
Bapak mengendarai mobil dengan hati-hati. Isun duduk di tengah dalam pelukan ibu. Tangisnya reda, hatinya tenang. Melihat bapak dan ibu ada untuknya, membuat Isun tak merasa sendiri.
Dengan menggunakan ponsel ibu, Isun memperpanjang ijin di sekolah tempatnya mengajar. Lagipula dia memang ijin cuti selama satu bulan. Mengingat operasi yang dijalaninya termasuk operasi yang cukup besar, maka pemulihan lukanya memang memakan waktu cukup panjang.
"Kamu baik-baik saja?" tanya ibu, "apa yang terjadi?"
Isun melirik ibunya, berusaha untuk menyamarkan ekspresi.
"Isun baik-baik saja Bu," bibirnya merekah memberikan senyum palsu untuk menutupi masalah sebenarnya. Meskipun ibu bisa melihat itu tapi ibu diam dan tak bertanya lagi.
"Tuh dengar pak, anak kita baik-baik saja."
"Kalau dia baik-baik saja, dia tidak akan tidur di lantai dengan mata basah."
Setelahnya perjalanan diliputi kesunyian sampai akhirnya mobil memasuki pelataran rumah.
Turun dari mobil bapak tidak membiarkan Isun berjalan. Dengan sigap bapak mengangkat tubuh anaknya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Bapak, Isun bisa jalan sendiri. Turunkan Isun..."
"Diam, wong nggak punya tenaga kok mau jalan sendiri!"
Bapak menurunkan Isun tepat diatas tempat tidur. Danu mengekor sejak dia tahu mbaknya sampai.
"Kamu disiksa sama suamimu mbak?"
Tidak mendapat jawaban malah menerima cubitan di paha dari ibu.
"Aduh...! sakit Bu..." teriak Danu nyengir kesakitan.
"Kalau ngomong jangan sembarangan, tutup mulutnya kalau nggak tahu apa-apa."
"Danu cuman tanya Bu..."
"Masa iya tanya bisa salah."
Bapak meletakkan tas di almari. Wajahnya masih merah karena marah. Ibu memberi kode pada Danu untuk diam, kalau mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti itu, ibu khawatir kemarahan bapak meledak lagi.
"Jadi bener mbak kamu disiksa sama suamimu?" bicara sambil melirik wajah bapak. Pasti bener, kalau nggak bapak nggak akan menampilkan wajah sangarnya seperti itu.
Ibu menepuk mulut Danu, "ih diberi tahu diam...diam, kamu ini keluar sana!"
__ADS_1
Sambil setengah memaksa ibu mendorong tubuh anak lelakinya keluar dari kamar Isun.
"Mbak, kalau kamu disakiti sama suamimu bilang, aku bakal ngehajar laki-laki kurang ajar seperti dia," disuruh diam malah teriak-teriak si Danu.
"Biarkan anakmu, dia memang punya kewajiban buat menjaga mbaknya."
Entah kapan membuatnya, tapi bapak masuk lagi sambil membawa secangkir teh hangat.
"Kita belum tahu yang sebenarnya pak, jangan suka berasumsi."
"Tck...minum Sun, istirahat yang nyaman. Sekarang kamu ada di rumah orang tuamu. Jangan pikirkan lain-lain," bapak masih berdiri di sebelah meja, tapi pandangannya menatap Isun teduh.
"Urusan suamimu, kamu pikirkan lagi nanti. Bapak sama ibu tidak akan memaksakan kehendak. Tapi kamu perlu tahu, buat kami kebahagiaanmu adalah nomor satu," lalu bapak keluar kamar. Tak lama kemudian terdengar pintu kamar lain ditutup.
Ibu membelai rambut Isun, "apa yang terjadi nak, kamu boleh menceritakan semuanya pada ibu."
Isun tersenyum, "biarkan Isun istirahat ya Bu, nanti...nanti kalau Isun sudah tenang, Isun akan cerita."
"Heeh," jawab ibu mengangguk, "tapi sebelum ibu meninggalkan kamu untuk istirahat, jawab dulu satu pertanyaan ibu."
"Apa Ori menyiksamu secara fisik?" tanya ibu lembut. Kalau anaknya menjawab iya, tak perlu menunggu Isun meminta, ibu akan memisahkan keduanya.
"Nggak, bu."
"Bu!" Danu mengikuti ibu ke dapur. Ibu yakin Isun belum makan sejak siang.
"Hemm."
"Mbak disiksa sama suaminya, Bu?"
