
Ori rebahan diatas ranjang. Dia sedang bingung, usaha yang dirintis dengan beberapa temannya mulai menerima order. Jelas saja dia membutuhkan modal awal untuk memenuhi pesanan pelanggan pertamanya.
Tadi dia sudah menemui orang tuanya. Tapi jawaban bapak dan ibu begitu menyebalkan.
"Kamu pikir uang puluhan juta itu sedikit?" kata bapak sambil menghitung tumpukan uang dari pembayaran kontrakan.
"Iya?! apa menurutmu uang itu tinggal metik gitu?!"
"Enak saja."
"Uang yang dihitung ibu sama bapak sekarang ini buat simpanan, biar kalau kamu sama adikmu butuh sewaktu-waktu ibu bisa kasih pinjaman," timpal ibu.
Tangan ibu sibuk memasukkan uang yang tadi dihitung bapak kedalam dompet besar miliknya.
"Ya ini kan Ori butuh Bu. Untuk modal kerja."
Kapan lagi mau kasih pinjam, karena sekarang juga butuh uang.
"Istrimu kan sekarang pegawai, kamu mintalah istrimu buat menggadaikan surat pengangkatannya. Kalau sudah berumah tangga itu, apa-apa rundingannya musti sama pasangannya dulu sebelum mendatangi orang lain."
"Ibu sama bapakmu ini sekarang orang lain."
Orang lain kalau masalah duit. Coba kalau bapak sama ibu yang butuh duit pasti nganggap aku sama Isun anak sendiri.
"Bukannya ibu nggak mau kasih pinjam lo ya. Ibu mau kok pinjami kamu uang, tapi ada syaratnya."
Ibu meletakkan dompet yang tadi dipegang keatas meja.
"Istrimu musti kamu ajak kemari, terus kalian musti tanda tangan diatas materai, disitu nanti tertera tanggal berapa kalian akan mengembalikan uang itu."
Ori memandang bapak dan ibunya bergantian. Ternyata ada ya orang tua seperti orang tuanya ini.
"Waktu mengembalikan kalian juga harus menambahkan sebanyak sepuluh persen dari uang yang kalian pinjam."
Keterlaluan, menerapkan sistem pinjaman uang berbunga pada anak sendiri. Apa maunya dua orang tua ini.
Entah, mana rasa yang lebih kuat, heran, terkejut, atau marah, tapi Ori memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
Hanya satu hal benar yang disampaikan dua orang tadi. Bahwa dia harus membicarakan semua yang akan dilakukan terlebih dahulu dengan istrinya.
...***...
Ori lega, sebentar tadi hampir saja dia emosi karena menganggap Isun juga enggan membantu. Tapi ternyata istrinya itu memiliki kepatuhan yang tanpa syarat.
"Capek ya, sayang."
Apa?!
"Kamu bilang apa mas?"
Saking terkejutnya, Isun reflek memutar tubuh menghadap pada suaminya.
"Kamu bilang apa tadi?"
"Yang mana?" pura-pura lupa. Sangat memalukan mengucapkan kata sayang kalau belum terbiasa. Jangan sampai juga Isun merasa kalau dia bersayang-sayang karena akan dicarikan pinjaman. Meskipun itu hampir tepat sih.
__ADS_1
"Buka matamu mas."
Isun meletakkan dua jarinya diatas kelopak mata Ori dan memaksanya untuk terbuka.
"Aku terlalu mengantuk untuk membuka mata, istriku."
"Aaaa," suara Isun dibuat manja, "aku ingin mendengar kamu bilang seperti tadi sekali lagi."
Siapa yang tidak bahagia mendengar panggilan sayang untuk pertama kali setelah setahun lebih menikah. Rasanya seperti terbang ke langit ke tujuh.
"Aku tidak akan mengulang lagi sekarang."
"Lepaskan jarimu, sayang."
Kelopak mata ini rasanya hampir sobek kena kuku-kukumu itu
"Iiii...," Isun bergerak kegirangan mendengar kata sayang sekali lagi, "aku juga sayang kamu mas," lalu dia menyembunyikan tubuhnya dalam pelukan lelaki yang sangat dicintainya ini.
...***...
Pagi ini Isun mengurus keanggotaan koperasi diantar salah satu rekannya. Tentu saja dengan seizin kepala sekolah.
Untungnya Isun adalah pegawai negeri jadi prosesnya sangat cepat dan dia langsung diberi pinjaman sesuai dengan jumlah yang diajukan.
Seperti biasanya Ori sedang rebahan diatas ranjang ketika istrinya datang. Seperti sebelumnya juga Isun masuk kamar ketika sudah membersihkan dirinya.
