
Telinga Isun masih jelas mendengar semua yang dikatakan Jelly. Tentang suaminya yang yang diberhentikan dan tak lagi bekerja.
Apa lagi yang salah sekarang. Otak Isun yang pintar sulit mencerna apa mau suaminya. Ataukah kontrak dengan perusahaan rekanan diperpanjang lagi? Ya, pasti karena itu. Semoga karena itu.
Tidak salah bukan mengharapkan kejadian baik dari sebuah kabar buruk. Belum tentu juga apa yang disangkakan Jelly benar adanya.
Perjalanan pulang dari sekolah tempatnya mengajar terasa lebih lama dari biasanya. Pasti ini karena keinginannya yang ingin cepat sampai rumah. Hanya untuk membuktikan apa yang diucapkan Jelly adalah salah.
Betapa terkejut dirinya, ketika sampai di depan pagar terdengar suara gelak tawa yang cukup keras. Bukan tawa suaminya, tetapi suara beberapa lelaki membicarakan hal-hal berbau agama.
Saking penasarannya Isun berjalan cepat masuk ke dalam. Benar dugaannya ada beberapa orang yang berkumpul di ruang tamu.
Tanpa banyak melihat, Isun menundukkan kepalanya langsung menuju kamar. Entah kemana sang suami. Para lelaki itu langsung diam ketika melihat Isun masuk tadi. Ada yang berbisik, tapi Isun gagal mendengar apa yang dibisikkan.
Beberapa saat dalam kamar, dia kembali mendengar suaminya bicara.
"Ayo dimakan," itu yang Isun dengar. Mungkin tadi dia tidak memperhatikan suaminya sedang berada di dapur atau ruang makan, saking cepatnya dia memilih masuk kamar.
"Istrimu datang."
"Oh, iya?" Ori melihat jam di dinding. Memang waktunya wanita itu pulang kerja.
"Pantes kamu ingin nikah lagi. Istri kamu tipis begitu badannya."
"Bukan karena itu aku mau cari istri lagi. Kan kamu yang bilang, kita boleh beristri lagi dengan alasan yang kuat. Nih, aku ingin punya anak tapi istriku belum hamil juga."
"Ah, itu alasan antum saja, sebenarnya antum kurang nafsu sama istri antum yang sekarang."
"Najis mulut kamu."
"Hahaha..."
Di dalam kamar, Isun menggenggam rapat dua tangannya. Bisa-bisanya mereka semua menertawakan seseorang yang mungkin saja bisa mendengar.
Kalian pikir kalian siapa. Isun keluar, pintu ditutup dengan sedikit dibanting hingga mengeluarkan suara 'brak' yang cukup keras.
Dia berjalan menuju dapur. Semua baskom yang sudah bersih dia ambil kemudian dibanting dalam bak cucian. Kali ini suara 'bag bug' jelas terdengar. Biar saja, siapa suruh menertawakan tuan rumah.
Dibukanya kran air dan dicucinya semua baskom dengan kasar. Tentu saja dia memilih baskom yang terbuat dari plastik. Bisa hancur semua jika dia memilih piring atau gelas untuk dicuci, karena piring dan gelasnya terbuat dari kaca.
Kalau mereka tahu diri pasti mereka akan pamit sebentar lagi. Ditunggu beberapa menit ruang tamu mulai sunyi.
Sudah menyadari belum kalian, hah?! Dengan konyolnya menertawai orang yang bisa mendengar hinaan yang kalian buat.
Tak lama berselang, suaminya berdiri di sisinya lalu berbisik, "teman-temanku mau pulang."
"Iya," dengan nada jutek yang disengaja.
"Mereka mau berpamitan."
__ADS_1
"Baguslah masih punya tata Krama. Bilang saja aku sibuk, pesankan saja pada mereka kalau pulang nggak usah gaduh. Terus kalau kesini lagi jangan membuat keramaian," sebuah baskom terlempar ke rak piring dengan keras.
Ori beringsut pergi, tapi tak lama dia kembali dan duduk di salah satu kursi yang ada di ruang makan. Dari tempatnya duduk Ori bisa melihat jelas pergerakan Isun di tempat cuci piring.
Bagaimana bisa baskom itu kotor semua...
Padahal tadi waktu menyediakan minum untuk teman-temannya bak cuci piring itu bersih. Tidak ada satu barang pun disana.
"Kenapa, heran lihat alat masak kotor segini banyak?" sinis Isun.
"Bukan begitu, perasaan tadi nggak ada barang kotor kok di bak cuci piring. Makan pun alat makannya langsung ku cuci sendiri, biar kamu bisa langsung istirahat sepulang kerja."
"Nah, kenapa jadi sekarang ada tumpukan baskom kotor disitu." tanya Ori kebingungan.
Baskom terakhir sudah dicuci, Isun membantingnya dengan sengaja, tangannya berkacak pinggang sambil menghadap Ori.
"Aku bukannya mencuci baskom. Tapi aku tadi sedang mencuci otakmu yang kosong."
