Suami Benalu Banyak Gaya

Suami Benalu Banyak Gaya
Episode 43. Kekasih Dunia Maya.


__ADS_3

Hidup terus berjalan. Nimas makin lengket dengan Isun. Ternyata memang anak itu selama ini sering dititipkan ke orang lain. Kadang tetangga kadang juga kerabat seperti dirinya. Apalagi sejak memiliki adik kebutuhannya makin tidak diperhatikan.


Tidak banyak hal berubah. Ori tetap menolak merawat Nimas. Hanya di hari pertama saja dia mau menjaga gadis mungil itu, tetapi tidak di hari-hari berikutnya.


setiap hari Isun akan membawa Nimas untuk dtitipkan di tempat penitipan anak. Ketika pulang bekerja dia akan mengambil gadis kecil itu dan mengajaknya serta untuk pulang.


Akhir-akhir ini Ori memiliki kebiasaan baru yang membuat Isun curiga. Setiap malam laki-laki itu melihat ponselnya dalam gelap. Sering Isun lihat selimutnya bercahaya.


"Jangan terlalu sering lihat hape kalau malam."


"Bukan urusanmu."


"Urus saja anak pungutmu itu!"


Kata-katanya menusuk hatiku, menyakitkan, tetapi Isun memilih untuk diam.


Esok pagi ketika bangun Ori memanggil Isun mendekat. Lelaki itu memasang tampang serius. Sepertinya dia memang sengaja mencari waktu untuk berbicara.


Sekarang mereka duduk berhadapan, "ijinkan aku menikah lagi."


Netra Isun membulat, hatinya terasa tiba-tiba membeku. Aliran darahnya tiba-tiba berhenti, anggota tubuhnya tak mampu digerakkan.


"Aku sudah punya calon, kami beberapa kali bertemu melalui sosial media."


Sialnya telinga Isun memiliki dua lubang kanan kiri yang sempurna. Maunya ingin mengabaikan tetapi kalimat suaminya masuk dalam adegan lambat. Perlahan karenanya semua jelas terdengar.

__ADS_1


Bahkan bibirnya yang ingin mengumpat menjadi kaku dan kelu.


"Aku hanya memberi tahu, bukannya meminta izin. Kamu setuju atau tidak setuju aku akan tetap melanjutkan rencana ku."


"Sejak awal aku sudah bilang kau boleh merawat anak itu, tapi kamu harus mengijinkan aku menikah lagi. Ini bukan lagi penawaran. Aku hanya memberitahu, jadi kamu tidak bisa menolak meski tak suka."


Pandangan Isun kosong. Dia menarik napas dalam. Belum juga melalui lima tahun rumah tangganya sudah harus menghadapi masalah seberat ini.


Menikah lagi? siapapun wanitanya mana ada yang mau dimadu.


Setelah berhasil mengendalikan emosi, Isun berdiri. Kakinya melangkah gontai menuju kamar. Ori kembali sibuk dengan ponselnya sambil sekali-sekali tertawa kecil.


Dipandangnya Nimas dari pinggir kasur. Dimana letak kesalahannya, apakah pada anak yang sekarang masih tidur nyenyak ini. Atau dari diri sendiri kurang pandai melayani suami.


Tak terasa air mata mulai mengalir membanjiri pipi mulusnya. Apakah dirinya kurang cantik, nggak pernah dandan?


Apa tadi dia bilang? berkenalan secara online? hebat sekali. Bahkan bercinta pun bisa melalui online.


Ah, iya...hampir lupa, dia dulu juga berkenalan dengan Ori melalui Online juga bukan?! Sekarang hal itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya.


Isun membangunkan gadis kecil yang sedang lelap itu. Diambilnya tas perlengkapan untuk Nimas. Dia memasukkan susu dan sepasang baju untuk ganti.


Hebatnya lagi, meskipun baru membuka mata kesadaran Nimas langsung penuh. Betapa menurutnya anak itu ketika Isun memakaikan jaket dan sepatu.


Agar tidak terlalu lama Isun langsung menggendong bayi sembilan bulan itu menggunakan selendang. Untung saja Nimas bukan termasuk anak yang gendut.

__ADS_1


Tanpa mengucap sepatah kata, Isun melewati suaminya begitu saja.


"Mau kemana kamu?" tanya Ori dari sofa tempatnya rebahan.


Isun tidak menjawab dia hanya terus melangkah pergi.


"Mau kemana kamu!" entah kapan Ori beranjak dari sofa tetapi tangannya dicengkeram dari belakang.


"Kamu mau apa mas?" rasanya lelah sekali, dia hanya ingin pergi sebentar.


Tang Isun ditarik dengan kasar. Lalu dihentakkan hingga wanita itu hampir jatuh terjerembab.


"Maumu apa sih mas?!" teriak Isun. Wanita itu lupa kalau di pinggangnya sekarang ada anak kecil. Teriakannya membuat Gadis kecil itu menjerit ketakutan.


Isun tidak bisa lagi menahan air matanya, napasnya tersendat di tenggorokan karena menahan tangis.


"Biarkan aku pergi," Isun dan Nimas menangis bersamaan.


Isun kembali melangkah keluar. Kali ini Ori tidak mencegahnya. Tangisan dua wanita di depannya kini membuat telinganya sakit.


"Pergi sana...pergi...tidak usah pulang lagi!' teriaknya.


Beberapa tetangga mulai terlihat mengintip dari balik rumah masing-masing. Isun berjalan setengah berlari. Penglihatannya buram, matanya yang berkabut karena air mata yang menggenang.


Satu-satunya tempat yang ada di benaknya sekarang adalah rumah Jelly, adik iparnya. Dia ingin menangis, mengadu, berbagi duka dengan Jelly.

__ADS_1


...***...


__ADS_2