Suami Benalu Banyak Gaya

Suami Benalu Banyak Gaya
19. Hari Roller Coaster


__ADS_3

Isun membuka mata. Di sekelilingnya melingkar horden pembatas berwarna hijau. Hal terakhir yang diingat, dia ambruk tepat di depan suaminya.


Melirik ke sisi kiri ranjang rumah sakit tempat dia berbaring. Suaminya duduk dengan muka ditekuk.


Bisa dia dengar dengan jelas saat beberapa saat lalu Ori menggerutu, "benar-benar menyusahkan."


Sekarang dia bilang menyusahkan, lalu beberapa Minggu lalu siapa yang mengucapkan terimakasih, memanggil sayang, sampai memberi hadiah barang mewah pula.


Betapa sesak hati Isun kalau ternyata ada uang adik sayang, uang sudah ditangan adik ditendang.


Hari ini memang begitu melelahkan. Apalagi sekarang adalah menstruasi hari pertama baginya.


Mood nya naik turun. Sejak pagi suaminya rewel. Alasan sibuk dipakai untuk membuat Isun terburu-buru.


Pagi-pagi minta dibuatkan kopi panas, satu hal yang tak pernah diminta selama ini. Sarapan minta ayam goreng. Padahal Isun tidak memiliki persiapan untuk bahan-bahan itu. Untungnya hari ini ada pelajaran olah raga pada jam pertama. Jadi Isun bisa menitipkan muridnya kepada guru olah raga.


Sampai di sekolah pun begitu. Sebuah peristiwa yang menguras energi dan emosi karena ulah peserta didiknya yang enggan sekolah, benar-benar menguji kesabarannya.


Hari, salah satu murid Isun sedang berdiri di depan pagar sekolah. Kakaknya yang mengantar bingung harus bagaimana. Tangan sang kakak sudah mengayun keatas dengan menggenggam sebuah helm.


Isun berlari keluar setelah dipanggil penjaga sekolah. Di depan pagar Hari sedang menangis histeris.


"Mbak...," teriak Isun, "letakkan helmnya."


Isun menyambar helm yang letaknya sudah tinggi di udara.


"Jangan dipukul adiknya," napas Isun terengah-engah.


"Ayo masuk sama Bu Guru."


"Nggak mau," anak kelas tiga itu memegang erat tiang listrik yang kebetulan berdiri tegak di pinggir jalan.


Tubuh mungil itu bergelayut erat ketika sang kakak berusaha menarik dan memaksanya masuk ke dalam sekolah.


"Mbak sudah, biarkan dulu adiknya."


Isun memeluk Hari dari belakang sambil duduk dengan tumpuan lututnya.


"Kenapa kamu tidak mau masuk nak?"


Hari menggeleng.


"Minta uang saku banyak Bu," seru kakaknya marah.


"Mbak pulang saja. Biar Hari masuk sama saya."


Hari mulai kembali panik, anak itu berusaha melepaskan pelukan Isun, mendekati kakaknya dan memegang erat jok motor bagian belakang.


"Pulang...pulang," teriak Hari histeris. Dia melompat-lompat menolak untuk melepaskan tangannya.


"Mbak tinggal saja."


"Pak No tolong saya membawa Hari ke dalam kelas." teriak Isun pada penjaga sekolah.


"Baik Bu, saya pulang dulu."

__ADS_1


Isun memegang perut Hari. Sedangkan Pak No memegang kakinya. Hari terus berontak dan berteriak. Setelah berhasil melepaskan tangan hari yang erat memegang jok belakang motor. Isun dan penjaga sekolah mengangkat anak itu menuju ruang guru.


Perlahan Hari mulai ditenangkan. Mungkin anak itu tahu kalau dia tidak memiliki pilihan selain diam dan menurut. Tangisnya juga reda.


"Bu Isun masuk saja dalam kelas, nanti kalau sudah tenang, anak ini saya antar ke kelas."


Salah satu rekan guru bersedia membantu menenangkan Hari yang sedang tantrum. Jadi ingat Pak suami kalau lihat ada orang yang ngambek karena keinginannya tidak di turuti.


Biar Hari diatasi orang lain dulu. Isun masuk ke kelasnya mengambil data siswa untuk mengecek profil data anak didiknya yang sekarang sedang marah itu.


Ah, ya Tuhan ternyata pekerjaan orang tua hari adalah tukang angkut sampah. Bagaimana dia bisa menghubungi dalam situasi seperti ini, bahkan no hape pun dalam data siswa tersebut tidak ada.


Akhirnya Isun kembali ke ruang guru untuk menghampiri Hari. Tapi sebelumnya dia memberi tugas terlebih dahulu pada muridnya yang ada di dalam kelas.


Pak Guru olah raga masih duduk di sebelah Hari. Sedangkan Hari sudah tenang, tangisnya pun sudah berhenti.


"Saya tinggal ya Bu, saya harus mengajar."


