
Mobil pick up yang akan digunakan untuk mengangkut barang-barang yang tak seberapa banyaknya siap di depan pagar. Ibu dan Ayah Ori ikut sibuk membantu packing.
Mengemas barang dengan rapi. Memasukkan kembali barang-barang baru itu kedalam kardus, karena kebetulan kardusnya belum dibuang.
Rencananya Isun akan ikut mobil sedangkan Ori akan mengikuti dari belakang menggunakan motor matic nya. Biar bisa digunakan nanti disana.
"Ibu tidak bisa memberi apa-apa, hanya bisa membantu ngepak begini saja Sun."
"Iya Bu."
Sejujurnya Isun memang tidak berani berharap banyak. Sejak awal kedatangannya pun sambutan ibu mertuanya ini kurang menyenangkan. Untung uang dari ibu masih cukup untuk memenuhi semua kebutuhan pindahan.
Kabar baiknya pula, gaji setelah bekerja nanti akan dibayar di awal. Biar sekolah tidak punya hutang, katanya. Kalau sewaktu-waktu Isun mendapatkan pekerjaan yang lebih menarik.
Mobil pickup yang membawa Isun dan barang-barang langsung menuju ke rumah kos yang dicarikan Shity. Disana Shity sudah menanti di depan pagar dengan senyum lebarnya.
Rumah kosnya lumayan besar, yang paling penting kamar mandi ada di dalam meskipun dapurnya adalah dapur umum yang dipakai bersama, sama seperti di tempat kos sebelumnya.
Hari yang melelahkan tapi menyenangkan. Semua beres tertata menjelang sore. Hidup di kota M menjadi satu hal yang sudah biasa bagi Isun. Dia menghabiskan dua tahun masa kuliahnya di kota ini.
"Sun, baumu asem."
Ori menjauh waktu Isun duduk mendekat.
"Masa sih?" Isun mencium lipatan lengannya kanan dan kiri.
"Mandi sana, aroma tubuhmu bisa membuatku pingsan tahu."
Tanpa menunggu titah untuk yang kedua kali Isun berlari menuju kamar mandi. Setelah urusan mandi selesai, Isun sengaja keluar dengan hanya berlilit handuk sebatas dada.
Baru mengeluarkan kepala, Isun bisa melihat suaminya berdiri di depan pintu kamar mandi. Pandangannya gelap, napasnya pendek dan cepat. Sekarang dia mulai paham apa yang diinginkan suaminya.
Peluh masih penuh ditubuh, sisa perang hangat yang baru saja mereka lakukan, "Sun, mandi lagi sana, aroma tubuhmu Sun...," Ori mengomel sambil menutup hidungnya.
Isun menghela napas, "makanya biarkan aku pakai deo atau minyak wangi!"
"Kalau aku nggak boleh pakai, ya kamu musti terima aku apa adanya mas."
"Kalau kamu merasa aroma keringatku mengganggu, ya biarkan aku pakai wangi-wangian."
"Nggak, kamu tahu nggak, kalau wangi-wangian seperti itu mengandung bahan yang tidak diperbolehkan dalam agama kita."
"Cih, itu kalau kita konsumsi dalam jumlah banyak karena bisa memabukkan. Kalau hanya sedikit sebagai campuran dan tidak dikonsumsi kan tidak masalah."
Tubuh lelah karena dikerjain, sekarang harus segera mandi lagi. Ya memang musti mandi besar sih...ya sudah lah.
Isun kembali berjalan ke kamar mandi dengan tubuh polos. Peduli amat dengan mata suaminya yang masih lekat melihatnya.
Awas saja kalau minta lagi, nggak akan digubris. Biar saja itu menara pizza miring-miring dibalik sarung. Gerutu Isun dalam hati.
Selesai mandi rupanya pembahasan tentang aroma tubuh belum juga tuntas. Di sebelahnya Ori berbisik.
"Apa karena kamu anak petani bawang ya Sun, jadi bau keringatmu menyengat seperti itu."
__ADS_1
"Masih mau terus dibahas?" menggerutu karena kesal.
"Sekarang begini," Isun menghadap suaminya.
"Tiap orang punya aroma tubuhnya masing-masing. Mungkin memang ada orang-orang yang aroma tubuhnya tidak kentara. Tapi banyak juga yang aroma tubuhnya kuat seperti aku...dan...kamu," menatap tajam kearah suaminya.
"Mas pikir tubuh mas nggak bau!" sewot dan langsung meninggalkan Ori sendirian.
"Mau kemana kamu!" teriak Ori ketika melihat Isun keluar kamar.
"Keluar! Nggak betah sama bau keringatnya mas!" sahut Isun cuek.
Ori langsung mencium ketiaknya kanan dan kiri bergantian. Hmmm...ternyata memang baunya luar biasa. Dia akhirnya meringis sendiri dan bergegas ke kamar mandi.
...***...