Dia meletakkan uang yang disimpan dalam amplop coklat diatas meja rias.
Kalau biasnya Ori akan bangun ketika dibangunkan, kali ini sedikit berbeda. Dia sudah dalam posisi duduk ketika Isun memutar tubuh ingin bergabung diatas tempat tidur untuk istirahat siang.
"Eh...tumben kok langsung duduk."
Pertama kali untuk yang lainnya. Kemarin panggilan sayang, kali ini hadiah?
Ori bergegas mengambil tas plastik berukuran cukup besar.
"Buka," titahnya lembut.
"Buka? Apa ini?"
"Buka saja."
Tangan Isun gemetar menyentuh tas itu. Kalau diraba permukaannya sih kotak-kotak gitu, yang satu gede yang satunya kecil.
"Boleh dikeluarkan mas?"
Mata Isun berbinar ketika menanyakan itu.
"Boleh, yang lainnya dikeluarkan juga boleh."
"Yang lainnya? masih ada lagi mas?"
Ori tersenyum melirikkan matanya ke bagian bawah.
"Itu yang dibawah kalau mau dibuka boleh."
__ADS_1
"Ih...!"
"Aku buka yang ini aja."
Pas dibuka, Ya Allah ternyata laptop sama hape lo. Bener, ini hadiah barang mahal. Padahal kan tadi baru dicarikan pinjaman ya, tapi ini di depannya ada dua barang mahal yang harganya pasti diatas uang yang dipinjam tadi.
"Mas...," entah musti seneng apa sedih.
Meskipun bukan keluaran terbaru, Isun sudah memiliki dua benda ini.
"Kenapa wajahmu seperti itu sayang?"
"Kamu nggak suka sama hadiahnya, sayang?"
Bukan nggak suka. Tuh kan...nggak bisa jawab jadinya.
"Ini mahal kan mas?!" sebuah pertanyaan yang nggak perlu dijawab, terlontar dari bibir bingung Isun.
"Kamu nggak usah lihat harganya sayang. Aku tulus kok belikan itu buat kamu."
"Aku tahu kamu tulus mas."
"Maksud aku, ngapain aku kamu minta buat ajukan pinjaman kalau kamu punya uang sebanyak ini?!"
"Dua barang ini, merk apel sobek loh mas. Harganya nggak main-main," dibelakang dua buah gadget itu tertera gambar sebuah apel yang digigit sebagian.
Muka Ori mulai berubah warna.
"Kamu nggak ikhlas carikan pinjaman buat aku Sun?"
Nah, marah ini. Panggilan sayangnya hilang.
"Bukan nggak ikhlas. Sama sekali bukan, aku ikhlas kok. Cuman sayang saja beli barang semahal ini. Hape sama laptopku masih layak pakai kok."
Ori berdiri, meraup dua benda itu dengan kasar. Untungnya Isun sempat melindungi jadiahnya dengan tubuhnya.
"Nggak, jangan diambil lagi."
"Terimakasih mas, sayang. Aku suka sama hadiahnya. Aku juga yakin kamu sudah memperhitungkan semuanya."
Isun melompat berdiri dan langsung memeluk suaminya. Yang penting sekarang ditenangkan dulu. Jangan sampai nanti jurus andalannya keluar. Isun kamu harus patuh sama suami.
"Aku akan memakainya dengan baik. Semoga rejeki mas sayang, makin banyak dan berkah."
"Nah begitu dong."
Keduanya berpelukan sambil bergoyang, "uang pinjaman itu akan aku kembalikan dua Minggu lagi."
"Dan kamu nggak perlu tahu dari mana aku dapat uang buat beli barang-barang hadiahmu itu."
"Yang penting kamu bahagia sayang."
Tentu saja aku bahagia. Tapi rasanya, ini adalah kebahagiaan yang salah. Dari balik punggung suaminya Isun menatap dua benda yang bertolak belakang. Uang pinjaman dalam amplop coklat yang belum sempat dibuka. Dan yang satunya adalah dua buah gadget dengan harga selangit yang katanya adalah hadiah.
Mana bahagia yang harus dipilih. Bahagia karena bisa membantu suami mendapatkan modal. Atau bahagia karena mendapatkan hadiah bernilai puluhan juta, bahkan lebih besar dari uang pinjaman yang dia dapat.
__ADS_1
Mungkin akan lebih bahagia lagi jika dua benda itu tak ada di kamarnya seperti sekarang. Lebih baik tidak mendapat hadiah asal tidak perlu berhutang.
...***...