Suami Benalu Banyak Gaya

Suami Benalu Banyak Gaya
Episode 41. Mamam Nenen


__ADS_3

"Bagaimana, ide ku bagus bukan?"


Bagus? bagus dari mananya Ori...


Ternyata memang di otakmu sudah tersusun rapi keinginan untuk berpoligami. Jangan nangis, nggak boleh nangis. Belum tentu juga ada yang mau sama suami yang malas kerja seperti suaminya ini.


Negosiasi yang tidak menguntungkan sama sekali. Boleh merawat anak asalkan diperbolehkan berpoligami? Enak saja, bertanggung jawab atas nafkah lahir dan batin pada satu istri saja kesulitan apalagi untuk dua istri. Jadi apa rumah tangganya nanti.


"Aku akan mencari wanita dengan strata ekonomi yang mapan. Jadi aku nggak perlu menafkahi wanita itu, aku hanya perlu menafkahi kamu. Kalau bisa malah madu mu nanti akan ikut membantu menghidupi keluarga kita."


Wajahnya menunjukkan ekspresi bangga yang cukup menjijikkan untuk dilihat. Prinsip hidup apa seperti itu.


"Kamu gila ya mas, apa kamu yakin aku harus menjawab tawaranmu. Mana ada wanita yang mau diperas apalagi untuk menghidupi wanita lain."


"Lagi pula, aku nggak segila itu ya mas. Menginginkan hasil jerih payah perempuan lain untuk memudahkan hidupku."


"Aku punya karir yang bagus. Dengan penghasilanku sendiri saja, cukup untuk menghidupi kami berdua. Aku dan anak yang kurawat."


Ih, rasanya pengen meremas wajah yang sedang tersenyum di depannya.


Lebih baik tidur daripada membahas sesuatu yang memalukan.


Isun berlalu masuk kamar. Diatas ranjang, bayi perempuan mungil yang sedang menjadi bahan perdebatan sedang tidur nyenyak. Tanpa diminta Ori mengambil bantal dan selimut kemudian menatanya di sofa ruang tamu.


"Aku tidur di luar. Selama ada anak itu di tempat tidur kita. Aku tidak akan pernah tidur di kamar ini lagi."


"Cobalah mengenalnya mas, siapa tahu kamu akan jatuh cinta padanya."


Tidak ada jawaban, berarti memang tidak ada jalan tengah bagi keduanya untuk mengatasi masalah ini.


Usaha terakhir pun dilakukan. Semua patut dicoba. Isun keluar duduk di salah satu sofa single, sementara Ori merebahkan tubuhnya di sofa panjang.


"Ini bukan murni kemauanku mas. Aku mungkin memang sengaja berencana memberontak, tapi tak akan seberani itu jika tidak ada dukungan, bukan begitu mas?"


Ori tetap diam. Tangannya disilang diatas dahi hingga menutupi wajah.


"Ibu yang memintaku membawa anak itu mas. Ibu bilang, siapa tahu aku akan hamil jika merawat anak orang lain lebih dulu sebagai pancingan."


"Tck, pancingan lagi...pancingan lagi," menggumam pelan.


"Cobalah dulu. Demi ibu dan ayahmu. Aku hanya berusaha untuk patuh dan menyenangkan hati mereka."


"Apalagi ibu yakin kamu akan senang dengan adanya si kecil."


Ibu dijadikan alasan. Ori makin rapat mengatupkan mata. Apapun alasanmu, aku tetap tidak setuju merawat anak orang lain. Hanya menghabiskan uang saja, lalu anaknya akan pergi dan kembali ke orang tuanya.


Merasa tidak dianggap, Isun pergi meninggalkan suaminya sendiri. Dia kembali masuk ke kamarnya, memandang makhluk mungil berusia sembilan belas bulan yang sekarang sedang terlelap diatas ranjangnya.


Malam itu dilalui sepasang anak manusia dalam pikiran kalutnya masing-masing. Ori memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa membuat istri ya mengembalikan bayi itu. Sedangkan Isun memikirkan siapa yang akan menjaga Nimas besok ketika dia harus kerja.


***

__ADS_1


"Mas, aku titip ya. Hari ini aku belum Nemu orang buat ngejagain Nimas."


Setelah semalaman berpikir sepertinya bisa dicoba untuk menitipkan Nimas pada suaminya. Siapa tahu suaminya itu bersedia.


Toh hanya untuk sehari. Sepulang kerja dia akan mencari penitipan anak.


"Tck, bawa saja anak itu kerja."