Pagi ini keduanya berangkat bekerja bersama. Wajah Isun masih cemberut. Bagaimana tidak, sejak bangun subuh dia harus masak untuk sarapan, setrika baju untuk berdua, menyiapkan sepatu, kaos kaki, tas, pokoknya semua hal yang berhubungan dengan perlengkapan kerja. Sedangkan Ori setelah sholat subuh kembali pulas dan berselancar dalam dunia mimpinya.
Makan pagi pun juga sama. Isun juga yang harus menyiapkan alat makan dan sekaligus membersihkan. Sedangkan suaminya hanya menyuruh ini itu tanpa ada niatan untuk membantu.
"Kenapa sih dari tadi cemberut?" dilihat orang kan tidak pantas. Berangkat kerja bareng suami tapi wajah ditekuk seperti itu.
Isun mengabaikan pertanyaan suaminya. Bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah rumah tangga.
Sambutan dari bapak kepala sekolah dan teman sejawat cukup baik. Mereka menerima dengan tangan terbuka. Memberikan sambutan hangat selayaknya teman baru.
Hari pertama bekerja, Ori dan Isun diajak mengenal tugas-tugas yang harus diselesaikan.
"Ibu baik-baik saja?" tanya ustazah Nia salah satu rekan guru.
"Iya," jawabannya memang iya, tapi sebenarnya perutnya serasa diremat, ototnya seperti ditarik ke kanan dan ke kiri.
Keringat dingin mulai bercucuran. Buliran sebesar biji jagung memenuhi dahi Isun.
"Sepertinya ibu tidak baik-baik saja."
Isun mulai kehilangan kesadaran, pandangannya mendadak gelap, sekitarnya berubah warna menjadi hitam.
Beberapa detik kemudian dia benar-benar hilang, tak sadarkan diri.
Semua orang heboh. Untungnya pihak sekolah memiliki inventaris mobil yang bisa dipakai sewaktu-waktu.
Isun dilarikan ke rumah sakit terdekat dengan didampingi beberapa guru dan tentu saja suaminya.
"Aku dimana mas?"
Tempat yang asing tampak di depan mata. Ini jelas bukan sekolah yang tadi baru dikenalnya. Seingat Isun tidak ada horden berwarna biru polos seperti ini.
"Kamu di rumah sakit," jawab Ori pendek.
"Kenapa kamu tidak bilang sejak dari rumah kalau ngerasa tidak enak badan."
"Aku tidak enak dengan pihak sekolah tahu Sun. Baru masuk sehari sudah membuat kehebohan."
__ADS_1
Telinga Isun panas mendengar ocehan suaminya.
"Bisa diam nggak sih mas!"
Sudah merasakan sakit, bukannya disayang malah diomelin kesana kemari.
"Aku malu tahu Sun. Lain kali jangan melakukan hal yang seperti ini lagi."
Apa yang sudah aku lakukan sih? Apapun itu, aku kan nggak sengaja!
Rasanya ingin menjerit biar bisa plong dada ini.
"Kamu biasa seperti ini? Sakit-sakit begini, kenapa kamu nggak cerita sebelum kita menikah."
Isun meringkuk memeluk tubuhnya makin erat. Dengan posisi seperti ini rasa sakit di perutnya memang sedikit berkurang. Selain itu juga untuk menahan perih yang muncul di hati.
"Kalau kamu mau terus menggerutu, lebih baik kamu keluar mas. Biarkan aku sendiri dulu," bisik Isun.
"Aku nggak punya muka untuk kembali kesana besok pagi!" Ori masih melanjutkan ocehannya.
Kenapa tidak punya muka, apakah orang sakit itu memalukan?
"Panggilkan aku dokter atau perawat mas."
"Mau apa? pengen nginap disini? nggak mau pulang? masih ngerasa sakit?" cerca Ori bertubi-tubi.
"Kita nggak punya uang buat biaya rawat inap."
"Biaya rumah sakit yang ini tadi sudah ditanggung pihak sekolah karena kejadiannya sewaktu jam kerja."
Isun memejamkan mata rapat.
"Aku mau pulang, aku tahu kita tidak punya uang. Minta saja obat penghilang nyeri sama dokter, lalu kita bisa pulang."
"Aku sudah biasa sakit perut begini."
"Nah...kan...!" teriak Ori mengejutkan.
"Benar dugaanku. Harusnya kamu tidak menyembunyikan apapun dariku!"
Memangnya kita pernah punya kesempatan untuk saling terbuka atau berbohong?
"Kamu menyesal menikahi aku mas?"
Ori menghembuskan napasnya kuat-kuat.
"Aku berharap punya istri yang sehat, kuat, dan tangguh," sambil berucap, Ori berjalan pergi, "aku mau panggil dokter dulu."
Kenapa kamu nggak nikahi saja si putih mas, tangguh, kuat, dan sehat bahkan tiap tahun hamil dan melahirkan. Ah...perutku sakit...
Setetes air mata menggenang diujung-ujung netra Isun.
...***...
__ADS_1