
Beberapa bulan ini Isun merasa sedang bahagia-bahagianya menjalani rumah tangga. Pekerjaan Ori lancar meskipun hasilnya tak seperti yang diceritakan. Yang penting lelaki itu mulai bertanggung jawab pada keluarga kecilnya.
Bapak juga mulai bisa menerima kehadiran Ori apa adanya. Karena menantunya itu sering mengajak Isun pulang sekedar melepas rindu, hampir setiap akhir pekan malah.
Tunjangan yang diterima Isun sebagai pegawai juga jenisnya makin bertambah begitu pun dengan jumlahnya. Jadi secara ekonomi kehidupan Isun dan Ori jauh lebih baik dari sebelumnya.
Hingga suatu pagi pembicaraan yang menghasilkan badai itu datang...
"Kamu kenapa belum hamil ya sayang?" tanya Ori, matanya memancarkan kecurigaan yang membuat hati Isun diacak-acak.
"Kenapa tiba-tiba membahas itu mas?"
"Kita bahkan menikah baru mau masuk dua tahun."
"Masih banyak waktu kan mas," Isun mendekati suaminya, menyentuh tangannya berharap untuk mendapat kekuatan.
"Jelly sudah hamil."
Suara dingin Ori memberi hembusan angin yang membuat tengkuk dan hatinya menggigil.
Harus menjawab apa kalau begini. Jangan bandingkan kami mas, rezeki tiap orang beda-beda. Sesama pedagang dengan jualan yang sama saja hasilnya pasti berbeda.
"Tiap orang punya rezekinya masing-masing mas. Itu kan yang selalu kamu ajarkan."
"Sekarang jadi ngerasa, nggak ada gunanya kerja keras. Buat apa, buat siapa, keturunan saja nggak punya." oceh Ori selanjutnya.
Ya Allah, kenapa omongannya jadi seperti itu.
Ori berjalan menjauhi Isun yang duduk termenung di ruang tengah. Melirik ke atas meja, makanan yang masih utuh tidak disentuh sang suami. Padahal Isun menyediakan menu favorit laki-laki itu.
Tidak boleh terbawa suasana Isun. Ayo dekati suami kamu dan ajak bicara dirinya. Biar hal ini tidak menjadi masalah yang berlarut-larut.
Isun mengepalkan tangan untuk memberi semangat pada diri sendiri. Dia menyusul masuk kamar kemudian duduk di tepi ranjang dan memijat kaki suaminya.
"Nggak jadi berangkat kerja mas?"
"Buat apa, nyari uang buat siapa. Kamu bisa cari sendiri, kebutuhanku nggak banyak. Beda kalau kita sudah punya anak. Aku bakal giat bekerja. Seperti Jelly sekarang yang sedang hamil pasti suaminya giat bekerja. Dapat semangat dari anak yang dalam perut."
Pagi itu ditutup dengan suasana dingin karena mencuatnya pembicaraan tentang anak yang tiba-tiba.
__ADS_1
Mengingat suasana tadi pagi, membuat kinerja Isun tidak sebaik biasanya. Di telinganya terngiang kata-kata anak...anak berputar keluar masuk telinga.
Bahkan ketika perjalanan pulang, motornya hampir menabrak motor di depannya yang berhenti mendadak. Bukannya motor itu yang salah, tapi Isun memang banyak melamun seharian ini.
Sampai di rumah, Isun sedikit lega, ternyata suaminya tidak ada di rumah. Berarti kekhawatirannya adalah sesuatu yang berlebihan.
Sore ketika suaminya datang, gelagat tidak biasa ditangkap wanita muda ini. Wajah Ori sedingin es. Bahkan tidak ada sapaan meskipun berpapasan dengan istrinya. Ketika ditawari minum, Ori melirik pun tidak.
Terus terang saja ini membuat Isun berdebar. Ada sesuatu yang salah. Entah mengapa dia merasa harus menyiapkan mental karena akan hadirnya sesuatu.
"Ada yang salah mas?"
Ori melirik.
"Dengan pekerjaan atau yang lain?"
"Bukan urusan kamu. Tugasmu sekarang hanya hamil anakku!" nada suaranya dingin sekali.
"Tapi kita kan sudah berusaha mas. Semuanya tergantung sama Allah kapan kita dikasihnya."
Melirik lagi, "berobat sana, minum obat agar kandungan kamu subur. Mana ada Allah kasih rezeki kalau kamu nggak berusaha."
