
Sepertinya keluar masuk kerja sudah menjadi kebiasaan Ori. Dengan berjuta alasan dia bisa keluar kemudian mencari kerja di tempat lain ketika mulai merasa bosan di rumah.
Kadang Ori juga menerima service PC tetapi dikerjakan di rumah saja. Tujuannya hanya satu yaitu untuk memenuhi keinginannya makan dengan layak versi dia sendiri. Tentu saja Isun memang sengaja menyediakan semuanya dibawah standar kelayakan Ori.
Jika hatinya sedang senang maka sang istri akan ikut menikmati hasil kerja nya. Tapi jika sedang buruk suasana hatinya, maka Isun hanya bisa menonton apa yang dimakan Ori sedangkan dia menikmati masakannya sendiri.
Tentang proyek kerjasama yang dijanjikan temannya? jika ditanya jawabannya hanya satu, masih sedang dalam proses persiapan.
Isun hanya berpegang satu hal untuk bertahan. Dia sudah terlanjur mencintai suaminya. Ibu juga pernah bilang, kalau ini tak akan mudah tapi dia adalah pribadi yang kuat.
Satu hal yang tak pernah Isun lupakan adalah janjinya pada ibu untuk mendaftar sebagai guru dengan status pegawai negeri sipil. Bukan masalah gajinya, tapi ada semacam kebanggaan yang tersemat bagi seorang seperti ibu yang hidupnya notabene di desa bisa memiliki anak yang menjadi PNS.
Setiap pulang kerja dia habiskan waktunya untuk belajar. Dia tidak melakukannya secara sembunyi-sembunyi, karena meskipun Ori tidak mengatakan dukungannya tapi dia juga tidak melarang.
Tahun ini adalah tahun kedua dia mengikuti tes yang sama. Tahun lalu tidak lama setelah menikah dia sempat mencoba ikut tes tapi gagal. Nah...tahun ini Isun bertekad untuk mencobanya lagi.
Seperti biasa, pagi sekali Isun sudah bangun untuk beres-beres. Tidak banyak yang harus dibersihkan. Paling hanya sisa makan semalam dan tempat tidur.
"Mas bangun, antarkan aku ke kota."
Semakin kemari Isun makin paham watak dan kebiasaan suaminya.
"Mas bangun!" menggoyang lengan Ori sedikit keras.
"Kamu apa-apaan sih!" matanya terbuka, memperlihatkan warna merah tanda masih mengantuk.
"Bangun, kemarin aku kan sudah bilang kalau kita hari ini harus ke kota. Aku ikut tes mas?!"
"Oh..." menarik tubuhnya sedikit, lalu memejamkan matanya lagi.
"Mas, aku bisa telat kalau kamu nggak mau bangun sekarang!" kenapa harus sekarang bersikap menjengkelkan seperti ini. Tidak ada waktu yang lain apa?!
"Iya, bangun sebentar lagi. Rebuskan aku air but mandi."
Emang sejak kapan dia mandi air hangat?
"Iya, langsung bangun ya! Lagian seumur-umur nggak pernah mandi air hangat kenapa sekarang minta air hangat sih!" menggerutu tidak jelas tapi tetap menuju ke dapur untuk merebus air.
Sambil menunggu air sedikit panas Isun menyiapkan teh hangat untuknya dan kopi panas untuk suaminya. Sebelum diminta dan rewel lagi, Isun memutuskan untuk menyiapkan terlebih dulu.
Betapa darahnya sampai ke ubun-ubun ketika melihat suaminya belum juga beranjak dari tempat tidur.
__ADS_1
"Mas, kamu gimana sih, jangan egois dong...antar aku untuk ikut tes itu. Kalau arah ke kota S aku sudah paham jalannya. Tapi untuk mencari lokasi tes kan butuh waktu. Itu yang aku nggak paham. Jangan sampai gara-gara kamu malas bangun aku jadi telat ya mas."
