Suami Benalu Banyak Gaya

Suami Benalu Banyak Gaya
Episode 21. Potong Menara Pizza


__ADS_3

"Wo alah Sun," sejak datang sampai sekarang ibu masih seperti itu. Isun jadi tidak tega melihatnya, karena inilah sejak dia masuk rumah sakit berusaha untuk tidak memberitahu orang tuanya.


"Isun nggak apa-apa pak Bu. Kata dokter setelah operasi semua akan baik-baik saja."


"Tapi kamu bakal susah punya anak," Ibu ngenes lihat anaknya. Meskipun Isun diam tidak pernah mengadu tapi sebagai ibu dia bisa merasakan kalau pernikahan anaknya tak sebahagia yang terlihat.


"Siapa bilang, semua sudah dijelaskan. Selama tumor yang ada di rahim Isun bukan tumor ganas dan tidak diperlukan pengangkatan rahim, Isun masih sangat mungkin memiliki keturunan."


Ibu menghela napas berat, "apa suamimu mau mengerti kondisimu, Sun?"


"Alhamdulillah, Bu."


Ibu tidak boleh tahu bagaimana kehidupan rumah tangganya. Anggap saja kalau dia baik-baik saja.


"Kamu bisa membohongi ibu. Tapi ibu tidak akan tertipu, nak. Ibu tahu ada sesuatu dengan pernikahanmu."


"Semua baik Bu, hanya memang sifatnya Mas Ori yang membuat dia suka ngomong semaunya. Kalau mau dibuat emosi ya bisa bertengkar setiap hari. Tapi Isun anggap ocehannya itu seperti kicauan burung kakatua."


"Semakin kita menjawab, dia akan semakin menjadi."


"Hihihi..." Isun dan ibunya tertawa terpingkal. Burung kakatua, indah bulunya warna-warni tapi nyebelin suka ngikutin omongan orang.


"Aduh...aduh," Isun memegang perutnya yang terasa menusuk karena terlalu kencang tertawa.


"Kuwalat kamu menertawakan suami sendiri."


"Omong-omong kemana anaknya?"


Sementara itu di taman, duduk berhadapan bapak dan Ori yang menundukkan kepala.


"Apa kamu masih mau sama anak bapak?" tanya bapak. Suaranya tegas dan dalam. Seperti yang pernah diucapkan bapak. Jangan pernah main-main dengan anaknya.


Tanpa menjawab kepala Ori mengangguk beberapa kali.


"Meskipun anak bapak ternyata punya penyakit?"


Ori mengangguk lagi dengan cepat.


"Kalau misalnya Isun tidak bisa memiliki anak?"


Kali ini Ori mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Kepalanya celingak-celinguk ogah menjawab.


Mau dijawab tidak, dia butuh dukungan finansial dari istrinya. Mau bilang iya, kalau beneran Isun nggak bisa punya anak, terus apa gunanya menikah kalau tidak memiliki keturunan?


"Kenapa kamu tidak menjawab?!" mata bapak seperti ingin menelan bulat-bulat menantunya.


"Ehmmm," matanya masih kemana-mana menghindari bapak.


"Jawab!!" bapak memukul bangku sambil berteriak.


"Iya...iya, saya mau," menjawab tergagap, antara takut dan terkejut.

__ADS_1


"Sekarang kamu bilang iya...tapi bapak ragu kamu benar-benar akan sabar mendampingi anak bapak."


"Tapi..." lanjut bapak.


"Bapak akan memberimu kesempatan, tapi kalau macem-macem, Isun punya bapak yang akan terus membela dan berdiri paling depan."


"Dan kalau anak bapak sampai menangis, menara pizzamu akan bapak potong-potong menjadi beberapa bagian dan bapak gantung di depan pintu biar dikerubung semut!"


Ori tidak berani mengangkat kepalanya sedikit pun. Tangannya rapat menutup sudut selakangannya. Menara pizza ini harus dijaga, ini modal satu-satunya agar hidup menjadi berwarna.


Bagaimana bapak bisa segalak itu kalau berhadapan dengan dirinya. Menurut seperti kucing dan cenderung manja ketika berhadapan dengan ibu? Persis seperti seseorang yang memiliki kepribadian ganda.


Bapak berjalan menuju kamar perawatan. Tadi dia hanya melihat sekilas anaknya yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit.


"Sun," tangan bapak memegang tangan Isun memasang wajah mewek, hilang sudah kegarangannya tadi.


"Bapak, ih...jangan nangis."


"Kamu puasa sekarang?"


"Heeh," Isun mengangguk, "mulai semalam."


"Sebentar lagi perawat akan datang dan membawa Isun ke ruang tindakan."


Mata bapak berputar mengamati semua selang yang menancap di tubuh anaknya.


