi diabaikan karena malu setengah mati.
"Apa sayang-sayang!" bapak mengambil kerah baju Ori dari belakang lalu menahannya agar lelaki itu tidak menyusul istrinya, "mau kemana kamu, pekerjaan kita belum selesai!"
__ADS_1
"Sayang...!" makin lama teriakannya makin menghilang. Bapak terus menyeret kerah bajunya hingga kembali ke kebun belakang.
Sementara itu ibu tertawa terpingkal melihat tingkah suami, anak dan menantunya, "kapan sih mereka mau dewasa?"