Lah...apa lagi salahnya, "kamu nggak perlu marah begitu. Memang kalau laki-laki ngumpul yang diobrolin nggak jauh-jauh dari bahasan perempuan."
"Nggak usah cemburu."
"Bukan cemburu, cuman heran aja, bisa-bisanya ada laki-laki mikirin punya istri lagi tanpa bekal yang cukup."
Ori mengerutkan alis, "apa maksudnya itu?"
"Kamu meragukan kemampuanku memenuhi kebutuhan hidup istri-istriku?"
Ori mengikuti gerakan istrinya dengan ekor mata.
"Kamu anggap aku nggak kuat mental menghadapi dua istri?"
Ternyata memang benar suaminya ini masih belum dewasa.
"Nanti kita lanjutkan ngobrolnya. Aku mau mandi dulu."
Tiba-tiba Ori ikut berdiri, "apa seperti itu yang ada dalam otakmu?"
"Kamu kenapa ikut masuk?" baru menyadari kalau suaminya tetap mengekor ketika kakinya melangkah masuk ke kamar mandi.
"Aku mau melanjutkan ngobrol sama kamu."
Isun meletakkan dua tangannya tepat di dada Ori dan mendorongnya perlahan, "kita nggak akan ngobrol kalau kamu ikut masuk ke dalam."
"Apa kamu sudah memaafkan aku?"
"Tunggu aku di kamar, mas."
Ya mandilah, segarkan dirimu...Ori melangkah menjauhi kamar mandi. Dia memilih mengikuti permintaan istrinya kali ini. Duduk tenang di dalam kamar di pinggir kasur sambil memainkan benda pipih miliknya.
__ADS_1
Aroma sampo dan sabun yang segar menerobos keluar dari kamar mandi ketika Isun membuka pintu. Apalagi ketika Isun melewatinya memasuki kamar, duduk di depan meja rias dan mengoleskan beberapa jenis perawatan di permukaan kulit mulusnya.
"Jelaskan padaku."
"Apanya?" Isun memutar tubuh, kini dia berhadapan dengan suaminya.
"Maksud perkataanmu tadi. Aku belum cukup bekal untuk menikah lagi."
O...rupanya masih penasaran. Padahal kalau dia mau menggunakan otaknya sedikit saja, semuanya akan jelas terbaca.
"Beneran mau mendengar?"
"Iya."
Kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan. Sambil ngobrol dia akan memberikan masukan dan mengungkapkan kekesalannya dengan cara yang halus.
"Yang pertama bekal finansial. Ini satu hal yang jelas dibutuhkan ketika kau ingin beristri dua. Ketika tiang penyangga sebuah rumah kayunya masih muda atau terlalu tua maka tiang itu akan mudah lapuk, patah, dan ambrol."
"Bayangkan kalau tiang itu diumpamakan kondisi finansial. Pasti keluarga itu tak akan bertahan lama terkena imbas rubuhnya bangunan karena kebutuhan."
Masuk akal, "lalu bekal apa lagi yang aku belum punya?"
"Bekal spiritual, mas."
Isun berhenti sebentar, mencoba mengukur ekspresi suaminya. Meskipun sakit itu belum hilang tapi dia tidak ingin menambah sakitnya luka baru jika nanti akhirnya mereka berdebat lagi.
Tapi tampaknya suaminya baik-baik saja, tidak tampak ekspresi berlebihan di wajahnya. Hmmm...percaya diri juga rupanya laki-laki ini.
"Apa menurutmu bekal spiritual ku belum cukup?"
"Maafkan aku mas, tapi ya...menurutku kamu belum cukup bekal spiritual."
"Apa yang kurang Rum? aku tahu bahwa laki-laki harus adil kepada semua istrinya."
Isun berdiri dan berpindah duduk. Kini dia duduk sejajar dengan suaminya di pinggir tempat tidur.
"Apakah kamu bisa membuat dua wanita merasakan rasa yang sama? Bahagia yang sama, cinta yang sama?" Rumi menggeleng. Bahkan seorang ibu pun memiliki sedikit perbedaan rasa kepada anak-anaknya.
"Menikah lagi membutuhkan pengorbanan mas. Entah pengorbanan istri pertama dengan mengikhlaskan atau pengorbanan istri kedua dengan memahami dimana seharusnya dia menempatkan diri, dan itu tidak mudah."
"Tck, sok berfilosofi."
Isun mengendikan bahu, "malam ini aturannya tetap sama, kamu masih harus tidur diluar," menarik tangan suaminya dan mendorong punggung Ori menuju pintu.
"Kamu tahu mengapa wanita harus selalu patuh dan dilarang menolak keinginan suaminya?" Ori sempat bertanya sebelum pintu di belakangnya tertutup.
Isun pura-pura tidak mendengar, tapi sebelum pintu benar-benar menutup, dia sempat menangkap, "karena lelaki tak pernah bisa menahan hasratnya Sun," suara Ori terdengar jelas karena dia setengah berteriak
***
__ADS_1
Ini yang sering dialami para istri. Sedang malas melayani tapi suami tak pernah pandai menyembunyikan hasrat seksualnya.