Suami Benalu Banyak Gaya

Suami Benalu Banyak Gaya
Episode 40. Tarik Ulur


__ADS_3

Perjalanan pulang dari rumah kerabat sangat menyenangkan bagi Isun. Balita itu terus berada di pangkuannya, duduk tenang dan tidak rewel sama sekali.


Ada untungnya juga tadi suaminya tidak ikut. Meskipun Isun tidak suka juga karena laki-laki itu sedang berkumpul dengan teman-temannya.


"Ori pasti senang kamu mau membawa pulang anak lucu nya begini," ujar ibu ketika melihat bayi berusia sembilan belas bulan itu tidur tenang


Isun tersenyum sinis, "nggak tahu atau nggak mau tahu watak anaknya ya, heran," gumam Isun.


"Apa?"


"Oh, tidak ibu."


Isun turun di depan rumah. Kedua mertuanya langsung pulang. Dia tadi pagi ikut juga karena dipaksa dengan alasan khawatir Jelly lelah karena perutnya yang sudah gede.


Di bahu kanannya kini menggantung bayi dalam gendongan. Dan di bahu kiri menggantung tas perlengkapan bayi.


Baru menginjak lantai ruang tamu terdengar suara dari dalam.


"Anak siapa itu!!" mata suaminya melotot, nada suaranya tinggi.


"Kamu nggak mau dengar suamimu Sun!"


Kaki Isun berhenti tepat di depan pintu. Entah kenapa ada takut tiba-tiba muncul. Dia melirik pada bayi yang tidur nyaman di gendongannya.


Bagaimana kalau suaminya ini___


Ori berjalan mendekat. Tangan Isun diraih dan ditarik menuju kamar.


"Aku sudah bilang kan, aku tidak setuju kamu membawa anak orang lain pulang ke rumah ini!"


Saking kuatnya tarikan itu sampai Isun sedikit membentur dinding kamar ketika dilepaskan.


"Jawab aku!"


Meskipun gemetar tapi Isun sama sekali tidak takut dengan amarah suaminya. Dia fokus menjaga agar anak dalam gendongannya tetap terlelap.


"Jangan bicara terlalu keras, aku tidak tuli. Kamu berbisik pun aku akan mendengarnya dengan jelas."


Isun menggoyang sedikit badannya. Sebentar tadi gadis kecil dalam gendongannya ini sempat bergerak karena terkejut.


Sekali lagi Ori menarik tubuh istrinya, kali ini dia memegang dua lengan Isun dan mendudukkannya di pinggir kasur dengan kasar.

__ADS_1


"Kembalikan anak ini!" mata itu masih setajam elang. Andai Isun adalah tikus kecil pastilah sudah dimangsa.


Isun menggeleng, "aku tidak bisa, aku sudah berjanji merawatnya."


"Tanpa persetujuanku?"


Sepasang suami istri itu saling menatap tajam.


"Aku nggak peduli, mas. Ya, aku akan melanjutkan niatku tanpa persetujuanmu. Aku juga punya keinginan, aku juga ingin pendapatku didengar. Jadi kali ini aku akan melakukan yang aku mau. meski itu tanpa persetujuanmu."


Ori berjalan memutar ke belakang tubuh istrinya. Ditariknya selendang yang terikat di bagian belakang bahu Isun.


"Apa yang kamu lakukan mas?!"


Isun memeluk bayi itu erat. Kali ini dia tidak akan mengalah. Kalau harus pergi dari rumah ini sekali lagi itu bukan hal baru baginya.


"Lepaskan anak ini!"


"Mas, kau menyakitiku mas."


Beberapa kali punggung wanita itu tertarik tali selendang. Tapi Isun tetap berusaha mempertahankan gendongannya.


Maafkan nak...


"Ini yang aku tidak suka!"


Ori kalap, suara tangisan bayi itu terdengar memekakkan telinga, hampir saja direnggutnya bayi mungil itu dari tangan Isun. Tapi niatnya diurungkan ketika mendengar Isun berteriak.


