
Isun merintih kesakitan. Sakit di bagian bawah perutnya beratus kali lipat dari biasanya. Sebenarnya ingin menelepon ibu tapi diurungkan, dia tidak mau ibu malah kepikiran.
Sebentar tadi Isun sempat pingsan lagi. Meskipun sakitnya berkurang tapi tetap saja rasanya jauh lebih sakit dari nyeri menstruasi yang biasa dia alami.
"Kamu membuat aku malu Sun."
"Kenapa tadi pakai tekan bel, kan aku sudah bilang istighfar, pasti sakitnya berkurang."
"Aku kan tidak tahu apa yang kamu rasakan. Jadi waktu dokter tanya ya aku bilang nggak tahu...nggak tahu, wajahnya dokter itu berubah, melihat aku seperti suami yang nggak tanggung jawab."
ehmmm sakit...kenapa selalu ngoceh kalau pas aku sakit.
"Sekarang kamu bilang, apa yang kamu rasakan. Jadi nanti kalau ditanya-tanya lagi aku bisa jawab."
Sejak tadi aku sudah bilang, tapi kamu nggak peduli...
Isun makin merapatkan selimutnya. Tubuhnya ditekuk untuk mengurangi nyeri perut yang dia rasakan.
Kalau ada ibu pasti ibu akan mencarikan kompres hangat untuk perutnya.
"Kamu ditanya malah diam nggak mau jawab, maumu apa sih Sun. Kamu sengaja ya membuat aku tidak disukai orang lain!"
Aduh mas...ini rumah sakit, jangan berisik, lagi pula mana panggilan sayang buatku.
"Ah, iya Sun, aku sudah siapkan uang yang kamu pinjam dari koperasi pegawai. Besok bisa kamu kembalikan."
Iya... Alhamdulillah, tapi bukan itu yang penting sekarang.
"Sun, kamu masih hidup kan?" Ori meletakkan tangannya di depan hidung Isun.
"Kamu apaan sih mas. Biarkan aku istirahat, kalau kamu nungguin, diam, jangan banyak bicara. Perutku tambah sakit dengerin kamu ngomel terus dari tadi."
"Ya sudah aku keluar dulu. Bosan disini lihat istri kesakitan nggak bisa diapa-apain."
Ori keluar kamar, entah kemana Isun tak peduli. Lebih baik sendiri dari pada mendengar orang ngomel saat kita sendiri sedang menahan sakit.
Sepeninggal Ori ada wanita yang tiba-tiba saja memanggil, entah dari mana asalnya.
"Mbak?" Isun melirik sekilas. Wanita itu berdiri dibalik kelambu.
"Iya," berusaha tersenyum meskipun itu sulit.
"Perutnya masih sakit?"
__ADS_1
Isun mengangguk, "mbak siapa?" perasaan dia tidak ada orang masuk melalui pintu.
"Saya yang nunggu pasien sebelah mbak."
Lo...ternyata ada pasien juga di sebelah. Karena sejak awal kelambu pembatas tertutup jadi Isun tidak tahu kalau dia punya teman sekamar.
"Maaf saya tidak tahu."
Mereka yang terlalu tenang, atau dia yang terlalu fokus pada rasa sakit yang menyerang.
"Kami berusaha tidak banyak bersuara mbak. Ibu saya juga sedang tidur. Saya dengar perut mbak masih sakit kan?"
Wanita itu menyerahkan sebuah kantong karet yang berisi air hangat, "ini kompresan milik ibu. Nyeri yang dirasakan ibu sudah baikan, siapa tahu perut mbak baikan kalau dikompres."
Alhamdulillah...masih ada orang yang memperhatikan.
"Terimakasih."
Isun menerimanya dan segera menempelkan kantong karet itu diatas perut. Entah bagaimana rasa hangat yang tersalurkan mengurangi nyeri yang dia rasakan tadi.
"Bagaimana?"
"Hangat, nyeri nya juga banyak berkurang."
Isun mengangguk, "terimakasih bersedia membantu."
"Saya balik dulu."
Untungnya tepat ketika Ori masuk, wanita sebelah sudah kembali ke balik kelambu.
"Aku tadi di panggil perawat, kamu musti USG."
"Seperti orang hamil saja di USG."
"Mereka nggak bilang kenapa aku harus USG?"
Isun berusaha duduk meskipun bersusah payah.
"Nggak."
"Aku sempat tanya, butuh biaya lagi nggak? katanya nggak semua sudah ditanggung pihak asuransi. Ya sudah karena tidak membayar lagi, aku iya kan saja."
"Bukan itu mas, yang aku ingin tahu, mengapa dokter memutuskan untuk melakukan tindakan USG padaku."
__ADS_1
"Pertanyaanmu aneh Sun. Ya tentu karena sakit yang kamu rasakan itu nggak ilang-ilang."
iya juga ya....
"Sekarang kamu siap-siap, aku akan mendorongmu, kita ditunggu sama perawat."
Proses pemeriksaan membutuhkan beberapa saat. Tidak menyakitkan waktu diperiksa, tapi ketika mendengar vonis dokter, hati Isun terasa hancur lebur jadi debu.
"Ada massa di rahim ibu."
"Massa, dokter?"
"Ya, tumor."
Isun lemas sementara mata Ori menyala.
" Tumor di rahim, apakah karena itu saya belum punya anak."
"Bisa saja tetapi belum tentu juga. Kalau melihat posisi tumor nya harusnya ibu masih bisa punya anak."
Isun bernapas lega, "jadi saya masih punya kemungkinan untuk memiliki anak kan dokter?"
"Harusnya masih."
"Wong ada tumor di rahim kok pengen punya anak. Kalau sampai sekarang kita tidak punya anak itu ya karena kamu mandul Sun. Wong perut ada penyakitnya kok berharap punya anak."
Dokter yang duduk di depan pasangan suami istri itu mengerutkan dahinya. Suami apa-apaan ini. Harusnya memberi dukungan, semangat dan kekuatan, ini malah menjatuhkan. Wajah Isun pias karena mendengar ucapan suaminya.
"Maaf pak, kalau masalah belum memiliki keturunan itu banyak faktor yang berpengaruh. Bisa saja malah bapak yang menyebabkan kalian berdua belum punya anak."
"Bisa saja bapak yang menyebabkan belum punya anak."
"Enak saja kalau bilang. Aku sehat dok, dia itu yang penyakitan."
Wah, ini sih suami yang bisa membuat istri patah hati, dari tadi bicaranya ngawur terus.
"Baik nyonya, yang penting kita tangani dulu. Saya akan menjadwalkan operasi pengangkatan tumor dari rahim nyonya."
"Dan untuk suaminya...seharusnya anda memberi dukungan untuk istri anda, agar proses operasi berjalan lancar. Karena dukungan keluarga sangat penting di saat+saat seperti ini. Anda ingin cepat punya keturunan bukan, karena itu tumor yang ada di rahim istrinya harus segera diangkat."
Saat ini berkelebat bayangan bapak sama ibu. Segera setelah dokter yang tadi menjelaskan pergi, Isun mengambil ponsel dan menghubungi orang tuanya.
Dia tidak mau merasa sendirian menghadapi semua ini. Membayangkan hanya berdua dengan suaminya menghadapi masa sulit membuat Isun bergidik.
__ADS_1
...***...