Setelah mengoceh kesana kemari Isun pergi lagi Mamuju dapur untuk mengangkat air yang akan digunakan suaminya untuk mandi.
Bak mandi yang bentuknya timba ukuran besar sengaja diisi setengah agar tetap hangat kalau air panas dimasukkan.
Keluar dari menyiapkan air di kamar mandi ternyata Ori masih juga belum membuka mata.
Isun menghembuskan napas nya keras-keras. Lalu sengaja membanting piring melamin diatas meja lipat agar menimbulkan suara bising.
Benar saja mata Ori kembali terbuka. Tapi disana terpancar kemarahan yang luar biasa.
"Kamu sengaja?!" hardiknya.
"Iya, emang sengaja," Isun menarik bibirnya selebar wajah. Memberikan senyum termanis meskipun ingin mencubit pipi suaminya.
"Aku kan sudah bilang mas, antar aku tes. Aku pengen bapak sama ibu nggak nyesel sudah menyekolahkan aku tinggi-tinggi."
Ori menyeruput kopinya lebih dulu sebelum akhirnya memutuskan masuk ke kamar mandi.
Ah...teh nya pun sudah dingin. Isun meminum teh yang dia buat tadi sampai habis.
Berkali-kali Isun melirik jam tangannya.
"Mas, ayo cepet mandinya. Kenapa mandinya jadi lama?!"
Isun mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali. Bukannya segera dibuka, malah terdengar suara guyuran air yang makin keras.
"Mas!" kali Isun mulai menggedor pintu.
Tiba-tiba suara air berhenti, pintu kamar mandi terbuka. Di belakangnya Ori berdiri dengan wajah cemberut cenderung marah.
"Kenapa sih kamu mas?"
Emosi yang sejak pagi ditahan perlahan mulai tersulut.
"Terus terang aku kurang setuju kamu jadi pegawai. Apalagi pegawai pemerintah."
Jawab Ori pendek.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena sebaik-baiknya mencari rezeki bagi kita adalah berdagang."
Dengan santai Ori duduk di depan meja lipat setelah mengenakan baju.
"Apa salahnya menjadi pegawai pemerintah?"
"Karena kamu dibayar dari uang orang lain."
Isun kembali melirik jam tangannya. Sampai mana perdebatan ini berlangsung kalau dia meladeni suaminya.
"Bukannya pedagang juga memperoleh rezeki dari uang orang lain?"
Lanjutkan saja dulu. Masih ada cukup waktu buat berdebat sedikit panjang.
"Tapi kan orang yang punya uang akan memperoleh barang yang dibutuhkan. Kalau kamu nanti jadi pegawai apa yang kamu berikan pada orang lain?"
"Aku bekerja, aku mengajari anak orang lain membaca, menulis, dan berhitung. Apakah itu tidak cukup untuk memperoleh hak gajiku sebagai guru?"
Ori hampir membuka mulutnya lagi tapi Isun keburu berdiri.
"Waktuku habis mas. Aku akan berangkat sendiri kalau kamu tidak bersedia melakukannya."
"Bukan begitu Sun..."
Isun tak lagi menggubris perkataan suaminya.
Disambarnya kunci motor yang tergeletak diatas meja, memakai jaket lalu keluar menuju tempat motor diparkir. Terakhir dia masukkan helm kedalam kepalanya.
"Sun..." teriak Ori dari depan pintu kamar.
Kunci motor dia putar. Ketika suara motor mulai terdengar, Isun mengucapkan seuntai doa agar selamat sampai di tempat.
"Maafkan aku, mas." bisiknya pada diri sendiri.
"Kita bicara lagi nanti."
"Yang aku lakukan ini bukan hanya untuk aku dan kamu tapi juga untuk bapak dan ibu."
Butuh proses memang untuk menjadi dewasa. Salah satu caranya adalah menghadapi masalah yang bertubi-tubi. Dari situlah kita belajar untuk mengatasi dan menyelesaikan kesulitan apapun yang ada di depan kita.
...***...
__ADS_1