
Isun bangun dengan rasa lelah luar biasa. Bukan karena malam pertama, tapi karena ia semalaman tidur terjepit antara dinding dan Ori. Mau bergerak sedikit saja, Ori menggeliat.
Melirik ke samping, Ori masih terlelap. Remang cahaya membuatnya bisa menangkap waktu pada jam tangan digital milik Ori yang tergeletak diatas meja. Masih pukul tiga pagi.
Isun merangkak ke bagian bawah kasur, bergerak perlahan lalu keluar menuju dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi.
Dari dapur umum itu dia bisa mengamati dengan jelas kamar kos yang dia tempati. Kamarnya terletak diurutan kedua.
Kosan ini terdiri dari delapan buah kamar yang saling berhadapan. Empat di sisi selatan dan empat di sisi Utara. Di ujung tiap baris ada dua buah kamar mandi yang berjajar, dan sebelum kamar mandi ada sebuah dapur umum yang bisa dipakai bersama. Tepat di tengah ujung halaman terpasang sebuah kran air.
Isun kembali fokus pada apa yang akan dia lakukan. Ah...dia baru ingat kalau dia tidak memiliki bahan atau alat apapun untuk memasak.
Berjalan menuju pagar ternyata pagar juga masih dikunci. Akhirnya Isun memutuskan untuk masuk kembali ke kamarnya.
Yang pertama dituju adalah jam digital yang tergeletak diatas meja. Jam itu menunjukkan pukul tiga tiga puluh. Sebentar lagi subuh.
"Mas, bangun," berbisik, menyentuh lengan dan menggoyang tangannya perlahan.
"Hmmm, apa?"
"Bangun, sudah setengah empat," masih bersuara lirih.
"Jam berapa?" mata rasanya masih sulit untuk dibuka. Padahal semalam langsung tidur.
Ori menelentangkan tubuhnya. Mata Isun membulat sempurna.
Ya Allah, aku harus melihat pemandangan ini lagi...–Isun.
Di depannya terpampang tugu Monas tinggi menjulang dibalik sarung. Padahal sampai sekarang Ori masih belum melakukan apapun padanya.
"Kenapa tidak membangunkan aku lebih awal?"
"Aku terbiasa sholat malam," sesal Ori.
"Aku masih belum tahu kebiasaan kamu mas."
Ori meninggalkan Isun tanpa mengucapkan apapun. Rupanya dia keluar untuk mengambil wudhu. Karena setelah kembali ke kamar Ori langsung membentangkan sajadah.
Karena subuh hampir tiba, Isun melakukan hal yang sama. Ternyata sholat berjamaah lebih nikmat rasanya, apalagi dengan suami sendiri.
"Aku mau membuatkan sarapan. Tapi aku baru ingat kalau kita nggak punya apa-apa."
"Mau aku antar belanja?" tanya Ori.
"Mungkin beli masakan yang sudah matang ya mas. Kita kan nggak punya alat nya buat masak."
"Ya sudah, ayo!"
Ternyata Ori pegang kunci pagar juga. Bukan kejutan sih, karena memang dia adalah anak pemilik rumah kos itu.
Ori menghentikan motornya di depan sebuah warung yang menjual berbagai masakan matang.
"Masuk sana."
"Mas," Isun mengulurkan tangannya.
"Apa?"
"Buat belinya mana?"
"Oh, pakai uangmu dulu, aku lupa gak bawa."
Untung bawa dompet, kalau nggak kan harus balik lagi. Masa iya beli makan juga masih harus beli sendiri padahal sudah bersuami. Isun memandang Ori kesal.
Rupanya Ori merasa kalau pandangan mata istrinya menunjukkan ketidaksukaan.
"Ayo, keburu siang, kamu kan harus mulai cari kerja. Nanti aku yang antar buat cari kerja, kamu kan belum lama di kota ini."
Ah, iya. Bergegas Isun membeli dua bungkus nasi buat sarapan. Dia harus menyiapkan energi kalau mau segera dapat pekerjaan.
Selesai makan pagi Isun mempersiapkan semua berkas yang dibutuhkan.
"Kenapa kamu gak punya sendok, masa iya aku harus makan pakai tangan seperti tadi."