Danu ini memiliki sifat seperti bapak. Dia tenang cenderung tidak peduli. Tapi kalau sudah berhubungan dengan keluarga, emosinya mudah sekali tersulut.
Dan memang sejak awal ada rasa tidak nyaman yang Danu rasakan ketika Isun menikah. Terlalu terburu-buru tanpa mengenal pribadi masing-masing. Apalagi keanehan kebiasaan Ori ketika pernikahan memang jelas terlihat.
"Nggak, mbak nggak disiksa."
"Kadang dlm sebuah pernikahan hal seperti ini terjadi, ada ketidaksesuaian pendapat, percekcokan, itu sudah biasa. Menurut ibu hal itu jadi salah satu cara untuk lebih saling mengenal."
Danu bernapas lega, "awas saja kalau laki-laki itu menyakiti mbak, habis dia berhadapan sama aku."
"Mau kemana kamu?" tanya ibu waktu melihat anaknya itu berjalan masuk ke ruang tengah, "jangan ganggu mbakmu, belajar sana," teriak ibu sebelum anaknya tidak terlihat dari dapur.
__ADS_1
...***...
Ori berhenti di depan rumah. Dia melihat pintu rumah yang terbuka lebar tapi tidak ada satu penerangan pun yang dinyalakan.
Rumah tampak gelap. Baik itu di teras ataupun di dalam. Hatinya berdenyut lagi, kesal lagi dengan istrinya.
Sembrono sekali Isun membiarkan rumah dan pagar terbuka lebar, bagaimana kalau ada maling masuk rumah.
Maling...maling, seperti disadarkan akan sesuatu, Ori bergegas masuk. Motornya diletakkan begitu saja.
Kalau benar ada maling, bagaimana keadaan Isun. Apakah dia baik-baik saja? Apalagi tadi mereka habis berdebat dan beradu argumen. Apa yang akan dia katakan pada ibu terutama bapak mertuanya kalau terjadi sesuatu.
"Sun," sambil berjalan masuk Ori menghidupkan satu persatu lampu yang ada, "Sun, sayang..." tidak ada jawaban.
Ori mulai panik. Dia berlari masuk kamar, istrinya tidak ada disana. Dia ingat tadi sebelum ditinggal istrinya itu terbaring di lantai di ruang tengah, juga tidak ada.
"Isun...sayang...!"
Jangan-jangan Isun ke kamar mandi terus jatuh disitu. Kata orang kalau jatuh di kamar mandi akan sulit diselamatkan apalagi bagi orang yang sakit.
"Sun..." Ori berteriak dan berlari menuju kamar mandi, menghidupkan lampu dengan tergesa lalu melongok ke dalam.
"Alhamdulillah, tidak ada."
Ada rasa lega muncul. Tapi kemudian dia menyadari sesuatu. Kalau di semua tempat di rumah ini tidak ada, lalu kemana wanita itu?
Ori kembali gugup. Dia mengirim pesan kepada orang tuanya apakah Isun ada di rumah mereka. Ketika jawaban yang diterima tidak ada, makin panik lah Ori.
"Sun...kamu kemana?" teriak Ori memecah keheningan rumah, "aku minta maaf Sun."
Sambil duduk di lantai tempat terakhir Isun tadi berada, Ori melihat sekeliling rumah dengan seksama. Rumahnya rapi, barang-barang juga tetap di tempatnya, tidak ada tanda-tanda perampokan. Almari...
Dia berlari menuju kamar, membuka almari pakaian dengan satu gerakan sampai terdengar bunyi 'brak' karena pintu almari yang terbuka terlalu lebar.
Setelah melihat isinya, Ori lemas. Sekarang dia yakin kalau istrinya itu pergi dari rumah.
Melihat pintu yang terbuka dan isi almari yang hampir kosong karena beberapa helai baju Isun tidak ada, dia yakin kalau istrinya itu pulang ke rumah orang tuanya.
"Dasar istri pemberontak, tinggal menurut apa kata suami saja susahnya minta ampun. Lihat saja nanti kalau ternyata memang benar dia pulang, akan aku beri pelajaran dia."
Sekarang Ori duduk gelisah di tempat tidur. Ponselnya digenggam, berkali-kali akan memencet nomor telepon ibu mertuanya tapi dibatalkan. Mana perut lapar, belum makan. Akhirnya Ori memutuskan untuk ikut pulang ke rumah orang tuanya, yang penting makan dulu, urusan dengan istrinya bisa dipikirkan nanti.
__ADS_1
...***...