"Hanya untuk hari ini mas. Nanti siang aku akan mencari penitipan anak yang dekat dengan sekolah. Biar nanti aku gampang antar jemputnya."


"Aku nggak bisa merawat anak kecil. Dia itu tidak tergolong kecil, tapi masih bayi."


Aduh, gimana ini. Nggak mungkin dia tiba-tiba membawa bayi ke lokasi sekolah. Nggak enak sama teman-teman.


"Sebentar saja mas. Aku kerja juga nggak sampai sehari sehari kan. Aku janji setelah menemukan tempat penitipan akan langsung pulang."


Jadinya merepotkan, bukan?! sudah diberi tahu kalau jangan ambil anak orang buat dirawat malah nggak nurut. Akhirnya merepotkan orang lain.


"Ya sudah, tapi hanya untuk hari ini. Besok dan seterusnya urus sendiri anak itu."


"Iya."


Isun berangkat kerja dengan hati tenang. Paling tidak Nimas ada yang menjaga. Suaminya tak akan sekejam itu menyiksa anak kecil.


Di kamar, Ori sekarang melihat Nimas tak berkedip. Sementara yang dilihat sedang berceloteh au...au.


"Hai makhluk kecil!"


"Papa."


"Pa...pa...pa."


"Enak saja, papapa..."


Dasar gila. Masa iya dia tidak tahu kalau bayi memang biasa mengoceh seperti itu. Kalau yang ngomongnya cepet, usia sembilan belas bulan sudah bisa bicara meskipun belum jelas.


"Dengar ya!"


"Hari ini kamu nggak boleh nangis, nggak boleh sering minum, tidak boleh buang air besar. Kalau nanti kamu ee', bersihkan sendiri kotoranmu ngerti!"


Mendengar istrinya tadi berpesan ini itu, menunjukkan botol dan nasi tim untuk makan Nimas yang sudah disiapkan dengan baik, membuat kepalanya pusing. Antara ingat dan tidak, karena itu lebih baik membuat perjanjian dulu dengan anak yang sekarang sedang nonton televisi di kamar.


"Mamam."


"Apalagi ini, tadi papa sekarang mamam. He ank kecil jangan panggil mama papa seenaknya."


Nimas mulai mencebik, "hiks mamam...*****...hiks."


"Jangan nangis...jangan nangis."


Aduh, bagaimana ini...

__ADS_1


Ori menyambar ponselnya. Suara tangisan Nimas mulai terdengar.


"Ah, membuat repot saja."


"Sun..."


"Anak kecil ini nangis..."


Nimas, kenapa nangis?


"Dia bilang papa mamam *****..."


Cup...cup, sambil menepuk punggung Nimas.


Mas dia minta makan sama susu.


Kan sudah aku siapkan mas.


Hah?! makan sama susu. Mamam...berarti makan, kalau susu??


"Aku nggak punya susu."


Ya Allah mas, buatkan susu formula. Ingat habis minum botolnya langsung dibersihkan pakai air hangat.


"Ah, merepotkan!"


Sambungan telepon itu langsung ditutup lalu ponselnya langsung dibanting ke atas tempat tidur.


Tangis Nimas yang makin melengking, membuat Ori yang sudah bingung makin bingung.


"Kamu diam dulu, mau dibuatkan susu ini."


Mengomel sambil nunjuk-nunjuk gadis mungil itu. Bukan diam tangis Nimas makin keras.


"Sudah...sudah."


Akhirnya Ori menyerah, dengan satu gerakan cepat Nimas dilingkarkan di pinggangnya. Dengan hati-hati Ori membuat susu. Ketika berhasil membuat sebotol susu, Ori tersenyum puas, bangga pada dirinya sendiri.


"Ah, berhasil. Lihat ini papa berhasil membuat susu."


Beberapa saat kemudian menyadari, "papa...papa, papa apaan," lalu memukul mulutnya sendiri.


"Sekarang kamu duduk dulu," meletakkan Nimas kembali ke atas tempat tidur.


"Diambilkan mamamnya dulu."


Nimas mengangguk seperti memahami apa yang diucapkan Ori.


Ori berlari ke meja makan. Menyiapkan makanan untuk Nimas dengan sigap.


"Ini, mamam mu. Ayo makan."

__ADS_1


Ori melanjutkan menyuapi Nimas dengan telaten. Berat memang, tetapi seharian itu tanpa disadari sebenarnya Ori menikmati perannya sebagai seorang bapak rumah tangga.


...***...


__ADS_2