__ADS_1
"Maaf, aku nggak bawa sendok dari rumah," jawab Isun mengabaikan Ori karena berusaha untuk tetap konsentrasi menyiapkan kebutuhannya melamar pekerjaan.
Isun mengeluarkan wewangian dari dalam tasnya. Bisa dibayangkan keliling seharian kena debu dan panas matahari. Dia tidak mau aroma tubuhnya nanti mengganggu.
"Mau apa kamu ngeluarin botol itu?"
"Ya buat dipakai, lah."
Betapa terkejutnya Isun waktu Ori merampas botol itu dari tangannya, "perempuan nggak boleh pakai wewangian kalau keluar rumah.
"Tapi mas," kok keterlaluan ya...makan beli sendiri, pakai minyak wangi nggak boleh. Isun hampir mengeluarkan suara ketika Ori melanjutkan.
"Jangan membantah, surganya istri itu ada pada suami."
Ori mengambil botol minyak wangi milik Isun dan melemparkannya ke tempat sampah.
Mulut Isun terbuka saking terkejutnya. Sepertinya butuh waktu adaptasi lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
"Lah kok minyak wanginya dilempar ke tempat sampah?"
Ibu melotot di depan pintu.
"Ibu..." Isun melompat memeluk ibunya yang sekarang sudah berada di depannya.
"Bapak..."
"Hmmm..."
Tumben bapak jadi jaim. Biasanya meluknya lebih lama dari ibu.
"Bu...Pak," Ori mencium tangan mertuanya dengan hormat.
"Maaf kami mau keluar dulu. Isun sudah menyiapkan lamaran pekerjaan yang harus segera dikirim. Bapak dan ibu tunggu saja disini sampai kami pulang. Hanya beberapa tempat kok."
Sekarang ganti bapak dan ibu yang terkejut.
"Tapi mas, bapak dan ibu kan baru datang. Masa langsung kita tinggal?"
"Sudah sana berangkat, jangan gara-gara ibu rencana kalian tertunda," ibu berusaha meredakan suasana.
"Hei...anaknya ibu harus semangat, nggak usah mikir ibu sama bapak. Ayo sana berangkat."
Isun mengekor dibelakang suaminya dengan hati berat, tapi mau bagaimana lagi.
"Pak, lihat ini tempat anak kita tinggal. Ndak ada apa-apa nya."
Sepeninggal anak dan menantunya kedua orang tua itu mulai bergerilya. Membuka almari yang tidak terkunci. Melirik meja yang diatasnya masih tergeletak kertas pembungkus nasi.
"Kita musti belanja pak."
"Iya bener Bu. Katanya orang tua mantu kita juragan kontrakan, kok anaknya tinggal di kamar kos yang masih lebih gede kandangnya si putih. Padahal tadi waktu kita mampir ke rumahnya, rumahnya termasuk bagus."
"Sudah, nggak usah membicarakan orang lain."
"Tck, kamu ini bagaimana Bu, orang lain apa? Wong kita melepas anak kita buat mereka kok."
"Hush...wes ayo, kita keluar. Itu kunci yang masih nggantung di pintu lepas saja. Banyak yang musti kita beli."
Untungnya dua orang tua itu sudah tidak asing dengan kota ini. Dulu mereka juga pernah merantau kesini waktu muda. Jadi bisa menemukan pasar terdekat seperti hanya membalikkan telapak tangan.
Banyak juga yang dibeli. Kompor, peralatan dasar untuk memasak, rak kecil tempat alat makan setelah dicuci, alat makan couple untuk berdua. Seprei dua set dengan sarung bantalnya. Waktu bapak memegang guling, tangan bapak dipukul sama ibu.
"Anakmu sudah punya guling hidup," begitu kata ibu.
Apalagi kasurnya yang tidak terlalu besar tidak akan cukup kalau ditambahkan sebuah guling.
Setelah membeli barang-barang yang dibutuhkan, dua orang tua itu kembali ke tempat kos Ori dan Isun.
Saking serunya belanja, tidak terasa ternyata waktu hampir sore. Di depan pintu sudah duduk Ori yang cemberut dan Isun yang mondar-mandir di depan pagar.
"Sun, ayo bantu ibu."
Isun terkejut, ternyata taksi yang berhenti di depan rumah kos adalah ibu dan bapak.
