
Ori dan Isun tidak menunda kepindahan mereka. Karena memang Isun membutuhkan banyak waktu untuk melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan.
Kali ini rumah yang disediakan orang tua Ori untuk ditempati jauh lebih layak dari kamar kos mereka dulu. Rumahnya lumayan bagus dengan bangunan yang masih baru.
Undangan syukuran pindahan menempati rumah baru juga sudah disebarkan. Tapi sayangnya syukurannya dilaksanakan tepat di hari acara syukuran bapak dan ibu di desa.
"Mas, bilang sama bapak ibumu kalau bapak sama ibuku di desa juga ada acara syukuran."
"Kamu saja bilang sendiri."
Kamar sejuk ber-AC membuat Ori malas untuk melakukan apapun.
"Kamu kan tahu, bapak sama ibumu susah ngerti kalau diajak ngomong."
"Nah, itu tahu, kenapa nyuruh aku bilang."
Matanya makin lama makin berat untuk diajak tetap terbuka.
"Kalau begitu, setelah syukuran disini kita langsung pulang ya. Kan syukuran disini siang, di desa sore."
"Hmmm."
Hilang sudah kesadaran Ori menuju langit ke tujuh. Menggapai mimpi-mimpi yang sulit dicapai di dunia nyata.
Ori berdiri di sebuah istana megah. Memakai pakaian raja dan dikelilingi oleh banyak dayang-dayang. Semua cantik, berpawakan tinggi semampai memakai baju-baju yang luar biasa indah.
Salah satu dayang-dayang secantik bidadari itu memeluknya. Kepalanya menyandar pada dada yang terasa kenyal dan penuh. Betapa segarnya kalau dia bisa bersembunyi diantara belahan dada itu.
Tapi ada sesuatu yang ganjil. Ori mencium sebuah aroma yang kurang sedap. Bau seperti susu basi, benar susu basi.
Ah, kenapa wanita secantik ini susunya sudah basi.
Ori mengamati lagi dayang-dayang yang memeluknya. Benar kok, aroma susu basinya makin lama makin kuat tercium.
Dengan sekuat tenaga Ori berusaha melepaskan diri. Tendangan, tarikan, semua gagal. Masa iya wanita selemah lembut ini punya tenaga seribu kuda.
Akhirnya dengan satu gerakan maut, tangan Ori menjambak rambut wanita itu kuat-kuat. Saat itulah terdengar teriakan.
"Aaa..."
Dengan tergagap Ori membuka mata. Dia melihat sekeliling. Kok dia berada di rumah, lebih tepatnya di kamarnya. Kemana istana megah tadi, kemana dayang-dayang cantik tadi.
Sekarang di sebelahnya hanya ada Isun yang tidur sambil membuka mulut. Kepulauan Indonesia sudah terbentuk di bantal yang menjadi alas tidurnya. Tangannya terangkat keatas dengan jelas memamerkan ketiak yang meskipun mulus tapi mengeluarkan aroma yang luar biasa.
Ori mencubit pipi istrinya gemas.
"Kukira ada susu kedaluarsa."
Lelaki muda itu kembali tidur tapi kali ini membelakangi istrinya.
...***...
"Kami pamit dulu pak, Bu."
"Iya, hati-hati di jalan," pesan bapak.
Akhirnya, diperbolehkan juga buat pulang.
"Jangan boros, baru mau kerja, belum dapat gaji. Karena orang tuamu yang punya acara, Sun, biarkan mereka yang mengeluarkan biayanya."
"Seperti kami tadi."
Lah perasaan kemarin belanja pakai uangku–Isun.
"Mustinya orang tuamu ngerti kalau kamu baru akan jadi pegawai," bapak ikut menyahut.
__ADS_1
Daripada makin panjang, Isun hanya menjawab dengan iya dan iya saja.
...***...
"Isun..." teriak bapak ketika pasangan itu sampai di rumah.
Seperti di kota kecil lainnya, yang masih mengedepankan kebersamaan. Rumah Isun juga penuh sesak oleh tetangga kanan kiri yang sibuk membuat hidangan.
"Bendot sudah dipotong pak?"
"Ya sudah lah, nanti acaranya habis Isya, masa sekarang bendot belum dipotong."
Isun berlari ke belakang. Dia melupakan suaminya yang sibuk membawa tas punggung di depan belakang.
"Ibu..."
"Lo...anak ibu sudah pulang. Gimana perjalanannya, macet nggak tadi?"
"Alhamdulillah lancar, Bu."
Isun mendekati kuali-kuali besar yang duduk tenang diatas perapian.
"Mau makan?"
Tipikal khas orang Jawa, setiap kali melihat sanak atau saudara datang pasti yang ditawarkan pertama adalah makan.
Isun tersenyum lebar memamerkan giginya yang putih rancak.
"Aku masih kenyang, nanti ya Bu."
Tiba-tiba bapak tergopoh dari ruang tengah.
"Anak nakal," memukul bahu Isun dari belakang, "lihat itu suamimu manyun di ruang tamu."
"Di badannya menggantung tas depan belakang."
"Ooo...pemilik menara pizza?"
Biar saja, kapan lagi Isun bisa ngerjain suaminya seperti ini. Laki-laki itu tidak akan berani macam-macam.