"Iya pak, terimakasih."


Isun mendekati Hari, dia duduk di sebelahnya agar lebih mudah berkomunikasi. Tangan hari di genggam, meskipun Isun tahu kalau Hari enggan diberi perhatian, tapi Isun tetap mencoba untuk berbicara dari hati ke hati.


"Hari."


Yang dipanggil hanya melirik sedikit.


"Sudah makan pagi?"


Tidak ada jawaban.


"Mau dibelikan Bu Guru sarapan?"


"Kalau mau, di kantin ada nasi kuning yang enak. Mau dibelikan buat sarapan?"


Hari mengangguk. Baiklah, awal yang bagus.


"Mau disini atau ikut ke kantin?"


"Ikut," suaranya hampir tak terdengar.


Isun mengulurkan tangannya. Hari menolak, tapi kakinya mengikuti Isun berjalan ke kantin.


Isun membeli dua kotak nasi kuning. Satu untuk Hari satu dan lagi untuk dirinya sendiri. Sambil makan Isun mencoba berkomunikasi. Karena Isun hukum sebab akibat itu nyata adanya.


Kalau anak muridnya bersikap memberontak pasti karena suatu hal.


"Kenapa tidak mau sekolah?"


Yang ditanya hanya diam sambil terus menikmati nasi kuning di depannya.


"Benar tidak mau sekolah karena uang sakunya kurang?"


Hari menggeleng, "saya tidak pernah sarapan di rumah."


Satu kotak kecil nasi kuning tandas dimakan siswa kelas tiga itu.

__ADS_1


"Mau nambah?"


"Boleh Bu guru?" matanya berbinar ketika berusaha memastikan boleh atau tidak boleh.


Sambil tersenyum Isun mengangguk lalu dia mengambil lagi satu kotak nasi kuning yang lain.


Dengan sigap Hari membuka nasi kuning itu dan memasukkan suapan pertama ke mulutnya.


"Saya sering lapar kalau di sekolah. Tapi uang saya selalu kurang buat beli ini."


Jari-jari mungil yang ujung-ujung kukunya hitam itu menunjuk nasi yang sedang dia makan.


"Nanti biar Bu guru bilang sama ibu kamu ya, agar menyiapkan sarapan buat kamu."


Hari memandang Isun dengan pandangan muram.


"Jangan, kadang ibu nggak punya beras buat masak."


"Kemarin saya lihat ibu punya uang di dompet, makanya tadi pagi saya minta uang saku lebih banyak buat beli nasi kuning. Sekali-kali saja Bu...saya ingin beli."


Ah...ternyata masih banyak kesulitan yang dialami orang lain di sekitar kita karena hal sepele seperti ini.


"Baiklah, Bu guru punya jalan keluar. Kamu musti belajar rajin, nggak boleh bolos sekolah. Kalau dalam satu minggu setiap hari masuk tanpa absen, Bu guru akan membelikan kamu nasi kuning ini sebagai hadiah."


"Tapi, hari nggak boleh minta tambahan uang saku lagi. Bu guru janji, akan bicara sama ibunya Hari baik-baik."


Mata redup itu langsung berbinar. Cahaya luar biasa indah.


"Tapi ibu saya jangan dimarahi ya Bu..."


"Nggak akan, sekarang kita masuk kelas ya...kamu sudah ketinggalan pelajaran hari ini."


Eh, la kok sepulang mengajar sampai rumah, nyeri perut mulai menyerang. Mungkin karena kelelahan tadi waktu memaksa Hari masuk kelas. Belum lagi permintaan suaminya yang membuatnya lari-lari, nyeri perut yang biasanya langsung hilang kali ini berkurang pun tidak.


"Masih sakit perutmu?" tanya Ori dengan wajah masam ketika tahu istrinya sudah bangun.


Harusnya tanpa bertanya suaminya itu langsung tahu, dari wajah dan bibirnya yang pucat.


Ya Tuhan kenapa nyeri perut ini tidak mau hilang, padahal sudah minum obat, infus juga sudah terpasang.


"Mas...panggilkan dokter, sakit mas..."


"Kamu ini, istighfar, jangan sedikit-sedikit mengeluh."


"Mas...aku benar sudah tidak tahan lagi."


"Jangan bikin malu Sun, istighfar!" titah suaminya memasang wajah tak terbantahkan seperti biasanya.


Ah, Ya Allah...


Susah payah Isun bergerak mengangkat tubuhnya agar bisa meraih bel untuk memanggil perawat. Perutnya seperti disobek dan dirajam dengan ribuan jarum.


"Sun..."


"Tolong mas...diamlah!"

__ADS_1


Isun kembali pingsan ketika perawat dan dokter datang. Yang membuat petugas medis jengkel, Ori hanya menjawab dengan kata tidak tahu pada semua pertanyaan yang diajukan dokter. Dasar suami tak berbudi...


...***...


__ADS_2