__ADS_1
"Ibu..." Isun berlari mendekat.
"Ibu dari mana, kami nunggu sejak tadi, mas Ori cemberut terus mau tidur tidak bisa dibuka kamarnya."
"Oh, iya. Kuncinya ibu bawa. Ini, sana bukakan pintu dulu buat suamimu. Setelah itu ajak dia kesini buat bantu angkatin barang-barang yang ibu beli."
"Memangnya ibu sama bapak beli apa?" Isun berusaha mengintip kedalam taksi.
"Sudah sana bukakan pintu dulu."
Dengan cepat Isun berlari dan kembali. Bapak masih duduk di dalam taksi.
"Ayo pak, keluar dulu."
"Sebentar Bu, disini adem. Boleh duduk disini dulu kan mas ya?"
"Boleh pak," angguk sopir taksi tersenyum.
Ibu berjalan memutar mendekati tempat bapak duduk dan membuka pintu. Menepuk lengan bapak dengan keras.
"Mantumu nggak mau kesini, kamu nggak mau keluar. Ayo keluar! bantu bawa barang."
"Aduh, sakit. Iya...iya ini keluar."
Tidak lama kemudian semua barang sudah diletakkan dalam kamar. Kamar sempit itu penuh dengan barang dan terasa lebih sempit dari sebelumnya.
"Ori, ayo bantu ibu menata barang. Kasihan anak ibu perempuan masa disuruh angkat-angkat."
Dasar lelaki keterlaluan, sudah tahu sedang repot malah rebahan dan matanya pun hampir terpejam.
"Iya Bu," jawab Ori malas.
Semua ditata. Peralatan masak dan makan di letakkan di dapur. Ibu juga membeli sebuah kabinet kecil agar Isun bisa meletakkan perlengkapan beriasnya disitu, tidak tergeletak sembarangan diatas meja.
Kasur juga dipasang seprei baru yang dibelikan ibu. Sedangkan satu seprei yang lain diletakkan dalam almari sebagai ganti.
"Kalian sudah makan belum?" tanya ibu.
Malu-malu Isun menggeleng.
"Ibu sudah mengira. Untung tadi ibu beli lebih."
Ibu mengeluarkan beberapa bungkusan dari dalam kresek. Beberapa bungkus nasi dan lauk dibuka dan diletakkan diatas piring.
Mata Isun berbinar. Begitu juga dengan Ori yang memang lapar sejak tadi.
Makan siang yang cukup mewah, mengingat tadi hanya sarapan nasi campur sederhana.
"Ibu dan bapak langsung pulang."
Tidak mungkin kalau ingin menginap sekalipun.
Bapak mengangguk setuju dengan ibu.
"Ibu juga sudah pesan taksi buat ke terminal, setengah jam lagi taksi yang tadi sudah ibu pesan untuk menjemput. Ibu takut kemalaman di jalan."
"Kalian berdua hidup yang baik. Semua orang yang baru berumah tangga pasti berawal dari bawah. Jangan kecil hati, nikmati saja prosesnya. Ingat memahami satu sama lain itu butuh waktu seumur hidup, mengerti!"
Isun dan Ori mengangguk bersamaan.
Ketika taksi datang hanya Isun yang mengantar keluar.
Ibu memandang Isun dengan kasih. Mengelus kepala putrinya yang sekarang sudah menjadi tanggung jawab orang lain.
"Kalau ibu lihat keadaanmu sekarang dan sifat suamimu. Kamu tak akan mudah menjalani rumah tangga mu nak. Tapi ibu yakin kamu kuat," ucap ibu tersenyum.
Sedangkan Bapak mendekati Isun sambil berbisik, "bilang suamimu, kalau sedang itu jangan boleh keras-keras, kalau kamu sakit nggak ada yang ngerawat."
Alis isun bertaut, "itu apa pak?".
Sebelum makin panjang ibu sekali lagi memukul lengan bapak, "kita pulang."
"Sudah Isun masuk, pasti ditunggu suami didalam."
__ADS_1
Isun mengangguk dan melambaikan tangannya. Ibu dan bapak melihat ke belakang sampai bayangan Isun menghilang. Dalam pelukan bapak, ibu mulai menangis sesenggukan. Berat rasanya melihat hidup anaknya sekarang.
...***...