Suami Benalu Banyak Gaya

Suami Benalu Banyak Gaya
Episode 29. Hari Pembalasan


__ADS_3

Ori menatap Isun dengan tatapan gelap penuh gairah. Dua hari penuh perjuangan membuat hormonnya naik drastis. Tubuhnya panas, aliran darahnya mengalir deras. Apalagi saat ini istrinya duduk tenang di depannya.


"Kamu harus membayar hutangmu," Isun mengangguk tanpa banyak bantahan.


"Aku akan menghabisimu malam ini."


Isun membelalak, "kamu akan membunuhku mas?"


"Iya, aku akan membuatmu tak berdaya."


Isun beringsut mundur. Ketakutan mulai hadir di hatinya.


"Mau kemana kamu," Ori menyambar tubuh langsing cenderung kurus yang sedang duduk ketakutan di depannya. Bibirnya langsung menyambar bibir Isun yang sedikit terbuka. Rasa hangat membanjiri tubuhnya. Kerinduan yang hampir dua Minggu dipendam minta disalurkan.


Begitu juga dengan si wanita, yang mulanya merasa ketakutan sedikit demi sedikit mulai mengikuti ritme cumbuan yang dilancarkan suaminya.


Bahkan tangannya sendiri yang dengan lancangnya membuka pengait bra nya sendiri. Ternyata benar, bercinta setelah bertengkar itu membuat hubungan suami istri lebih hangat dan bergairah. Apalagi untuk pasangan muda seperti Isun dan Ori.


Tubuh polos keduanya, suara-suara yang dihasilkan dari penyatuan dua jiwa menjadi saksi terbakarnya malam itu di kamar Isun. Juga saksi terbakarnya hati bapak di kamar sebelah...


"Dengar itu, kurang ajar kan mantumu Bu, baru tadi siang di nasehati, sekarang anakmu digarap seperti itu."


Ibu menghela napas, "ibu mau bongkar rumah ini," sahut ibu dingin.


"Buat apa?" jawab bapak melotot.


"Mau kasih dinding pembatas, biar kamu nggak bisa nguping kamar orang lain."


Bapak melengos lalu tidur membelakangi ibu.


"Katanya belajar ikhlas menerima anak dan menantu apa adanya, tapi masih terus saja menggerutu," gumam ibu geregetan.


Pagi sekali Isun berpamitan. Wajah pasangan muda itu berseri-seri, semua yang terpendam tuntas dibayar semalam.


Meskipun dengan berat hati mau tidak mau bapak melepas kepergian anak perempuannya. Sambil memberi banyak petuah yang ditutup dengan, "pulang kalau kamu merasa di dzalimi."


Tidak mau memperpanjang masalah, Isun hanya mengangguk apapun yang diminta bapak. Dia paham harus apa dan bagaimana cara membela diri.

__ADS_1


Perjalanan ke Surabaya tergolong lancar, hampir tidak bertemu kemacetan sama sekali. Sampai di rumah, keduanya memutuskan untuk istirahat. Karena Isun sudah harus bekerja besok.


Tapi rencana itu terganggu kala ibunya Ori datang bersama ayah dan adiknya.


Seperti seorang pesakitan Isun duduk menunduk di depan tiga orang itu.


"Jadi begitu ya caranya. Tiba-tiba minggat kalau ada masalah sama suami," ibu membuka serangannya.


"Nggak peduli sama suami di rumah. Nggak mikir siapa yang merawat, siapa yang menyediakan kebutuhannya. Sampai-sampai suamimu pulang ke rumah ibu hanya sekedar untuk makan."


Selama menunduk Isun sesekali melirik suaminya. Dalam hati dia mengakui kalau dirinya salah mengambil sikap tapi dia tidak punya pilihan waktu itu.


"Lain kali kalau ada masalah jangan melarikan diri, pulang ke rumah orang tua. Itu tandanya kalau kamu wanita yang kurang dewasa," ayah menimpali.


"Selesaikan baik-baik sama Ori, buktikan kalau kamu pantas menyandang predikat sebagai seorang istri."


Ori hanya manggut-manggut selama orang tuanya bicara. Harapan untuk dibela pupus sudah. Ternyata suaminya tak berubah.


"Maaf, saya punya alasan mengapa saya putuskan untuk pulang," merasa terpojok, akhirnya Isun menjawab untuk memberi penjelasan.