"Hah? menara pizza? yang di Itali itu? dibeli suami mu, Sun?"
"Iya pak. Malah tiap malam Isun disuruh nyuci itu menara, sampe kadang Isun paginya susah bangun."
Bapak melotot, mulutnya menganga. Berani sekali menantunya itu membuat anaknya tersiksa sampai seperti itu. Memang apa yang sudah dia kasih untuk Isun?
"Isun ke Mas Ori dulu ya pak."
Bapak mengikuti di belakangnya. Tidak boleh dibiarkan kalau seperti ini. Harus diberi pelajaran menantunya itu. Belum bisa membahagiakan saja sudah semena-mena. Memang berapa sih harga menara pizza...
Isun melihat Ori duduk di ruang tamu sambil menekuk muka.
"Ayo mas, masuk."
"Sebentar Sun!"
Seru bapak membuat Isun melepas tangan Ori yang akan ditariknya masuk kamar.
Bapak bersendekap, memandang menantunya tak berkedip.
"Kenapa kamu meminta anakku untuk membersihkan menara pizza milikmu!"
Raut tak suka bapak tampak terlihat.
Menara pizza?
__ADS_1
Ori memandang Isun dan memberi kode untuk menjelaskan pada bapak tentang menara pizza yang sangat yang disukai anaknya.
Tapi reaksi Isun hanya menggeleng, sambil mengangkat bahu. Seolah menertawakan dan bilang 'rasain' tanpa suara.
"Jawab bapak!!"
"Bapak tidak suka pada lelaki yang suka bersikap semaunya. Menganggap perempuan itu hanya sebuah hiasan dan pelengkap semata."
"Tanpa punya hak untuk mengeluarkan pendapat atau menyatakan keinginannya."
"Memangnya kamu sekaya apa, hingga merasa punya hak untuk semena-mena pada anak bapak?!"
Rupanya bapak menanggapi perkataan Isun dengan serius. Dan terus terang saja Isun memang belum berkeinginan untuk menghentikan drama ini.
Dia merasa terwakili dengan semua yang diucapkan bapak. Betapa selama ini posisinya hanya seperti boneka yang harus patuh jika disuruh atau dilarang.
Menekan semua keinginan dan cita-cita nya untuk menjadi pribadi yang utuh meskipun menyandang status sebagai seorang istri. Apalagi secara ekonomi Ori masih belum mampu mencukupi semua kebutuhan rumah tangga mereka.
Wajah Ori merah padam. Lirikannya diabaikan oleh Isun. Ori tahu bahwa istrinya sekarang sedang balas dendam. Dia selalu berkelit kalau Isun minta pulang untuk mengunjungi bapak dan ibunya dengan beragam alasan.
"Jawab bapak, jangan hanya diam saja!" bentak bapak.
"Kalian kok masih duduk disini?"
"Ada apa ini, kenapa semua pada tegang."
Ibu melirik bapak. Suaminya tak mungkin memasang wajah sangarnya kecuali sedang marah besar.
Isun beranjak dan menarik ibunya ke ruang tengah. Sementara di ruang tamu ketegangan masih terasa. Di ruang tengah ibu tertawa ditahan mendengar cerita Isun.
"Kasihan Bu, saya sudah cukup memberi pelajaran sama Mas Ori. Semua yang dikatakan bapak memang benar, tapi kalau dilanjutkan bisa salah paham nanti."
"Ya sudah kamu tenang, biar ibu yang bicara sama bapak."
Ibu berjalan mendekati bapak dan duduk di kursi yang letaknya bersebelahan. Mendekatkan bibirnya ke telinga, lalu membisikkan sesuatu, tapi tetap memasang wajah serius.
Tidak lucu rasanya tertawa di depan menantu yang saat ini menunduk, bahkan untuk mengangkat bulu matanya pun tidak berani.
"Anak kurang ajar!" sembur bapak.
"Maafkan saya pak. Insyaallah akan saya perbaiki, kedepannya akan saya perlakukan istri saya lebih baik lagi."
Bapak tidak menggubris perkataan Ori. Dia pergi begitu saja meninggalkan menantu yang sekarang sedang bingung. Dengan langkah gontai Ori masuk kamar.
"Kamu keterlaluan," keluh Ori pada Isun yang sedang duduk di pinggir tempat tidur.
"Maaf, mas, Isun terlalu malu kalau harus menjelaskan dimana letak menara pizza nya," sambil menyentuh sesuatu yang tertutup celana.
Ori merebahkan diri dan memutar menghadap dinding.
"Aku malu sama bapak."
Oh...suamiku ternyata kau masih punya hati nurani, tapi bagaimanapun endingnya, pertunjukkan yang sudah dimulai harus dilanjutkan sampai selesai. The show must go on...
Hahaha....
Isun tertawa sangat lantang...di dalam hati. Beraninya hanya dalam hati sih...kalau kelihatan dramanya bisa habis semalaman disuruh memoles menara pizza sampai kinclong.
...***...
Di Dapur
"Kurang ajar anakmu Bu. Aku dibohongi mentah-mentah."
"Nggak apa-apa. Kalau Isun sampai melakukan itu, berarti dia memang butuh dukungan kita pak. Meskipun dia diam dan tidak mengucapkan apa-apa."
__ADS_1
...***...