Di pergelangan tangan ada satu infus menancap. Di hidung ada selang oksigen. Dibawah menggantung kantung yang menampung air seni dan ada selang menyambung masuk kedalam saluran kencing.


"Bu, mataku kok berkunang-kunang ya..."


"Jangan pingsan pak," ibu mengeluarkan minyak kayu putih dari dalam tas, lalu menggosokkannya ke seluruh tubuh bapak.


"Ih...bapak, yang sakit siapa yang dikasih minyak kayu putih siapa."


Selama beberapa hari di rumah sakit, baru hari ini Isun terhibur. Nyeri perutnya hampir tidak terasa, padahal banyak alat yang menempel pada tubuhnya. Baru hari juga dia tidak mendengar ocehan suaminya.


"Nyonya Donwori?" dari balik kelambu muncul beberapa perawat yang sudah siap untuk membawa Isun ke ruang tindakan.


"Maaf bapak ibu, nyonya Donwori akan kami bawa ke ruang tindakan."


Wajah bapak pucat, kakinya lemas, "Bu..."


Ibu menggandeng lengan bapak erat, "jangan pingsan sekarang, kamu mau anakmu masuk ruang operasi sambil mikir bapaknya."


"Sudah puasa?" tanya salah satu petugas medis.


Isun mengangguk, "sudah, mulai tadi malam."


"Sun, banyak doa ya, baca-baca surat," bapak terus saja bicara.


"Surat apa pak, surat cinta atau surat gadai?" goda Isun tersenyum.

__ADS_1


"Kamu ini," bapak memukul lengan Isun pelan.


Perawat mendorong ranjang keluar dari ruang perawatan. Bapak, ibu, dan Donwori berjalan mengikuti ranjang yang didorong menuju ruang tindakan.


"Pak...," ibu menarik tangan bapak sambil bermain mata.


"Matamu kenapa Bu?"


Ibu terus menggerakkan mata sambil menunjuk arah belakang bapak dengan dagunya. Karena penasaran bapak melirik ke belakang.


"Cih, biar saja," mantu tidak bisa dipercaya. Setelah menikah anak kesayangannya malah sakit, bagaimana itu coba.


"Pak," ibu menahan tangan bapak, membuat bapak berhenti dan tertinggal.


Mau tidak mau Ori yang maju berjalan di sisi istrinya. Seperti mendapat kesempatan dan angin segar, Ori memegang tangan istrinya dan sengaja memberi lirikan pada bapak mertuanya.


Kira-kira kali mata itu bisa bicara dia akan berteriak, "aku berhak atas anakmu!" Sebuah persaingan yang aneh.


"Kenapa kamu menahanku?" gerutu bapak menepis tangan ibu.


"Jangan begitu, anak kita sudah bersuami, suaminya lebih berhak atas dirinya."


"Cih, aku tahu dia suami nggak bener."


Ibu diam, tidak ingin mendebat bapak, karena ibu sadar kalau apa yang diucapkan bapak ada benarnya.


Pihak keluarga hanya diperbolehkan mengantar sampai depan pintu ruang tindakan. Beberapa bangku kayu bercat putih dijajar rapi, disitu biasanya keluarga pasien menunggu sampai lampu diatas pintu berubah warna dari merah menjadi hijau.


Ibu duduk disebelah bapak, keduanya berpegangan erat. Bibir keduanya terus komat-kamit merapal doa untuk keselamatan Isun. Ori duduk dihadapan mertuanya sambil terkantuk-kantuk.


"Lihat itu, istrinya operasi masih bisa dia sesantai itu."


"Jangan begitu dia yang menunggu anak kita selema beberapa hari menginap disini."


"Ya kan, memang tugasnya!" sinis bapak.


Waktu lambat berlalu. Sejam, dua jam, sampai beberapa jam kemudian belum ada tanda-tanda tindakan selesai.


Awal tadi diberitahu kalau operasi akan berlangsung selama tiga sampai empat jam, dan ini sudah hampir lima jam.


"Kok belum selesai Bu?"


"Sabar, pak."


"Hei," rupanya kesabaran bapak tinggal setipis kertas, "coba kamu tanyakan sama petugasnya!" teriak bapak.


Ori menengok kanan-kiri, sambil melihat bapak jarinya menunjuk dirinya sendiri, "saya, pak?"


"Tuh Bu, benar kan, dia itu nggak tanggap jadi suami!" bapak melotot melihat Ori yang membuat Ori langsung menunduk.


Ya Allah, bapak. Mau tanya siapa, orang yang tahu pada di dalam semua.

__ADS_1


Kali ini bapak sepertinya sedikit berlebihan ya. Yakin itu, menara Pizza milik Ori mengkerut nggak berani tegak sama sekali, takut dicincang dan digantung diatas pintu 🤣🤪.


...***...


__ADS_2