"Jangan mas, jangan...aku mohon. Ini permintaan ibu. Anak ini adalah anak kerabatmu yang tadi kami kunjungi."


Laki-laki itu berhenti. Memutar tubuh, berjalan keluar dan membanting pintu hingga menimbulkan suara berdentum.


"Jangan nangis nak."


Tapi tangis si kecil tidak mau berhenti. Isun terus menggoyang tubuhnya berusaha memberi ketenangan tapi nyatanya tidak mudah menenangkan bayi yang sedang rewel.


"*****...*****...," ditengah tangisannya bayi itu merengek minta susu.


"Bagaimana ini," air mata Isun hampir ikut mengalir. Isun belum tahu bagaimana caranya membuat susu apalagi sambil menggendong bayi yang terus bergerak sambil menangis.


Masa iya dia harus menyusui si kecil yang ada dalam gendongannya ini. Dia kan tidak terbiasa melakukannya. Aneh rasanya kalau dia harus menyusui dengan payu_daranya sendiri.

__ADS_1


Akhirnya Isun mengambil selendang yang tadi ditarik sampai lepas oleh suaminya. Dipasangkan lagi selendang itu lalu kembali menggendong balita berusia belum genap dua tahun ini.


Sambil menggendong, Isun memanaskan air untuk membuat susu. Untungnya susu formula milik si kecil tadi turut dibawa.


"*****...*****...," tubuh kecil itu terus menggeliat kesana kemari.


"Aduh, sayang...bantu ibu ya. Ibu belum terbiasa melakukan ini."


***


Ori membanting tubuhnya duduk bersendeku di lantai. Di ruangan itu sudah berkumpul teman-teman yang sering bersamanya.


"Istriku kali ini keterlaluan."


"Kamu datang-datang marah. Duduk dulu, tenang dulu. Kita disini berkumpul supaya bisa santai dari semua urusan yang bikin pusing "


"Ini ngopi dulu," temannya yang lain menyodorkan kopi dan kudapan yang semua digoreng.


"Sebal aku mas, dia pulang sambil bawa bayi. Padahal aku sudah bilang sama wanita itu kalau aku nggak setuju merawat anak orang lain apapun alasannya. Tapi dia nggak mau mendengarkan!"


"Kenapa aku punya istri yang bodoh dan bebal seperti dia."


Ori terus melanjutkan ocehannya.


"Kayaknya mending aku nikah lagi saja mas, bagaimana menurut kalian?"


Semua laki-laki dalam ruangan itu tergelak. Tawanya bernada melecehkan.


"Kita kan sudah bilang, kawin lagi saja."


"Lihat kami disini hampir semua berpoligami. Masalah ekonomi, rezeki itu bisa dicari. Toh istri kita masing-masing semua bekerja. Asal kita bisa adil semua bakal baik-baik saja."


Enteng sekali obrolan sekumpulan laki-laki itu. Seakan-akan poligami hanya butuh serumah dan tidur bareng, selebihnya silahkan cari sendiri-sendiri.


"Kenalkan aku dengan seseorang mas."


"Boleh, aku punya banyak stok, kamu tinggal pilih. Kenalan saja dulu secara online. Aku punya banyak kenalan yang mau jadi istri kedua. Mereka rata-rata hanya butuh cinta, kalau masalah duit bisa cari sendiri."


Mata Ori berbinar, dia merasa punya jalan keluar diantara kesulitannya. Istrinya itu pasti akan nurut kalau nanti madunya bisa cari uang sendiri. Apalagi kalau bisa membantu perekonomian keluarga mereka kelak. Mana ada wanita yang akan menolak jika kehidupan dan pemenuhan ekonominya membaik.


Ada satu hal lagi yang membuat senyum Ori makin lebar. Dia akan membuat perjanjian, dia akan mengijinkan Isun merawat anak orang lain sebagai pancingan asalkan dia diperbolehkan menikah lagi.

__ADS_1


...***...


__ADS_2