"Kalau diberi tahu orang tua itu nggak usah bantah. Diam dan dengarkan," ujar ibu dengan nada yang tidak menyenangkan.


"Begini..."


Nada bicara ibu berubah lebih lembut, "ada yang ingin ibu utarakan."


Isun tersenyum sinis dalam kepatuhannya. Senyum itu hampir tak terlihat karena kepalanya yang menunduk.


"Adikmu akan menikah. Pacarnya akan melamarnya."


Isun menanti dengan sabar kalimat selanjutnya, tapi dia hampir bisa meraba kemana arah pembicaraan ini.


"Ibu minta kalian membiayai pernikahan adik kalian."


Seperti sebuah petir menyambar di siang bolong, Isun segera mengangkat kepalanya.


"Maksudnya Bu?"

__ADS_1


"Maksudnya ya kita membiayai pernikahan itu," Ori menjelaskan dengan santai.


Iya aku tahu, tapi uang siapa yang mau dipakai? teriak Isun tak bersuara.


"Memang kamu punya uang cukup untuk menggelar sebuah pernikahan, mas?"


"Gampang, kamu kan ada koperasi pegawai, bisa lah nanti pinjam dari sana," dengan entengnya Ori menjawab.


"Mana bisa seperti itu mas, nggak semudah itu pinjam di koperasi pegawai. Alasannya harus tepat, pinjaman nggak akan cair kalau bukan untuk sesuatu yang mendesak."


Enak saja, siapa yang mau nikah, siapa yang repot. Pokoknya harus cari alasan biar nggak ketiban sampur lagi mikirin ribetnya urusan keluarga suami.


"Kamu ini, alasan bisa dicari. Aku ini saudara satu-satunya, masa adiknya nikah diam saja. Dimana tanggung jawabku sebagai anak laki-laki tertua di keluarga ini."


"Itu tanggung jawabmu, masa iya aku yang musti mikir dapat dari mana duitnya. Kalau kamu merasa bertanggung jawab, ya tanggung jawablah pakai punyamu sendiri."


Begini ini yang Isun benci. Suaminya tak pernah berpihak padanya. Dia harus berjuang sendiri ketika berhadapan dengan keluarga laki-laki ini.


"Sun, kamu itu istriku, sudah sepatutnya seorang istri membantu suaminya. Merasakan senang dan susah sama-sama. Sekarang ketika aku butuh bantuanmu untuk membantu keluargaku masa kamu menolak."


Isun menghembuskan napasnya kuat-kuat membuang sesak di dadanya.


Seharusnya ini bukan urusan kita mas, adikmu wanita dewasa. Kalau orang tuamu ingin membuat pesta pernikahan, ya itu tanggung jawab mereka sebagai orang tua. Tapi semua itu hanya diucapkan dalam hati saja. Tubuhnya masih terlalu capek untuk diajak berdebat.


"Akan saya usahakan," itu yang keluar dari bibir Isun. Bibir yang masih sedikit pucat dan makin pias mendengar semua ini.


Segera setelah itu Isun menyingkir dari duduknya, menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda menghormati orang tua, lalu pergi masuk kamar.


Yang paling membuat Isun sedih adalah adik Ori yang akan menikah. Wanita muda itu senyum-senyum memanfaatkan kesempatan.


Isun menutup telinganya ketika mertuanya berteriak memintanya tinggal. Pembicaraan belum selesai katanya. Teriakan-teriakan yang menyebut dirinya kurang ajar menggema di ruang tamu tempat semua berkumpul.


Peduli setan, Isun mengabaikan semua teriakan itu. Dia mau disebut mantu durhaka pun terserah.


Dalam kamar, Isun memejamkan matanya. Besok dia harus sudah mulai mengajar. Lebih baik membayangkan anak-anak murid yang akan dia temui besok daripada berhadapan dengan manusia-manusia picik yang sekarang masih berada di ruang tamu.


Isun sudah memutuskan sebisa mungkin untuk menolak permintaan pengajuan pinjaman. Tapi kalaupun tidak bisa dan dia terpaksa harus menuruti, Isun akan membuat syarat yang tentu saja meringankan dirinya. Dia tidak mau dibebani cicilan pinjaman setelah acara usai digelar. Enak saja...

__ADS_1


Di otaknya kini terancang sebuah rencana yang akan dia pakai jika kondisi terdesak, lihat saja nanti. Tak semudah itu memperalatku fulgoso...


***


__ADS_2