"Kalau begitu kita ke dokter ya mas," menyentuh tangan Ori yang sedang duduk di pinggir ranjang. Tapi langsung terlepas hanya dengan sekali hentakan.
Helaan napas Isun terdengar jelas di telinga, "baik, aku akan ke dokter nanti malam."
"Kalau mas kumpul sama teman-temannya nanti jangan pulang terlalu malam."
"Itu urusanku."
Isun tak lagi fokus pada Ori. Sekarang dia sedang membayangkan ke dokter kandungan mana dia nanti akan pergi. Kalau nanti dia ditanya mana suaminya, apa yang harus dikatakan.
Baiklah, ini demi kelangsungan kehidupan rumah tangganya. Mungkin memang ada yang salah dengan rahimnya mengingat penyakit yang beberapa saat lalu diidapnya.
Isun berangkat selepas Maghrib. Membelah jalanan menjelang malam sendirian. Dia berbekal alamat salah satu dokter kandungan yang didapat dari salah satu rekan guru, yang kebetulan membuka praktik malam di daerah pusat kota.
Setelah berapa kali salah jalan dan putar balik sampailah dia di depan sebuah klinik.
Matanya langsung membelalak melihat banyaknya pasien yang antri. Bahkan sampai meluber ke luar klinik yang memang disediakan bangku panjang berjajar.
__ADS_1
Isun segera masuk, bertanya sana sini dulu baru mengambil nomor antrian. Ternyata masih ada puluhan pasien sebelum dirinya yang belum diperiksa.
Tahu begini tadi berangkat sore. Mana kepikiran, ke dokter kandungan saja baru sekarang. Tak terbayangkan ternyata banyak yang datang untuk periksa.
Banyak yang dia dengar selama menunggu giliran. Cerita-cerita seru pasangan suami istri untuk memperoleh momongan. Suka duka menjalani pengobatan seperti dirinya. Hanya saja kalau mereka ditemani suami sedangkan dia datang sendiri.
Bukan hanya orang yang ingin memperoleh momongan yang datang periksa. Tetapi juga beberapa ada yang tidak menginginkan kehamilannya dengan berbagai alasan. Kalau yang seperti itu ingin rasanya Isun berteriak, biar dia saja yang merawat anak yang tidak diinginkan itu.
Ketika gilirannya tiba, rasanya seperti memasuki ruang pengadilan. Apa yang akan ditanyakan dokter padanya nanti, seperti apa reaksi dokternya nanti. Bayangan-bayangan menghantui yang melahirkan rasa bersalah.
"Silahkan duduk Bu."
Isun disambut senyum ramah seorang dokter laki-laki setengah baya.
"Lo...mana suaminya?"
"Saya datang sendiri dokter."
Seorang perawat menarik kan bangku dan mempersilahkan Isun untuk duduk.
Setelah sedikit berbincang kesana kemari barulah dokter Gilang, begitulah namanya sampai ke pokok permasalahan.
"Oh, jadi begitu masalahnya."
"Jangan khawatir, jangan berkecil hati dulu. Untuk menentukan seseorang bisa hamil atau tidak membutuhkan serangkaian tes. Tidak bisa hanya sekedar sekali datang terus saya bisa langsung memvonis."
Dokter Gilang mengeluarkan dua buah buku. Yang satu dituliskan resep, yang lain adalah surat pengantar untuk melakukan beberapa serangkaian tes ke laboratorium.
"Lain kali, saran saya kalau mau periksa datangnya berdua. Biar sekalian tahu siapa yang bermasalah."
Bingung mau menjawab apa. Akhirnya Isun hanya mengangguk mengiyakan.
Tanpa Isun sadari dia sudah berjam-jam di tempat praktik dokter Gilang. Dia menghentikan motornya di depan rumah tepat ketika jarum jam ditangannya menunjukkan angka dua belas malam.
Di ruang tamu dia disambut muka masam Ori yang duduk di kursi. Setelah susah payah berhasil memasukkan motor...lelaki itu berjalan mendekat.
'Plak' sebuah tamparan keras mengenai pipi wanita muda itu.
"Pelacur! jam segini baru pulang!"
__ADS_1
Suara itu bagai petir yang membelah dirinya menjadi ribuan keping. Lelaki yang harusnya mencintai, baru saja memanggilnya dengan sebutan pelacur.
***