
Isun pulang menjelang ashar. Dari depan rumahnya tampak tenang. Tidak terdengar teriakan atau kehebohan seperti yang dia bayangkan seharian ini. Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Melewati ruang tamu juga tidak ada yang aneh. Tetap rapi tidak tampak ada keributan atau gempa yang bisa saja terjadi karena interaksi suami dan anak yang dirawatnya.
Sampai akhirnya Isun melihat meja makan. Barang-barang berserak, gelas, sendok, piring makan bayi memenuhi meja makan.
Isun tersenyum, bisa dibayangkan bagaimana ribet suaminya seharian ini.
Tapi kemana dua makhluk itu. Situasinya terlalu tenang setelah melihat penampakan meja makan yang awut-awutan.
Ketika memasuki kamar, rasa penasarannya terbayar tuntas. Dia melihat Ori tidur di sisi pinggir tempat tidur, sedangkan Nimas terlelap dengan posisi yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Satu kakinya menimpa dada suaminya sedangkan kaki yang lain mendarat tepat di wajah Ori. Sementara kepala dan tubuh mungilnya berada di bawah lengan laki-laki itu.
Seprei yang biasanya rapi kali terlipat disana-sini. Bantal guling ada yang berada di lantai, yang ada di bagian kaki.
Ingin tertawa tapi Isun menahan diri. Dia tidak mau membangunkan dia manusia yang sedang terlelap di depannya.
Setelah mengambil pakaian ganti wanita itu menuju kamar mandi. Betapa terkejutnya ternyata kacaunya kamar dan meja makan tak sekacau kamar mandi.
"Mas Ori, apa-apaan kamu."
Bak mandi tergeletak dibawah, masih penuh terisi air. Ada pampers yang masih penuh dengan kotoran bayi. Gayung, sikat gigi, pasta gigi semua tergeletak di lantai kamar mandi.
"Memangnya kamu tadi perang atau bagaimana sih mas?!"
Ketika akan membuang air dalam bak tercium aroma aneh dari air itu. Air itu tidak beraroma sabun ataupun shampo yang biasanya mereka pakai.
__ADS_1
Isun menajamkan indera penciumannya. Aroma yang sudah biasa dia cium, tetapi apa. Setelah berpikir beberapa saat Isun menyadari aroma apa itu.
"Ya Tuhan, ini aroma pewangi pakaian."
Ternyata di sudut kamar mandi tergeletak botol pewangi pakaian yang belum ditutup. Dan ternyata kalau diperhatikan dalam air bak ada kotoran bayi yang tercampur.
Dengan cekatan Isun membuang air dalam bak. Mencucinya dengan air mengalir. Meringkas dan menyimpan alat mandi di tempatnya. Isun mandi dan mengganti baju.
Ketika akan melangkah ke kamar, matanya melirik meja makan yang masih belum tapi. Sekalian saja dibersihkan lalu bisa menyusul dua makhluk dalam kamar yang sedang tidur.
"Hmmm, lucunya mereka berdua," menggumam melihat Nimas dan Ori yang masih tidur nyenyak. Tak bisa dibohongi wajahnya menunjukkan kebahagiaan.
***
"Gimana mas?" tanya Isun ketika ketiganya duduk santai sambil menonton film kartun dari televisi.
"Capek," bibirnya manyun, terlihat jelas kekesalan di wajahnya.
"Iya."
Berharap agar suaminya bersedia menjaga anak ini dengan sukarela ternyata hanya sebuah impian kosong. Dikira tadi sudah sedikit melunak hatinya tapi tidak begitu.
Senyampang sedang santai, Isun jadi ingin menanyakan apa yang terjadi dengan bak mandi.
"Mas, ada apa tadi di kamar mandi?"
"Ya itu," langsung kelihatan emosi, "anak itu buang air besar tahu Sun. Aromanya luar biasa, anak kecil begitu kotorannya bau menyengat."
__ADS_1
Menunjuk-nunjuk Nimas yang duduk anteng di pangkuan Isun sambil nonton televisi.
Lah, anak ini kan sudah makan semua.
"Aku kan jijik, bingung gimana caranya membersihkan kotorannya. Ya sudah aku lepas pampers nya, aku letakkan dekat WC terus anaknya aku rendam dalam bak yang aku tuangi pewangi pakaian."
"Mas," mata Isun membulat. Ya Tuhan kan bisa diceboki dengan cara biasa.
"Aku rendam hampir satu jam anak itu tadi, baru setelah itu aku bersihkan pakai sabun mandi, sekalian aku mandikan."
Pengen tertawa tapi kasihan Nimas. Mas Ori benar-benar keterlaluan.
"Lain kali kan bisa langsung dibersihkan mas."
"Nggak ada lain kali Sun, nggak ada lain kali."
"Pokoknya besok kamu bawa anak itu ke tempat penitipan anak, oke!"
"Nggak ada tawar menawar."
Isun menghela napas. Ya sudah lah, yang penting hari ini sudah terlalui dengan baik.
"Papa...*****."
"Heh, papa...papa, aku bukan bapak mu!"
Ih, kok kasar, "mas jangan kasar gitu."
__ADS_1
Dari tadi mulut kecilnya itu ngoceh sembarangan. Tapi aneh, kenapa dia nggak nyari ibu kandungnya, sih. Harusnya dia rewel nyari, ini nggak. Anteng aja, seperti sudah biasa jauh sama orang tua.
...***...